Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.
Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.
Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kekacauan dalam altar pernikahan
Tubuh Hafidz dan Kiai Hakim membeku. Terduduk lemas di kursi belakang mereka.
Disana, di depan pintu, berdiri 4 santriwan dan santriwati yang dikeluarkan secara paksa akibat tau rahasia gelap pesantren.
Zefano menyeringai puas, menatap dua manusia di atas sana dengan senyum tipis.
"Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tapi kalian—memaksaku untuk melakukannya."
Alisa melongo syok, diantara santriwati di sana, ada Fania. Gadis yang dikeluarkan gara-gara alasan tidak berdasar.
'Masuk ke ruang pengajar tanpa izin'
Jika dijabarkan lebih dalam. Alasan dikeluarkan gara-gara masuk ke ruang pengajar tanpa izin itu tidak masuk akal. Semuanya juga menentang kebijakan itu. Namun karena tak ada respon dari atasan, lambat laun kabar itu sayup-sayup menghilang.
"Kak Fania?!" pekik Alisa, menutup mulutnya syok.
Fania, di dahinya terdapat luka jahitan yang pasti sudah lama. Tersenyum ke arah Alisa dengan senyum lembut.
Sementara Kiai Hakim, langsung pucat. Ia tatap sekeliling tamu undangan yang menatap syok ke arahnya. Menggeleng kuat.
"Tidak! Tidak! Ini tidak seperti yang anda lihat!" seru Kiai Hakim kuat.
Sementara Hafidz, juga sama pucatnya. karena disana, ada seorang wanita yang memiliki rahasia kelam dirinya di masa lalu.
"Aku sudah capek-capek membangun citraku kembali dan sekarang semuanya terbongkar sia-sia?!" batin Hafidz gemetar.
Zefano berjalan dengan langkah tenang mendekat. Menyentuh dagu Hafidz, lalu mendorongnya ke samping hingga wajah adiknya itu tertoleh.
"Ini kan yang kamu mau?"
"Ngga!!" pekik Hafidz, menggeleng kuat.
Anisa yang berada di samping Hafidz langsung gemetar saat tatapan tajam Zefano beralih ke arahnya.
"Gadis baik, seharusnya kamu tidak terjerumus terlalu dalam dengan pria munafik ini." bisik Zefano, membuat tubuh Anisa terpaku, terduduk lemah.
"Apa yang kamu lakukan Zefano?!" Kiai Hakim berlari ke arah Zefano cepat, merangsek kerah bajunya kuat, "Abah tidak pernah berlaku kasar padamu! Kenapa kamu sejahat ini dengan Abah?!"
Zefano tatap dingin Kiai Hakim, "Tidak kasar? Mengurung di gudang umur 5 tahun! Berapa bah?! 8 jam! Melampiaskan semua kesalahan Hafidz padaku demi menjaga citra putra Abah yang sudah buruk! Mau sampai kapanpun Abah menutupi, semua bakal terbongkar!" pekik Zefano, melemahkan rematan Kiai Hakim di kerahnya.
Tubuh Kiai Hakim limbung ke kursi di belakangnya, menatap nanar ke bawah, meratapi segala citra yang sudah ia jaga dengan sepenuh hati, harus hancur sia-sia.
Zefano menoleh cepat ke arah 2 santriwan dan 2 santriwati yang sudah dibawa oleh pesuruhnya itu. Menunjuk pria di ujung lebih dulu.
"Kamu, apa yang kamu tau tentang pesantren?" tanya Zefano dingin.
Rizki, santriwan yang dikeluarkan secara sepihak tanpa kejelasan itu menatap takut-takut ke arah Kiai Hakim yang mendelik ke arahnya.
"Tenanglah, kau tidak perlu takut. Kau sekarang dalam perlindunganku." jelas Zefano.
Rizki angkat dagunya ragu-ragu.
"Pe-pesantren pernah melakukan mal praktek yang bikin kaki saya cacat."
Seluruh tamu undangan langsung riuh. Mereka baru saja notice bahwa sepatu yang Rizki kenakan itu hanya demi menutupi kakinya yang sudah menjadi karangka besi, menunjukkannya pada khalayak umum.
"Astaghfirullah! Ini yang bener!"
"Ya Allah kejam sekali! Jahat sekali orang-orang yang bikin orang lain sengsara seperti ini!"
Zefano menoleh tajam ke arah sang Abah yang tatapannya sudah kosong itu, "Demi ambisi Abah untuk menjadikan pesantren juga terdapat fasilitas medis. Anda membawa sembarang dokter dan menjadikan santri anda kelinci percobaan." ucap Zefano.
"Lalu kamu, Hamid." lanjut Zefano, ke pria di samping Rizki.
Hamid berdiri gemetaran, namun segera di tenangkan oleh Riski di sampingnya, "Sa-saya dikeluarkan gara-gara tak sengaja mendengar beberapa santri yang ingin ke Kairo kehilangan uang di pesantren. Dan pelakunya adalah Kiai untuk mengajukan Gus Hafidz terbang ke Kairo." jelas Hamid gemetar.
"CUKUPP!! CUKUPP!!" Teriak Hafidz sudah gila, menutup telinganya kuat.
"Aku ngga ingin dengar lagi!" lanjutnya berteriak.
Namun Zefano tak mengindahkan. Tersenyum tipis. Lalu beralih ke santriwati di samping Hamid. Wajahnya tampak murung, meremat ujung rok miliknya kuat.
"Azura." panggil Zefano, mengejutkan gadis pemalu itu.
"Sa-saya." cicitnya.
"Jelaskan apa yang terjadi padamu di pesantren." ucapnya datar.
Azura tatap Hafidz takut-takut sebelum akhirnya kembali merunduk, "Sa-saya diperkosa oleh Guz Hafidz saat—"
"CUKUPPPP!!!" Hafidz berteriak nyaring, menatap tajam ke arah Azura, hendak turun dengan tangan mengepal.
Namun Zefano lekas menahannya, menendang dada pria itu hingga terduduk kembali ke kursinya.
"Diam disitu atau ku patahkan kakimu!" tegas Zefano, menggetarkan seluruh jiwa dan raga Hafidz.
Hafidz kembali menoleh ke arah depan, "Selanjutnya kamu, Fania."
Fania gemetar, bahunya terlihat jelas getarannya, hingga membuat orang-orang yang melihatnya cemas, "Sa-saya....." ia tak sanggup melanjutkan perkataannya. Terisak lirih.
"Tidak apa-apa, lampiaskan saja."
Fania merunduk kuat, "Saya diminta Kiai untuk memotong kaki Rizki karena saya salah satu santriwati yang ikut study medis. Namun saya tidak mau dan—dan saya dikeluarkan." cicitnya, mengejutkan Rizki.
Teriakan riuh langsung memenuhi ruangan. Kiai Hakim dan juga Hafidz langsung tak ada muka di depan umum. Sementara Anisa, langsung dibawa turun keluarganya dengan paksa.
Kiai Hakim dan Hafidz sudah pasrah sekarang. Semua terbongkar, dan mereka tidak bisa mengelak di depan orang sebanyak ini.
"Astagfirullah!!! Pesantren bejatt!! Aku harus menyusul putraku disana!"
"Aku juga! Putraku selalu mengeluh sakit perut! Jangan-jangan itu juga gara-gara obat kembangan pesantren yang tidak benar!"
"Ya Allah, kok jahat bener jadi manusia. berambisi boleh tapi jangan ngerugiin manusia lain dong!!"
Dan masih banyak lagi kegaduhan dan teriakan-teriakan ketidak tetimaan para tamu undangan yang memondokkan putra putrinya di pesantren mereka.
Tak berselang lama, 4 anggota polisi masuk ke dalam ballroom. Mengejutkan Kiai Hakim dan juga Hafidz yang gemetar, refleks mundur. Namun di tahan oleh Zefano.
"Mau pergi kemana kalian? Sudah kubilang acaranya belum selesai." bisik Zefano.
Hafidz langsung menatap tajam sang kakak, "Dasar kakak sialan! Semua gara-gara kamu! Aku harus kehilangan Alisa juga gara-gara kamu!" teriak Hafidz.
Zefano langsung menendang pinggang Hafidz dengan lututnya, membisikkan sesuatu di telinga pria itu.
"Jaga mulutmu bangsat! Alisa tidak pantas untuk pria bejad sepertimu!"
"Justru kamu yang tidak pantas untuk dia! Laki-laki tidak tahu sopan santun, anak durhaka yang menjebloskan ayahnya sendiri ke penjara!"
Tatapan Zefano langsung kosong, tangannya semakin kuat meremat bahu Hafidz hingga membuat adiknya itu mengerang kesakitan. Segera diamankan oleh polisi.
Tubuh Zefano langsung terduduk, tatapan yang semula kosong langsung tajam. Mulut yang semula terkatup langsung menyeringai tipis.
"Durhaka? Sial, dia tidak tau anak durhaka juga lahir dari orang tua durhaka."