kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikatan yang tak terlihat
BAB 15: IKATAN YANG TAK TERLIHAT
Agus menelan ludah susah payah. Dadanya terasa sesak, namun ia sadar tak boleh mundur sedikit pun. Apa pun risikonya, ia harus berusaha sekuat tenaga agar bisa mengembalikan sahabatnya seperti sedia kala.
Belum sempat Agus menjawab pertanyaan Paman Mira, suara ketukan terdengar jelas dari balik pintu.
Tok… tok… tok…
Seisi ruangan seketika terdiam serempak, pandangan mereka kini tertuju ke arah pintu. Ketegangan yang semula terpusat pada Agus perlahan mereda, berganti dengan rasa penasaran yang menyelimuti hati setiap orang di sana.
Ibu Mira segera bergegas melangkah dan membuka pintu. Agus pun terperanjat melihat siapa yang datang: tiga orang pria berbalut gamis, bersorban putih, dan memakai peci melangkah masuk dengan tenang.
Pria yang berjalan paling depan memancarkan aura teduh namun tegas—beliau adalah seorang Kiai yang memang sengaja diundang keluarga untuk menangani gangguan gaib yang menimpa Mira. Kehadirannya seolah membawa embusan angin segar, sedikit mengusir hawa dingin dan mencekam yang menyelimuti ruang tamu itu.
"Assalamu’alaikum," sapa pria bersorban putih itu, seraya mengangkat tangan kanannya setinggi dada dengan nada suara yang menenteramkan hati.
"Wa’alaikumussalam," jawab seisi ruangan serentak. Bahkan sang Paman yang tadi penuh amarah pun seketika merendahkan ego dan menahan emosinya di hadapan ulama yang dihormati itu.
Belum sempat Kiai dan kedua muridnya melangkah mendekat ke arah kasur, Mira tiba-tiba meledak histeris.
"Hahaaaaaah!"
Jeritan melengking itu menggema keras, memekakkan telinga siapa pun yang berada di ruangan remang itu.
Tubuh Mira yang ringkih mendadak menegang kaku dan mengalami kejang hebat. Matanya terbelalak lebar, bola matanya nyaris memutih sepenuhnya. Tanpa diduga, ia bangkit dan duduk dengan posisi kaku, lalu menatap tajam ke arah rombongan Kiai.
Melihat perubahan drastis yang begitu mengerikan itu, kepanikan seketika menyelimuti seisi ruangan. Tanpa berpikir panjang, anggota keluarga—termasuk Agus—secara refleks maju ke depan dan memegangi tubuh gadis itu agar tidak mengamuk. Saat bersentuhan, Agus bisa merasakan hawa tubuh Mira berubah drastis menjadi sangat dingin dan keras, persis seperti memegang patung es.
"Mau ngapain kalian ke sini?! Jangan ikut campur urusan ini! Lebih baik kalian pergi dari sini!" bentak Mira dengan suara lantang. Nada bicaranya sudah berubah total—bukan lagi suara lembut yang biasa Agus kenal, melainkan suara berat dan parau, terdengar seperti dua orang berbicara bersamaan, diakhiri dengan geraman mengerikan yang membuat seluruh bulu kuduk meremang.
Seluruh keluarga dan Agus makin panik melihat kondisi Mira yang kian mengkhawatirkan. Sebaliknya, sang Kiai dan para santrinya justru tampak sangat tenang, seakan situasi seperti ini adalah hal yang biasa bagi mereka.
Agus dan yang lain mulai kewalahan menahan tubuh gadis itu. Tenaga Mira mendadak menjadi berkali-kali lipat lebih kuat dari biasanya. Keringat dingin bercucuran membasahi dahi mereka, berusaha sekuat tenaga menahan amukan yang kian tak terkendali.
Melihat situasi itu, Kiai melangkah mantap mendekat ke hadapan Mira.
“Siapa pun yang bersemayam di dalam tubuh anak ini, segeralah pergi! Atau aku sendiri yang akan memaksamu keluar!” perintah Kiai dengan suara yang dalam dan penuh wibawa.
"Hahaha! Memangnya siapa dirimu hingga berani memerintahku? Aku tidak mau pergi. Anak ini sekarang sudah menjadi milikku!" jawabnya disertai tawa yang mengejek dan terdengar sangat menyeramkan.
Wajah sang Kiai tetap tenang dan tak bergeming. Ia mengangkat tangan kanannya, meletakkannya tepat di dahi Mira, lalu langsung melantunkan doa dengan tegas dan mantap, diikuti oleh kedua muridnya.
“Kau tidak punya hak sedikit pun atas anak ini! Tubuh ini milik manusia yang suci, bukan tempat bagi makhluk sepertimu!” bentak Kiai, suaranya kian menggelegar memenuhi ruangan.
Seketika suasana terasa makin pekat dan menekan. Lampu di sudut ruang berkedip-kedip tak keruan. Mira melotot tajam, dari matanya memancarkan kilatan cahaya merah yang mengerikan.
“Arrghhh—!” sosok yang menguasai tubuh Mira itu meraung kesakitan begitu telapak tangan sang Kiai menyentuh kulitnya. Tubuhnya menggeliat hebat, seolah ada api tak kasatmata yang membakarnya dari dalam. “Tidak… lepaskan aku! Jangan sentuh aku!”
“Keluar kau! Atas izin Allah Yang Maha Kuasa, aku usir kau!” teriak Kiai dengan lantang. Ia terus melantunkan doa dengan nada yang kian kencang, hingga akhirnya terdengar jeritan panjang yang memecah keheningan.
Wussshhh!
Sesosok asap hitam pekat melesat keluar dari mulut dan dada Mira, lalu lenyap begitu saja menembus dinding ruangan.
Seketika itu juga, tubuh Mira langsung lemas tak berdaya. Beruntung, sang Kiai dengan sigap menahan tubuh gadis itu sebelum ambruk sepenuhnya ke lantai. Napas Mira masih terengah-engah, namun rona kehidupan perlahan mulai kembali memancar di wajahnya yang semula pucat pasi. Kiai kemudian merebahkan tubuhnya dengan hati-hati, lalu mengusap dahinya dengan lembut.
"Alhamdulillah..." ucap seisi ruangan serentak. Isak tangis haru dan helaan napas lega seketika pecah, mengakhiri ketegangan yang begitu mencekam.
Namun di tempat lain, tepat di saat yang bersamaan, kondisi Indra justru memburuk secara drastis. Tubuhnya mendadak kejang hebat dan bergerak tak terkendali, disertai muntah darah berwarna hitam berkali-kali. Ia mencengkeram dadanya sendiri sambil melolong kesakitan, seakan ada sesuatu yang tak kasat mata sedang menggerogoti organ dalamnya hingga hancur lebur.
Bersambung...
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁