Danu merasa hidupnya benar-benar di kutuk oleh Lila gadis kecil yang dulu dia rawat, empat kali sudah dia gagal memiliki pasangan hidup hingga dia di juluki Perjaka Tua di kampus di mana dia mengajar.
"Siang Pak Dosen" Suara itu benar-benar Danu hafal, siapa lagi kalau bukan Lila si Pengutuk kecil.
"Ada apa?"
"Pak saya ada masalah, mohon bantuan"
"Bantuan apa? apa ada materi yang sulit di fahami?" Danu mencoba bersikap professional.
"Ada pak"
"Materi apa?"
"Materi tentang bagaimana cara menjadi istri Pak Danu Pramana"
'Uhuk uhuk'
Danu sampai tersedak mendengar Lila kembali berulah.
"Lila ....."
Lila langsung berlari keluar setelah menaruh buku tugasnya di meja kerja Danu.
Akankah Lila berhasil mendapatkan cinta sang Dosen? yuk kepoin cerita serunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Perjalanan yang hanya butuh waktu tiga puluh menit terasa menjadi tiga puluh Jam bagi Lila. Bagaimana tidak, Dia di kepung dosen-dosen killer yang biasa memberinya banyak tugas di kampus. Sepanjang perjalanan Lila hanya diam dan pura-pura tidur, kalau tahu akan begini, lebih baik Lila tadi bareng Ryan saja.
Begitu sampai di rumah pak Rektor, Lila langsung turun sambil mengagguk kan kepala ke para dosennya.
Untung saja di sana sudah ada Ryan yang standby di depan rumah. Ryan memberikan undangan yang dia bawa ke Lila agar Lila di perbolehkan masuk.
"Wajah kamu merah banget Lil, kamu sakit?"
Lila memegangi pundak Ryan, sambil mengambil nafas dalam-dalam, dia seperti baru saja keluar dari rumah hantu. Bagaimana wajahnya tidak merah, kalau sejak tadi dia memahami kesal yang amat sangat.
"Gue baik-baik saja, yuk masuk"
Ryan merangkul bahu Lila. Lila sudah terbiasa dengan ini karena dia mengaggap Ryan temannya. Ya meski Ryan selalu bilang cinta, tapi di hati Lila hanya ada Mas Danu.
Dari dalam mobil, Danu melihat semua kedekatan itu, entah kenapa di dadanya seperti ada yang menyalakan api, dadanya mendadak panas dan sesak.
"Ayo turun Dan" Sapa Yuda karena Danu hanya diam di dalam mobil.
"Ok"
****
Acara di dalam rumah pak Rektor begitu meriah, bukan hanya teman-teman putri pak Rektor saja yang di undang, tapi juga ada keluarga besar Pak Rektor dan juga semua staff kampus. Acara di pisahkan jadi dua kubu, kubu muda dan kubu dewasa.
Para mahasiswa dan teman-teman putri pak Rektor di tempat kan di tempat terpisah di outdoor rumah mereka yang dekat dengan kolam renang. Sedangkan para dosen dan juga keluarga inti berada di area rumah belakang, meski masih terlihat, namun kedua tempat itu jadi penghalang Lila untuk mendekati Danu.
Lila juga tidak berani ke sana karena banyak Dosen senior di sekitar Danu.
"Jadi berasa tua ya kita?" Kekeh Yuda. Danu mengedikkan bahunya, sambil terus mengawasi Lila.
Lila juga tengah mencari keberadaan Mas Danu, dia rasanya menyesal sekali sudah datang ke tempat ini, di sini tidak ada satupun mahasiswa yang dia kenal. Rania juga bilang tidak bisa datang.Hanya Ryan saja yang dia kenali dan lelaki itu pergi entah kemana. Jadilah Lila sendirian bak orang kesasar.
"Bosan sekali, Harusnya lu ikut nemenin gue Nia, Gue rasanya mau nangis aja di sini" gumam Lila. Dia berjalan ke stand makanan. Mau bicara dengan orang juga tidak ada yang dia kenal di sini. Ingin menghampiri Danu juga tidak berani. Percuma sekali usahanya kemarin yang membeli baju couple, nyatanya Danu tidak memakai baju pemberian darinya.
"Hai cantik, sendirian aja?" Seseorang mendekati Lila yang tengah menikmati cake kecil rasa coklat.
Lila sedikit mundur, saat beberapa lelaki mendekatinya.
"Memang kalian lihat ada orang lain di sini?"Jawab Lila mencoba menutupi rasa takutnya. Jujur di hadang beberapa kakak kelas senior seperti ini,membuat dia takut. Lila harap Ryan segera kembali dan menemuinya.
"Mau kita temani? Kamu sepertinya anak kampus baru ya? Aku tidak pernah melihat kamu sebelumnya"
Lila tidak menanggapi, dia memang menikmati cake miliknya. Lagi pula pertanyaan itu tidak wajib dia jawab kan?
Lila berharap dengan sikap cueknya mereka akan pergi, namun tanpa Lila duga, salah satu dari mereka justru merangkul pinggang Lila begitu saja. Lila sontak kaget dan mundur.
"Apaan sih! Jangan sok dekat!" Kesal Lila.
"Ayolah jangan jadi pemalu, ayo kita dansa di sana"
Lelaki itu menunjuk telo kolam yang sudah ada beberapa orang berdansa di sana. Lila tentu tidak mau. Dia mana bisa berdansa, dia juga ogah dansa dengan lelaki yang tidak dia kenal.
"Cari yang lain saja kak, saya tidak bisa dansa"
Lelaki itu menarik paksa tangan Lila, Lila ingin melepas nya namun tangannya tak sekuat pria itu.
Dari jauh Danu melihatnya, awalnya dia merasa kalau Lila sangat genit, hingga di acara seperti ini sudah menggandeng dua lelaki yang berbeda. Nampaknya kata cinta itu hanyalah kata-kata bualan anak remaja saja. Danu tidak bisa menganggapnya serius. Apalagi baru berpisah sebentar saja, sudah ada dua lelaki yang dia dekati.
Meski hatinya kesal, Danu mencoba meyakinkan diri kalau mengabaikan Lila adalah hal terbaik.
"Lepas kak!" Teriak Lila. Namun lelaki itu tidak perduli.
"Semua orang yang ada di sini selalu ingin berdansa dengan ku, kenapa kamu menolak? Kita harus bersenang-senang malam ini, jadi patuh lah"
"Aku tidak mau!" Lila menggigit tangan lelaki itu, membuat lelaki itu kesakitan. Begitu tangannya di lepaskan. Lila berlari mencari toilet. Namun keempat lelaki tadi juga mengikutinya.
Saat itulah Danu merasa ada yang aneh, dia bangun dan mengikuti kemana Lila pergi.
"Woy mau kemana lu?" teriak Yuda.
"Ada urusan sebentar"
Danu sedikit berlari kecil, dia pergi ke arah di mana Lila pergi.
Lila ketakutan, dia bersembunyi di kamar mandi. Ke empat lelaki tadi terus menggedor pintu, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Lila menangis tertahan di dalam sana, dia rasanya ingin memutar waktu saja, dia tidak mau datang ke acara ini, tempat di mana dia tidak mengenal siapapun.
Lila mencoba menghubungi Ryan, namun tidak di angkat. Dia menelfon Danu, tapi hasilnya sama. Tidak ada yang mengangkat telfonnya. Ponsel Danu memang tertinggal di meja dia duduk.
"Ya Tuhan, tolong Lila!" Lila meringkuk di sudut kamar mandi sambil memeluk lututnya, dia sangat ketakutan sekarang, bagaimana kalau mereka mendobrak pintu? Lila takut sekali para lelaki tadi berbuat macam-macam padanya.
"Sedang apa kalian?" Teriak Danu pada ke empat pemuda yang tadi mengejar Lila.
Ke empat lelaki itu diam, mereka hanya tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa pak, orang di dalam toilet ini tidak keluar-keluar, jadi kami mengetuknya"
"Bukankah di sini ada banyak kamar mandi? Cepat pergi?" Usir Danu. Ke empat lelaki itu lalu pergi dengan wajah kecewa. Danu bergegas memanggil Lila agar keluar dari sana.
"Lila! Ini mas, keluarlah"
Suara itu benar-benar seperti oase bagi Lila, dia langsung berdiri dan membuka pintu, di peluknya Danu erat-erat sambil menangis sesenggukan di dada bidang Danu.
"Sudah jangan menangis lagi"
Danu mencoba mengelus rambut Lila agar hatinya sedikit lebih tenang.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Lila mengangkat wajahnya.
"Sudah baikan? Mau pulang sekarang?" Tanya Danu. Dia tahu sejak tadi Lila sendiri tanpa teman di sini.
Lila menggeleng pelan, wajahnya nampak sedikit pucat dan terlihat gelisah.
"Kamu kenapa?"
Lila tetap diam, namun dia tidak mau beranjak sama sekali dari tempat itu.
"Jangan bikin mas takut Lila, kamu kenapa? jujur sama mas"
Lila sedikit meringis, dia akhirnya membisikkan sesuatu ke telinga Danu.
"Apa! Kamu datang bulan?"
"Sssssttttttt jangan keras-keras mas. Tolongin Lila, rok Lila merah semua ini"
Lila menunjukkan bagian belakang tubuhnya yang dia tutupi dengan tangan. Dia juga baru terasa tadi saat mendengar suara Danu di luar kamar mandi.