NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Molly Marco

Warning

Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.

Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.

Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.

Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Canduku

Mbak Rin, bikin apa?”

Ajeng, salah satu anak panti yang berprestasi dan mendapat jalur undangan saat masuk kuliah itu mendekati Rindu yang berdiri di depan meja kompor.

“Hei, Jeng.” Rindu melirik ke arah suara itu dan tersenyum.

“Pasti krim sup ya.”

Rindu mengangguk. “Seperti biasa, kalau ada Mbak, pasti mintanya krim sup atau spageti.”

Ajeng tertawa. “Karena Bu Mimin ga bisa bikin makan makanan ala western kak.”

“Ala western? Krim sup mah biasa, Jeng.” Rindu tertawa.

Ajeng pun ikut tertawa.

Di sana, Rindu bukan hanya membuat krim sup, tapi juga ayam teriyaki plus salad sayur ala restoran Jepang itu.

“Aku bantuin ya, Mbak.”

“Loh, emang kamu ngga ke kampus?”

“Belum mulai, Mba. Minggu depan, baru mulai masuk.”

Rindu mematikan kompor dan menatap ke arah Ajeng. Ia baru teringat sesuatu. “Oh ya, Jeng. Kamu SMA nya di mana deh? SMA Harapan Pertiwi kan?”

Ajeng mengangguk. “Iya.”

Rindu ingat saat berkenalan dengan Miska di taman depan rumah Bella. Kala itu, ia tidak tahu bahwa remaja yang memberinya payung itu adalah selingkuhan suaminya. Dan, di sana Miska menyebutkan tempat sekolahnya.

“Kamu kenal Miska?” tanya Rindu pada Ajeng.

Ajeng mengangguk sembari mencicipi krim sup buatan Rindu. “Hm em.”

“Pernah satu kelas?” tanya Rindu lagi.

“Ngga,” jawab Ajeng tegas. “Dia itu Cuma menang cakap doang, Mbak. Tapi isi kepalanya kosong. Jadi kita ga pernah sekelas karena dia selalu ada di kelas paling bawah.”

Rindu menyimak perkataan Ajeng.

“Dari kelas sepuluh, ngeliat dia itu kerjaannya pacaran mulu,” kata Ajeng lagi. “Ajeng pernah mergokin dia sama pacarnya begituan di perpus.”

“Begituan?”

“Iya.” Ajeng mengangguk.

Namun, dahi Rindu mengernyit. “Emang kamu tahu begituan itu apa?”

“Waktu ngeliat mereka, Ajeng ga tahu. Tapi sekarang Ajeng tahu.”

Rindu memasang wajah marah. “Awas ya, jangan macem‑macem! Jangan pernah melakukan itu sebelum nikah! Rugi. Laki‑laki mah mau enaknya aja, mereka enak dapet madu dari kamu, tapi kamu dapet apa?”

Melihat ekspresi itu, Ajeng tertawa. Pasalnya pesan yang semestinya diiringi dengan suara tenang, Rindu seakan marah menggebu‑gebu. Ia seolah sedang memarahi dirinya yang terlena dengan mudah oleh pria yang hanya tampak baik dari luar.

“Iya, Mbaku Sayang. Ajeng ga akan macem‑macem. Cuma mau satu macem, yaitu melihat Bu Yanti bangga sama aku.”

Rindu pun tersenyum sambil mengangkat ibu jarinya ke atas. “Cakep. Itu namanya my Sisy.”

Dalam hati, Rindu baru mengetahui bahwa Miska adalah gadis yang sudah memang rusak dari sananya. Pantas saja, remaja itu mau berhubungan dengan suami orang.

“Rin, mau ke mana? Mau kerja?” tanya Bu Yanti, setelah anak‑anak panti menikmati sarapan buatan Rindu dan semua berangkat ke sekolah.

“Iya, Bu.” Rindu terpaksa bohong. Ia tidak sedang ingin berangkat ke kantor, melainkan ke kantor urusan agama dan pengacara hukum perceraian.

“Rin, boleh duduk sini! Ibu mau tanya.”

Dengan patuh, Rindu menghampiri Ibu asuhnya. Lalu, duduk di depan Yanti.

“Kamu di sini berapa lama?” tanya Yanti hati‑hati. “Bukan Ibu tidak suka, tapi kamu sudah menikah, Nak. Apa tidak apa‑apa Nak Elang ditinggal sendirian di rumah?”

Rindu menggeleng. “Tidak apa‑apa, Bu. Lagi pula, Elang sendiri yang mengizinkan. Dia tahu, Rindu kangen Ibu dan anak‑anak.”

Yanti sengaja memajukan tubuhnya dan memegang kedua tangan Rindu yang berada di pangkuan wanita itu sendiri.

“Kamu baik‑baik saja, kan?”

Rindu mengangguk lagi. Ia tidak mungkin menceritakan semua yang terjadi pada Yanti. Wanita paruh baya itu sudah banyak menanggung beban. Tidak mungkin, Rindu menambah beban itu lagi. Malah seharusnya kini Rindu yang membiayai adik‑adik panti ini.

“Rindu baik‑baik saja, Bu. Ibu tidak perlu khawatir.” Rindu tersenyum. Ia berusaha meyakinkan ibu asuhnya dengan membalas genggaman tangan itu.

Terlihat raut kekhawatiran dari wajah Yanti. “Benar? Tidak ada yang kamu sembunyikan dari Ibu?”

Yanti menatap dalam kedua bola mata Rindu yang berwarna cokelat.

“Pengadilan agama?” Rayen balik bertanya dengan nada santai.

“Kalau kamu menceraikanku, kamu tidak akan mendapatkan apa‑apa. Harta yang selama ini kamu kelola, semua tetap menjadi milikku.”

“Oh ya?” Rayen menyeringai.

“Kita lihat, apa Doni bisa menjalankan perusahaan ayahmu seperti aku? Atau dia justru akan menghabiskan uangmu dan menjadikanmu juga putrimu gembel di jalanan.”

Dada Vera naik turun, diiringi emosinya yang memuncak. “Dia tidak seperti itu.”

Vera masih membela pria pengecut itu. Jika tidak pengecut, seharusnya Doni bertanggung jawab dan menikahi Vera saat wanita itu mengaku hamil.

“Aku tahu siapa Doni. Aku tahu catatan riwayatnya. Atas dasar itu, Papa tidak…”

Yanti memang selalu ada untuknya. Bahkan di saat ia pernah mengalami perundungan oleh kakak kelas yang tidak menyukainya saat SMA. Yanti tetap membela, ketika semua orang menghakimi atas fitnah yang diberikan kakak kelas Rindu kala itu.

Hari berganti hari. Kini Rindu sudah dua hari berada di panti. Ia juga sudah mendaftarkan gugatan cerai dan menunjuk pengacara untuk memudahkan urusannya.

Namun, surat gugatan itu belum sampai ke tangan Elang, karena proses setelah pengajuan sekitar dua sampai tiga hari kerja, baru akan sampai ke tangan tergugat.

Di kantor, Rayen sudah uring‑uringan. Dua hari Rindu tak ada kabar. Wanita itu bagai hilang ditelan bumi. Rindu juga mengabaikan pekerjaannya yang menumpuk.

Tut .. Tut … Tut …

Telepon yang Rayen tuju pada Rindu, ternyata tersambung. Akhirnya, Rindu mengaktifkan nomor teleponnya. Bukan untuk Rayen, juga bukan untuk Elang, melainkan untuk komunikasinya dengan pengacara yang mengurus perceraiannya.

“Rindu, ayo angkat teleponmu!” ujar Rayen.

“Rindu. Ayo angkat!” katanya lagi dengan tidak sabar.

Hari ini Rayen tidak pergi ke kantor perusahaan miliknya, melainkan ke kantor perusahaan milik orang tua Vera. Ia ingin mengurus semua hal yang seharusnya ia urus, sebelum pergi.

Lelah sambungan teleponnya tak kunjung dijawab Rindu, Rayen menekan nomor Ibra, kaki tangannya yang dahulu juga menjadi asisten pribadi Dirga.

“Halo, Bos.”

“Ibra. Rindu sudah masuk kerja?”

Sembari menempelkan benda pintarnya di pipi, Ibra menjawab, “Belum, Pak.”

“Di mana dia sekarang?”

“Di panti asuhan Kasih Ibu.”

Rayen mengangguk. Ia tahu betul panti asuhan itu. “Terus awasi dia. Aku selalu ingin tahu perkembangannya.”

“Baik, Bos.”

Sambungan telepon itu terputus. Baru saja, Rayen menjauhkan ponsel itu dari pipinya, tiba‑tiba pintu ruangannya terbuka dan menampilan sosok wanita yang sedang marah ke hadapannya.

Brak

“Kamu benar‑benar menggugatku?” teriak Vera dengan melempar berkas cerai yang baru saja ia terima.

“Oh, kamu sudah menerima surat dari pengadilan agama?” Rayen balik bertanya dengan nada santai.

“Kalau kamu menceraikanku, kamu tidak akan mendapatkan apa‑apa. Harta yang selama ini kamu kelola, semua tetap menjadi milikku.”

“Oh ya?” Rayen menyeringai.

“Kita lihat, apa Doni bisa menjalankan perusahaan ayahmu seperti aku? Atau dia justru akan menghabiskan uangmu dan menjadikanmu juga putrimu gembel di jalanan.”

Dada Vera naik turun, diiringi emosinya yang memuncak. “Dia tidak seperti itu.”

Vera masih membela pria pengecut itu. Jika tidak pengecut, seharusnya Doni bertanggung jawab dan menikahi Vera saat wanita itu mengaku hamil.

“Aku tahu siapa Doni. Aku tahu catatan riwayatnya. Atas dasar itu, Papa tidak menyetujui hubunganmu dengannya.”

“Ya, karena kamu mencekoki Papa,” ujar Vera.

Rayen tertawa. “Kamu akan tahu nanti, siapa yang baik dan siapa yang buruk. Lihat saja! Tapi saat kamu menyesali, aku sudah tidak ada di sini.”

“Aku sudah menemukan kebahagiaanku sendiri.”

Dada Vera semakin bergemuruh antara marah dan takut. Marah, karena ternyata Rayen memiliki wanita lain di belakangnya. Takut, karena selama ini nyatanya memang Rayen lah pria yang selalu menolongnya dan ada di saat‑saat ia butuhkan.

“Siapa dia?” tanya Vera dengan muka merah.

“Siapa?” Rayen balik bertanya. Pria itu tampak tenang dan duduk santai dengan menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi besar itu.

“Wanita itu,” ucap Vera lagi.

“Wanita mana?” Rayen masih pura‑pura tidak tahu.

“Wanita yang kamu sebut namanya saat onan*.”

Sontak, Rayen kembali tertawa. “Kamu mengintip? Nanti matamu bintilan.”

Rasanya Rayen senang melihat wajah Vera saat ini. Akhirnya, kesabarannya membuahkan hasil. Selain membalas Vera, ia juga memiliki cukup bukti agar usahanya selama puluhan tahun mempertahankan perusahaan ayah Vera yang diujung tanduk itu tidak sia‑sia.

“Katakan, Ray? Siapa itu ‘Rin’?”

Sontak, Rayen mendelik. Ia lupa bahwa saat pelepasan itu, ia menejerit, memanggil nama wanita yang membuatnya candu itu.

Ray kembali bersikap tenang. Ia masih beruntung, karena malam itu mulutnya hanya memanggil penggalan nama Rindu dan tidak secara utuh. Entah apa yang akan Vera lakukan, jika ia menyebutkan nama itu utuh. Karena saat ini Elang merasa masih belum bisa melindungi wanita itu penuh, mengingat Rindu masih berstatus istri Elang.

“Siapa, Ray? Katakan?” Vera kembali mendesak.

“Memang apa pedulimu? Kamu juga sudah tidak peduli padaku kan? Kamu masih mencintai dia kan? Lalu kenapa kamu sekarang marah‑marah? Bukan kah seharusnya kamu senang karena aku membebaskanmu. Hm?”

“Setelah kita bercerai, kamu bisa menikah dengan pria itu. Dan aku, bisa menikahi wanita pujaanku.”

“Si*l!” Vera mengumpat sembari menendang meja kerja Rayen.

Namun, pria itu tetap santai. Rayen malah tertawa, menertawakan keadaan Vera saat ini.

Vera pun tidak mengerti, mengapa ia semarah ini? Benar kata Rayen tadi, seharusnya ia senang karena setelah perceraian ini selesai, ia bisa bersama dengan cinta pertamanya. Tapi semakin diberi kebebasan, justru Vera malah ragu. Ia khawatir jika Doni tidak sebertanggungjawab Rayen. Ia khawatir jika Doni tidak selalu ada untuknya di saat‑saat yang dibutuhkan.

Dari pada berdua di ruangan ini bersama Vera lebih lama, Rayen memilih bangkit dan mengambil jasnya.

“Mau ke mana kamu?” tanya Vera.

“Bertemu klienku.”

“Bohong!”

Rayen mengenyit. Ia tidak memiliki urusan lagi dengan wanita ini, apalagi Rayen sudah merasa menceraikannya secara agama, hanya saja secara negara, ia harus menunggu beberapa waktu.

Rayen tetap pergi. Namun, Vera menahannya.

“Baiklah, aku tidak akan berhubungan lagi dengan Doni. Aku janji, Ray.” Vera mengangkat dua jarinya ke atas. “Aku janji, asal kamu menarik gugatanmu dan menarik ucapan talakmu semalam.”

Rayen kembali menyeringai dan menatap tajam kedua mata Vera.

“Terlambat! Aku tidak memberimu kesempatan dua kali. Karena bagi Rayen, tidak ada kesempatan kedua.”

Pria dengan rahang tegas dan dada lebar serta tubuh tinggi itu melangkah keluar, meninggalkan Vera mematung sendiri di ruangan itu.

Rayen akan pergi menuju kantor Herlambang. Kantor perusahaan milik ayah Elang yang sekarang dikelola oleh putra satu‑satunya, setelah sebelumnya dikelola penuh oleh Bella.

Elang bukan orang asing untuk Rayen, karena perusahaan Vera memang banyak bekerja sama dan membantu perusahaan itu ketika sedang mengalami krisis.

Rayen menyetir sendiri mobil miliknya dan hendak bertemu langsung dengan Elang. Sesampainya di kantor itu, Rayen disambut oleh petugas dan karyawan di sana.

Di kantor itu, Rayen memang bukan orang asing. Pria itu beberapa kali datang sebagai tamu eksklusif.

“Elang ada?” tanya Rayen pada sekretaris pemilik perusahaan itu.

“Ada, Pak. Anda sudah janji ya?”

Rayen menggeleng. “Belum. Tapi saya ada keperluan lain dengannya.”

“Oh begitu, baik, silahkan!” Dengan ramah, sekretaris Elang mengantarkan Rayen ke ruangan bosnya.

“Om!” seru Elang ketika pintu ruangannya terbuka dan menampilkan sosok Rayen yang tak lain adalah ayah angkat kekasih gelapnya.

Elang bangkit dan segera menghampiri Rayen. Pria itu tampak menghormati Rayen. Selain karena ia adalah istri Vera dan ayah angkat Miska, di mata Elang, Rayen juga sebagai panutan bisnis. Ia banyak belajar bisnis dari pria yang tak lagi muda, namun wajahnya tak kalah muda dengannya.

“Ada apa, Om? Kok datang ngga bilang‑bilang dulu. Kalau bilang kan, Elang bisa menyuguhkan makanan spesial untuk Om.”

Elang mengajak Rayen untuk duduk di sofa tamu yang ada di dalam ruangannya.

Rayen mengikuti Elang dan duduk berhadapan di sofa itu. “Lang, Om tidak ingin berbasa‑basi. Om ingin mengatakan sesuatu.”

Keseriusan Rayen mengundang Elang untuk ikut serius.

“Apa itu, Om? Apa itu berkaitan dengan tender kerjasama kita yang baru?”

Rayen menggeleng. “Bukan. Ini tentang Rindu.”

Seketika, dahi Elang mengernyit. Ia tidak tahu mengapa nama itu masuk dalam obrolan mereka. Nama yang sebelumnya tidak pernah ada dalam obrolan mereka, sama sekali.

“Rindu?”

“Ya, Rindu,” jawab Rayen tegas.

“Aku pernah tidur dengan istrimu.”

Jedar

Elang seperti disambar petir.

Candu Rayen pada Rindu dan kecuekkan Rindu padanya dengan tidak memberi kabar, juga tidak mengangkat teleponnya, membuat Rayen melakukan hal ini.

Gila memang.

1
Mawar
masih nyimak lnjut kak.
Mawar
itu sirindu tambah malu rayen.
Mawar
elang mmg gila sex bukannya taubat malh mkin menggila.
Mawar
rasain km elang,kepergik ma bella.
Mawar
kalau soal wanita bw agama klw soal hkum yg lain lp ma agama, yg km lakukan zina elang dosa besar.
Mawar
lnjut kak.
Mawar
apa yg akan tejadi sama rindu ya,😕😕
Mawar
cerai ja rindu km lebih baik sm rayen aja drpd sm elang udh celup sana sini.
Mawar
lnjut kak.rindu merasa bersalah sdangkan elang biasa ja tu.
Mawar
jijik lht kelakuan elng.
Mawar
gk ush maafin sielang rindu.
Mawar
itu pasti sielang mau ketemu simiskha jijik deh, kadihan rindu jngn mau diajk bercinta sama elang rindu.
Mawar
laki2 gak peka emang si elang itu meningan hempaskan ja rindu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!