NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Semua Benang Mulai Menyatu

Hari terakhir batas waktu yang ditentukan akhirnya tiba juga, dan pagi itu langit terlihat terang sekali seolah ikut menerangi segala sesuatu yang tadinya berusaha ditutup rapat-rapat. Rusdi dan dua orang bawahannya datang ke ruang rapat dengan wajah yang sudah tak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan, kemejanya terlihat kusut dan keringat sudah mengkilap di dahinya meski perjalanan dari kantornya tak terlalu jauh. Mereka meletakkan tumpukan berkas yang sudah diikat rapi di atas meja, tapi kalau dilihat seksama terasa ada yang janggal: kertas-kertasnya masih terasa lembab sedikit seolah baru saja disusun terburu-buru semalaman, lipatannya tak rapi, dan tinta tulisannya terlihat berbeda warna di beberapa halaman.

Faris Arjuna duduk di tempat biasa, bersandar santai dengan kaki disilang enak, satu tangannya memutar-mutar batang rokok di jari tanpa terburu-buru menyalakannya. Matanya melirik sekilas ke arah tumpukan kertas itu lalu menatap Rusdi dengan senyum miring yang khas, tak ada nada marah tapi cukup membuat lawan bicara makin merasa tak tenang. Viona duduk di sisi lain meja, tenang saja sambil memberi isyarat supaya Faris Arjuna yang memimpin pengecekan itu seperti yang sudah disepakati.

Nah, ini dia berkas yang sudah diperbaiki semuanya ya Mas Rusdi?” tanya Faris Arjuna dengan nada bicara yang santai saja, tak ada nada menuduh tapi langsung ke intinya. “Kita cek pelan-pelan saja satu per satu, nggak usah terburu-buru supaya nanti nggak ada yang terlewat lagi.”

Faris Arjuna mulai membuka lembar demi lembar dengan gerakan lambat dan teliti, sesekali mengangkat satu lembar lalu membandingkannya dengan berkas asli yang ada di tangannya sendiri. Tak sampai sepuluh lembar saja, dia sudah menggeleng pelan sambil tersenyum kecil yang terasa menyindir halus. Lihat ini dulu ya Mas Rusdi, di halaman depan tertulis tanggal keluar barang tanggal lima, tapi di lembar yang ada nomor urut sama tertulis tanggal enam. Terus ini lagi, jumlah kotak yang tertera di catatan gudang utama beda dua puluh kotak dengan yang ditulis di sini, padahal nomor tanda terimanya sama persis. Kalau cuma satu dua hal mungkin masih bisa bilang salah tulis, tapi ini mulai dari halaman awal sampai halaman belakang, selisihnya muncul terus dan saling bertabrakan satu sama lain.”

Muka Rusdi makin pucat, dia mencoba menjawab terbata-bata sambil tangannya bergerak tak menentu: “Itu… itu pasti masih ada yang terlewat sedikit, Mas Faris Arjuna. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin meluruskannya, mungkin ada hal yang belum cocok tapi bisa diperbaiki lagi sebentar saja kalau dikasih waktu tambahan…”

Faris Arjuna mengangkat tangan sedikit menahan ucapan itu, lalu menyalakan rokoknya dengan bunyi cesss pelan, menghirupnya sebentar sebelum melanjutkan bicara dengan gaya sengklek khasnya. “Waktu tambahan? Sudah dua kali kami kasih kesempatan meluruskan sendiri lho Mas Rusdi, nggak langsung ditutup pintu dari awal. Tapi coba kita lihat baik-baik, bukan cuma soal angka atau tanggal saja yang keliru. Lihat tanda tangan ini, yang ada di berkas asli goresannya tegas dan konsisten, sedangkan yang baru ini goresannya terasa dipaksakan, ada bagian yang terulang dan terlihat ragu-ragu saat membuatnya. Belum lagi catatan kode barang yang dipakai, di sini tertulis kode standar tapi keterangan mutunya ditulis ulang dengan kalimat yang beda maknanya kalau dibaca teliti.”

Dia kemudian menunjuk ke arah tumpukan catatan dan bukti lain yang sudah disiapkan di sebelahnya, suara makin jelas tapi tetap santai saja seolah sedang bercerita hal biasa. “Dan ini bukan cuma dari kertas saja lho Mas Rusdi. Faris Arjuna sudah catat juga jam berapa kendaraan masuk dan keluar, lewat jalan mana saja, bahkan ada keterangan dari tukang parkir dan warga sekitar yang melihatnya langsung. Katanya mobil bak tertutup sering lewat pintu belakang di luar jam kerja, lampunya diredupkan dan sopirnya tak mau berhenti kalau dipanggil. Belum lagi rekaman suara saat kalian berdua berdebat semalam, yang bilang kalau harus geser barang dan ubah catatan supaya untungnya makin besar.”

Faris Arjuna menghela napas pelan sambil menghembuskan asap rokoknya memutar naik ke atas. “Sekarang semua benang itu mulai menyatu rapi jadi satu kan? Dari selisih angka, catatan yang tak cocok, jalan yang dipakai sembunyi-sembunyi, sampai ucapan kalian sendiri yang mengakui semuanya. Nggak ada yang berdiri sendiri, semuanya saling mengait dan menguatkan satu sama lain sampai tak ada celah lagi buat disangkal. Kalau kalian tadi berhenti dan jujur dari awal, mungkin masih bisa dibicarakan baik-baik. Tapi karena sudah terlanjur mengira licik itu cara menang, akhirnya justru menumpuk sendiri bukti yang melawan diri sendiri.”

Viona yang dari tadi diam akhirnya bicara dengan nada tegas tapi tetap sopan: “Sudah cukup jelas ini semuanya. Tak perlu lagi meminta waktu tambahan atau alasan apa pun, karena yang ada di depan mata sudah cukup bicara. Semua berkas ini akan disusun rapi lengkap dengan lampiran bukti lain, baru nanti kita serahkan ke pihak yang berwenang supaya diproses sesuai aturan yang berlaku.”

Rusdi hanya menunduk dalam, tak mampu lagi mengangkat wajah atau mengeluarkan kata pembelaan apa pun. Tangan dan kakinya terasa lemas seolah seluruh tenaganya hilang seketika, menyadari bahwa setiap langkah yang dia anggap pintar tadi malam, ternyata hanya menjadi tanda panah yang makin menunjuk ke arah kesalahannya sendiri.

Faris Arjuna mematikan rokoknya perlahan di atas asbak, matanya melirik sekilas ke arah Rusdi dengan pandangan yang tak ada rasa gembira berlebihan tapi juga tak ada rasa kasihan yang salah tempat. “Ingat saja ini pelajarannya Mas Rusdi: orang yang berniat menipu biasanya merasa dia yang paling pintar, tapi dia lupa bahwa setiap tindakan pasti meninggalkan jejak, entah itu di kertas, di tanah, atau di hati orang yang melihatnya. Dan yang paling lucu, biasanya dia sendiri yang paling rajin mengumpulkan semua bukti itu sampai tak ada lagi jalan keluarnya.”

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!