Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.
Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.
Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7: Rekaman Memori yang Berputar
Setelah berhasil memegang kendali bayangan atas diri Subagja, atmosfer di dalam gudang PT Mitra Kilat berubah secara drastis dalam waktu kurang dari satu minggu.
Secara hierarki resmi dan di atas kertas slip gaji, Doni Salman memang masih tercatat sebagai seorang staf manifes operasional lapangan berpenghasilan rendah.
Namun, secara factor di lantai gudang, tidak ada satu pun pergerakan barang, penentuan rute armada truk, hingga negosiasi biaya bongkar muat dengan pihak ketiga yang berjalan tanpa persetujuan dari mulut Doni.
Subagja, yang kini dicekam ketakutan setengah mati akan ancaman penjara dan kehancuran kariernya, benar-benar berubah menjadi boneka penurut.
Pria tambun itu selalu datang mendekati meja kerja Doni dengan gelagat cemas, membawa berkas-berkas penting hanya untuk meminta arahan sebelum menandatanganinya.
Doni memanfaatkan situasi ini dengan sangat jenius.
Menggunakan pengetahuannya dari masa depan mengenai rute-rute jalanan Jakarta yang akan mengalami kemacetan parah akibat proyek galian,
titik-titik rawan pungutan liar oknum aparat, hingga ramalan cuaca buruk yang bisa menghambat penyeberangan kapal di pelabuhan, Doni merombak total sistem penjadwalan armada.
Hasilnya luar biasa masif.
Efisiensi waktu pengiriman barang PT Mitra Kilat melonjak tajam hingga tiga puluh persen hanya dalam hitungan hari.
Biaya operasional untuk bahan bakar minyak berhasil dipangkas secara signifikan karena truk-truk tidak lagi terjebak kemacetan yang sia-sia.
Pemilik perusahaan yang memantau grafik keuntungan dari kantor pusat sempat kebingungan dan berencana memberikan penghargaan kepada Subagja, tanpa pernah menyadari bahwa otak di balik semua keajaiban manajemen itu adalah seorang pemuda berusia 26 tahun yang duduk di pojok gudang berdebu.
Namun, fokus perhatian Doni pada malam hari ini sudah tidak lagi berada di seputar urusan logistik gudang.
Pukul delapan malam, setelah menyelesaikan syif kerjanya, Doni melangkah masuk ke dalam sebuah warung internet (warnet) kecil yang terletak di sebuah ruko pengap di dekat Terminal Tanjung Priok.
Bau asap rokok yang pekat, hawa panas dari mesin-mesin CPU tua, serta suara bising ketukan kibor dari anak-anak remaja yang sedang sibuk bermain game online langsung menyambut indra pendengarannya.
Doni mengabaikan lingkungan kumuh itu dengan wajah datar.
Ia melangkah menuju bilik nomor dua belas yang berada di pojokan paling gelap, lalu menyalakan komputer tabung berlayar cembung di depannya setelah membayar sewa paket tiga jam kepada penjaga warnet.
Jari-jemari Doni yang kencang dan lincah mulai menari di atas kibor yang sebagian hurufnya sudah terkelupas.
Sebagai seorang pria yang di masa depannya memimpin jaringan perbankan swasta papan atas dan mengerti seluk-beluk perputaran modal raksasa, Doni memandang layar monitor itu bukan sebagai sarana hiburan, melainkan sebagai jendela menuju ladang emas finansial yang siap ia panen.
Ia membuka beberapa situs berita ekonomi nasional, grafik pergerakan bursa saham, dan papan pengumuman spekulasi komoditas tahun 2006.
"Bulan Juni ini... saham perusahaan tambang batu bara raksasa PT Bumi Resources sedang berada di titik jenuh terendahnya,"
"berkisar di angka ratusan rupiah per lembar saham akibat sentimen pasar global yang sedang lesu,"
gumam Doni dengan mata yang berkilat tajam di bawah kegelapan bilik warnet.
"Sentimen ini keliru."
"Dalam waktu tiga hingga empat bulan ke depan, krisis energi di Eropa dan lonjakan permintaan dari China akan membuat harga komoditas batu bara meroket gila-gilaan, menyeret harga saham ini naik hingga lima ratus persen."
Doni meraba saku celananya, mengeluarkan sebuah dompet kulit imitasi yang tipis dan usang.
Ia mengeluarkan selembar kartu ATM milik bank swasta nasional dan memeriksa saldo terakhirnya melalui ingatan manifes tabungan pribadi.
Saldo uangnya saat ini sungguh mengenaskan hanya ada sekitar satu juta lima ratus ribu rupiah.
Uang itu adalah hasil jerih payahnya menahan lapar dan menyisihkan sisa gaji selama berbulan-bulan di masa lalu.
Bagi orang awam, modal satu setengah juta rupiah di pasar saham tidak akan menghasilkan apa-apa selain keuntungan recehan yang tidak berarti untuk mendirikan sebuah kekaisaran bisnis.
Doni bersandar di kursi plastik warnet yang keras, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap kosong ke arah monitor yang berkedip-kedip.
Otaknya yang cerdas, yang menyimpan memori berharga dari dua puluh tahun masa depan, mulai memutar kembali ingatan-ingatan finansial masa lalu.
Ia mencari sebuah celah besar, sebuah anomali keuangan yang legal namun berada di zona abu-abu yang bisa ia manfaatkan secara instan untuk melipatgandakan modalnya menjadi miliaran rupiah dalam waktu singkat.
Tiba-tiba, sebuah memori spesifik dari dokumen audit raksasa yang pernah ia baca di masa depan muncul di benaknya dengan sangat terang.
Pada bulan Juli tahun 2006 tepat dua minggu dari hari ini sebuah bank swasta daerah yang sedang gencar melakukan ekspansi, Bank Nusa Sentosa, akan mengalami bencana teknis yang fatal.
Mereka melakukan migrasi server pusat dan pembaruan sistem kliring internal secara terburu-buru tanpa pengujian yang matang. Akibatnya, terjadi kegagalan sinkronisasi data perbankan selama empat puluh delapan jam penuh.
Kegagalan sistem itu menciptakan sebuah celah yang sangat gila: setiap transaksi transfer dana antar-bank yang dilakukan melalui mesin ATM tipe lama tertentu akan berhasil mengkreditkan uang ke rekening penerima,
Namun sistem server pusat gagal mendeteksi dan memotong saldo di rekening pengirim.
Saldo pengirim akan tetap utuh, sementara uang di rekening penerima bertambah secara riil dan bisa ditarik tunai secara sah saat itu juga.
Di kehidupan pertamanya, kasus ini menjadi rahasia paling kelam yang ditutupi dengan sangat rapat oleh jajaran direksi Bank Nusa Sentosa demi menjaga tingkat kepercayaan nasabah dan menghindari kebangkrutan massal.
Kasus itu baru diselesaikan lewat jalur audit internal tertutup di akhir tahun setelah mereka menelan kerugian ratusan miliar rupiah.
Sebuah seringai dingin dan penuh kemenangan perlahan terukir di wajah muda Doni Salman.
"Celah sistem kliring Bank Nusa Sentosa... dua minggu lagi."
"Ini bukan tindakan kriminal jika aku menggunakannya sebagai skema pinjaman modal jangka pendek tanpa bunga,"
"lalu mengembalikan seluruh dana pokoknya ke rekening mereka sebelum proses audit resmi akhir tahun dimulai."
"Aku hanya meminjam uang mereka untuk sementara waktu tanpa izin."
Rencana ini memiliki tingkat risiko psikologis yang luar biasa tinggi yang bisa membuat orang biasa gemetar ketakutan atau berakhir di penjara.
Namun, bagi seorang Doni Salman yang berjiwa pemimpin dan telah merasakan dinginnya kematian akibat dikhianati, risiko kehilangan kebebasan seperti ini tidak ada apa-apanya.
Ia tahu batas aman penarikan, ia tahu nomor kode mesin ATM tipe lama yang mengalami gangguan di area Jakarta, dan ia tahu persis bagaimana cara mencuci aliran dana instan tersebut ke dalam beberapa rekening perusahaan cangkang internasional sebelum menggulungnya ke dalam instrumen saham batu bara yang siap meledak.
Sambil terus mengetik barisan angka dan strategi penarikan dana di layar komputer, pikiran Doni mendadak melayang jauh pada sosok Amanda Santoso dan ayahnya, Devan Santoso.
Di tahun 2006 ini, keluarga Santoso sudah dikenal sebagai salah satu kontraktor kelas menengah ke atas yang sedang naik daun di ibu kota.
Mereka adalah perwujudan dari keluarga kaya baru yang arogan, gemar memamerkan kemewahan, dan suka menindas pengusaha kecil yang berada di bawah mereka.
Saat ini, Amanda mungkin sedang bersenang-senang di kelab malam mewah atau berbelanja barang-barang bermerek di Singapura sebagai seorang sosialita muda yang manja.
Wanita itu sama sekali tidak akan pernah menduga, bahkan di dalam mimpi terburuknya sekalipun, bahwa di dalam sebuah bilik warnet kumuh berbau apek di pinggiran Jakarta,
ada seorang pria miskin yang sedang menyusun sebuah algoritma matematika finansial yang kelak akan menghancurkan seluruh silsilah kekayaan keluarga Santoso hingga ke akar-akarnya tanpa sisa.
"Nikmatilah sisa-sisa hari mewahmu dengan tenang, Amanda,"
bisik Doni dengan nada suara yang sangat rendah, matanya menatap tajam ke arah refleksi dirinya di layar komputer sebelum mematikan mesin setelah waktu sewanya habis.
"Setiap rupiah yang kau pamerkan hari ini, kelak akan aku pastikan harus kau bayar kembali dengan air mata darah di bawah kakiku."
Doni bangkit dari kursinya, melangkah keluar meninggalkan warnet menembus kehangatan malam Jakarta yang penuh dengan intrik.