Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Mendengar suara Austin dari telepon, Yurika seakan tersadar dari lamunannya. Matanya yang semula setengah terpejam langsung terbuka lebar. Ia buru-buru duduk tegak di atas tempat tidur sambil mengangkat ponselnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat ketika ia melihat nama yang terpampang di layar.
Benar saja, itu bukan nomor Jia.
Yurika memejamkan mata sesaat sambil menepuk dahinya pelan. Karena terlalu mengantuk, ia salah menekan kontak dan tanpa sadar mengirim pesan kepada Austin.
Pada layar percakapan, terlihat balasan singkat dari pria itu.
[Ya.]
Pesan itu jelas merupakan jawaban atas pesan yang sebelumnya ia kirim.
Belum sempat berpikir lebih jauh, Yurika malah menekan tombol panggil.
Begitu menyadari tindakannya, ia hampir membatalkannya. Namun panggilan sudah terhubung.
Di sisi lain, Austin baru saja selesai mandi. Pria itu berdiri di depan jendela kaca besar apartemennya yang menghadap langsung ke pusat kota. Lampu-lampu gedung tinggi berkilauan di tengah malam yang tenang.
Ia memegang segelas wiski dengan es batu di tangannya. Jubah mandi hitam yang dikenakannya tampak sedikit longgar.
Rambut hitamnya masih lembap, beberapa tetes air menetes melewati leher dan dadanya yang bidang. Posturnya tegap dengan garis otot yang terbentuk sempurna, hasil rutinitas olahraga yang tidak pernah ia lewatkan.
Ketika ponselnya berdering, Austin melihat nama penelepon itu dan mengangkat alis tipis.
'Yurika?'
Setelah beberapa detik mempertimbangkan, ia mengangkat panggilan tersebut.
Suara gugup Yurika langsung terdengar dari seberang sana.
"Maaf, Pak Austin. Saya salah menelepon."
Austin menyesap sedikit minumannya sebelum menjawab santai.
"Ya."
Suara beratnya terdengar rendah dan tenang.
"Masih bangun selarut ini?"
Yurika menggigit bibirnya pelan.
"Sebenarnya saya sudah mau tidur. Tadi sedang mengobrol dengan teman, jadi waktunya agak molor."
Ia berhenti sejenak sebelum bertanya dengan hati-hati.
"Apakah saya mengganggu waktu istirahat Anda?"
"Aku belum tidur."
Jawaban singkat itu membuat Yurika mengembuskan napas lega.
"Kalau begitu Anda juga harus istirahat lebih awal. Besok masih harus bekerja."
Austin tersenyum tipis.
Entah sejak kapan, ia mulai memperhatikan bahwa gadis itu selalu berbicara dengannya dengan sangat formal, seolah sedang menghadapi kepala sekolah yang siap menghukumnya kapan saja.
Ia bersandar santai di kursi dekat jendela.
"Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan," ujarnya perlahan, "tapi akhir-akhir ini aku merasa kau semakin takut padaku."
Yurika langsung terdiam. "Hah?"
"Aku salah?" tanya Austin.
"Tentu saja." Jawabannya keluar lebih cepat dari yang ia kira.
Bagi Yurika, itu bukan rasa takut. Ia hanya menghormati atasannya.
Austin terkenal tegas di perusahaan. Sebagai karyawan baru yang berhasil mendapatkan pekerjaan dengan susah payah, Yurika tentu tidak ingin melakukan kesalahan yang bisa merusak kariernya.
Karena itulah ia selalu berhati-hati.
Melihat reaksinya, Austin tertawa pelan.
Suara tawanya rendah dan hangat, sangat berbeda dari sosok dingin yang biasa terlihat di kantor.
"Yurika," katanya, "selama jam kerja, kita memang atasan dan bawahan. Tapi aku cukup bisa membedakan urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi."
Yurika mendengarkan tanpa menyela.
"Kau tidak perlu terlalu tegang setiap kali berbicara denganku setelah jam kerja." Austin melanjutkan dengan nada santai.
"Lagipula, aku juga seniormu. Bersikaplah lebih natural."
Yurika terdiam lagi. Ia tahu Austin tidak bermaksud buruk.
Namun sampai sekarang ia memang belum menemukan cara yang tepat untuk berinteraksi dengan pria itu di luar lingkungan kantor.
Austin tidak memaksanya menjawab. Ia memberi Yurika waktu untuk mencerna perkataannya sendiri.
Matanya memandang ke arah bulan purnama yang menggantung di langit malam. Cahaya lembutnya memantul di permukaan kaca jendela.
Beberapa saat kemudian, Austin berkata pelan, "Sudah larut."
Yurika mengangguk meski pria itu tidak bisa melihatnya.
"Iya."
"Selamat malam, Yurika."
Suara itu terdengar jauh lebih lembut dibandingkan saat ia memberi instruksi di ruang rapat.
Yurika sedikit tertegun.
Sebelum sempat mengatakan apa pun, panggilan sudah berakhir.
Ia menatap layar ponselnya cukup lama.
Ini adalah pertama kalinya ia berbicara dengan Austin melalui telepon di luar urusan pekerjaan.
Dan ternyata percakapan itu jauh lebih santai daripada yang ia bayangkan.
Yurika tanpa sadar menyentuh telinganya.
Suara Austin yang rendah dan magnetis masih terngiang-ngiang di benaknya. Ketika pria itu berbicara dekat dengan mikrofon, rasanya seperti suara tersebut langsung mengalir ke telinganya dengan jelas.
Terutama saat mengucapkan selamat malam.
Nada lembut itu terasa sangat berbeda dari Austin yang biasa ia kenal.
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏