NovelToon NovelToon
Obsession Of Jayden

Obsession Of Jayden

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Alyssa Kim

Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.

​Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.

​Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 : Selamat Datang di Wilayah Utama

​Pagi hari di Loren’z High School dimulai dengan kepulan asap dari knalpot mobil sedan hitam antipeluru yang berhenti tepat di depan lobi utama. Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam turun terlebih dahulu, memasang posisi siaga sebelum membukakan pintu penumpang belakang.

​Elleanor keluar dari mobil dengan wajah sekaku kanebo kering. Seragamnya kali ini terkancing rapi—paksaan dari Mamih Nadira sebelum berangkat—dan tas ranselnya disampirkan malas di bahu.

​"Pak, jangan ikutin saya sampai depan kelas. Sumpah, gua berasa kayak buronan kelas kakap kalau diginiin terus," keluh Elle pada salah satu pengawal bertubuh paling besar.

​"Maaf, Non Elle. Ini perintah langsung dari Tuan Kenzie dan Tuan Kenzo. Kami harus memastikan Non masuk ke dalam kelas dengan aman," jawab pengawal itu dengan suara tegas tanpa bantahan.

​Elle menghentakkan kakinya kesal, lalu berjalan cepat membelah koridor sekolah menuju kelas lamanya, XI-IPA 1. Kedua pengawal itu mengikutinya dari jarak tiga meter, membuat murid-murid lain yang berpapasan langsung menepi dengan wajah ketakutan.

​Namun, begitu Elle melangkah masuk ke dalam ruang kelas XI-IPA 1, ia disambut oleh Soraya yang langsung berlari menghampirinya dengan wajah panik, memegang selembar kertas resmi dari tata usaha sekolah.

​"Elle! Lo kok telat sih?! Ini parah banget, El!" pekik Soraya heboh, bando pink di kepalanya sampai bergeser miring.

​"Kenapa sih, Ray? Pagi-pagi udah hobi bikin jantungan," sahut Elle santai, meletakkan tasnya di atas meja.

​"Lo dipindahin kelas, El! Mulai jam pertama hari ini, lo bukan anak XI-IPA 1 lagi. Nama lo dipindahin ke kelas XI-IPA 3!" Soraya menyodorkan kertas pengumuman itu tepat di depan wajah Elle.

​Elle mengerutkan dahi, merebut kertas itu dan membaca namanya yang tercetak jelas di sana. "XI-IPA 3? Kok mendadak banget? Gua kan baru dua hari di sini. Emang ada kelas apa di sana?"

​Keysha yang baru datang dengan membawa botol minum langsung menyahut dengan nada datar namun sarat akan peringatan. "XI-IPA 3 itu kelas pojok di ujung lantai dua, El. Dan yang paling penting... itu kelasnya anak-anak inti VULTURES. Jayden, Shaka, sama Erlan ada di sana semua."

​Deg.

​Jantung Elle mencelos sedetik. Nama cowok bermuka tembok itu langsung berputar di otaknya. "Si bajingan gila itu..." desis Elle, tangannya meremas kertas pengumuman tersebut hingga hancur. Sekarang ia tahu kenapa Jayden begitu tenang kemarin saat abang-abangnya mengancam. Cowok itu ternyata sudah menyiapkan jebakan lain yang jauh lebih licik.

​Tanpa membuang waktu, Elle menyambar tasnya kembali. Dengan langkah lebar dan napas yang memburu menahan amarah, ia berjalan menuju lantai dua, mengabaikan dua pengawalnya yang kebingungan melihat arah tujuan sang rona majikan yang berubah.

​Brakkk!

​Pintu kelas XI-IPA 3 digebrak dengan sangat keras hingga menimbulkan gema di ruangan yang tadinya cukup tenang itu. Seisi kelas—yang sebagian besar berisi anak-anak cowok tongkrongan Vultures—langsung menoleh ke arah pintu.

​Di sana, Elleanor berdiri dengan dada kembang kempis menahan emosi, matanya menyapu seluruh sudut ruangan hingga akhirnya mengunci satu titik di pojok paling belakang dekat jendela.

​Jayden sedang duduk santai di sana, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan kedua kaki yang diangkat ke atas meja. Di sebelahnya, Erlan sedang asyik bermain game online di ponsel, sementara Shaka fokus membaca buku taktiknya.

​Begitu melihat kedatangan Elle, sudut lips Jayden terangkat sangat tipis, membentuk sebuah seringai kemenangan yang begitu menyebalkan di mata Elle. Diletakkannya kedua kakinya kembali ke lantai, lalu ia menegakkan tubuhnya.

​"Selamat datang di kelas baru lo, Elleanor," ucap Jayden, suaranya berat, lambat, dan terdengar sangat seksi namun mematikan di saat yang bersamaan.

​Elle melangkah lebar mendekati meja Jayden, lalu menggebrak meja cowok itu dengan kedua tangannya. "Lo bener-bener gak punya kerjaan lain ya, Muka Tembok?! Maksud lo apa mindahin gua ke kelas ini?! Lo pikir dengan mindahin kelas, gua bakal takut sama lo?!" semprot Elle barbar, jarak wajahnya hanya tersisa beberapa senti dari wajah Jayden.

​Jayden tidak bergeming. Ia justru memajukan tubuhnya sedikit, membuat Elle bisa mencium aroma parfum maskulin yang tajam bercampur aroma rokok samar dari tubuh cowok itu.

​"Gua cuma mau memastikan kalau milik gua selalu ada di dalam jarak pandang gua, Elle," bisik Jayden rendah, sepasang netra hitamnya menatap intens ke dalam manik mata Elle yang berkilat marah. "Abang lo boleh nutup semua jalanan di luar sana dengan pengawal. Tapi begitu lo nginjek kaki di LHS... kelas ini adalah wilayah kekuasaan gua mutlak. Dan di sini, gak ada yang bisa ngelindungi lo dari gua."

​"Gua bukan milik lo, brengsek!" desis Elle, giginya bergemertak menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.

​Tiba-tiba, dari arah pintu kelas, dua pengawal keluarga Smith yang tadi tertinggal akhirnya berhasil menyusul. Melihat Elle sedang diintimidasi oleh seorang cowok, kedua pria berjas itu langsung merapat, memasang badan di depan meja Jayden.

​"Heh, Dek. Jauh-jauh dari Non Elle. Jangan macam-macam lo ya," ancam salah satu pengawal dengan suara beratnya, tangannya sudah bersiap di balik jas, siap melakukan tindakan fisik jika diperlukan.

​Suasana kelas XI-IPA 3 mendadak drop ke titik paling dingin. Mendengar pengawal itu berani mengancam ketuanya, Erlan langsung mematikan ponselnya dan berdiri dengan wajah serius, begitu juga dengan Shaka yang menutup bukunya dengan bunyi plak yang nyaring. Di barisan depan dan tengah, belasan anak buah Vultures yang berada di kelas itu serentak berdiri dari kursi mereka, mengepung kedua pengawal tersebut dari belakang.

​Jayden berdiri dari duduknya dengan perlahan. Tubuh tinggi tegapnya membuat kedua pengawal itu tampak sedikit terintimidasi meskipun mereka bertubuh kekar. Jayden menatap kedua pria berjas itu dengan pandangan mata yang begitu pekat dan dingin, seolah sedang menatap seonggok sampah di pinggir jalan.

​"Gua gak suka ada orang asing yang berisik di wilayah gua," ucap Jayden, suaranya mengalun sangat rendah namun sarat akan otoritas yang mutlak. "Sampaikan pesan gua sama Kenzie dan Kenzo. Mereka boleh jaga Elleanor di luar gerbang sekolah. Tapi kalau lo berdua berani nginjek kaki di kelas ini lagi... gua pastikan lo berdua keluar dari LHS dalam kondisi gak bernyawa."

​Aura membunuh yang dipancarkan Jayden begitu nyata hingga kedua pengawal terlatih itu sempat menahan napas, menyadari bahwa cowok berusia 18 tahun di depan mereka ini bukan sekadar anak SMA biasa, melainkan pemimpin dari sebuah organisasi jalanan yang sangat berbahaya.

​"Pak, keluar sekarang. Tunggu gua di parkiran!" perintah Elle akhirnya menoleh ke arah pengawalnya. Ia tidak ingin situasi ini berubah menjadi pertumpahan darah yang akan merepotkan abang-abangnya.

​Kedua pengawal itu saling melirik sekilas, lalu dengan berat hati mengangguk dan perlahan mundur keluar dari kelas XI-IPA 3 di bawah tatapan tajam dan penuh intimidasi dari anak-anak Vultures.

​Setelah pintu kelas kembali tertutup, Jayden kembali menurunkan pandangannya pada Elle. Ia menarik sebuah kursi kosong yang berada di sebelahnya, lalu menepuk permukaannya pelan.

​"Duduk di sini, Elle. Di sebelah gua," perintah Jayden dengan nada yang tidak menerima penolakan sedikit pun. "Mulai hari ini dan seterusnya, ini adalah tempat lo. Di samping gua."

1
Davina Aurora
lanjutt ka ceritanya seruu🤩🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!