" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.
Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. Pukulan Kemarahan
Suasana kantor pusat sub-holding Wardhana Group siang itu tampak begitu sibuk, namun di dalam ruangan kerja Aksa, atmosfernya terasa begitu pekat dan mencekik. Aksa berdiri membelakangi meja kerjanya, menatap tajam ke arah deretan gedung pencakar langit di luar jendela kaca besar. Setelan kemeja hitamnya yang kasual tampak kontras dengan gurat kemarahan yang masih tercetak jelas di rahang tegasnya.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu memecah keheningan, disusul masuknya sang asisten pribadi dengan beberapa map dokumen tebal di tangannya.
"Tuan Aksa, ini adalah berkas pengalihan aset dan pemisahan saham sub-holding yang Anda minta pagi tadi," lapor sang asisten dengan nada suara yang penuh kehati-hatian. "Namun, jika Anda menarik seluruh saham ini dari Wardhana Group secara mendadak, Kakak Anda—Tuan Damian—pasti akan langsung menyadarinya dalam hitungan jam. Ini sama saja dengan menyatakan perang bisnis secara terbuka."
Aksa berbalik, sebuah seringai tipis yang sarat akan maksud tersembunyi terukir di sudut bibirnya. Sisi humorisnya yang biasa mencairkan suasana kini telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh kilat gairah posesif yang teramat gelap.
"Memang itu tujuannya," . Aku sudah cukup sabar bermain di balik pintu kamar sebelah selama dua tahun ini. Jika Damian bisa menggunakan kuasa bisnisnya untuk menekan dan menyentuh Valerian, maka aku akan menghancurkan fondasi bisnis itu sampai dia tidak punya apa-apa lagi untuk menyombongkan diri." Batinnya
Aksa menyambar pena di atas meja, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas berkas tersebut.
Di saat yang bersamaan, sebuah mobil sedan mewah terparkir di lobby utama gedung sub-holding. Clarissa Narendra melangkah keluar dengan keanggunan seorang wanita kalangan atas lulusan London. Ia mengenakan kacamata hitam besar dan menjinjing sebuah kotak makanan premium, berpura-pura menjadi calon tunangan yang perhatian.
Namun, begitu ia melangkah masuk ke koridor lantai atas menuju ruangan Aksa, langkah kakinya mendadak terhenti di dekat ruang istirahat karyawan yang berada di balik sekat dinding kaca.
Dua orang pelayan kantor tampak sedang berbisik-bisik sembari merapikan cangkir kopi.
"Eh, kau tahu tidak? Kemarin siang waktu aku mengantar berkas ke kantor pusat Tuan Damian, aku melihat mobil Tuan Aksa terparkir lama sekali di sana," bisik salah satu pelayan.
"Benarkah? Bukankah kemarin siang Tuan Damian sedang pergi ke lobi bawah? Lalu ada siapa di ruangannya?" tanya pelayan yang lain penasaran.
"Ada Nyonya Valerian! Aku sempat melihat dari celah pintu luar sebelum Tuan Damian kembali, Tuan Aksa keluar dari pintu rahasia walk-in restroom dengan pakaian yang agak berantakan. Wajah Nyonya Valerian juga tampak sangat merah dan ketakutan," sahut pelaya
Deg.
Di balik dinding kaca, Clarissa mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. Kotak makanan di tangannya nyaris terlepas. Kecurigaan yang ia bawa dari meja makan pagi tadi kini telah berubah menjadi sebuah bukti nyata yang teramat menjijikkan di telinganya.
"Jadi benar... kalian berdua bermain gila di belakang Damian?" bisik Clarissa dengan suara yang bergetar menahan amarah dan rasa terhina yang luar biasa.
Sebagai wanita ambisius yang tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya, Clarissa merasa harga dirinya diinjak-injak seutuhnya oleh Aksa yang lebih memilih seorang wanita pajangan seperti Valerian daripada dirinya yang sempurna. Sebuah senyuman licik dan mematikan perlahan terukir di wajah cantiknya. Ia membatalkan niatnya untuk menemui Aksa, lalu berbalik melangkah cepat menuju lift, mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Damian langsung.
"Halo, Kak Damian? Ada sesuatu yang sangat penting yang harus kukatakan padamu sekarang. Ini mengenai kelakuan istrimu dan Aksa di ruang kerjamu kemarin siang," ucap Clarissa dengan nada penuh racun.
Sementara itu, di kediaman utama, Valerian sedang duduk sendirian di dalam kamarnya dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Sisa kehangatan semu dari Damian semalam masih terasa membekas di tubuhnya, menyisakan rasa perih yang teramat sangat di dalam lubuk hatinya. Ia merasa terombang-ambing di antara rasa bersalah pada Aksa dan ketakutan akan kehancuran bisnis orang tuanya.
Tiba-tiba, pintu kamar utamanya terbuka dengan hentakan yang luar biasa keras.
Brak!
Valerian tersentak kaget, langsung berdiri dari tepi ranjang. Damian berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu tajam dan wajah yang memerah padam oleh amarah yang meledak-ledak. Di tangannya, sebuah ponsel pintar menampilkan rekaman suara atau pesan yang baru saja dikirimkan oleh Clarissa.
"Valerian !" bentak Damian, suaranya yang bariton menggelegar memenuhi ruangan, membuat seluruh tubuh Valerian bergetar hebat ketakutan.
Damian melangkah lebar, langsung mencengkeram kedua bahu Valerian dan menekannya kasar ke tiang ranjang besar mereka. "Kau benar-benar wanita berengsek! Jadi selama ini, di balik pintu kamar sebelah, kau dan adikku sudah sering bermain gila, bukan?! Bahkan di dalam ruangan kerjaku sendiri, kau membiarkannya menyentuhmu saat aku pergi?!"
"Damian, lepas! Itu tidak seperti yang kau pikirkan!" tangis Valerian pecah seketika, rasa takut dan terhina kembali menguliti harga dirinya sampai habis di bawah kungkungan suaminya yang kejam.
"Bohong!" pekik Damian, cengkeramannya kian menguat hingga membuat Valerian meringis kesakitan. "Malam ini, aku tidak akan membiarkanmu lepas lagi. Jika Aksa berpikir dia bisa merebutmu dariku, maka aku akan memastikan tubuhmu rusak di bawah kendaliku sebelum dia sempat membawamu pergi!"
Di tengah kepungan amarah Damian yang kian tak terkendali di dalam kamar yang terkunci itu, suara deru mesin mobil Aksa terdengar mengerem tajam di halaman depan rumah.
Brak! Brak!
Suara hantaman keras tiba-tiba terdengar dari arah pintu kaca balkon kamar utama. Grendel besi pintu tersebut dipaksa bergeser dari luar dengan tekanan yang luar biasa kuat, hingga menimbulkan bunyi derit yang memekakkan telinga di tengah suara tangis Valerian.
Damian tersentak. Cengkeramannya pada kedua bahu Valerian perlahan melonggar saat ia menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah asal suara.
Prang!
Satu panel kaca balkon pecah berkeping-keping, hancur berserakan di atas lantai marmer. Di balik tirai yang tersingkap kasar oleh angin malam, sosok Aksa melangkah masuk dengan napas yang memburu tajam. Kemeja hitamnya basah kuyup oleh air hujan.
Aksa tidak memedulikan pecahan kaca yang menggores ujung sepatu bootnya. Begitu melihat Valerian yang menangis terisak dengan piyama yang sedikit berantakan di bawah tiang ranjang, sisi protektif Aksa meledak seutuhnya.
"Lepaskan tanganmu dari tubuhnya, Damian!" geram Aksa, suaranya parau, rendah.
Damian terkekeh sinis, sebuah tawa dingin yang sarat akan amarah dan ego seorang penguasa hukum yang terhina. Ia mundur satu langkah, merapikan kerah kemejanya yang kusut sembari menatap adiknya dengan pandangan merendahkan.
"Kau berani menerobos kamarku lewat balkon, Aksa? Hanya demi wanita pajangan ini?!" bentak Damian, suaranya yang bariton menggelegar menantang. "Kau melupakan fakta bahwa dia adalah istri sahku! Malam tadi, tubuh yang kau puja-puja ini menyerahkan seluruh gairahnya di atas ranjang dan sofaku! Dia memohon kelembutan dariku demi menyelamatkan bisnis orang tuanya! Kau tidak lebih dari sekadar mainan sementaranya, Aksa!"
Aksa melirik sekilas ke arah Valerian yang menunduk dalam kepasrahan batinnya, lalu kembali menatap Damian dengan seringai mematikan.
Aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan semalam karena ancaman kotormu, Damian," desis Aksa parau tepat di depan wajah kakaknya. "Tapi mulai detik ini, kuasamu atas dirinya sudah berakhir. Dokumen pengalihan aset sub-holding sudah kutandatangani siang tadi. Aku menarik seluruh sahamku dari Wardhana Group. Aku tidak lagi butuh nama besar keluarga ini untuk merebut Valerian keluar dari neraka yang kau ciptakan!"
Brak!
Tanpa aba-aba, Damian melayangkan satu pukulan keras yang telak mengenai rahang tegas Aksa, membuat adiknya itu sedikit terhuyung ke belakang membentur meja rias.
"Aksa!" jerit Valerian histeris, air matanya kian deras mengalir melihat dua pria bersaudara itu kini mulai menumpahkan darah di depan matanya sendiri.