Kevin Sanjaya lulus dengan gelar dokter tapi diremehkan.bahkan di anggap tidak berguna karena keahlian yg di pelajarinya sudah ketinggalan zaman, dan tak berguna di dunia medis pada era Moderen! Tak di sangka, karena keberuntungan, dia mendapatkan Jantung meteorid dan buku kitab medis surgawi yang di tinggalkan kakekNya sebagai warisan keluarga. Dengan mempelajari buku kitab medis surgawi dan di topang dengan jantung meteorid, kekuatan medis dan tingkat beladiriNya melampaui imajinasinya. Sehingga dia bisa merubah nasibNya menjadi dokter medis hebat dengan keahlian pertarungan yg tak terkalahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Kau Lupa Membawa Pintu Mobilmu
Rizal menatap Kevin yang masih tampak sedih dan berkata dengan suara penuh penyesalan,
“Nagita, aku mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan. Tolong maafkan aku...”
Saat ini Rizal benar-benar telah disiksa habis-habisan oleh Kevin.
Di dalam hatinya, ia membenci Kevin sampai ke dalam hati paling dalam.
Namun, ia tidak berani menunjukkan sedikit pun ketidakpuasan.
Kalau tidak, ia pasti akan dipukuli lagi.
‘Kevin, tunggu saja! Aku pasti akan mencari orang untuk membuatmu cacat!’
‘Dan kau, Nagita! Jika suatu hari nanti aku tidak berhasil membawamu ke ranjangku, maka margaku bukan Pernama!’
Rizal meraung dalam hati.
Tentu saja, Kevin dan Nagita tidak mengetahui isi pikirannya.
Kalau mereka tahu, Kevin mungkin akan menghajarnya sekali lagi sampai babak belur.
Melihat kondisi Rizal yang menyedihkan, rasa kesal dalam hati Nagita sedikit demi sedikit menghilang.
Namun, ia tetap memandangnya dengan jijik.
“Pergi sekarang juga!”
“Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!”
Ucapan Rizal tadi sudah keterlaluan.
Bagaimana mungkin ia bisa memaafkannya begitu saja?
Mendengar itu, Rizal justru merasa lega.
Saat ini, ia hanya ingin segera pergi dari tempat ini.
Selama Kevin masih berdiri di sini, ia tidak memiliki rasa aman sedikit pun.
Nagita sudah tidak ingin mempedulikannya lagi.
Sementara itu, Kevin juga sebenarnya malas berurusan dengannya.
Namun, matanya tiba-tiba tertuju pada dua puluh juta yang masih tergeletak di atas kap mobil BMW.
Kevin berkata dengan tenang,
“Rizal, kau menghina aku, lalu menghina Nagita.”
“Kau sudah menyebabkan trauma yang sangat besar bagi kami berdua.”
“Bukankah seharusnya kau memberi kompensasi?”
Mengikuti arah pandangan Kevin, Rizal melihat uang dua puluh juta yang berada di atas mobilnya.
Sudut mulutnya berkedut.
“Di sini ada dua puluh juta.”
“Anggap saja sebagai uang ganti rugi.”
“Semoga bisa sedikit mengobati trauma kalian.”
Saat mengucapkan kalimat itu, hatinya terasa seperti ditusuk-tusuk.
Kevin jelas-jelas sedang berbicara omong kosong!
Orang itu sama sekali tidak mengalami trauma apa pun!
Dirinyalah yang dipukuli, tetapi sekarang masih harus menyerahkan dua puluh juta!
Mendengar jawaban itu, Kevin tiba-tiba menampar kap mobil BMW.
Buk!
Tatapannya langsung menjadi dingin.
“Apa?”
“Kau masih meremehkanku?”
Melihat penyok besar yang muncul di kap mobil akibat tamparan Kevin, wajah Rizal langsung pucat.
Tubuhnya gemetar hebat.
Kevin hanya menggunakan telapak tangan kosong, tetapi berhasil membuat kap mobil logam itu penyok!
Apakah dia masih manusia?
“Tidak! Tidak!”
“Aku sama sekali tidak meremehkanmu!”
Melihat Kevin melangkah mendekat, Rizal begitu ketakutan hingga kehilangan kendali atas kantung kemihnya.
Bau pesing langsung menyebar di udara.
Kevin mengernyit.
Orang ini benar-benar ketakutan sampai mengompol.
Dengan dingin ia berkata,
“Dua puluh juta saja?”
“Kau menganggapku pengemis?”
Mendengar itu, Rizal menggigil hebat.
“Di dalam mobil masih ada dua puluh juta lagi di dalam tas ransel!”
“Aku akan memberikannya padamu!”
Kevin menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Aku ambil sendiri.”
Seketika, ia meraih pintu BMW dan menariknya.
Krek!
Di depan tatapan Rizal yang penuh ketakutan, pintu mobil itu tercabut begitu saja.
Seolah-olah yang ditarik Kevin hanyalah selembar besi ringan.
Melihat pemandangan itu, Rizal hampir pingsan karena ketakutan.
BMW terkenal kokoh.
Namun di tangan Kevin, pintu mobil itu bisa dicabut begitu saja!
Kevin segera menemukan sebuah ransel hitam di dalam mobil.
Benar saja.
Di dalamnya terdapat dua puluh juta lagi.
Melihat empat puluh juta di tangannya, lalu melihat kap mobil yang penyok dan pintu mobil yang tercabut, Kevin sedikit merasa tidak enak.
Ia memandang Rizal dan berkata,
“Aku orang yang sangat masuk akal.”
“Aku tidak suka mengambil keuntungan dari orang lain.”
“Karena aku merusak mobilmu, tentu aku harus menggantinya.”
“Tidak perlu!”
Rizal langsung menggeleng seperti mainan.
Baginya, selama bisa pergi dari sini dengan selamat, itu sudah cukup.
Namun Kevin justru tidak senang.
“Aku orang yang bermoral tinggi.”
“Tapi kulihat mobilmu yang rusak ini sudah tidak kokoh lagi.”
“Jelas bukan mobil bagus.”
Setelah berkata demikian, Kevin mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu yang sudah kusut dari sakunya.
Lalu ia memberikannya ke tangan Rizal.
Dengan murah hati ia berkata,
“Nih.”
“Pakai untuk memperbaiki mobilmu.”
“Kalau ada sisa, tidak usah dikembalikan kepadaku.”
Melihat lembaran lima puluh ribu di tangannya, Rizal hampir menangis.
Biaya perbaikan mobil itu paling sedikit puluhan juta.
Namun Kevin hanya memberinya lima puluh ribu!
Sambil memegang uang itu, Rizal benar-benar ingin bunuh diri.
Kevin menatapnya.
“Apa?”
“Kurang?”
“Setauku itu sudah lebih dari cukup...!"
“Hem, memang sulit menemukan orang jujur sepertimu sekarang.”
Mendengar itu, wajah Rizal hampir berubah hijau.
Ia tidak berani berkata apa-apa lagi.
Dengan tubuh yang pincang, ia buru-buru masuk ke mobil.
Kemudian menyalakan mesin dan kabur secepat mungkin.
Melihat BMW tanpa pintu itu melaju pergi, Kevin berteriak,
“Hei!”
“Kau lupa membawa pintu mobilmu!”
Mendengar suara yang baginya seperti suara iblis, Rizal langsung gemetar.
Ia menginjak pedal gas sampai mentok.
Wusss!
Mobil itu menghilang dalam sekejap.
Melihat pemandangan tersebut, Kevin tidak bisa menahan senyum.
Anak orang kaya seperti Rizal memang perlu diberi pelajaran.
Meskipun ia harus mengeluarkan sedikit tenaga, hasilnya sangat memuaskan.
Sebelumnya ia masih pusing memikirkan bagaimana menjalani hidup tanpa uang.
Sekarang, semua masalah itu sudah terpecahkan.
Pertama, ada perampok yang membantunya menemukan tempat tinggal.
Lalu muncul Rizal yang dengan sukarela menyumbangkan empat puluh juta.
Di mata Kevin, kedua orang itu benar-benar pembawa keberuntungan.
udah berapa bab nih jari gak lepas2? 😇🤭