“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Akan Pikirkan
...****************...
Perjalanan Rhea menuju kampus pagi itu berjalan jauh lebih lancar dari yang ia bayangkan. Jalanan memang mulai ramai, tetapi tidak sampai membuat lalu lintas macet total.
Mobilnya melaju stabil di tengah deretan kendaraan lain, sementara pikirannya masih dipenuhi bayangan flashdisk yang entah menghilang ke mana. Berkali-kali ia melirik jam digital di dashboard mobil, berharap dirinya masih punya cukup waktu untuk masuk kelas sebelum dosen baru itu benar-benar memulai perkuliahan.
Begitu mobilnya masuk area parkir kampus, Rhea langsung mencari slot kosong terdekat tanpa banyak pikir panjang. Setelah berhasil memarkirkan mobil dengan agak miring karena terlalu terburu-buru, ia segera meraih tasnya dan keluar secepat mungkin.
Tangannya menekan tombol remote untuk memastikan mobilnya benar-benar terkunci sebelum akhirnya ia berlari menuju gedung fakultas.
Suasana kampus pagi itu sudah ramai dipenuhi mahasiswa yang lalu-lalang membawa laptop dan map tugas. Beberapa duduk santai di taman kampus sambil tertawa, sebagian lagi sibuk berjalan cepat menuju kelas masing-masing.
Di sisi lain gedung, suara organisasi kampus yang sedang membuka stand terdengar samar bercampur dengan bunyi langkah kaki dan obrolan mahasiswa yang memenuhi area koridor.
Namun Rhea tidak punya waktu untuk memedulikan semua itu. Ia terus berlari melewati lorong demi lorong kampus dengan napas yang mulai memburu. Tote bag hitamnya beberapa kali nyaris terlepas dari bahu, sementara langkahnya terdengar tergesa saat menaiki tangga menuju lantai atas.
Satu lantai. Dua lantai. Dan ketika akhirnya sampai di lantai tiga, Rhea langsung berhenti sejenak di depan lorong kelas untuk mengatur napasnya yang terengah.
Dadanya naik turun cukup cepat, rambut panjangnya sedikit berantakan karena berlari sejak dari parkiran. Setelah napasnya mulai terasa normal, ia kembali berjalan menyusuri lorong hingga berhenti di depan pintu kelas B-3.12.
Rhea menarik napas pelan sebelum akhirnya mengangkat tangannya dan mengetuk pintu itu perlahan.
Tok… tok…
Ia membuka pintu kelas sedikit demi sedikit lalu melangkah masuk. Pendingin ruangan langsung menyambut kulitnya yang masih terasa panas karena berlari sejak dari bawah, sementara puluhan pasang mata di dalam kelas perlahan beralih ke arahnya satu per satu.
Dan seketika suasana kelas langsung berubah hening.
Di dekat meja dosen, seorang pria tinggi berdiri tegak sambil memegang spidol hitam di tangannya. Kemeja hitam yang digulung sampai siku membuat penampilannya terlihat rapi sekaligus dingin.
Papan tulis di belakangnya sudah penuh beberapa tulisan materi, menandakan kelas memang sudah dimulai cukup lama. Perlahan pria itu menoleh ke arah pintu kelas dengan tatapan tenang yang justru terasa lebih menekan.
Rhea langsung menegang.
“S-Selamat pagi, Pak Arga…”
“Keluar.”
Deg!
Satu kata itu terdengar datar, tapi cukup membuat suasana kelas terasa makin kaku. Bahkan beberapa mahasiswa yang tadi sempat berbisik langsung diam dan pura-pura fokus ke depan.
“Pak, maaf saya terlambat…”
“Kelas saya sudah dimulai lima belas menit yang lalu.”
“S-Saya terlambat sepuluh menit, Pak…”
Arga mengangkat satu alisnya lalu berbalik menghadap penuh ke arah Rhea yang masih berdiri kaku di dekat pintu. Tatapannya bergerak singkat memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah, mulai dari rambutnya yang sedikit berantakan sampai napasnya yang masih belum benar-benar stabil.
“Dan kamu sudah menyia-nyiakan sepuluh menit kelas saya.”
“Maaf, Pak…”
Rhea menggenggam tali tasnya lebih erat tanpa sadar. Jantungnya berdetak terlalu cepat, entah karena habis berlari atau karena seluruh isi kelas sekarang seperti sedang menonton dirinya diinterogasi langsung di depan pintu.
Kelas benar-benar diam. Tidak ada yang berani menyela sedikit pun. Arga menatap Rhea beberapa detik sebelum akhirnya kembali membuka suara.
“Menurutmu, apakah teori agenda setting masih relevan di era algoritma media sosial, ketika publik juga berperan sebagai produsen informasi?”
Rhea langsung menelan ludahnya sendiri. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba sampai membuat otaknya kosong beberapa detik. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya mencoba menjawab.
“Masih relevan, Pak. Tapi pengaruh media sekarang tidak lagi sepenuhnya satu arah.”
Arga yang tadinya terlihat datar mulai memperhatikan.
“Karena di media sosial audiens juga bisa membentuk agenda sendiri melalui algoritma, trending topic, dan interaksi pengguna. Jadi media tetap memengaruhi isu yang dianggap penting, tapi sekarang pengaruh itu bersaing dengan aktivitas publik di platform digital.”
Suasana kelas mendadak makin sunyi.
Beberapa mahasiswa langsung saling menoleh pelan. Ada yang mulai berbisik kecil, ada juga yang memandang Rhea dengan ekspresi tidak percaya karena jawaban itu keluar begitu saja dari mahasiswa semester empat yang baru datang terlambat.
“Buset…” bisik salah satu mahasiswa pelan.
“Secepet itu dia jawab?”
Sementara itu Arga sendiri terdiam sesaat. Tatapannya masih tertuju pada Rhea, sedikit lebih lama dari sebelumnya. Ia jelas tidak menyangka gadis yang masuk terlambat itu mampu menjawab pertanyaan tingkat magister tanpa terlihat gugup berlebihan.
Beberapa detik kemudian, Arga mengalihkan pandangannya sambil menutup spidol di tangannya. Sudut bibirnya terangkat tipis, hampir tidak terlihat.
“Kemari.”
Mata Rhea langsung membesar sedikit. Ia sempat melirik beberapa mahasiswa di dekat pintu sebelum akhirnya berjalan mendekat ke arah meja dosen dengan senyum kecil yang susah disembunyikan. Langkahnya masih sedikit hati-hati, seolah takut pria di depannya tiba-tiba berubah pikiran dan kembali mengusirnya keluar kelas.
“Tanda tangan.”
"Yes…"
Rhea buru-buru membuka tasnya, mengambil bolpoin, lalu langsung membubuhkan tanda tangannya di lembar absensi kelas Arga. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan mulai turun, dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu ia merasa bisa bernapas sedikit lebih lega.
“Terima kasih, Pak.”
Arga menyandarkan tubuhnya pelan ke meja sambil melipat kedua tangan di depan dada.
“Sekali lagi kamu terlambat di kelas saya, saya akan—”
“Memberi saya pertanyaan untuk mahasiswa S2 lagi?”
Kalimat itu langsung membuat beberapa mahasiswa menahan napas kecil, tidak percaya ada yang cukup berani memotong ucapan seorang dosen.
Rhea sendiri langsung menatap Arga sambil berusaha menahan tawanya. Wajahnya masih terlihat sedikit panik, tapi kali ini ada ekspresi lega yang membuat keberaniannya perlahan kembali muncul.
Arga menatapnya beberapa detik sebelum menggeleng kecil.
“Ck, duduk dan persiapkan diri untuk presentasi.”
Senyum di wajah Rhea langsung memudar.
“Waduh…”
Arga menoleh pelan. “Apa lagi sekarang?”
“Itu, Pak… eh, anu…”
“Bicara yang jelas.”
Rhea langsung menggaruk sisi kepalanya pelan sebelum menjawab dengan suara yang jauh lebih kecil dibanding sebelumnya.
“F-Flashdisk saya hilang entah ke mana, Pak…”
Kelas langsung kembali ribut kecil. Beberapa mahasiswa mulai saling menoleh sambil menahan tawa, sementara yang lain terlihat ikut panik hanya karena membayangkan ada di posisi Rhea pagi ini.
Sementara itu Arga hanya menatap Rhea datar beberapa detik, ekspresinya sulit ditebak.
“Bukankah mahasiswi dengan nilai tertinggi harusnya lebih teliti?”
Ucapan itu langsung membuat Rhea terdiam. Matanya membesar sedikit, bukan karena tersinggung, tapi karena tidak menyangka Arga tahu soal dirinya. Kini ia benar-benar tidak tahu harus malu atau panik lebih dulu.
“Duduk,” ujar Arga singkat sambil mengambil kembali spidolnya. “Saya akan pikirkan hukuman untuk kamu.”
“Loh… Pak…”
“Duduk, Rhea.”
Nada suaranya tetap tenang, tapi cukup tegas untuk membuat Rhea akhirnya menyerah dan berjalan menuju tempat duduknya dengan wajah pasrah.