Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 29
Tepat pukul delapan malam, seluruh tamu undangan telah menempati kursi masing-masing.
Lampu ballroom sedikit diredupkan, sementara sorot cahaya utama mengarah ke panggung megah yang berdiri di bagian depan ruangan.
Suara musik pembuka perlahan mengalun, menciptakan suasana elegan yang membuat seluruh hadirin fokus ke satu titik.
Tak lama kemudian, MC melangkah naik ke atas panggung.
"Selamat malam, para tamu undangan yang terhormat. Terima kasih atas kehadiran Anda semua dalam acara perayaan hari jadi perusahaan sekaligus malam apresiasi atas pencapaian luar biasa yang berhasil diraih perusahaan ini."
Tepuk tangan langsung menggema memenuhi ballroom.
MC tersenyum sebelum kembali melanjutkan.
"Dan untuk membuka acara malam ini, mari kita sambut pemilik perusahaan yang telah membawa perusahaan ini bangkit dari berbagai tantangan hingga mencapai titik seperti sekarang. Kepada Bapak Tyo, kami persilakan."
Sorak tepuk tangan kembali terdengar.
Tyo berdiri dari kursinya.
Dengan senyum hangat, ia berjalan menuju panggung.
Dari tempat duduknya, Alya menatap sang ayah dengan bangga.
Sementara Max duduk di sampingnya dengan ekspresi datar seperti biasa.
Tyo berdiri di depan podium.
Matanya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya mulai berbicara.
"Malam ini merupakan malam yang sangat berarti bagi saya."
Suaranya terdengar tenang namun penuh ketulusan.
"Beberapa tahun lalu, saya sempat berpikir bahwa perusahaan ini tidak akan mampu bertahan. Banyak masalah datang silih berganti. Ada masa di mana saya hampir menyerah."
Suasana ballroom perlahan menjadi hening.
"Tetapi saya belajar satu hal. Selama kita masih memiliki orang-orang yang percaya kepada kita, maka harapan itu akan selalu ada."
Tepuk tangan kecil mulai terdengar.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh rekan kerja, para investor, para mitra bisnis, dan seluruh karyawan yang telah memberikan kepercayaan kepada saya selama ini."
Tyo berhenti sejenak.
Sorot matanya kemudian tertuju ke arah Max.
"Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang telah membantu perusahaan ini bangkit lebih cepat dari yang pernah saya bayangkan."
Banyak tamu mulai menoleh ke arah Max.
Pria itu tetap duduk tenang tanpa menunjukkan reaksi berarti.
"Tidak semua orang bersedia membantu tanpa mengharapkan balasan. Karena itu saya sangat bersyukur memiliki keluarga yang selalu mendukung saya."
Tatapan Tyo kemudian beralih kepada Alya.
"Kepada putriku, terima kasih karena selalu menjadi alasan Papa untuk terus berjuang."
Mata Alya langsung berkaca-kaca.
Ruangan kembali dipenuhi tepuk tangan meriah.
Beberapa menit kemudian, pidato Tyo berakhir.
MC kembali naik ke atas panggung.
"Terima kasih atas sambutan hangat dan kata-kata inspiratif dari Bapak Tyo."
Tepuk tangan kembali terdengar.
MC tersenyum profesional sebelum melanjutkan.
"Dan berikutnya, mari kita persilakan seseorang yang tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita semua."
Beberapa tamu langsung menunjukkan ekspresi antusias.
"Bapak Max Wijaya."
Seketika sorot lampu mengarah pada sosok pria tampan yang duduk di deretan kursi VIP.
Max berdiri.
Dengan langkah tenang dan penuh wibawa, ia berjalan menuju panggung.
Aura dinginnya langsung memenuhi ruangan.
Tak sedikit tamu wanita yang menahan napas saat melihatnya.
Namun Max tetap sama seperti biasanya.
Datar.
Tenang.
Sulit ditebak.
Ia berdiri di depan podium dan menatap seluruh hadirin selama beberapa detik.
"Saya tidak pandai berbicara panjang lebar."
Kalimat pertama yang keluar dari bibirnya langsung mengundang tawa kecil para tamu.
Namun ekspresi Max tidak berubah sedikit pun.
"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh rekan bisnis yang masih mempercayai kerja sama dengan perusahaan kami hingga saat ini."
Nada bicaranya tetap datar.
Tidak tinggi.
Tidak rendah.
Namun justru itulah yang membuat setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa memiliki bobot tersendiri.
"Semoga ke depannya kita dapat menciptakan keuntungan yang lebih besar dan hubungan kerja sama yang lebih kuat."
Tepuk tangan terdengar kembali.
Max mengangguk tipis.
"Layar di belakang saya telah menyiapkan beberapa dokumentasi perkembangan proyek terbaru yang sedang kami jalankan."
Beberapa investor langsung terlihat tertarik.
Lampu ballroom semakin diredupkan.
Perhatian seluruh tamu kini tertuju pada layar raksasa yang tergantung di belakang panggung.
Video pertama mulai diputar.
Tampilan grafik.
Pembangunan proyek.
Laporan perkembangan.
Presentasi profesional.
Semua berjalan normal.
Beberapa tamu bahkan mengangguk puas.
Namun beberapa menit kemudian—
Layar tiba-tiba berubah.
Senyum para tamu perlahan menghilang.
Beberapa orang terlihat mengernyitkan dahi.
Detik berikutnya—
Sebuah video pribadi menampilkan Helena bersama seorang pria lain.
Ruangan yang semula ramai langsung membeku.
Hening.
Benar-benar hening.
Mata Helena langsung membelalak sempurna.
Wajahnya seketika kehilangan warna.
"T-tidak..."
Gelas di tangannya terjatuh ke lantai.
Prang!
Suara pecahan kaca memecah keheningan.
Namun tidak ada yang memperdulikannya.
Karena perhatian seluruh ruangan telah tertuju pada layar.
Video itu terus berjalan.
Memperlihatkan hubungan terlarang antara Helena dan Farid.
Lalu berganti menjadi rekaman percakapan mereka.
Suara Helena terdengar jelas dari pengeras suara.
"Aku harus menghancurkan Tyo. Kalau dia jatuh, semua asetnya akan jadi milikku."
Ruangan langsung gempar.
Wajah Tyo membeku.
Sementara Alya menatap layar dengan wajah pucat.
Belum selesai.
Rekaman berikutnya kembali diputar.
Kali ini percakapan tentang rencana mereka memanfaatkan Alya demi mendapatkan uang.
Bahkan ada pembahasan mengenai ancaman, pemerasan, dan berbagai rencana licik yang selama ini disembunyikan.
"Nggak mungkin..." bisik Alya.
Air matanya mulai menggenang.
Tubuhnya gemetar.
Selama ini ia masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa Helena mungkin masih memiliki sedikit kasih sayang sebagai seorang ibu.
Namun malam ini.
Semua kebohongan itu hancur di depan matanya.
"Tidak! Matikan! Matikan sekarang juga!" teriak Helena histeris.
Wanita itu berlari menuju panggung.
Namun sebelum sempat mendekat, beberapa petugas keamanan langsung menghalanginya.
"LEPASKAN SAYA!"
Helena meronta-ronta seperti orang kehilangan akal.
Tetapi layar masih terus menampilkan bukti demi bukti.
Dan pukulan terakhir pun datang.
Rekaman hasil tes DNA muncul di layar.
Disusul suara Max yang akhirnya kembali terdengar melalui mikrofon.
Ekspresinya tetap datar.
Tidak ada amarah.
Tidak ada kepuasan.
Seolah ia hanya sedang menyampaikan sebuah laporan bisnis.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah s diverifikasi, Ella bukanlah anak kandung Tyo." Ucapan Max tajam dan terdengar sangat jelas
Yang membuat seluruh ballroom langsung meledak dalam kegemparan.
Max menatap lurus ke arah Helena dan Farid.
"Ella adalah anak biologis Helena dan juga Farid."
DEG!
Kedua kaki Helena seolah kehilangan tenaga.
Tubuhnya langsung ambruk ke lantai.
Sementara Farid yang sedari tadi berusaha bersembunyi di antara kerumunan kini menjadi pusat perhatian seluruh ruangan.
Tatapan jijik, marah, dan terkejut mengarah kepada mereka berdua.
Sedangkan di atas panggung, Max tetap berdiri tegak.
Dingin.
Tenang.
Tak tergoyahkan.
Seolah malam ini ia hanya sedang mengembalikan kebenaran ke tempat yang seharusnya.