NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Kota Jiuyang pertama kali terlihat dari atas bukit kecil di tikungan terakhir jalan menuju lembah—dan pemandangan itu cukup untuk membuat lima murid Taixuan yang selama dua hari terakhir berjalan dalam diam mendadak melupakan kelelahan mereka.

Kota itu besar. Jauh lebih besar dari yang namanya kedengarannya.

Ribuan atap genteng abu-abu dan coklat tua bertumpuk-tumpuk mengisi lembah di antara tiga gunung, diselingi menara-menara batu yang menjulang di beberapa titik seperti jari-jari raksasa yang menunjuk langit. Di tengah kota, satu bangunan terlihat jauh lebih besar dari semua yang ada di sekitarnya—atapnya berbentuk lingkaran, dindingnya dari batu hitam yang berbeda warna dari bangunan lain, dan di atasnya berkibar puluhan bendera dari berbagai sekte yang sudah tiba lebih dulu.

Arena utama Turnamen Lima Sekte.

"Besar juga," Fang Rui berkomentar dengan nada yang berusaha terdengar santai tapi tidak sepenuhnya berhasil.

"Tentu saja besar," Zhou Bin menjawab. "Lima sekte besar, ratusan murid, ribuan penonton dari seluruh wilayah."

"Aku tidak bilang itu mengejutkan. Aku hanya bilang besar."

"Kalian berdua diam," Su Qingxue tidak menoleh. "Simpan energi."

Keduanya diam seketika.

Lin Chen mendorong gerobaknya di barisan paling belakang, menatap kota di bawah dengan ekspresi yang biasa saja.

Tapi Mata Dewa Kekacauan-nya sudah bekerja sejak tiga li sebelum bukit ini.

Kota Jiuyang bukan kota biasa.

Bagi orang lain, itu hanya terlihat dari detail-detail kecil—batu jalannya yang terlalu rata untuk kota seusianya, tembok-tembok yang pondasinya jauh lebih dalam dari yang diperlukan, proporsi bangunan yang sedikit berbeda dari kota-kota lain di wilayah ini. Detail yang mudah diabaikan, mudah dijelaskan dengan "tradisi arsitektur lokal" atau "selera pendiri kota."

Bagi Lin Chen dan Mata Dewa Kekacauan-nya, tidak ada yang perlu dijelaskan.

Kota ini dibangun di atas medan perang.

Bukan dibangun di dekatnya, atau di bekas areanya yang sudah dibersihkan. Tapi tepat di atasnya—di atas tanah yang ribuan tahun lalu menyerap darah, energi, dan niat bertarung dari ribuan kultivator yang gugur dalam pertempuran yang bahkan namanya sudah dilupakan sejarah. Energi itu tidak pergi. Tidak luruh. Hanya tenggelam lebih dalam ke tanah setiap tahunnya, semakin mampat, semakin padat, seperti mineral berharga yang terbentuk dari tekanan waktu yang sangat panjang.

Di bawah setiap batu jalan, energi itu berdenyut sangat pelan.

Di bawah setiap pondasi bangunan, lebih kuat.

Dan di bawah arena utama di tengah kota—

'...Itu bukan sekadar sisa pertempuran biasa,' Lin Chen menyimpulkan sambil terus mendorong gerobaknya menuruni bukit. 'Ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang lebih tua dari pertempuran yang membentuk kota ini.'

Tapi penyelidikan itu untuk nanti.

Sekarang, ada sup yang perlu dimasak dan enam kamar penginapan yang perlu dipesan.

Penginapan yang dipesan Sekte Taixuan terletak di distrik tengah kota—bukan yang paling mewah, tapi cukup dekat dengan arena utama untuk tidak membuang waktu perjalanan setiap harinya. Bangunan dua lantai dengan halaman kecil di tengah, cukup untuk menampung delapan orang dengan nyaman.

Lin Chen mendapat kamar di lantai bawah, pojok belakang, tepat di sebelah dapur.

Dia tidak keberatan.

Dapur punya jendela kecil yang menghadap ke gang samping penginapan, dan gang itu terhubung ke jalan belakang yang terhubung ke hampir seluruh distrik tengah kota tanpa harus melewati pintu utama yang dijaga.

Berguna.

Sesepuh Bai mengumpulkan semua orang di ruang makan bawah setelah semua orang menyimpan barang masing-masing.

"Jadwal pembukaan turnamen besok pagi," Sesepuh Bai memulai dengan nada yang tidak memberi ruang untuk pertanyaan yang tidak perlu. "Malam ini semua orang istirahat. Tidak ada yang keluar dari penginapan tanpa izin. Su Qingxue, kau dan aku akan ke gedung panitia sebentar lagi untuk registrasi resmi."

Su Qingxue mengangguk.

"Sisanya—" Sesepuh Bai menatap lima murid yang duduk dengan berbagai tingkat kelelahan di wajah mereka, lalu melirik sekilas ke Lin Chen yang berdiri di dekat pintu dapur. "Istirahat. Makan. Tidur."

Sesi singkat itu selesai.

Lin Chen masuk ke dapur dan mulai memasak.

Makan malam selesai dalam keheningan yang relatif.

Chen Hao makan dengan lebih bersemangat dari biasanya—efek trauma yang sudah sedikit mencair setelah tiba di tujuan dengan selamat. Fang Rui dan Zhou Bin berbisik-bisik tentang sekte mana saja yang kemungkinan sudah tiba. Luo Mei makan dengan satu tangan sambil membuka catatan formasi kecilnya. Wei Peng makan paling cepat dan paling diam.

Su Qingxue tidak makan—dia dan Sesepuh Bai sudah pergi ke gedung panitia.

Sesepuh Duan makan di mejanya sendiri dengan ekspresi yang sama selama tiga hari terakhir, yaitu tidak berekspresi sama sekali.

Lin Chen membereskan semua piring setelah selesai, membersihkan dapur, dan memastikan perbekalan untuk sarapan besok sudah tersedia.

Lalu kembali ke kamarnya.

Menutup pintu.

Menunggu.

Jam pertama malam—suara percakapan di lantai atas masih terdengar.

Jam kedua—semakin sunyi. Sesepuh Bai dan Su Qingxue kembali dari gedung panitia, suara langkah kaki di tangga, pintu kamar yang menutup satu per satu.

Jam ketiga—hening sempurna.

Lin Chen bangkit dari tikarnya.

Jendela dapur terbuka tanpa suara. Gang samping kosong. Jalan belakang sepi—hanya satu dua pedagang malam yang sudah mengantuk di balik kios mereka.

Lin Chen bergerak menyusuri jalan belakang dengan langkah yang tidak meninggalkan suara, aurannya disembunyikan rapat sampai bahkan kultivator yang berpapasan langsung dengannya di kegelapan tidak akan merasakannya.

Kota Jiuyang di malam hari terasa berbeda dari siangnya. Lebih sunyi, tapi entah kenapa lebih hidup—lampu-lampu minyak di teras rumah melemparkan bayangan yang bergerak di atas batu jalan, suara angin yang melewati gang-gang sempit menghasilkan dengungan rendah yang terasa seperti kota ini sedang bernapas.

Lin Chen bergerak lurus ke arah arena utama.

Bangunan itu bahkan lebih besar dari kelimatannya dari bukit tadi—dindingnya dari batu hitam yang tingginya dua kali bangunan tertinggi di sekitarnya, pintu utamanya sudah dikunci dengan formasi penjagaan standar yang dijaga dua kultivator dari panitia turnamen.

Lin Chen tidak mendekati pintu utama.

Dia memutar ke sisi barat bangunan, mencari apa yang sudah dia petakan dari kejauhan tadi—sebuah titik di dinding barat di mana energi dari bawah tanah merembes ke atas paling kuat. Titik terlemah dalam struktur formasi penjagaan bangunan, bukan karena tidak dijaga dengan baik, tapi karena tidak ada yang tahu ada sesuatu di bawah sana yang perlu dijaga.

Tangannya menyentuh dinding batu hitam.

Dingin. Dan di bawah rasa dinginnya, ada getaran yang sangat pelan—seperti jantung sesuatu yang sangat besar yang berdetak sangat lambat.

'Di sini.'

Dia mengaktifkan Mata Dewa Kekacauan-nya penuh, menekan penglihatannya menembus dinding batu, menembus lapisan tanah di bawah fondasi arena—

Dan menemukannya.

Sebuah ruang bawah tanah.

Bukan besar—lebih kecil dari yang dia bayangkan. Cukup untuk satu orang berdiri dengan nyaman, mungkin dua orang kalau tidak keberatan berdiri sangat dekat. Dindingnya dari batu yang berbeda dari fondasi arena di atasnya—lebih tua, lebih gelap, dengan tekstur yang terasa seperti batu yang sudah ada di sini jauh sebelum kota ini dibangun.

Di tengah ruang kecil itu, ada sebuah altar batu.

Dan di atas altar batu itu, berdiri sebuah benda.

Lin Chen memfokuskan Mata Dewanya lebih dalam—dan untuk kedua kalinya sejak mata itu terbangun, penglihatannya tidak menemukan dasar dari apa yang dia coba ukur.

Tapi kali ini berbeda dari pedang hitam di Makam Taixuan.

Pedang hitam itu terasa seperti sesuatu yang tidur—sabar, menunggu, diam. Energinya bergerak pelan seperti napas sesuatu yang sedang beristirahat.

Benda di dalam altar ini tidak tidur.

Energinya bergerak dalam pola yang sangat teratur—bukan seperti napas, tapi seperti detak jantung. Ritmis. Konstan. Hidup dengan cara yang berbeda dari hidup yang Lin Chen pahami sebelumnya.

Dan saat Mata Dewa Kekacauan-nya bersentuhan dengan energi itu—

Sesuatu di dalam energi itu bergerak ke arahnya.

Bukan agresif. Bukan mengancam. Lebih seperti seseorang yang sedang tidur tapi telinganya mendengar suara yang familiar dan kelopak matanya bergerak sedikit tanpa membuka.

'Kau merasakanku,' Lin Chen menyimpulkan dengan sangat datar. 'Sama seperti pedang hitam itu.'

Dia menarik Mata Dewanya mundur dengan hati-hati—pelan, perlahan, tidak terburu-buru—sampai penglihatannya kembali ke dunia normal di luar dinding batu hitam.

Berdiri diam selama beberapa detik.

Angin malam bertiup pelan.

'Pedang hitam di Makam Taixuan. Benda di altar bawah arena Jiuyang.' Lin Chen mulai berjalan kembali ke penginapan dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat datang. 'Dua benda yang tidak bisa diukur oleh Mata Dewa. Keduanya merespons kehadiranku.'

'Keduanya ada di lokasi dengan sejarah purba yang sangat dalam.'

'Dan keduanya...' dia berhenti sejenak di tikungan gang. '...terasa seperti sepasang sesuatu yang terpisah.'

Dia melanjutkan langkahnya.

'Tapi itu bukan urusanku sekarang.'

'Turnamen dimulai besok. Check-in bulan depan masih dua minggu lagi. Satu hal dalam satu waktu.'

Jendela dapur masih terbuka saat dia kembali. Penginapan masih sunyi. Semua orang masih tidur.

Lin Chen menutup jendela, kembali ke tikarnya, dan berbaring.

Matanya menutup dalam hitungan detik.

Pagi datang dengan suara kota yang perlahan bangun—pedagang yang membuka kios, kultivator dari berbagai sekte yang bergerak menuju arena, penduduk lokal yang sudah terbiasa dengan keramaian tahunan ini melanjutkan hari mereka tanpa terlalu terganggu.

Lin Chen sudah ada di dapur sejak sebelum siapapun turun dari lantai atas.

Sarapan sudah siap saat Sesepuh Bai membuka pintu ruang makan.

Sesepuh itu berdiri di ambang pintu, menatap meja yang sudah penuh dengan makanan hangat, lalu menatap Lin Chen yang sedang menyeka tangan dengan kain dapur di sudut ruangan.

Tidak berkomentar apapun.

Tapi Lin Chen menangkap sesuatu di ekspresi orang tua itu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya selama tiga hari perjalanan.

Sesuatu yang sangat kecil.

Hampir seperti... lega.

Satu per satu murid turun ke ruang makan. Chen Hao pertama, matanya masih setengah mengantuk tapi hidungnya langsung bereaksi pada aroma sarapan. Fang Rui dan Zhou Bin hampir bersamaan seperti biasa. Luo Mei dengan catatan formasinya yang sudah terbuka lagi. Wei Peng yang langsung duduk dan mulai makan tanpa basa-basi.

Su Qingxue turun terakhir.

Jubah putihnya sudah rapi sempurna, rambutnya terikat bersih, pedang gioknya tersandang di punggung. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang sudah dia pakai sejak hari pertama perjalanan—fokus, dingin, terkendali.

Dia duduk. Mengambil sumpit. Mulai makan.

Tapi saat Lin Chen lewat di belakangnya untuk mengisi teko air panas di meja, Su Qingxue berbicara tanpa menoleh.

"Tidur nyenyak semalam?"

Pertanyaan yang sangat biasa. Nada yang sangat biasa.

Tapi Lin Chen menangkap sesuatu di baliknya—memori dua malam lalu di kemah, ember kosong, dan seorang gadis yang memilih tidak mengejar penjelasan yang tidak memuaskan.

"Nyenyak sekali, Kakak Senior," jawab Lin Chen dengan nada yang sama biasanya. "Kasur penginapan ini jauh lebih baik dari tikar di sekte."

Su Qingxue tidak menjawab.

Tapi Lin Chen melihat—sangat sekilas, sangat kecil—sudut bibirnya bergerak ke atas setengah milimeter sebelum kembali ke posisi datar seperti biasanya.

Bukan senyuman.

Tapi sesuatu yang sangat dekat dengan itu.

Lin Chen meletakkan teko air panas di meja dan kembali ke dapurnya.

Rombongan Taixuan berangkat ke arena utama satu jam kemudian.

Lin Chen tidak ikut—tugasnya sebagai pelayan adalah menunggu di penginapan, menyiapkan makan siang, dan memastikan semua kebutuhan rombongan tersedia saat mereka kembali.

Dia berdiri di depan pintu penginapan, menonton rombongan itu berjalan ke arah arena dengan langkah-langkah yang berbeda dari tiga hari lalu—lebih tegak, lebih terarah, lebih seperti orang yang sudah memutuskan bahwa tidak ada pilihan selain maju.

Chen Hao, yang berjalan di posisi paling belakang rombongan, menoleh sekali sebelum tikungan pertama.

Menatap Lin Chen.

Tidak mengatakan apapun.

Tapi tangannya terangkat sebentar—bukan lambaian, lebih seperti gerakan kecil yang artinya tidak punya nama tapi cukup jelas untuk dipahami.

Terima kasih. Dan tolong jaga diri.

Lin Chen mengangguk sangat kecil.

Rombongan menghilang di tikungan.

Lin Chen berbalik masuk ke penginapan.

'Turnamen dimulai hari ini,' pikirnya sambil berjalan ke dapur untuk mulai menyiapkan makan siang. 'Dan dua minggu lagi, check-in bulan ini.'

'Tapi sebelum itu...'

Tangannya masuk ke dalam lipatan bajunya—menyentuh benda kecil dan dingin yang sudah tersimpan di sana sejak dia mengambilnya dari Puncak Taixuan.

Kunci itu.

'...Ada beberapa hal yang perlu diselesaikan lebih dulu.'

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!