Kultivator Elemen Abadi

Kultivator Elemen Abadi

Suara dari Masa Lalu yang Terlupakan

​Kesadaran itu menghantamnya seperti palu godam. Di balik kelopak mata yang terasa berat dan seolah terekat erat, sebuah suara menggelegar, memecah kesunyian alam bawah sadar Ling Yun.

​"Ling Yun! Kau adalah putra mahkota, darah biru kekaisaran! Beraninya kau melakukan perbuatan memalukan yang mencoreng martabat leluhurmu!"

​Suara itu asing, namun terasa begitu nyata hingga menusuk gendang telinganya. Ling Yun berusaha mengerang, namun lidahnya terasa kelu. Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, kecaman lain datang bertubi-tubi, lebih tajam dari mata pedang mana pun.

​"Kau adalah aib terbesar dalam sejarah panjang Kekaisaran ini! Sepuluh ribu tahun reputasi tanpa noda yang kami jaga, hancur lebur hanya karena tanganmu!"

​Kepalanya berdenyut hebat. Rasa sakit yang menjalar di setiap saraf membuatnya kewalahan. Di dalam kekacauan itu, Ling Yun hanya ingin membuka mata, ingin melarikan diri dari kegelapan yang menghimpitnya. Namun, tubuhnya terasa seperti bukan miliknya sendiri.

​"Seandainya kaisar terdahulu masih hidup... seandainya beliau melihat betapa kejinya perilakumu... beliau pasti akan mati karena amarah yang memuncak!"

​"Aku tidak melakukan semua hal itu!" Teriak Ling Yun seraya bangun dengan cepat dari tempat tidurnya. Keringat dingin membasahi keningnya, menetes hingga ke ujung dagu.

​"Cih, bahkan sampai saat ini, mimpi sialan itu masih rutin sekali datang," batin Ling Yun di tengah kemelut rasa sakitnya yang menghujam.

​Ling Yun terduduk kaku. Napasnya memburu, pendek dan kasar, seolah oksigen di dalam kamar sempit itu baru saja diperas habis oleh bayangan masa lalunya. Cahaya rembulan yang masuk melalui celah jendela kayu yang lapuk menyinari separuh wajahnya yang pucat. Perlahan, ia menyentuh dadanya, merasakan detak jantung yang masih berpacu liar di balik jubah tipis yang basah oleh keringat dingin.

​"Putra Mahkota..." gumamnya lirih, suaranya parau tertelan kesunyian malam. "Gelar itu sudah mati bersama dengan darah yang tumpah di lantai aula kekaisaran sepuluh tahun lalu." Ucapnya lirih, namun seketika sorot matanya berubah menjadi penuh amarah dan tajam, menyimpan dendam kesumat yang sangat dalam.

​Ia mengepalkan tinju. Di dunia ini, sejarah selalu ditulis oleh pemenang, dan bagi mereka yang kalah, kebenaran hanyalah debu yang tersapu badai. Ling Yun tahu betul bahwa memori yang baru saja menghantuinya bukanlah sekadar bunga tidur; itu adalah kutukan yang sengaja ditinggalkan oleh mereka yang mengkhianatinya.

​Ling Yun bangkit dari tempat tidur kayu yang keras itu. Ia melangkah menuju sebuah cermin tembaga yang buram di sudut ruangan. Di sana, terpantul bayangan seorang pemuda dengan tatapan mata yang tajam namun menyimpan kesedihan yang mendalam. Wajah itu tidak lagi memancarkan keangkuhan seorang pangeran, melainkan ketabahan seorang penyintas yang telah ditempa oleh penderitaan.

​Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan gejolak di dalam Dan Tian-nya. Biasanya, seorang kultivator akan merasa damai saat melakukan meditasi, namun tidak bagi Ling Yun. Di dalam pusat energinya, empat warna Qi yang berbeda—cokelat tanah, biru air, merah api, dan hijau udara—saling berputar dengan liar, menciptakan pusaran energi yang tidak stabil. Terlebih lagi terdapat retakan yang cukup besar pada Dan Tian-nya yang membuat empat warna Qi tersebut menjadi tidak karuan.

​Dan Tian-nya bukan lagi sebuah wadah emas yang utuh. Sebaliknya, itu menyerupai porselen kuno yang telah dihantam palu hingga retak seribu. Di dunia kultivasi Benua Langit Biru, Dan Tian yang rusak adalah vonis mati. Energi Qi yang diserap akan bocor keluar seperti air dalam ember yang pecah. Itulah alasan mengapa selama sepuluh tahun ini, Ling Yun tetap berada di ranah terendah, membuatnya menjadi bulan-bulanan para pelayan dan murid luar di Sekte Langit Abadi.

​"Empat elemen... Terlebih lagi Dan Tian yang rusak." Ling Yun berbisik pada bayangannya sendiri. "Seluruh dunia memanggilmu sampah. Mereka bilang kau tidak lebih dari orang cacat." Ucapnya pada dirinya sendiri seraya menatap cermin dengan intens.

​"...Akan tetapi," Ling Yun menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak asing di wajahnya yang biasanya tenang. "Mereka tidak tahu bahwa kehancuran adalah awal dari penciptaan. Akan kupastikan untuk menyembuhkan Dan Tian-ku ini bagaimanapun caranya, dan kembali untuk mengembalikan apa yang telah mereka berikan kepadaku!" Ucapnya lagi dengan tekad yang membara.

​Tok! Tok! Tok!

​Terdengar suara langkah kaki dari luar yang diiringi dengan ketukan pintu. Pintu yang terbuka seketika membuat Ling Yun menoleh. Terlihat sosok pria yang terlihat lebih tua dari Ling Yun beberapa tahun. Tubuhnya kurus dan tingginya sedikit lebih pendek dari Ling Yun. Ia memiliki rambut hitam legam dan sorot mata yang tampak sangat bersahabat.

​"Ternyata kau sudah bangun, adik kecilku. Jika sudah bersiap-siap, ayo kita pergi sekarang. Masih banyak tugas yang harus kita lakukan saat ini," ucapnya seraya menatap Ling Yun. Ling Yun mengangguk, lalu beranjak dari posisinya dan melangkah keluar kamar.

​"Tapi serius adik kecilku, apa yang kau lakukan tadi sembari menatap cermin? Apakah kau mendapatkan sebuah pencerahan atau semacamnya?" Ucap pria tersebut yang bernama Lu Han. Ia adalah satu-satunya pelayan di sekte ini yang masih mau memanggilnya "adik kecil" tanpa nada menghina. Di dunia yang mana kekuatan adalah segalanya, Lu Han adalah anomali; pengetahuannya tentang jalur logistik, tanaman obat, dan kemampuannya mengurus berbagai tugas pelayan membuatnya tetap bertahan hidup.

​"Bukan pencerahan, Kakak Lu," jawab Ling Yun tenang sembari merapikan pakaiannya yang sudah mulai memudar warnanya. "Aku hanya sedang memastikan apakah wajah 'si cacat' ini masih pantas untuk menerima makian orang-orang hari ini."

​Lu Han tertawa kecil, meski ada nada getir dalam suaranya. Ia menepuk bahu Ling Yun dengan akrab. "Kau ini terlalu keras pada dirimu sendiri. Sudahlah, jangan dengarkan gonggongan anjing-anjing di luar sana. Ayo, kita pergi ke Taman Binatang Abadi. Jika kita terlambat, jatah nasi mantau kita bisa dipotong lagi."

​Mereka berjalan menyusuri lorong panjang asrama pelayan yang lembap. Sinar matahari pagi mulai menembus sela-sela atap, menerangi debu yang beterbangan. Di sepanjang jalan, beberapa pelayan yang berpapasan memberikan tatapan merendahkan, namun Ling Yun tetap berjalan tegak. Langkah kakinya terasa jauh lebih mantap dari biasanya. Lebih tepatnya, ia sudah terbiasa dengan hal itu mengingat sudah hampir sepuluh tahun dirinya tinggal di sana.

​"Tapi jujur saja," Lu Han berbisik sambil melirik ke arah Ling Yun, "pagi ini kau terlihat... berbeda. Ada sesuatu yang aneh dengan auramu. Kau tidak benar-benar mencoba melakukan teknik pernapasan terlarang untuk memaksa Dan Tian-mu yang rusak itu, kan? Jangan gila, Ling Yun. Nyawamu lebih berharga daripada kultivasi sampah itu."

​Ling Yun hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membuat Lu Han sedikit merinding. "Jangan khawatir. Aku tahu batasanku. Aku hanya merasa bahwa hari ini... angin bertiup ke arah yang berbeda."

​Lu Han yang mendengar itu hanya bisa tersenyum getir lalu kembali berkata kepadanya, "Aku sudah mengingatkanmu berulang kali, tugas kita sebagai seorang pelayan memiliki prinsip panduan yang mutlak: Jangan pernah menyinggung para abadi, jangan pernah menyinggung murid internal, dan bahkan jangan pernah menyinggung murid eksternal. Jika tidak, situasi yang terjadi akan menimbulkan bencana, dan aku pun bisa saja terseret ke dalamnya. Jujur saja Yun, aku juga ingin hidup lebih lama dan menikmati hidup, tahu!"

​Ucapan Lu Han terdengar tegas, namun Ling Yun yang mendengar itu tersenyum tipis karena tahu orang di hadapannya ini hanya sedang sangat khawatir kepadanya.

​"Aku mengerti, Kak. Aku tahu batasanku sendiri. Jadi jangan terlalu khawatir dengan itu," ucap Ling Yun seraya tersenyum dengan suara yang menenangkan. Hal itu membuat Lu Han ikut tersenyum dan mengangguk pelan. Keduanya pun melangkahkan kaki bersama menuju Taman Binatang Abadi.

>>>>> ​Bersambung

~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se ras ku.

Terpopuler

Comments

Dark knight

Dark knight

Yuk novel baru, kali ini jangan putus di tengah jalan thorr

2026-05-29

2

Fahru Ahmad

Fahru Ahmad

menarik🙏

2026-05-28

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!