Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻
Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.
Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Vinda cemburu tanpa sebab
Kilas Balik kejadian delapan tahun lalu.
Kenzo merasa makin bersalah atas apa yang terjadi, namun dia sadar kejadian ini tak sepenuhnya salahnya.
"Kenzo…" Gadis berusia dua puluh tiga tahun yang sebentar lagi lulus kuliah itu mengusap lembut wajah Kenzo, lalu kembali mencium bibirnya dengan lembut.
"Kak Larasati… maafkan aku…" Dia sebenarnya teman sekelas Kenzo di kampus, hanya satu tahun lebih tua. Namun itu tak jadi soal, sebab sejak dua tahun lalu Larasati memang sudah menjadi kekasihnya.
"Ini bukan salahmu. Aku juga menginginkannya sama seperti kamu." Larasati adalah cinta pertama Kenzo. Baginya wanita itu seperti Bidadari cantik jelita, tubuhnya halus bak boneka porselen yang baru saja dia sentuh sepenuhnya satu jam lalu. Malam itu mereka berdua melepas masa lajang, Kenzo tak lagi perjaka, Larasati tak lagi gadis.
Bisa dibilang tindakan itu bodoh, tapi bukankah cinta sering kali membuat orang lupa diri? Di usia muda mereka berdua tak berpikir panjang, hanya menikmati kenikmatan di atas kasur, saling mendesah hingga mencapai puncak rasa.
"Kenzo… kamu harus bertanggung jawab dan menikahiku. Aku takut kalau sampai hamil."
Kenzo mengangguk mantap sambil memeluk tubuh pacarnya itu. Dia harus jadi pria sejati, kan? Setelah menyentuh wanita dan mengambil kesuciannya, tak ada jalan lain selain bertanggung jawab.
"Aku akan bicara pada mommy ku dan Kak Soran, tenang saja sayang." Dia tak mungkin minta saran pada ayahnya. Lelaki bernama Hardi Armanta itu tak pernah peduli nasib anaknya.
Entah Kenzo mau menikah atau tidak, baginya tak ada bedanya. Ayahnya hanya sibuk bersenang‑senang dengan wanita lain, pulang larut, lalu bertengkar hebat dengan ibunya. Kenzo pun sering kali harus memeluk ibunya yang menangis sedih karena perlakuan kasar ayah. "Terus kapan kita menikah? Aku makin takut kalau hamil" Kenzo menggeleng pelan. Baru sekali saja mereka melakukannya, mustahil perut Larasati langsung berisi.
"Aku janji akan segera mengurus semuanya. Begitu lulus kuliah, aku langsung melamarmu."
"Tapi masih cukup lama waktu itu… Ya sudah Ken, aku akan menunggu. Lagipula ujian akhir dan sidang tinggal sebentar lagi kan?"
"Tunggu aku ya kak, janji?" Larasati mengangguk, lalu duduk di pangkuan Kenzo dan kembali mencium bibirnya.
"Aku mencintaimu"
"Aku juga mencintaimu, sayangku."
Akhir Kilas Balik kejadian
*****
Tous Les Jours bakery gerai outlet pusat.
Kenzo duduk di kursi kerjanya, melamun sejak pagi, tak fokus bekerja, seperti orang tak waras dan makin menyusahkan sekretarisnya. Vinda harus bolak‑balik mengurus dokumen ke divisi perlengkapan lantai tujuh, ini sudah kelima kalinya ia berjalan ke lift sambil membawa setumpuk map.
"Hah, lelah sekali hari ini… dia memerasku seperti sapi perah saja, cih." Lift bergerak turun, Vinda berniat turun di lantai tiga menuju divisi pemasaran, tapi baru hendak melangkah keluar, dia berpapasan dengan seseorang yang pernah dilihatnya tiga hari lalu.
"Tunggu… sepertinya saya pernah melihat kamu Nona? Ah, tunggu, bukankah kamu…"
Wanita itu menunjuk wajah Vinda. Vinda terkejut dan berusaha menghindar, tapi terlambat, Larasati sudah menahan lengannya.
"Kamu Nona Vinda, kan? Aku tak salah ingat. Wah, jadi kekasihnya Kenzo bekerja di sini?"
Suara berbisik‑bisik pegawai yang lewat membuat Vinda makin gugup. Larasati makin penasaran lalu menarik kalung tanda pengenal Vinda.
"Ahah, Arvinda Syafira, sekretaris direktur utama… Astaga, hanya sekretaris? Bukan kekasihnya Kenzo ya?" Wajah Vinda memerah menahan malu. Dia segera menepis kasar tangan wanita itu lalu bergegas pergi.
"Cih, dia menipu semua orang dengan hanya membawa sekretaris? Lihat saja nanti, Kenzo!" Gerutu Larasati tersenyum miring, sambil meremas tangan, tapi dia lega. Setidaknya sampai sekarang Kenzo masih belum beristri, dia yakin pria itu belum bisa melupakannya.
Mereka dulu berpacaran sejak pertengahan kuliah hingga lulus, lalu Kenzo mulai merintis usaha restoran dan toko roti, dia sangat paham sifat pria itu. Kenzo mendesah malas saat pintu diketuk. Di mana si sekretarisnya? Mengantar berkas saja lama sekali.
"Masuklah!" Kenzo sibuk menatap berkas dan layar komputer, tak peduli siapa yang datang. Tamu itu berdiri diam sejenak, mengagumi wajah serius Kenzo yang tampak sangat mempesona.
"Ehem… apakah saya mengganggu pak Direktur?" Kenzo tersentak mendengar suara yang sangat dikenalnya. Wanita berpakaian kemeja putih dan rok hitam pensil ketat itu melangkah anggun mendekati mejanya.
"Kamu?! Mau apa kamu ke sini, Kak?"
Larasati tampak tenang, ikut melihat layar komputer, lalu tiba‑tiba menarik dasi Kenzo hingga wajah mereka nyaris bersentuhan.
"Tentu saja menjenguk mantan kekasihku… ah, maaf, menjenguk anak tiriku," Katanya sambil tertawa kecil. Kenzo segera melepaskan dasinya dengan gugup. Posisi sedekat ini membangkitkan kenangan lama.
"Aku kagum aktingmu kemarin, Kenzo. Hebat sekali… tapi sayang, sekarang ketahuan kan?"
Kenzo berkedip gelisah. Larasati tertawa riang, dia hafal betul ekspresi Kenzo saat ketahuan berbohong. "Arvinda Syafira, cuma sekretaris direktur… hahaha. Jadi sudah kamu naikkan jabatan gadis itu menjadi kekasihmu?"
"Itu bukan urusanmu, Nyonya Larasati. Keluarlah, aku malas berdebat."
"Aku datang karena yakin kamu pasti merindukanku. Setelah dari sini kemarin, kamu pasti menghabiskan waktu dengan wanita di klub malam lagi?" Ejek Larasati tepat sasaran. "Sekali lagi, urusan pribadiku bukan urusanmu. Aku minta kamu segera pergi!" Bentak Kenzo galak
"Bagaimana kalau aku tak mau?" Jari‑jemari lentiknya mengusap lembut dada bidang Kenzo. Kenzo menegang rapat, memejamkan mata sekuat tenaga menahan diri.
"Bagaimanapun kamu berusaha menghindar, aku tahu perasaanmu padaku belum hilang. Masih sama seperti dulu, kan?" Wajah Kenzo memerah, menepis tangan yang kini mengusap rahang tegasnya.
"Aku bukan pengkhianat sepertimu. Pergilah!" Wajah Larasati memerah karena marah. Ia mencengkeram kemeja Kenzo dengan kuat.
"Aku jadi begini salah siapa? Aku menunggumu dengan sabar seperti orang gila, berharap kamu melamarku, tapi apa balasannya?!"
Kalimat itu menghantam hati Kenzo yang dulu pernah terluka parah, luka lama seakan terbuka kembali dan terasa sangat perih.
"Kamu sibuk terus mengurus usaha Tous Les Jours‑mu, sibuk bekerja demi kesuksesan tanpa peduli aku juga butuh sandaran. Di mana kamu saat ayahku sakit parah dan butuh operasi jantung secepatnya? Di mana kamu saat aku hampir putus asa?!"
"Larasati…?"
"Apa?! Kamu mau menyalahkanku lagi? Saat itu kamu malah ke Surabaya, kan? Sibuk membuktikan pada ayahmu kalau kamu bisa sukses sendiri tanpa bantuan kekuasaannya. Lalu nasibku bagaimana?" Kenzo menggeleng sedih. Wanita itu benar—dia juga turut bersalah karena mengabaikan kekasihnya dulu. Tapi kenapa Larasati mau menerima lamaran ayahnya, pak Hardi, hanya demi biaya pengobatan ayahnya? Sungguh ironi yang menyakitkan.
"Kamu kejam. Kamu selalu menuduhku wanita matre, wanita murahan yang mau jadi istri muda ayahmu demi harta. Tahu tidak betapa sakitnya tuduhan itu? Seperti pisau yang terus menggores hati."
"Kamu kira aku tak terluka? Saat pulang ke Jakarta Kak Sora bilang ayahku baru saja menikah lagi. Lalu aku harus menyebutmu Ibu Tiri? Lucu sekali rasanya! Kekasihku sendiri kini jadi ibuku."
"Kenzo…" Air mata menetes deras di pipi Larasati. Kenzo sejak dulu tak pernah tega melihatnya menangis. Tanpa sadar dia mengusap pipi basah itu. Rindu yang lama tertahan meluap seketika.
"Ampuni aku… maafkan aku Ken, bisakah aku kembali padamu? Bisakah kita mulai semuanya dari awal? Aku masih mencintaimu."
Larasati berjinjit, menekan tengkuk Kenzo dan menyambar bibirnya. Tanpa sadar Kenzo membalas ciuman itu. Awalnya penuh emosi, lama‑lama berubah menjadi lumatan panas dan bergairah.
Kedua tangan Kenzo melingkar di tengkuk wanita itu. Larasati tak mau melepaskan bibir Kenzo, meremas kemejanya erat. Dia sungguh merindukan rasa itu, setiap kali dicium Hardi Armanta, bayangan yang muncul selalu bibir Eko Kenzo Armanta Bisa dibilang dia sudah gila—bercinta dengan sang ayah, tapi membayangkan Kenzo, si anaknya yang menyentuhnya.
****
"Ya ampun!!" Vinda yang baru saja masuk menjerit kaget, segera menutup mulut. Kenzo langsung melepaskan pelukan dan menjauhkan wajah, meskipun Larasati tampak enggan berhenti.
"Kenzo…? Kenapa?"
"Pergilah dulu. Nanti aku akan menemuimu kalau ada waktu." Larasati menggigit bibir gelisah, tapi hatinya puas. Kalau Kenzo mau bertemu lagi, berarti perasaannya belum hilang. Tak peduli orang menyebut ini perselingkuhan dengan anak tiri, baginya dia hanya ingin kembali pada mantan kekasih.
"Sa~… saya permisi dulu," ujar Vinda terbata‑bata. "Masuklah, Vinda. Tamuku sudah mau pulang." Larasati berbalik menuju pintu, menatap tajam ke arah Vinda, dengan pandangan tak bersahabat penuh permusuhan, lalu pergi begitu saja.
"Lain kali, carilah tempat yang pantas untuk melakukan hal tak senonoh begitu, ini bukan di kamar hotel pak!" Gerutu Vinda karena kesal harus sekantor dengan bos yang begini.
"Kamu tak berhak mengaturku, Vinda aku bosnya di sini, Kalau tak suka, pergilah saja," jawab Kenzo dingin.
Kalimat itu nyaris membuat Vinda meledak emosi dan membanting map di tangannya. Ia hampir berhenti bekerja saat itu juga, andai saja tak ingat masih punya hutang besar pada Kenzo. "Baiklah, saya memang hanya pegawai. Tak berhak ikut campur urusan bos saya, iya bosnya di sini memang anda kan?" Vinda merasa muak, dia ingat betul wanita yang dicumbu barusan oleh Kenzo adalah istri dari pak Hardi Armanta— si ibu tiri bosnya sendiri. Sungguh mereka berani sekali bermain api, pikirnya.