NovelToon NovelToon
Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Reenie

Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.

Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.

Follow tiktok : aricia.agestis6

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Masakan Terakhir

"A-apa? Apa maksudmu dana investasi ditarik total?!" Suara Theo menggema di seluruh ruang makan mewah itu.

Ponsel di genggamannya hampir saja merosot jika dia tidak mencengkeramnya dengan sisa tenaga yang ada. Wajah tampannya yang tadinya dipenuhi keangkuhan, kini mulai memucat.

Di telepon, suara sekretaris keuangan terdengar bergetar, dipenuhi kepanikan yang sama besarnya.

"Benar, Tuan Theo! Tiga investor terbesar kita yang terhubung dengan kolaborasi asing baru saja mengirimkan surat pembatalan kerja sama sepihak. Tidak hanya itu, dana kita sebesar lima puluh miliar yang seharusnya cair pagi ini untuk proyek pelabuhan baru... ditarik total tanpa sisa! Rekening operasional perusahaan kita dibekukan untuk audit sepihak!"

Mata Theo membelalak tak percaya. Di telepon, suara sekretaris keuangan terdengar semakin gemetar.

"Siapa dibalik ini semua?" tanya Theo

"K-kami sudah melacaknya, Tuan Theo. Investor asing itu mendadak memutus kontrak karena ada intervensi dari Aricia International. Perusahaan raksasa itu membeli seluruh saham investor kita dalam waktu sepuluh menit saja, lalu memerintahkan penarikan dana total dari Falcon Corp!"

​"Aricia International?!" Theo mengepalkan tangannya, dengan kuat.

"Aku tidak pernah punya musuh dengan perusahaan bisnis itu! Kenapa mereka tiba-tiba menghancurkanku?!"

Ratna, yang menyadari perubahan drastis pada putranya, segera meletakkan garpunya dengan dentang keras.

"Theo, ada apa? Kenapa kamu berteriak seperti itu? Siapa yang berani menarik dana dari perusahaan anak Ibu yang hebat ini?"

Bianca pun ikut meletakkan pisaunya. Sebagai manajer pemasaran yang ikut menyusun proposal proyek itu, jantungnya ikut berdebar, takut akan uang yang diterimanya tidak sebanyak dulu lagi.

"Theo, katakan padaku, apa yang terjadi? Proyek pelabuhan itu adalah nyawa Falcon Corp untuk kuartal ini. Jika dana itu ditarik, kita bisa bangkrut dalam hitungan hari!"

Theo tidak menjawab, pendengarannya mendadak berdenging. Pikirannya seketika buntu, Theo tidak tahu investor misterius yang selama ini menyokong Falcon Corp dari belakang, yang selalu Theo kira tertarik karena kegeniusan proposal bisnisnya sendiri, tiba-tiba memutuskan hubungan begitu saja tanpa alasan yang jelas.

...****************...

Di tengah kekacauan dan kepanikan yang terjadi di meja makan, Zarlin berjalan mendekat.

Zarlin Rahesa berjalan dengan tenang dari sudut ruangan. Tidak ada raut panik diwajahnya apalagi air mata, dan ketakutan. Dia berdiri di ujung meja makan, menatap tiga orang di depannya dengan pandangan dingin.

Zarlin perlahan mengangkat tangannya, lalu dengan gerakan elegan, dia melepas celemek dapur yang menempel di tubuhnya. Dia menjatuhkan kain itu begitu saja ke atas lantai, tepat di dekat kursi Theo.

"Kenapa makanannya berhenti dimakan, Theo? Bukankah steak itu sangat empuk?" tanya Zarlin dengan sedikit kebencian, suaranya terdengar begitu datar namun itu adalah sindiran yang menusuk.

Mendengar suara Zarlin, Ratna yang sedang panik langsung meluapkan amarahnya. Dia menunjuk wajah Zarlin dengan telunjuknya yang dihiasi cincin emas.

"Heh, wanita pembawa sial! Bisa-bisanya kau memikirkan makanan di saat perusahaan suamimu sedang ada masalah?! Aku tahu ini pasti karena kau! Sejak tadi, wajahmu yang suram itu seperti menyumpahi rumah ini! Dasar tidak berguna!" bentak mertuanya.

Bianca juga menatap Zarlin dengan pandangan tajam, mencoba mencari kambing hitam.

"Zarlin, tolong jangan membuat suasana makin memanas. Theo sedang pusing urusan bisnis kelas atas, hal yang sama sekali tidak akan pernah dipahami oleh wanita rumahan sepertimu." ujar Bianca dengan sombongnya.

Zarlin tidak membalas makian Ratna dan tidak juga memedulikan tatapan sinis Bianca. Dia justru menatap lurus ke arah Theo yang perlahan mendongak, menatapnya dengan mata yang memerah karena stres.

"Aku sudah memperingatkanmu semalam, Theo dan aku juga sudah mengatakannya tadi pagi," Zarlin berbisik pelan, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu jelas.

"Simpan saja seluruh uangmu untuk membayar utang-utang perusahaanmu di masa depan. Karena setelah siang ini, kau akan sangat membutuhkannya."

Theo mengernyitkan dahi. Di tengah kepanikan otaknya, kata-kata Zarlin mendadak memicu alarm kecurigaan.

Bagaimana Zarlin bisa tahu perusahaan akan terlilit utang? Kenapa kalimatnya sama persis dengan ancamannya tadi pagi sebelum dia kunci di kamar?

"Zarlin... apa maksudmu?" Theo berdiri, suaranya bergetar antara amarah dan kebingungan. "Kau tahu sesuatu tentang ini?!"

Zarlin tidak menjawab, dia hanya membuat sebuah senyuman tipis dan penuh kemenangan yang terlihat begitu asing dan mengerikan di mata Theo.

Zarlin berbalik, melangkah dengan anggun menuju kamar tamu di lantai bawah, mengabaikan teriakan Theo yang memanggil namanya.

"Zarlin, mau kemana kau?"

"Zarlin!"

"Zarlin, apa kau tidak dengar suamimu memanggilmu?" teriak Theo

Ketegangan itu tentu saja dirasakan oleh Ratna dan Bianca. Mereka terbelalak melihat Zarlin yang seberani ini sekarang.

Hanya butuh waktu lima menit bagi Zarlin untuk mengambil koper hitamnya yang sempat terjatuh tadi pagi. Saat dia kembali ke ruang tengah, Theo sudah menghadangnya di dekat pintu utama, diikuti oleh Ratna dan Bianca yang menatapnya dengan pandangan penuh permusuhan.

"Mau ke mana kau, Zarlin?! Jelaskan padaku apa maksud ucapanmu tadi! Jangan coba-coba kabur dari rumah ini setelah membuat kekacauan!" bentak Theo, mencoba mencengkeram kembali lengan Zarlin.

Namun, sebelum tangan Theo sempat menyentuh kulitnya, Zarlin selangkah lebih cepat menghindar. Matanya menatap tajam Theo, membuat pria itu refleks menghentikan gerakannya karena aura intimidasi yang mendadak terpancar dari tubuh istrinya.

"Urusan kita sudah selesai, Theo Falcon. Nikmatilah hidangan terakhir dariku, karena mulai detik ini, kau bukan lagi suamiku," ucap Zarlin tegas, suaranya begitu lantang dan penuh otoritas.

Tanpa menunggu balasan, Zarlin mendorong pintu rumah dan melangkah keluar, menarik kopernya dengan kepala tegak.

"Zarlin! Kembali kau! Kau akan menyesal! Kau akan mengemis di jalanan!" teriak Theo dari ambang pintu, egonya yang terluka membuat dia terus meneriakkan ancaman kosong.

Namun, teriakan Theo mendadak terhenti di tenggorokan. Begitu pula dengan Ratna dan Bianca yang ikut menyusul ke teras rumah. Ketiganya mematung dengan mata membelalak tak percaya menyaksikan pemandangan di depan halaman mereka.

Di luar pagar rumah yang biasanya sepi, kini telah berjejer tiga mobil sedan mewah berplat khusus yang nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.

Beberapa pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam mahal dan kacamata hitam berdiri tegap di samping mobil.

Begitu melihat Zarlin keluar, salah satu pria yang tampaknya adalah kepala pengawal langsung maju dengan langkah tegap. Dia membungkuk hormat hampir sembilan puluh derajat di hadapan Zarlin, lalu dengan sangat hati-hati mengambil alih koper hitam dari tangan wanita itu.

"Selamat datang kembali, Nona Muda. Semua kebutuhan Anda telah disiapkan," ucap pria itu dengan suara yang tegas, terdengar jelas hingga ke telinga Theo yang berada di teras.

Pria itu kemudian membukakan pintu penumpang belakang dari mobil paling mewah di tengah, mempersilakan Zarlin masuk dengan perlahan seolah Zarlin adalah seorang ratu yang sangat berharga.

Dari dalam mobil yang kacanya perlahan tertutup, Zarlin menatap keluar jendela. Dia melihat wajah Theo yang melongo syok, wajah Bianca yang pucat karena ketakutan, dan wajah ibu mertuanya yang mendadak bungkam dengan mulut ternganga.

Mobil mewah itu perlahan berjalanan, meninggalkan ketiganya diteras rumah yang kini mulai didatangi dengan kehancuran. Di dalam mobil, Zarlin menyandarkan tubuhnya, mengeluarkan ponsel pribadinya yang selama tiga tahun ini dia matikan.

"Hubungi Tristan Avalanka," perintah Zarlin kepada asisten di samping kemudi.

"Katakan padanya, aku menerima tawarannya untuk mengambil alih proyek pelabuhan yang baru saja dilepaskan oleh Falcon Corp."

"Baik Nona." ujar asisten itu tanpa bantahan.

1
👀 | 𝕽𝖊𝖓𝖆~🪽•̩̩͙*˚⁺‧͙
kenapa bang? selama ini gapernah liat istrimu mengemudi kah?🤭
👀 | 𝕽𝖊𝖓𝖆~🪽•̩̩͙*˚⁺‧͙: harusnya kutambahkan 'mantan'
total 1 replies
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
dan bianca yg bodoh, masih aja mau hidungnya di tarij sama lelaki bo doh itu /Facepalm/
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
kunci kesuksesan mu hanya pada zarlin. tapi kamu membuangnya. ya, salah sendiri 🤪🤪
Miu.Nuha
langsung takut dn mengelak 🤭
itu justru malah menguatkan kebenaran...
Miu.Nuha
Iya 🤧
semoga lancar proses perceraiannya !!
Ibu Rasyidd
semangar thorr
Ibu Rasyidd
betul itu zarlin, karna kalau udah di atas pas jatuh beuuhh pasti langsung hancurr
Mommy tulipp
Kalau sang ayah tahu bakal marah besar
Mommy tulipp
Mungkin perempuan yg dimaksud Bik Sumi itu Bianca, makanya dia berpikir tdk mirip dengan foto kalau itu adlh Zarlin
Mommy tulipp
Tristan mengingat semua permasalahan Zarlin
Mommy tulipp
Berarti Paulus tahu tentang keluarga Zarlin yang mempunyai perusahaan ya thor? Yang tdk tahu itu hanya Theo dan ibunya
Mommy tulipp
Sepertinya Paulus ini ayah yang tegas
Ibu Rasyidd
selamat menikmati karma theo💪
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
ternyata kasih uang ke Theo itu cuma rencana zarlin ya,🤣🤣🤣🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
moga aja pak paulus tahu kebenaran soal hubungan zarlin dan Theo, Thor, jangan lama lama kebongkar nya
Rain Aricia: Okei kak, tunggu aja kelanjutannya😁🙏
total 1 replies
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
udah cerai pak, mau jagain gimana/Smug/
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
jangan sombong dulu Theo, kamu harus ingat kalau di langit, masih ada langit
PrettyDuck
bloon tapi angkuh.
dah nikmati aja karmamu 🤪
PrettyDuck
kok gitu? apa hubungannya sama rahasia dia sama reno?
PrettyDuck
wkwk, bianca juga lagi stres ketempelan mokondo /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!