Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 07 : Baik?
Pagi itu, kamar hotel terasa lebih tenang dari malam sebelumnya.
Lyko terbangun perlahan. Matanya masih berat, namun sinar matahari yang menembus gorden tipis membuatnya tak bisa kembali terlelap. Ia duduk di tepi kasur, menatap lurus ke arah jendela dengan pikiran yang masih berantakan.
Perlahan ia bangkit, melangkah mendekat, lalu membuka gorden itu. Cahaya hangat matahari langsung menyinari wajahnya.
Lyko menyipitkan mata, lalu membuka pintu kaca balkon, lalu melangkah keluar dan berdiri di sana sambil menatap pemandangan kota dari ketinggian.
Semua terlihat begitu indah, di saat itu juga pikirannya kembali kepada semua masalahnya.
‘Jadi... ini semua bukan mimpi?’ batinnya pelan.
Xavier kembali terlintas di pikirannya. Bagaimana bisa seorang pria asing yang bahkan tidak pernah ia kenali mendadak muncul dan memberikan kehidupan yang bagitu layak padanya.
Kepala Lyko terus terpikir tentang satu pertanyaan, apakah ia seorang pria yang baik? Atau justru sebaliknya?
Lyko perlahan memeluk dirinya sendiri, matanya terpejam menikmati angin yang berhembus menerpa rambutnya. Belum sempat ia menemukan jawaban, tiba-tiba terdengar suara suara ponsel berbunyi.
Lyko tersentak kecil, lalu buru-buru masuk kembali ke dalam kamar. Ia mengambil ponselnya dan mengecek siapa yang menelponnya, begitu ia melihat ternyata itu adalah Xavier.
Jantungnya langsung berdegup cepat. Dengan ragu, perlahan ia mengangkat panggilan itu.
“Ha-hallo…” ucap Lyko dengan suara lembut.
Suara dingin dan tegas khas Xavier mulai terdengar. “Sudah bangun? Aku di depan kamarmu, tolong buka pintunya.”
Lyko terdiam sejenak, lalu segera menjawab, “ba-baiklah… aku buka sekarang.”
Panggilan terputus, Lyko perlahan menarik nafas dan memenangkan diri, lalu berjalan berjalan menuju pintu untuk membukanya.
Begitu pintu dibuka, terlihat Xavier sudah berdiri tegap disana. Pandangannya tampak dingin seperti biasa, tapi entah mengapa itu sedikit membuat Lyko lega.
Tanpa banyak bicara, Xavier langsung menyerahkan sebuah paperbag ke arah Lyko.
“Ini baju untukmu, mandi lalu pakai ini. Aku akan menunggumu di lobby,” ucapnya singkat, namun ada sedikit kelembutan.
Lyko menerima paperbag itu dengan kedua tangan. “Terima kasih…” ucapnya sambil menatap paperbag itu.
Xavier mengangguk, lalu bejalan pergi.
Lyko kembali menutup pintu. Kini ia menatap paperbag di tangannya beberapa detik, lalu perlahan membukanya dan melihat apa isi didalam paperbag itu.
Matanya langsung membesar tak percaya, di dalamnya terdapat sebuah dress mini berwarna biru langit, dipadukan dengan cardigan putih berlist biru yang tampak serasi.
Cantik… sangat cantik. Gaun itu juga sangat indah dan lucu. Senyum kecil terbit di bibirnya tanpa sadar.
****
Sementara itu, di lobby hotel, Xavier terlihat sedang duduk dengan tenang di salah satu sofa. Ponselnya berada di tangannya, jari-jarinya bergerak cepat.
Layar menunjukkan laporan operasi semalam. Ares dan semua timnya tampak berhasil mendapatkan blue print dari tempat musuh tanpa kendala apapun.
Sudut bibir Xavier terangkat tipis. Dirinya tampak puas dengan kinerja para anak buahnya. Langkah pertama berjalan sesuai rencana, dan kini tinggal satu tahap lagi untuk mendapatkan daerah musuh.
Ia mulai mengetik, dan menyusun strategi dengan Ares secara detail, agar nanti semuanya akan berjalan sesuai rencana.
Namun di tengah ke fokusnya, tiba-tiba terdengar suara lembut yang menghentikan geraknya.
“Ma-maaf menunggu lama...”
Suara kecil ciri khas yang sangat ia kenali. Perlahan, Xavier mengangkat kepalanya.
Dan untuk sesaat… ia terdiam membisu. Siapa lagi kalau bukan Lyko. Tampak kini Lyko sudah berdiri dengan menggunakan baju yang dipilihkan oleh Xavier.
Dress itu pas di tubuhnya, gaya kepang dua itu tampak rapi dan selaras dengan sebuah slayer biru muda yang menghiasi kepalanya.
Sederhana… tapi justru itu yang membuatnya terlihat begitu berbeda dari wanita-wanita yang pernah Xavier temui.
Lyko tampak lebih manis, imut, dan menarik.
Tatapan Xavier sempat tertahan beberapa detik, namun dengan cepat ia menyembunyikannya dan berdiri.
“Sudah selesai?” ucap Xavier singkat. Namun pandangannya beralih ke atas kepala Lyko. “Dari mana kau mendapatkannya? Sepertinya aku tidak membelikanmu barang seperti itu.”
Lyko menyentuh slayer itu pelan. “Oh ini? Slayer ini dari bunda. Sudah aku pakai sejak masih kecil, dan selalu aku bawa kemana-mana,” jawab Lyko pelan.
“Benarkah? Mengapa kemarin kau tidak memakainya?” tanya Xavier tampak ragu.
Lyko menjawab lagi. “Karena kemarin aku menaruhnya di saku karena habis selesai latihan dance di kampus.”
Xavier akhirnya mengangguk mengerti. “Baiklah.”
Tanpa komentar lebih lanjut, ia langsung mengajak Lyko pergi. “Ikut aku,” titahnya.
Lyko hanya mengangguk dan mengikuti dari belakang.
****
Di basement, Felix sudah menunggu di dalam mobil. Begitu Xavier dan Lyko masuk, Felix langsung menoleh dan memberikan sebuah kertas pada Xavier.
“Tuan, perpanjangan kamar sudah selesai. Nona bisa tinggal sampai lusa pagi,” ucap Felix dengan sopan.
Xavier mengambil kertas itu. Dan mengangguk singkat. “Jalan sekarang,” perintah Xavier.
Felix mengangguk dan mulai menjalankan mobil. Di tengah perjalanan, Lyko perlahan mengeluarkan suara. “Maaf...” kata Lyko perlahan.
Xavier menoleh. “Ada apa?” tanyanya.
Lyko menjawab sambil menunduk karena masih canggung menatap Xavier. “Hm... Bolehkah besok aku pulang kerumah sebentar untuk menjenguk Bundaku?” kata Lyko dengan nada gugup.
“Tentu saja, pergilah aku tidak melarang, tapi aku akan menjemputmu pada siang harinya, mengerti?” kata Xavier.
Lyko mengangguk. “Baik, aku paham, terimakasih,” ucap Lyko tersenyum kecil.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di mall.
“Tuan, kita sudah sampai tujuan,” ucap Felix dengan sopan.
Xavier mengangguk. “Kau tunggu disini,” kata Xavier pada Felix. Felix hanya mengangguk mengerti.
Kemudian ia keluar dan berjalan bersama Lyko memasuki mall yang ramai. Kemudian, Xavier menarik tangan Lyko untuk memasuki sebuah toko pakian.
Begitu masuk, tampak banyak pakaian yang mewah dan indah disana. “Pilih apa yang kau mau,” kata Xavier pada Lyko.
Lyko terlihat ragu. Matanya berkeliling, menatap satu per satu pakaian yang terpajang.
Semuanya indah, tapi semua pakaian itu bukanlah gaya Lyko sehari-hari. Pakaian disana bagus, namun banyak yang seksi dan terbuka, dan itu membuat Lyko tidak tertarik.
“Aku… bingung,” katanya pelan. “Semuanya mahal… dan tidak seperti yang biasa kupakai,” ucap Lyko sambil menatap Xavier pelan.
Xavier menatapnya. “Lihat-lihat saja dulu, kalau ada yang cocok pada gayamu, bilang padaku,” ucapnya.
Mereka mulai berkeliling ke seluruh sudut toko sampai akhirnya langkah Lyko terhenti di depan deretan jumpsuit yang tergantung rapih.
Matanya tampak tertarik dan berbinar, ia memperhatikan setiap detail jumpsuit itu dan terhenti di bagian harga.
Ekspresi Lyko langsung berubah. Refleks, ia mundur sedikit dan tak berani mendekat. ‘Yang benar saja, jumpsuit seperti ini satunya 2 juta? Kaosku saja tidak sampai 50 ribu dan bahkan dibuatkan oleh Bunda,’ batin Lyko.
Xavier melihat itu, ia paham dengan gelagat Lyko. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung mengambil satu persatu motif jumpsuit yang berbeda dan membawanya ke kasir.
Lyko terkejut. “Xa-Xavier, tu-tunggu dulu!” Lyko langsung mengejar Xavier dari belakang.
Namun tampaknya sudah terlambat, Xavier terlihat sudah membayar semuanya di kasir.
Lyko berhenti di sampingnya dengan ekspresi terkejut. Lyko hanya bisa terdiam, menatap kantong belanja itu dengan perasaan campur aduk.
Xavier langsung menoleh padanya. “Kita lanjut,” katanya santai.
Lyko masih terkejut, namun ia segera mengangguk walau masih belum sepenuhnya mengerti.
Saat keluar dari dalam toko dan hendak mencari barang lain, akhirnya Lyko memberanikan diri bertanya. “Anu... itu, apa semua ini benar tidak apa-apa? Barang ini terlalu mahal,” ucap Lyko tampak tidak enak.
Langkah Xavier tidak berhenti. “Tidak apa,” jawabnya singkat.
“Ta-tapi aku jadi membebanimu, aku merasa tidak pantas menerima semua ini...” ia berjalan sambil menunduk.
Xavier tampan terkejut dengan ucapannya. ‘Gadis ini, ternyata dia tidak mata uang,’ batin Xavier.
Perlahan ia kembali mengeluarkan suara. “Jangan berpikir seperti itu, ingatlah sekarang ini… kau adalah tanggung jawabku.”
Lyko terkejut dan terdiam sesaat. Kalimat itu tampak biasa saja, namun entah kenapa terasa sangat menyentuh hatinya.
Dan perlahan sebuah pemikiran singkat masuk ke otaknya. ‘Benarkah ia orang yang baik?’ batinnya tanpa sadar.
Lyko sendiri masih menimbang-nimbangkan nya, namun entah kenapa Lyko mulai merasa nyaman jika dekat dengan Xavier.
Walau ia sendiri belum yakin, namun hatinya mulai terketuk perlahan.