Dipaksa untuk pulang oleh sang ayah dengan ancaman atas nama pacarnya, Daniel. Membuat Elleta harus pulang ke Indonesia. Entah kesepakatan apa, papanya tega menjualnya ke laki-laki bernama Steve, pewaris utama Danendra group. Fakta baru yang ia tau, Steve pernah menikah.
Hanya untuk keamanan sang pacar, Elleta rela setuju. Akankah Elleta bisa menjalaninya, atau justru masuk lebih dalam ke kehidupan laki-laki itu.
"Selamat datang di kehidupan barumu, Elleta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Tahta dan Tawanan
POV Elleta
Aku menepikan mobil asal-asalan di pinggiran Jakarta. Entah di mana, aku enggak peduli. Yang aku butuhkan hanya untuk paru-paruku butuh oksigen yang bebas dari bau-bau kemewahan rumah Steve, juga bebas dari tekanan rencana pernikahan gila ini.
Di sini, udaranya agak mendingan, kontras banget dengan hatiku yang rasanya mau meledak.
Begitu kakiku menginjak rumput basah di tepi danau, rasanya agak adem. Sampai masuk ke alas sepatuku. Sedikit bisa nenangin api di dadaku.
Sengaja kumatikan GPS mobilku. Untuk pertama kalinya sejak mendarat di Jakarta, aku cuma ingin hilang sebentar. Menjadi Elleta yang biasa saja, bukan Elleta Clarissa Crassia si pion catur keluarga.
Aku enggak mau kelihatan rapuh, tapi bayangan Daniel terus-terusan menggangguku. Rasa bersalah itu datang lagi, berat dan bikin sesak.
Enam tahun di California bersamanya itu lama banget. Hampir satu dekade penuh tawa, kopi pagi yang selalu nikmat dan mimpi-mimpi yang kami susun rapi di sepanjang pantai Santa Barbara.
Aku sudah terbiasa dengan kehadirannya, aroma parfumnya, dan semua rencana masa depan yang sekarang hancur lebur, berantakan kayak kaca dipukul palu.
Aku jalan mendekati air. Masih cukup pagi, dan suasananya sepi banget pas buat nangis tanpa perlu merasa malu.
Sejak balik ke Jakarta, dadaku rasanya kayak diikat kencang. Kutatap cincin di jari manisku. Ini bukan dari Daniel, tapi dari laki-laki yang enggak aku kenal.
Aku tersenyum kecut. Ada rasa enggak terima yang berontak di dalam hati, rasanya ingin kabur saja sejauh mungkin.
Tapi setiap kali niat itu muncul, wajah Papa yang makin tua langsung kebayang. Ini bentuk baktiku, atau lebih tepatnya, harga yang harus kubayar demi label anak penurut.
Danau ini kelihatan tenang, tapi aku tahu, aku enggak pernah benar-benar bebas. Aku masih ada di dalam radar Steve. Laki-laki gila itu enggak akan biarin investasinya lepas begitu saja.
Benar saja, ada bayangan hitam di sudut mataku, merusak pemandangan damaiku. Seorang pria berpakaian safari hitam berdiri enggak jauh dari tempatku, menatapku dingin. Dia mendekat dengan langkah kaku khas militer.
"Nona, Tuan Steve meminta anda untuk segera pulang," ucapnya tanpa ekspresi.
Aku memutar bola mata jengah, mengusap sisa air mata dengan kasar. "Apa bosmu itu enggak bisa kasih aku waktu sehari aja? Aku butuh napas, bukan perintah!"
Bzzzt!
Suara HT di pinggang pria itu memecah keheningan. Dan dari sana, suara berat yang sangat kukenal terdengar, penuh kuasa yang enggak bisa dibantah. "Bawa Elleta pulang sekarang!"
Suara Steve terdengar kayak guntur di siang bolong. Kelihatan banget dia lagi menahan amarah, bahkan lewat radio pun rasanya ketahuan.
Mau enggak mau, aku harus nurut. Aku jalan gontai ke mobil, sepanjang jalan enggak berhenti menggerutu dan menyumpahi laki-laki itu yang merasa dirinya tuhan atas hidupku.
Begitu sampai di rumah, pemandangan pertama yang menyambutku adalah sedan hitam milik Steve yang sudah terparkir rapi. Kelihatan angkuh, kayak lagi nungguin mangsa.
Tanpa memberiku waktu buat sekadar cuci muka, Steve langsung menarik lenganku, menyuruhku masuk ke mobilnya. Agenda hari ini fitting baju pengantin. Sebuah kalimat yang terdengar kayak vonis mati buatku.
Di dalam mobil, suasananya mendadak canggung dan berat. Laki-laki di sampingku ini bersikap seolah-alih kami sudah kenal lama, padahal pertemuan formal kami baru hari Sabtu kemarin.
Dia duduk tegak, auranya dominan banget sampai memenuhi kabin mobil. Apa dia memang searogan ini? Atau ini cuma caranya menutupi fakta kalau dia juga terpaksa? Tapi melihat wajahnya yang datar-datar saja, sepertinya dialah si pemegang kendali di sini.
Mobil berhenti tepat di depan Camelia Boutique, tempat yang cuma didatangi orang-orang kaya Jakarta. Steve turun duluan, dan di luar dugaan, dia membukakan pintu untukku.
Perlakuan manis itu bikin wajahku agak panas. Aku berusaha keras memasang muka datar biar dia tidak kegeeran.
"Ayok masuk, Elleta. Kita selesaikan urusan gaun hari ini," ajak Steve dengan nada tegas, persis kayak lagi bahas kontrak bisnis. Aku cuma mengangguk pelan dan mengekor di belakangnya.
Di dalam, bau mawar dan kemewahan langsung menusuk hidung. Seorang wanita paruh baya yang dandanannya rapi banget menyambut kami dengan senyum profesional.
"Selamat datang, Tuan Steve. Suatu kehormatan bagi kami," sapa wanita itu.
"Saya sudah melihat katalog desainnya. Tolong pakaikan gaun-gaun pilihan saya ke wanita ini," perintah Steve tanpa basa-basi.
Pemilik butik langsung kembali membawa gantungan berisi deretan gaun putih yang menyilaukan mata.
Steve mulai memilah satu per satu dengan teliti. Aku cuma berdiri diam, merasa kayak manekin yang lagi didandani untuk sebuah pertunjukan sandiwara besar.
"Coba yang ini," kata Steve sambil menyodorkan sebuah gaun tanpa melihatku.
Aku membawanya ke ruang ganti dengan hati mendung. Begitu kain sutra itu melekat di tubuh, aku langsung cemberut. Bagian punggungnya terbuka rendah banget sampai ke pinggang. Bukan gayaku sama sekali.
Aku keluar dan langsung menggeleng tegas. "Aku enggak suka. Ini terlalu terbuka. Aku enggak mau masuk angin di hari pernikahanku sendiri."
Steve tidak membantah, dia cuma memberi kode ke pelayan butik. "Oke, ganti."
Dia memilihkan gaun kedua dengan model bahu terbuka off-shoulder. Aku masuk ke ruang ganti lagi, tapi kali ini aku malah kesulitan mengancingkannya. Bagian perutnya kencang sekali. "Ini sesak banget. Aku enggak bisa napas, gimana mau senyum di depan tamu nanti?" keluhku pas keluar lagi.
Setelah mencoba beberapa model yang melelahkan dan bikin moodku makin hancur, mataku tidak sengaja melihat sebuah gaun yang digantung agak terpisah.
Gaun itu punya detail rumbai halus di bagian bahu dengan potongan punggung yang sopan tapi elegan. Sederhana, tapi berkelas.
Pas dicoba, ada perasaan pas yang muncul. Ini satu-satunya hal yang terasa benar sejak aku menginjakkan kaki di kota ini.
Aku jalan keluar dari ruang ganti pelan-pelan. Steve, yang tadinya sibuk main hp mungkin lagi ngurusin bisnisnya mendadak diam.
Hp-nya masih di tangan, tapi matanya terkunci ke arahku. Dia menatapku tanpa berkedip, seolah-olah dia baru sadar kalau wanita di depannya ini manusia asli, bukan sekadar pelengkap kontrak.
"Gimana? Aku suka modelnya, nyaman juga di kulit," kataku memecah keheningan yang mulai terasa aneh.
Steve masih diam. Keheningan itu berlangsung beberapa detik terlalu lama.
"Steve! Bagus enggak?" ulangku agak keras.
Dia tersentak kecil lalu berdehem, berusaha mengembalikan wibawanya. Tapi aku sempat melihat kilasan aneh di matanya, dan ujung telinganya agak memerah. "Ya... bagus. Cocok untukmu," jawabnya singkat. "Saya ambil yang ini. Tolong kirim ke rumah saya segera."
"Baik Tuan Steve. Sekalian dengan setelan jas yang kemarin sudah di fitting, ya?" tanya pemilik butik dengan nada riang karena dapat komisi besar.
"Ya, semuanya."
Aku balik ke ruang ganti untuk pakai bajuku sendiri. Ada rasa aneh yang muncul di hati kalau ingat cara Steve menatapku tadi. Itu bukan tatapan ke tawanannya. Ada sesuatu yang lebih dalam, kayak ada rasa kagum.
Tapi, bayangan Daniel di California langsung lewat lagi kayak alarm pengingat. Daniel itu rumah, sedangkan Steve adalah penjara meski penjaranya dilapisi emas dan dihiasi gaun mahal.
Aku keluar dari butik, berjalan di belakang punggung lebar Steve. Aku masuk lagi ke dalam sedan hitamnya, menuju masa depan yang walaupun kelihatan mewah, tetap saja terasa abu-abu dan tidak pasti.
Di tengah jalanan Jakarta yang mulai macet, aku menyadari satu hal, aku tidak lagi berjalan menuju pernikahan, aku lagi berjalan menuju babak baru dalam hidupku, di mana aku harus belajar bernapas di bawah kendali orang lain.