Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Insting & Rasa Lelah
"Ada apa Sena?" Tanya Balun yang merasa tak nyaman dengan reaksi Sena yang tiba-tiba.
Sena menggeleng, "Tidak ada," ia memandang rekan-rekannya, "Jagu, Danta, Monti, dengar baik-baik,"
Sena menatap tajam ketiganya. "Kalian adalah bayangan yang akan menuntun Singasari ke arah yang salah. Pancing mereka ke gunung Marapi. Pastikan mereka melihat jejak kalian, tapi jangan biarkan mereka menangkap kalian."
Jagu mengangguk mantap, meskipun ia tahu mereka sedang menjalankan misi yang hampir mustahil. "Kami mengerti, Sena. Gunung Marapi akan menjadi rumah kami sementara waktu."
Sena menyerahkan selembar kain sutra milik Puti Kirai yang sengaja dikoyak.
"Tinggalkan potongan ini di semak berduri di jalur menanjak Marapi. Seret akar tuba ini di belakang perahu kalian. Buat mereka yakin bahwa Siampa dan sang putri sedang mencoba mendaki gunung untuk bersembunyi di kawah."
Jagu, Danta dan Monti adalah tim umpan. Mereka memacu perahu menuju jalur sungai yang lebih lebar yang mengarah ke kaki Gunung Marapi, arah yang berlawanan dari jalur ke Harau.
Di sana, mereka meninggalkan perahu, mencuri beberapa ekor kuda milik penduduk lokal dan membuat jejak kaki yang kacau menuju perbukitan.
Sementara Sena, Balun, Idan, Puti Kirai adalah tim inti. Mereka menenggelamkan perahu pertama dengan mengisi palka menggunakan batu besar. Kemudian berjalan menyusuri sungai dangkal sejauh beberapa ratus meter agar tidak meninggalkan jejak kaki di tanah, sebelum akhirnya menghilang ke dalam labirin Rawa Seribu.
Rawa Seribu sendiri adalah wilayah yang dihindari bahkan oleh pemburu paling berani sekalipun.
Kabut tebal menyelimuti permukaan air yang tenang namun mematikan. Di bawah airnya yang berwarna hitam karena pembusukan daun, terdapat lumpur hisap yang mampu menelan kerbau dalam hitungan menit.
"Kenapa kita ke sini, Sena?" bisik Idan, bulu kuduknya berdiri melihat pohon-pohon mati yang mencuat seperti tangan raksasa dari dalam air.
"Karena di sinilah logika Purwa dan Bhayangkara Singasari akan mati," jawab Sena. "Mereka memakai zirah besi dan membawa kuda. Mereka tidak akan berani masuk ke tempat di mana besi akan membuatmu tenggelam dan kuda akan patah kaki. Di sini, hanya orang yang tahu rahasia melangkah yang bisa selamat."
Baru beberapa langkah Sena tiba-tiba berhenti, dia menoleh kebelakang, matanya menyapu rerimbunan hutan tropis yang gelap.
Balun, Idan dan Puti Kirai juga ikut menoleh…
“Sebenarnya ada apa Sena?” Balun segera menatap Sena dengan gelisah dan bertanya. Ini sudah kedua kalinya Sena bertingkah aneh.
“Tidak ada apa-apa, ikuti aku.” Sena lagi-lagi merasa seperti ada yang mengawasi mereka, ‘Ada apa dengan diriku? Apa aku terlalu khawatir?’ tanya Sena dalam hati.
Sena mematahkan dahan kecil dari pohon-pohon mati dan memberi masing-masing satu batang pada mereka, potongan dahan itu bukan sekedar tongkat untuk menjaga keseimbangan, tapi juga di gunakan untuk memilih jalan.
Ia menusuk-nusuk kedalam air hitam, langkahnya memilih lumpur yang lebih padat. "Injak tepat di mana aku menginjak," perintah Sena. "Jika meleset satu jengkal saja, lumpur ini akan menjadi makammu."
Sementara itu, Purwa bersama sisa pasukannya telah sampai di hadapan Komandan Tim Bhayangkara yang baru tiba ke Pos Kumbu, Arya Wiguna.
"Siampa bukan hanya bocah biasa," ujar Purwa dengan wajah penuh lumpur dan amarah yang meluap. "Dia punya keahlian yang aneh. Aku tak tahu senjata apa yang digunakannya."
Arya Wiguna, seorang pria setengah baya dengan mata seperti elang, menatap peta. "Berdasarkan informasi, mereka melarikan putri ke arah utara, menuju Marapi. Itu jalur klasik pemberontak. Dia ingin menghilang di hutan rimba gunung."
Arya Wiguna memanggil carakanya, "Beritahu Pos Marapi, untuk mengirim satu peleton kavaleri ke kaki Marapi!" perintahnya. "Sisir area, bakar setiap gubuk yang mencurigakan sebagai tempat persembunyian. Dan juga kirim pesan ke pos-pos di Dharmapuri untuk perketat penjagaan, terutama di Pos Harau... awasi setiap gerak-gerik Datuk Lagang. Jika Siampa tidak muncul di Marapi, maka dia pasti akan kembali ke sarangnya."
Arya Wiguna menatap tajam ke arah Purwa Wangsa, “Dan kau, ikut aku untuk melapor pada Senopati Anabrang.”
Tanpa mereka sadari, mereka sedang mengejar hantu yang sengaja diciptakan Sena, sementara target yang asli sedang merayap dalam diam menembus kabut Rawa Seribu yang mematikan.
Aula utama markas komando di Dharmasraya terasa mencekam.
Cahaya obor di dinding batu memantulkan bayangan panjang para petinggi militer Singasari. Di tengah ruangan, Purwa Wangsa berdiri dengan zirah yang masih kotor dan wajah yang menyimpan rasa malu. Di hadapannya, duduk Senopati Anabrang, pimpinan tertinggi ekspedisi Pamalayu.
Anabrang menyesap teh dari cawannya, matanya yang tajam menatap Purwa seolah hendak menembus tengkoraknya. "Apa kau yakin Siampa Puncak Harau adalah Sena Sanjaya?" tanya Anabrang, suaranya berat dan bergema. "Kau bilang dia hanyalah seorang bocah yatim piatu berumur 15 tahun. Apa menurutmu masuk akal jika seorang bocah memiliki keahlian menyusup, sabotase, dan mengesan jejak yang begitu rapi? Bahkan prajurit terbaik Bhayangkara belum tentu mampu melakukannya sendirian."
Purwa tertegun. Ia teringat tatapan mata di atas Pos Kumbu semalam—mata yang dingin, penuh perhitungan, dan tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Namun, harga dirinya sebagai perwira menahan kata-katanya.
"Hamba... hamba tidak yakin, Tuan Senopati," jawab Purwa akhirnya dengan nada rendah. "Malam itu sangat gelap. Hamba memang tidak melihat wajahnya dengan jelas. Kecepatannya... itu bukan kecepatan manusia biasa dan dia menggunakan benda-benda mistis."
Anabrang berdiri, berjalan mendekati peta wilayah Swarnadwipa bagian barat yang terbentang di meja besar. Ia meletakkan jari telunjuknya di atas wilayah Harau.
"Mistis? Maksudmu senjata dengan kekuatan gaib? Hmph.. aku sama sekali tak percaya.” Anabrang sedikit menggelengkan kepala.
“Dugaanku, Siampa ini bukan satu orang. Mereka adalah Pasukan Harimau," ucap Anabrang dingin. "Hanya pejuang gerilya seperti mereka yang mampu bekerja serapi ini. Menghilang di pelabuhan, memutus jembatan di saat yang tepat, dan membagi tim untuk menghilangkan jejak... ini adalah pekerjaan unit tempur yang terorganisir, bukan kenakalan seorang remaja."
"Tapi Tuan," sela Purwa, "Bukankah menurut laporan, hanya ada satu orang yang membantai penjaga di pos sungai Kumbu?"
"Itu yang mereka ingin orang sepertimu percayai," Jemari Anabrang mengetuk-ngetuk meja kayu, "Mereka menggunakan nama 'Siampa' untuk menebar teror di pikiran kalian. Satu orang terlihat, sepuluh orang lainnya bergerak dalam bayangan. Itulah taktik Harimau. Sena Sanjaya mungkin hanyalah salah satu pion, atau mungkin nama itu hanya karangan sebagai jubah samaran untuk menutupi eksistensi mereka atau… itu sengaja disebarkan untuk pengalihan."
Anabrang berbalik arah, menatap ke arah jendela yang mengarah ke Gunung Marapi.
"Kirim pasukan tambahan ke Marapi. Jika mereka benar Pasukan Harimau, mereka akan bertarung sampai mati untuk melindungi putri itu." Ia berbalik dan menunjuk Purwa, "Dan kau, Purwa... bawa 25 prajurit pengganti pasukanmu yang habis ke Harau. Jangan menyerang dulu. Amati saja Datuk Lagang."
Anabrang kembali meraih cawan teh nya, mengusap bagian bibir cawan, "Jika 'Siampa' ini adalah sebuah unit, maka sarangnya pasti ada di sana. Kita akan melihat apakah sang Macan Tua akan mengaum saat kita mengusik anak-anaknya.” Ia menenggak habis teh yang tersisa, melambaikan tangannya. Sebuah perintah tanpa kata.