Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
SELAMAT MEMBACA !!!
Tanpa terasa waktu berlalu, pembangunan rumah susun itu sudah berlangsung selama dua minggu penuh. Sertu Dimas dan Serma Yoga sepakat untuk menemui dan melapor langsung kepada pimpinan mereka.
Mereka berjalan tegap menuju tempat Kapten William dan Arya yang sedang memeriksa kemajuan pekerjaan, lalu memberi hormat dengan rapi.
"Mohon izin melapor, Kapten!" seru Sertu Dimas sambil memberi hormat tegap, di sampingnya Serma Yoga pun berdiri tegap mengikuti sikap rekannya.
"Izin diterima. Silakan sampaikan apa yang ingin dilaporkan, Sertu Dimas," jawab Kapten William sambil mengangguk melepas hormat, berdiri tegap di sampingnya Arya yang juga memperhatikan mereka dengan serius.
"Kapten, Arya... ini laporan lengkap perkembangan pembangunan selama dua minggu terakhir," ucap Sertu Dimas sambil menyodorkan map berisi berkas-berkas yang dibuat oleh dua prajurit bawahannya Kapten William yang dipercaya memegang proyek pembangunan rumah susun.
Kapten William menerima map itu dengan sikap serius, lalu membukanya sekilas untuk memeriksa catatan di dalamnya. Arya pun mendekat dan ikut memperhatikan setiap rincian kemajuan, daftar bahan yang digunakan, hingga tenaga kerja semuanya tercatat rapi oleh Sertu Dimas dan Serma Yoga.
"Bagus sekali, Bang. Kalian bekerja sangat teliti," puji Arya sambil mengangguk puas. "Alhamdulillah, kerangka bangunan sudah berdiri kokoh dan kuat, sisa pekerjaan sekarang hanya tahap penyelesaian akhir saja."
Kapten William mengangguk setuju dengan ucapan Arya sambil menutup kembali berkas laporannya.
"Benar, pekerjaan kalian sangat rapi dan memuaskan. Tapi tetap diperhatikan ketelitian saat tahap akhir penyelesaian. Supaya bangunan ini nanti benar-benar nyaman dan aman bagi penghuninya," ujarnya tegas dan pengharganya untuk kedua prajuritnya.
Sertu Dimas dan Serma Yoga tersenyum lega, lalu mengangguk paham. "Siap dilaksanakan, Kapten! Kami akan awasi hingga selesai sepenuhnya." ucap mereka berdua.
Kenapa bangunan itu cepat selesai, itu semua karena bantuan dari rekan-rekan prajurit yang suka rela membantu pembangunan itu, mereka dari Markas Kodam Jaya, hingga satuan dari Markas pusat semua dikoordinir langsung dibawah pimpinan Jendral agus Prasetyo.
Tiba-tiba ponsel Kapten William berdering, tertampil nomor asing yang tidak tersimpan dalam daftar kontaknya.
"Halo, selamat pagi," sapa Kapten William singkat.
Suara di seberang terdengar tergesa-gesa, penuh ketakutan dan sangat ramai.
"Halo... Kapten, tolong kami... Perwakilan dari perusahaan itu datang kembali ke sini, situasinya mulai tidak tenang," ucap orang itu dengan suara bergetar.
"Tenanglah dulu, Bapak. Usahakan beri jeda waktu sampai kami tiba di sana," perintah Kapten William tegas, sambil memberi isyarat tangan kepada Arya, Sertu Dimas, dan Serma Yoga agar segera bersiap berangkat.
Ia segera berdiri tegap, "Kami berangkat sekarang juga, jangan bertindak berlebihan dan hindari pertengkaran dulu ya," tambahnya sebelum mematikan sambungan telepon.
Sertu Dimas berjalan menuju bagian depan bangunan, lalu berpesan kepada warga yang sedang bekerja di sana, jika nanti sudah tiba waktunya makan siang, silakan langsung beristirahat dan makan saja, tidak perlu menunggu kedatangan mereka.
Benar dugaan mereka berempat. Sesampainya di lokasi, sudah terlihat kerumunan warga yang berkumpul di depan gerbang masuk menuju pemukiman sederhana di bawah jembatan itu.
"Ada apa sebenarnya di sini?" tanya Kapten William dengan nada tegas, meskipun berpakaian sederhana sehingga tidak terlihat bahwa ia seorang anggota TNI.
Warga yang sedang cemas seketika tampak berharap saat melihat kedatangannya. "Kapten...!" seru mereka merasa lega melihat kedatangan Kapten William beserta rombongan.
"Ada apa ini?" Kapten William mengulangi pertanyaannya sekali lagi, sambil menatap lurus ke arah orang-orang yang datang mengancam.
Pak RT melangkah maju menjawab dengan suara bergetar menahan amarah. "Mereka datang ingin menggusur kami saat ini juga, Kapten. Padahal sejak awal kesepakatannya kami diberi waktu satu bulan untuk mencari tempat lain. Tapi hari ini mereka sudah membawa alat berat dan mengancam akan merobohkan tempat tinggal kami sekarang juga. Tolong bantu kami, Kapten!" seru Pak RT.
Kapten William melangkah maju mendekati rombongan itu, tatapannya tajam namun tenang.
"Siapa diantara kalian yang menjadi pemimpinnya? Atas dasar apa kalian datang hari ini dengan membawa alat berat, padahal kesepakatan waktunya masih dua minggu lagi?" tanya tegasnya tegas terdengar berwibawa meski tanpa seragam kebesarannya.
Seorang yang agak tinggi dan sedikit buncit perutnya itu, maju dengan senyum meremehkannya sambil memegang kertas.
"Ini urusan perusahaan, Bapak tidak perlu ikut campur. Saya membawa surat resmi kepemilikan sah atas tanah ini, warga di sini harus segara angkat kaki dari sini sekarang juga," ucapnya ketus.
Wajah Kapten William berubah tegas, kemarahannya memuncak melihat sikap semena‑mena kelompok itu yang seakan-akan mengancam warga tak berdaya itu.
"Siapa yang memberi hak kalian bertindak semena‑mena begini? Memang sudah disepakati waktu satu bulan, tapi kalian tidak bisa memaksakan kehendak begitu saja tanpa memikirkan ganti rugi yang layak bagi mereka," ujar Kapten William dengan nada tegas.
"Sekalipun mereka dianggap menempati tanah ini tanpa izin, bangunan tempat tinggalnya itu mereka bangun dengan keringat sendiri. Kalian tetap wajib memperhitungkan penggantian biaya dan tempat pengganti, bukan datang tiba‑tiba lalu mengusur seenak kepala kalian!" ucap Kapten William dengan menatap tajam orang itu.
"Panggil Santosa kehadapan saya sekarang, kalau tidak ingin perbuatan buruk perusahaan kalian tersebar luas dan menjadi pembicaraan seluruh negeri hari ini!" perintah Arya dengan nada dingin namun mengancam.
Sertu Dimas dan Serma Yoga yang berdiri agak di belakang saling berpandangan, tak percaya melihat perubahan sikap Arya. Selama ini mereka mengenalnya sebagai sosok yang tenang dan santun, namun saat ini tatapan serta nada bicaranya begitu tajam dan dingin. Seolah orang yang ada di depannya bukan Arya yang di kenalnya selama dua minggu ini.
Pria itu menatap tajam sambil tertawa sinis, merasa dipermalukan. "Siapa, anda sebenarnya? Berani sekali anda menyuruh pemilik perusahaan kami datang ke sini?!" bentaknya, sama sekali tidak mengenal sosok Arya dan menganggapnya hanya orang asing yang ikut campur urusan orang lain.
"Jangan banyak bertanya lagi. Cepat panggil Santosa ke sini, atau dalam waktu tiga puluh menit namanya dan perbuatannya akan diketahui oleh seluruh orang di negeri ini. Sampaikan saja Arya Adhitama sedang menunggunya di sini!" perintah Arya tegas, matanya tak pernah berkedip menatap orang yang jadi pemimpin itu.
Pemimpin rombongan itu tertegun sejenak, nama itu terdengar asing namun ada kekuatan yang membuatnya ragu untuk membantah. Ia pun mundur selangkah sambil meraih hapenya.
"Halo, Bos... Sebaiknya Bos segera ke sini. Ada pihak yang ikut campur dan membela warga, mereka menuntut agar anda memberikan ganti rugi atas rumah mereka," ujar pria itu.
Dari seberang telepon terdengar bentakan keras penuh amarah.
"SIAL! SIALAN! SIAPA YANG BERANI MENANTANG SANTOSA DAN PERUSAHAANKU?!" serunya bergema diruangannya.
"Tunggu saya sampai ke sana! Saya ingin melihat siapa yang berani menantang seorang SANTOSA!" serunya dengan percaya diri, seakan dia yang menguasai negeri ini.
Santosa memutus sambungan telepon secara sepihak tanpa menunggu jawaban lagi. Pria yang menelepon tadi pun menghela napas panjang, wajahnya tampak kesal sekaligus cemas dengan sikap pemimpinnya yang kasar dan tidak mau mendengar penjelasannya selanjutnya.