Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Gerbang ke Negeri di Atas Awan
Setelah meninggalkan Lembah Damai, perjalanan Cepot dan Dawala membawa mereka menuju rangkaian gunung yang menjulang lebih tinggi dari sebelumnya. Selama tiga hari mereka terus mendaki, melewati jalan setapak yang terjal, hutan pinus yang rindang, dan sungai yang airnya sedingin es. Semakin tinggi mereka melangkah, udara semakin tipis dan dingin, namun terasa sangat bersih dan menyegarkan paru-paru.
“Kang, lihatlah ke depan! Di balik kabut itu terlihat sesuatu yang tidak biasa,” seru Dawala sambil menunjuk ke arah puncak tertinggi yang masih tertutup awan tebal.
Cepot mengerjapkan mata, lalu mengamati dengan saksama. Di celah awan yang sesekali terbuka, terlihat kilatan cahaya keemasan yang lembut, seolah ada tembok atau gerbang besar yang tersembunyi di baliknya. Suara angin yang berhembus pun terdengar seperti alunan nada yang teratur, bukan sekadar desisan biasa.
“Tempat ini tidak tercatat dalam cerita-cerita yang biasa didengar,” gumam Cepot. “Sepertinya kita akan sampai ke tempat yang jarang dijamah manusia, bahkan mungkin hanya bisa dimasuki oleh mereka yang memiliki niat suci.”
Mereka terus melangkah hingga akhirnya tiba di sebuah dataran yang dikelilingi tebing curam. Di hadapan mereka berdiri sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari batu pualam putih, diukir dengan motif bunga dan awan yang indah, serta dihiasi ornamen logam yang memancarkan cahaya keemasan samar. Tidak ada kunci, tidak ada gembok, hanya dua sosok patung makhluk bersayap yang berdiri tegak di kedua sisinya.
Begitu mereka mendekat, kedua patung itu tiba-tiba bergerak perlahan, matanya menyala dengan cahaya perak yang lembut. Suara yang berat namun tenang terdengar bergema di seluruh dataran.
“Siapa yang berani mendekati Gerbang Awan? Hanya mereka yang membawa kebenaran dan keseimbangan yang diizinkan melintas. Sebutkanlah tujuan kalian dan buktikanlah niat hatimu.”
Dawala sedikit terkejut dan mundur selangkah, namun Cepot tetap tenang dan melangkah maju. Ia membungkuk hormat, lalu menjawab dengan suara yang jelas dan mantap.
“Kami adalah pengembara yang bertugas menjaga keseimbangan di bumi. Kami datang bukan untuk mengambil harta, bukan untuk menguasai wilayah, melainkan untuk mengetahui apakah kedamaian juga terjaga di tempat yang tinggi ini. Jika ada gangguan atau ketidakteraturan, kami siap membantu sebatas kemampuan kami.”
Mendengar jawaban itu, cahaya di mata kedua penjaga gerbang itu berubah menjadi lebih hangat. Mereka mengamati Cepot dan Dawala dari ujung kaki hingga kepala, seolah menembus pandangan ke dalam hati dan pikiran mereka. Setelah beberapa saat, mereka mengangguk perlahan.
“Kami merasakan kebenaran dalam kata-katamu, dan melihat cahaya keseimbangan yang kau bawa. Masuklah ke Negeri di Atas Awan. Namun, ingatlah: di sini hukum alam bekerja lebih halus dan ketat. Apa yang terlihat tidak selalu apa yang sebenarnya terjadi, dan kebijaksanaan lebih dibutuhkan daripada kekuatan.”
Dengan suara gemeretak yang lembut, sayap gerbang itu terbuka perlahan. Melaluinya, terbentanglah pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan. Di atas hamparan awan putih yang lembut, terbentanglah tanah yang subur, sungai yang mengalirkan air bercahaya, pohon-pohon yang berbuahkan cahaya, dan bangunan-bangunan yang terbuat dari kristal serta kayu yang berkilau. Suasana di sana sangat tenang, damai, dan penuh kedamaian.
Namun, begitu mereka melangkah masuk, mereka segera merasakan ada sesuatu yang ganjil. Meskipun pemandangannya indah, terasa ada kekosongan yang samar, dan udara yang tadinya terasa sempurna justru terasa kurang hidup.
“Tempat ini memang indah, Kang, tapi rasanya seperti lukisan yang bagus namun tidak bernyawa,” kata Dawala sambil mengamati sekeliling. “Tidak ada tawa, tidak ada percakapan yang riuh, hanya keheningan yang terlalu sunyi.”
Mereka berjalan lebih jauh hingga bertemu dengan penduduk tempat itu—makhluk yang berwujud manusia namun berjalan dengan anggun, kulitnya bersinar lembut, dan matanya terlihat tenang namun tanpa ekspresi yang jelas. Salah satu dari mereka mendekat dan menyapa dengan nada datar.
“Selamat datang di negeri kami. Semua di sini sempurna, tidak ada sakit, tidak ada kekurangan, tidak ada kesedihan. Mengapa kalian datang dari tempat yang jauh dan penuh kesulitan itu?”
Cepot tersenyum lembut, lalu bertanya. “Jika semuanya sempurna, mengapa terasa ada rasa berat yang menyelimuti hati setiap penghuninya? Damai bukan berarti tanpa perasaan, bukan?”
Mendengar pertanyaan itu, wajah penghuni itu tampak berubah sedikit, seolah mengingat sesuatu yang sudah lama terlupakan. “Dulu, kami juga memiliki perasaan—suka, duka, semangat, dan harapan. Namun, beberapa waktu lalu, datanglah seorang pemimpin baru yang bernama Ki Agung. Ia berkata bahwa segala kesusahan dan ketidaksempurnaan berasal dari perasaan dan keinginan. Ia mengajarkan cara untuk membuang semuanya, agar hidup menjadi tenang selamanya.”
“Sejak itu, kami memang tidak lagi merasakan sakit atau sedih, tapi perlahan kami juga kehilangan rasa gembira, rasa syukur, dan rasa saling mengasihi. Kami menjadi seperti bayangan diri sendiri, hidup namun tidak merasakan makna hidup itu sendiri,” lanjutnya dengan suara yang mulai bergetar.
Cepot dan Dawala saling berpandangan. Sekarang mereka mengerti masalahnya: bukan karena ada makhluk jahat yang menyerang, melainkan ajaran yang menyimpang yang mengajarkan bahwa kebahagiaan terletak pada menghilangkan segala perasaan, padahal justru perasaan itulah yang memberi warna dan makna pada kehidupan.
Mereka meminta dibawa menemui Ki Agung, yang tinggal di sebuah istana kecil di tengah negeri itu. Begitu bertemu, terlihatlah seorang lelaki yang wajahnya tampak awet muda dan tenang, namun matanya terlihat kosong tanpa kedalaman.
“Kalian datang dari dunia bawah yang penuh kekacauan,” kata Ki Agung dengan nada meyakinkan. “Di sini kami telah menemukan jalan sempurna: lepaskan segala keinginan dan perasaan, maka tidak ada lagi yang bisa menyakiti atau mengganggu kedamaianmu.”
“Kedamaian yang dibangun dengan membuang bagian terpenting dari diri sendiri bukanlah kedamaian sejati,” jawab Cepot dengan tegas namun lembut. “Perasaan itu bukan musuh, melainkan penunjuk jalan. Tanpa rasa sedih, kita tidak akan mengerti arti kebahagiaan; tanpa rasa susah, kita tidak akan menghargai kemudahan; tanpa rasa sayang, kita tidak akan menjaga sesama. Kau tidak menciptakan kedamaian, melainkan hanya menutup pintu dari kehidupan itu sendiri.”
Ki Agung terdiam, lalu mulai marah. “Siapa kalian yang berani meragukan ajaranku? Ini sudah membuat semua orang hidup tenang!”
Ia segera mengeluarkan kekuatan yang ia miliki, berupa cahaya putih yang menyilaukan namun terasa dingin dan hampa, lalu mengarahkannya ke Cepot dan Dawala. Namun, begitu cahaya itu mendekat, Golek Pancasona memancarkan cahayanya sendiri—hangat, hidup, dan menyejukkan. Cahaya itu tidak menolak serangan, melainkan menyentuhnya dan mengubahnya menjadi energi yang kembali ke alam semesta.
“Kekuatan yang menekan keberadaan tidak akan pernah abadi,” kata Cepot. “Cobalah rasakan kembali apa yang telah kau sembunyikan selama ini.”
Dengan bantuan cahaya pusaka itu, perlahan-lahan dinding yang dibangun Ki Agung untuk menutupi perasaan itu mulai runtuh. Ia terjatuh berlutut, matanya berkaca-kaca, dan akhirnya menangis—menangis bukan karena sedih, tapi karena ia kembali merasakan segalanya, termasuk rasa rindu dan rasa manusiawi yang sudah lama hilang.
“Maafkan aku… aku pikir dengan menghilangkan rasa sakit, aku bisa menciptakan dunia yang sempurna, tapi ternyata aku hanya membuatnya menjadi hampa…” ucapnya dengan suara terisak.
Begitu ikatan itu terlepas, seluruh penghuni Negeri di Atas Awan mulai merasakan perubahan. Senyum kembali terukir, suara tawa dan percakapan kembali terdengar, dan udara yang tadinya terasa dingin kini menjadi hangat serta penuh semangat. Tanaman-tanaman pun tumbuh lebih rimbun, dan air sungai mengalir dengan riang.
“Terima kasih telah membukakan mata kami,” kata salah satu tetua negeri itu. “Kini kami mengerti: kedamaian bukan berarti tidak ada perasaan, melainkan mampu mengendalikan dan menyelaraskannya agar tidak berlebihan.”
Sebelum berpamitan melanjutkan perjalanan, mereka dianugerahi seutas tali dari serat awan yang ditenun dengan cahaya, yang akan membantu mereka menemukan jalan di tempat-tempat yang tersembunyi atau berkabut.
Dengan hati yang penuh makna baru, Cepot dan Dawala melangkah keluar dari gerbang itu, menyadari bahwa menjaga keseimbangan juga berarti menjaga segala aspek kehidupan, termasuk perasaan dan makna di baliknya.