Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 — Orang Terakhir
Suara hujan menggema di sepanjang koridor.
Naresha berdiri diam menatap Arven dengan napas tertahan.
“Orang terakhir yang lihat dia hidup… itu gue.”
Kalimat itu terasa berat.
Terlalu berat.
Untuk beberapa detik Naresha tidak tahu harus merespon apa.
Arven memalingkan wajah ke arah jendela.
Tatapannya kosong.
Seolah kenangan lima tahun lalu kembali muncul di kepalanya.
“Apa maksud lo?” bisik Naresha akhirnya.
Sunyi.
Arven menghela napas panjang sebelum menjawab pelan,
“Malam itu gue ketemu Evelyn di sekolah.”
“Kenapa malam-malam?”
“Dia yang ngajak.”
Deg.
Naresha mulai merasa tidak nyaman.
Hujan di luar semakin deras.
Kilat sesekali menyambar langit gelap.
“Dia bilang ada sesuatu yang mau dia tunjukin ke gue,” lanjut Arven lirih.
Naresha mendengarkan tanpa memotong.
“Waktu gue sampai… Evelyn udah ketakutan.”
Tatapan Arven perlahan berubah gelap.
“Dia terus bilang kalau seseorang ngikutin dia.”
Deg.
“Siapa?”
“Gue ga tahu.”
Naresha menggigit bibir bawahnya pelan.
“Apa lo lihat wajah orang itu?”
Arven menggeleng.
“Koridor waktu itu gelap.”
Cowok itu menunduk.
“Tapi gue denger suara langkah kaki lain.”
Tok.
Tok.
Tok.
Suara Arven mengecil saat menirukan langkah itu.
Dan anehnya…
Suara tersebut terdengar sama persis seperti langkah kaki yang sering muncul setiap malam di sekolah.
Naresha merasakan bulu kuduknya berdiri perlahan.
“Terus Evelyn gimana?”
Arven diam cukup lama sebelum menjawab.
“Dia nyuruh gue lari.”
“Hah?”
“Dia bilang kalau gue tetap di sana… gue bakal dibunuh juga.”
Sunyi.
Napas Naresha terasa berat.
“Terus lo tinggalin dia?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Dan begitu melihat ekspresi Arven berubah, Naresha langsung menyesal.
Namun cowok itu tidak marah.
Ia justru tersenyum kecil.
Pahit.
“Gue memang pengecut.”
Deg.
“Aku ga bilang gitu…”
“Tapi emang benar.”
Tatapan Arven terlihat penuh rasa bersalah.
“Waktu gue balik lagi ke lorong… Evelyn udah jatuh.”
Suasana mendadak terasa dingin.
Naresha tidak bisa membayangkan bagaimana mengerikannya kejadian itu.
“Sejak malam itu…” lanjut Arven pelan, “gue terus lihat dia.”
Dan sekarang Naresha mulai mengerti.
Kenapa Arven terlihat begitu takut setiap kali Evelyn muncul.
Bukan hanya karena hantu.
Tapi karena rasa bersalah yang belum pernah hilang.
Tiba-tiba langkah kaki terdengar mendekat dari ujung koridor.
Tok.
Tok.
Tok.
Naresha dan Arven langsung menoleh bersamaan.
Pak Damar berjalan santai ke arah mereka sambil membawa map hitam.
Tatapannya langsung tertuju pada Arven.
“Masih suka ada di sekolah sampai sore.”
Nada suaranya terdengar biasa.
Namun entah kenapa terasa seperti sindiran.
Arven langsung berubah dingin.
“Saya mau pulang.”
Pak Damar tersenyum tipis.
“Bagus.”
Tatapannya lalu beralih ke Naresha.
“Dan kamu… jangan terlalu percaya sama cerita siapa pun.”
Deg.
Naresha langsung menegang.
Pak Damar berjalan melewati mereka begitu saja.
Namun saat pria itu hampir menghilang di tikungan koridor…
Ia berhenti sebentar.
Tanpa menoleh.
Lalu berkata pelan,
“Kadang orang yang terlihat ingin menolong… justru menyembunyikan kesalahan terbesar.”
Langkahnya kembali berjalan.
Dan beberapa detik kemudian pria itu menghilang.
Sunyi.
Koridor terasa lebih dingin setelah kepergiannya.
Naresha perlahan menoleh ke arah Arven.
Cowok itu mengepalkan rahangnya kuat-kuat.
“Lo benci dia?” tanya Naresha pelan.
Arven tidak langsung menjawab.
Tatapannya gelap.
“Gue ga percaya sama dia.”
“Kenapa?”
Arven menghela napas pendek.
“Pak Damar dulu udah kerja di sekolah ini waktu Evelyn meninggal.”
Deg.
Naresha langsung membeku.
“Hah?”
“Dia guru magang waktu itu.”
Semakin lama semuanya semakin aneh.
“Terus kenapa baru sekarang balik?”
“Itu yang gue ga ngerti.”
Suasana kembali hening.
Hanya suara hujan yang terdengar.
Namun tiba-tiba—
Ctek.
Lampu koridor berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Naresha langsung menegang.
“Jangan bilang…”
Tok.
Tok.
Tok.
Suara langkah kaki kembali terdengar.
Namun kali ini bukan dari ujung koridor.
Melainkan dari lantai atas.
Pelan.
Menyeret.
Arven langsung menatap ke arah tangga.
Ekspresinya berubah pucat.
“Dia bangun lagi.”
“Hah?”
Belum sempat Naresha bertanya—
Suara perempuan tiba-tiba terdengar menggema pelan dari atas.
“Arven…”
Naresha langsung membeku.
Suara itu jelas milik Evelyn.
“Kenapa… kamu tinggalin aku…”