"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Bayangan di Balik Kaca dan Ilusi Kematian
Deru mesin dari iring-iringan lima mobil hitam mewah memecahkan keheningan pelataran Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Kendaraan-kendaraan itu bergerak perlahan, membelah barisan pengunjung sidang, sebelum akhirnya melintas tepat di depan selasar tempat Adrian masih meringkuk menahan sakit luar biasa di selangkangannya. Valerie, dengan pipi yang bengkak sebelah akibat tamparan Aruna, berusaha payah membantu pria itu untuk berdiri.
Saat mobil barisan kedua—sebuah sedan premium dengan logo elang perak—meluncur pelan melewati mereka, kaca jendela belakangnya masih terbuka setengah.
Adrian, dengan napas yang memburu dan keringat dingin yang membasahi dahi, secara insting mendongak. Pandangannya yang agak kabur akibat menahan perih mendadak terkunci pada sosok wanita yang duduk dengan anggun di kursi penumpang belakang. Wanita itu mengenakan kacamata hitam besar, namun sebelum kaca mobil itu bergerak naik dan menutup sepenuhnya, wanita itu menoleh ke arahnya. Bibir tipisnya menyunggingkan sebuah senyuman misterius—senyuman dingin yang sangat familier di ingatan Adrian.
Jantung Adrian mendadak berdegup kencang, mengalahkan rasa sakit di tubuhnya.
"Aruna... itu Aruna, Val...!" bisik Adrian parau, jarinya yang bergetar menunjuk ke arah mobil yang mulai menjauh. "Sejak kapan dia... sejak kapan dia naik mobil semewah itu?!"
Valerie yang sedang sibuk merapikan pakaiannya yang berantakan, langsung menoleh ke arah jalanan. Namun, yang ia lihat hanyalah deretan kendaraan hitam yang bergerak cepat keluar dari gerbang pengadilan. Ia mendengus kesal, mengira Adrian hanya sedang berhalusinasi akibat syok setelah ditendang.
"Bukan, Mas... mungkin kamu salah lihat," sahut Valerie dengan nada ketus, berusaha memapah tubuh Adrian agar bersandar pada tiang koridor.
"Nggak, Val! Aku gak salah lihat! Wajahnya... senyumannya... itu mutlak wajah Aruna! Aku tidak mungkin salah mengenali wanita yang hidup bersamaku selama lima tahun!" seru Adrian, suaranya meninggi, campur aduk antara panik dan tidak percaya.
Valerie menarik napas panjang, lalu menatap Adrian dengan pandangan meremehkan. "Mas, coba pakai logikamu. Kalau jalang dekil itu sekaya itu sampai punya iring-iringan mobil mewah yang setara dengan kelas menteri, ngapain dia rela kamu permainkan di rumah selama bertahun-tahun? Ngapain dia mau disuruh-suruh sama ibumu, ngepel lantai, dan tidur di kamar belakang? Kalau dia punya kuasa sebesar itu, sudah dari dulu mungkin dia ninggalin kamu dan bikin kita bangkrut. Dia itu cuma gembel frustrasi yang kebetulan beruntung bisa nebeng mobil temannya, atau mungkin itu cuma orang kaya lain yang kebetulan mirip dia."
Adrian terdiam. Kata-kata Valerie perlahan meresap ke dalam logikanya yang sedang buntu. Ia memegangi kepalanya yang pening. Benar juga... pikir Adrian. Aruna adalah wanita yang lemah, mandul, dan sudah dibuang oleh keluarganya sendiri. Tidak mungkin dia memiliki akses ke kemewahan ekstrem seperti itu dalam waktu semalam setelah angkat kaki dari rumah.
"Benar juga... Aku pasti cuma salah lihat karena menahan sakit ini," gumam Adrian akhirnya, mencoba menenangkan hatinya sendiri yang sempat dilanda kepanikan maut.
"Makanya, Mas, jangan dibilang-bilang lagi nama perempuan sialan itu. Ayo, kita ke mobil. Kita harus segera ke dokter untuk memeriksa kondisimu, lalu merayakan kemenangan gono-gini kita," ajak Valerie, mengabaikan fakta bahwa pipinya sendiri juga masih terasa kebas.
Di Dalam Mobil Mewah
Sementara itu, di dalam kabin mobil yang kedap suara dan sejuk, Aruna menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang empuk. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap lurus ke depan dengan ekspresi yang sulit ditebak. Kepuasan setelah memberikan pelajaran fisik pada Adrian dan Valerie masih tersisa di wajahnya, namun pikirannya sudah melompat jauh ke rencana masa depan.
Pria bertubuh tegap yang duduk di kursi kemudi melirik melalui spion tengah. Dengan sikap yang sangat formal dan penuh hormat, ia membuka suara.
"Selanjutnya... rencana Anda apa, Nona?"
Aruna mengernyitkan dahi sedikit. Ia menatap punggung pria itu, menyadari bahwa dia bukanlah salah satu dari staf lama yang biasa ia temui di kantor Paman Aldo.
"Kamu siapa?" tanya Aruna, suaranya terdengar dingin namun penuh selidik.
Pria itu menundukkan kepalanya sedikit dari balik kemudi. "Saya Martin, Nona. Saya adalah kepala divisi pengamanan khusus yang diperintahkan langsung oleh Paman Aldo untuk menjemput, mengawal, dan memastikan seluruh keselamatan Anda mulai hari ini."
"Oh, begitu ya..." Aruna mengangguk pelan. Nampaknya Martin adalah orang baru yang sengaja direkrut oleh Paman Aldo untuk menyusun benteng pertahanan di sekelilingnya selama masa perang korporasi ini berjalan. "Untuk rencana selanjutnya... kita pikirkan dulu dengan matang. Aku ingin melihat sejauh mana Adrian melangkah dengan 10% harta sisa yang sengaja aku tinggalkan untuknya."
Mobil terus melaju membelah jalanan ibu kota yang padat. Namun, baru beberapa kilometer meninggalkan area pengadilan, laju kendaraan mendadak melambat. Di depan mereka, arus lalu lintas macet total. Suara klakson bersahut-sahutan, dan di tepi jalan, kerumunan warga tampak berlarian menuju ke arah sebuah jembatan penyeberangan sungai yang cukup tinggi.
Martin menurunkan kecepatan mobil hingga berhenti sepenuhnya. Di luar, suasana sangat gaduh.
"Ada yang loncat dari jembatan! Seorang perempuan!" teriak salah seorang warga yang berlari melintasi trotoar.
"Mungkin bunuh diri?!" sahut warga lainnya dengan wajah panik.
"Iya, tadi saya lihat dia seperti orang yang putus asa... usianya kurang lebih 30-an tahun!" teriak seorang ibu-ibu penjual asongan yang menyaksikan kejadian dari kejauhan.
Mendengar rentetan teriakan warga di luar, sepasang mata Aruna mendadak berkilat tajam. Otak strateginya yang jenius seketika menangkap sebuah celah keputusan yang sangat brilian. Sebuah ide gila namun sangat mematikan melintas di benaknya. Jika dunia mengira Aruna telah hancur dan putus asa setelah perceraian ini, maka sebuah berita kematian akan menjadi senjata psikologis yang paling sempurna untuk menghancurkan mental Adrian dan ibunya.
"Tunggu, Martin...!" Aruna mencondongkan tubuhnya ke depan, menyentuh bahu Martin dengan tegas. "Hentikan mobilnya di sini. Aku punya ide."
Martin segera menepikan mobil ke bahu jalan yang agak renggang. "Apa perintah Anda, Nona?"
"Perempuan yang meloncat itu... usianya mirip denganku, dan dia melompat tepat di dekat area pengadilan tempat aku baru saja resmi bercerai," tutur Aruna, suaranya terdengar berbisik penuh intrik yang mengerikan.
"Aku ingin kamu menggunakan seluruh jaringan dan kekuasaan Purnama Group untuk memanipulasi berita ini. Buat opini publik dan laporan kepolisian bahwa wanita yang bunuh diri meloncat ke dalam sungai itu... adalah aku. Aruna Wijaya."
Martin tersentak, menatap Aruna dari spion dengan pandangan terkejut. "Nona... Anda ingin memalsukan kematian Anda sendiri?"
"Benar," jawab Aruna, seulas senyuman kemenangan dingin terukir di bibirnya. "Biarkan Adrian dan ibunya mengira bahwa tekanan dan kehinaan yang mereka berikan selama ini telah membuatku putus asa hingga mengakhiri hidup. Aku ingin melihat bagaimana ketakutan maut akan mencengkeram leher mereka saat Komnas HAM dan pihak kepolisian datang memeriksa rumah mereka atas dugaan intimidasi yang menyebabkan korban bunuh diri."
Aruna bersandar kembali, matanya menerawang tajam. "Dan di saat mereka sedang merayakan kematianku sambil menguasai harta gono-gini itu... aku akan bangkit dari kegelapan sebagai CEO Purnama Group untuk mencabut seluruh oksigen bisnis mereka tanpa sisa. Lakukan sekarang, Martin. Amankan jasad wanita itu, kondisikan media, dan buat drama ini menjadi mimpi buruk paling nyata bagi keluarga Adiwangsa."
Martin mengangguk patuh, merasakan kengerian sekaligus kekaguman yang mendalam atas kecerdasan manipulatif sang ratu Purnama yang baru saja bangkit. "Baik, Nona. Perintah dilaksanakan."