NovelToon NovelToon
JERAT CINTA GADIS 80 KILOGRAM

JERAT CINTA GADIS 80 KILOGRAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Annisa Chairil

Tujuh tahun lalu, Prasetyo— seorang idola kampus—meninggalkan Indah Naraya Prameswari, gadis bertubuh 80 kilogram yang diam-diam menjadi kekasihnya. Dengan ucapan menyakitkan, ia bilang hubungan itu cuma main-main, lalu pergi ke luar negeri tanpa pamit seolah tak pernah ada apa-apa.

Kini takdir mempertemukan mereka lagi.
Indah sudah berubah total. Kini ia dikenal sebagai Nayara, wanita cantik nan langsing, ibu dari Clara prameswari, panggilan Lala, anak perempuan yang mengidap penyakit jantung bawaan. Ironisnya, dokter yang menangani putrinya ternyata adalah Dr. Prasetyo, dokter spesialis bedah jantung pindahan dari Amerika.

Prasetyo sama sekali tidak mengenali wanita di hadapannya. Sementara Nayara, terpaksa menahan luka lama dan berpura-pura tak kenal, demi keselamatan dan masa depan anaknya.

Sampai kapan rahasia ini bisa disembunyikan? Yuk ikutin kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Chairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYI LAKI-LAKI

... 🌻HAPPY READING🌻...

...***...

"Dimarahin lagi?"

Mila bertanya pelan, suaranya terdengar penuh kekhawatiran saat melihat Nayara melangkah keluar dari ruangan Direktur Linda dengan bahu yang terlihat lebih turun dari biasanya.

Wajah wanita itu terlihat lelah, senyumnya tipis dan lesu, jelas sekali beban berat baru saja ia terima di dalam sana.

"Jangan dimasukkan ke hati ya, Nay. Si Linda itu aslinya kosong. Dia cuma bisa bersuara keras karena ngandelin nama besar keluarganya. Denger-denger sih, dulu pas zaman kuliah pun kemampuan otaknya biasa aja, nggak ada apa-apanya dibanding kamu," bisik Mila berusaha menenangkan, sekaligus menyindir atasan mereka yang bersikap sewenang-wenang.

Nayara hanya menggeleng pelan, lalu kembali duduk di kursinya. Ia berusaha tersenyum, meski senyum itu terasa hambar dan menyakitkan.

"Nggak apa-apa, Mil. Udah biasa kok."

Tangannya bergerak kembali menyentuh layar tablet, meneruskan sketsa yang sempat tertunda. Namun di dalam benaknya, kenangan masa lalu berputar kembali, membuat hatinya perih seketika.

Dulu saat aku masih gemuk, miskin, dan tidak punya apa-apa, perlakuan seperti ini sudah jadi makanan sehari-hari. Dikucilkan, direndahkan, dijadikan bahan tertawaan… bahkan lebih dari itu. Aku pernah dijadikan mainan oleh laki-laki yang aku kejar mati-matian. Rasanya jauh lebih sakit daripada sekadar dimarahi atau dilempar kertas. Ini belum ada apa-apanya.

"Minggu ini draft desain ini harus selesai, dan harus benar-benar mengikuti instruksi mereka sampai titik terakhir. Jujur aja, aku yakin hasilnya bakal jelek banget. Konsepnya bertabrakan, elemennya saling membunuh, estetikanya hilang. Tapi apa boleh buat..."

Mila mengangguk setuju, menepuk pelan bahu sahabatnya.

"Bener juga sih. Bagaimanapun juga, mana bisa kita menolak uang, kan? Mau kayak apapun hasilnya, yang penting itu sesuai permintaan mereka. Toh, tujuan utama kita kerja kan cari nafkah, bukan cari piala atau penghargaan seni. Yang penting dompet aman, hati enak."

Nayara hanya diam, matanya menatap tajam ke arah garis-garis yang sedang ia bentuk di layar.

"Lagian," sambung Mila lagi dengan nada lebih pelan, "Kamu kan lagi butuh banyak uang buat biaya operasi dan pengobatan Lala, kan?"

Gerakan tangan Nayara tiba-tiba terhenti. Jemarinya mengambang di udara.

Benar. Uang. Segalanya kembali berpusat pada uang.

Pemikiran rasionalnya perlahan berubah. Rasa bangga sebagai seorang desainer yang selalu ingin menghasilkan karya terbaik perlahan ia kubur dalam-dalam.

Persetan soal hasil yang tidak maksimal, persetan soal standar kualitas yang selama ini dia pegang. Yang terpenting Direktur Linda setuju, yang terpenting klien tanda tangan, proyek selesai, dan dia dapat bayarannya. Uang itulah yang akan menyelamatkan nyawa putrinya. Itu yang ada di dalam kepala Nayara saat ini.

Dengan tekad yang kembali mengeras, Nayara melanjutkan gambarannya. Tidak ada lagi pertimbangan seni, hanya ada kewajiban dan tujuan untuk bertahan hidup.

**

Siang itu, di ruangan pribadi Dokter Prasetyo di Rumah Sakit Sentra Medica, suasana terasa lebih sunyi dan lebih berat dibandingkan ruangan lain. Jam istirahat sudah berlalu, namun Prasetyo belum beranjak dari tempat duduknya.

Matanya terpaku menatap layar ponsel yang sejak tadi menyala, menampilkan satu percakapan pesan yang sudah bertahun-tahun menganggur.

Nama akun itu tertulis jelas, Indah NP.

Sudah puluhan pesan yang ia kirimkan dalam beberapa hari terakhir ini. Mulai dari sapaan sederhana, pertanyaan tentang kabar, hingga pesan yang sedikit mengintimidasi. Namun balasan tidak pernah datang. Tanda pesan terbaca pun tidak pernah muncul. Hanya centang abu-abu yang diam membisu.

Prasetyo mengusap wajahnya dengan kasar, lalu memijat pelan pangkal hidungnya yang terasa berdenyut sakit. Rasa frustasi mulai menguasai dirinya.

"Dia belum juga membuka blokirku... Entah nomor ini masih dipakai atau sudah dibuang. Aku cuma ingin memastikan dia masih ada, dan baik-baik saja," gumamnya pelan, suaranya terdengar penuh kerinduan yang ia masih terus coba sangkal.

Inilah kebiasaan buruknya, menyangkal perasaannya sendiri.

"Kalaupun aku nggak punya perasaan apa pun sama Indah, paling tidak sebagai mantan kekasih, aku pasti akan merasa kasihan dan khawatir kalau ada sesuatu yang buruk menimpanya, kan? Itu wajar. Bukan berarti aku masih cinta atau apa..."

Batinnya berusaha keras beralasan, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa rasa gelisah ini hanyalah rasa tanggung jawab sisa masa lalu, bukan rasa cinta yang belum selesai.

Tiba-tiba nada dering ponselnya memecah keheningan. Nama 'David' tertera jelas di layar.

Dengan gerakan cepat, hampir terburu-buru, Prasetyo mengangkat telepon itu.

"Halo, David?"

"Halo, Bos. Saya punya kabar. Orang yang Anda suruh cari tahu... jejaknya sudah ketemu," suara David terdengar jelas, namun nadanya berat dan penuh kehati-hatian dari seberang sana.

Jantung Prasetyo berdegup kencang, seolah ada firasat buruk yang menyelimuti dadanya.

"Apa kabarnya? Dia... dia baik-baik saja, kan?" tanyanya ragu, napasnya tertahan.

Ada jeda sejenak sebelum David menjawab.

"Tujuh tahun yang lalu, kurang dari setahun setelah Anda berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan, Indah pernah dilarikan ke sebuah rumah sakit kecil di pinggir kota. Kondisinya kritis, mengalami pendarahan hebat. Saat itu, dia sedang hamil besar, lalu melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun... bayi itu tidak selamat, Bos. Meninggal tak lama setelah lahir."

JDERR!

Seolah ada petir besar yang menyambar tepat di atas kepalanya, membuat seluruh tubuh Prasetyo kaku tak bergerak. Darah di seluruh tubuhnya terasa berhenti mengalir. Suara di telinganya berdenging kencang, memekakkan telinga.

"Hamil?" bisiknya parau, nyaris tak terdengar.

Kenyataan itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik apa pun.

Jadi... Itu bukan tumor? ltu bukan penyakit. Itu karena dia sedang hamil?.

"Tunggu! Tujuh tahun lalu... Sebelum aku pergi ke luar negeri. Kami pernah... kami pernah melakukan..."

Tangan Prasetyo gemetar. Ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya. Ia meletakkan benda itu di meja sembarangan. Kedua tangannya menyibakkan rambutnya ke belakang, lalu mengusap kepalanya dengan kasar, seolah ingin menghapus informasi baru yang menghancurkan dunianya ini.

Matanya mulai memerah, menahan rasa sakit yang luar biasa, rasa bersalah yang menyesakkan dada, dan amarah yang meledak-ledak.

"Anak laki-laki itu... anak yang meninggal itu..." suaranya tercekat, air mata penyesalan nyaris menetes.

"Jangan-jangan... itu anakku..."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...BERSAMBUNG ...

**

Dahlah Pras, cus cari tau lebih lagi kenapa anakmu kok laki Pras?

Yuk Like dan komentar. Spam yang banyak biar dapat hadiah payung😍😍😍

1
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
jangan nyerah Pras...
FB tpq
hooh, mau kau jadi pelakor🤣
FB tpq
nah kan. mulai curiga pras
FB tpq
Halah Pras bisaan banget modusnya
FB tpq
nungguin kamu nggak sih pras
FB tpq
idih pede banget lu lin
FB tpq
nggak liat muka terpaksanya
FB tpq
kebetulan berikutnya🤭
FB tpq
ibunya gercep banget emang
FB tpq
karna sudah merasa mempesona ya Pras
FB tpq
lah, mamanya yg kirim bunga
Hikari Agata
ya jelas karna Pras nggak suka kamu
Hikari Agata
wajah nekat banget
Hikari Agata
ibu ratih keracunan obat kah?
Hikari Agata
tapi dr Bedah jantung nggak mau dipanggil ke rumah biasanya pras🤣
Hikari Agata
diabtelepon Pras dong🤣
Hikari Agata
lala telepon siapa ya
Hikari Agata
pulang kerja, masih harus antar anak ke dokter. masih harus masak lagi. keren banget ya perempuan
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
gak aman kayanya..🤣🤣
MULIANA ѕ⍣⃝✰
oo, ini dendam pribadi toh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!