THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: PESTA MAKAN BESAR
Kekalahan "The Void" pagi itu tidak dirayakan dengan upacara militer atau medali kehormatan. Perayaan mereka jauh lebih sederhana, namun jauh lebih bermakna: sebuah pesta makan besar di halaman belakang Panti Asuhan Mentari Baru.
Matahari buatan akhirnya berhasil menembus lapisan awan debu, menyinari halaman yang tadi pagi masih penuh puing, kini berubah menjadi lautan tikar warna-warni. Meja-meja panjang disusun dari papan bekas dan drum kosong, ditutupi taplak bersih yang disumbangkan warga sekitar. Aroma masakan memenuhi udara, kali ini bukan sekadar sup, tapi pesta lengkap berkat bantuan logistik darurat dari markas yang dikirim Komandan Varen setelah mendengar laporan kemenangan Bimo.
"Sisihkan! Sisihkan! Nasi goreng spesial datang!" teriak Bimo, berjalan megah di antara kerumunan sambil membawa nampan raksasa berisi nasi goreng yang mengepul. Wajahnya yang tadi pagi masih berlumur darah dan air mata, kini bersinar cerah. Bekas luka di pelipisnya hanya ditutup plester lucu bergambar kucing, membuatnya terlihat seperti prajurit perang yang baru saja turun dari film komedi.
"Wuih, baunya bikin pingsan saking enaknya!" seru Kai, yang sudah duduk siap dengan piring kosong di tangan. Dia bahkan lupa memasang kacamata hitamnya, membiarkan matanya berbinar menatap hidangan.
Elara, sang pemimpin tim yang biasanya kaku, hari ini terlihat berbeda. Dia mengenakan celemek sederhana di atas seragamnya, sibuk membagikan potongan ayam goreng kepada anak-anak yang antre rapi. "Satu untukmu, satu untukmu... jangan berebut, masih banyak!" ujarnya lembut. Tawa renyahnya terdengar sepanjang sore, musik terbaik yang pernah didengar anak-anak panti itu.
Dan Raka? Dia sedang duduk di ujung meja, tertawa terbahak-bahak melihat Bimo yang mencoba mengajari seorang anak kecil cara membuat bola nasi berbentuk beruang.
"Bukan begitu, Dek! Tekannya harus pelan biar nggak hancur... eh, malah gepeng! Hahaha!" gelak Bimo. Anak itu ikut tertawa, menunjukkan gigi ompongnya yang lucu.
"Makan bersama!" teriak Bimo tiba-tiba, mengangkat gelas jus buah sintetisnya tinggi-tinggi. "Untuk kita semua! Untuk anak-anak hebat Mentari Baru! Dan untuk... makanan yang selamat!"
"BERSULANG!" seru ratusan suara kecil dan besar bersamaan.
Pesta itu pecah. Tidak ada tata krama makan formal. Semua orang makan dengan lahap, bercampur tawa, cerita, dan sedikit kekacauan yang menyenangkan. Beberapa anak nakal saling melempar potongan wortel (yang ditangkap sigap oleh Bimo sebelum jatuh ke tanah). Kai mencoba melakukan trik sulap dengan sendok tapi malah menjatuhkannya ke hidung sendiri, memicu gelak tawa satu meja.
Di tengah keriuhan itu, Raka merasa kelelahan yang luar biasa menyerang tubuhnya. Bertarung pagi tadi, ditambah emosi yang naik turun, menguras energinya lebih dari biasanya. Partikel emas di bawah kulitnya terasa panas, berdenyut cepat seolah ingin keluar. Dia meletakkan garpunya, napasnya sedikit berat. Matanya berkunang-kunang sesaat.
"Rak?"
Suara lembut itu menyadarkannya. Elara sudah duduk di sebelahnya, wajah cantik itu penuh kekhawatiran. Dia meletakkan gelasnya, lalu tanpa banyak bicara, mengambil sepotong ayam goreng terbaik dari piringnya sendiri.
"Lo belum habis makan," kata Elara pelan, suaranya hanya terdengar oleh mereka berdua di tengah kebisingan pesta. "Lo butuh tenaga."
"Aku nggak lapar, El. Cuma agak..." Raka belum selesai bicara ketika Elara sudah menyodorkan potongan ayam itu ke depan mulutnya.
"Makan," perintahnya halus, tapi tegas. Matanya menatap Raka dalam-dalam, seolah bisa melihat keretakan di balik senyum sahabatnya itu. "Aku nggak mau denger alesan. Habiskan ini."
Raka terdiam sejenak. Di tengah riuh rendah tawa anak-anak dan nyanyian Bimo yang sumbang, momen itu terasa sangat intim. Jari-jari Elara yang memegang ayam itu sedikit gemetar, mungkin karena lelah, atau mungkin karena sesuatu yang lain. Ada kelembutan dalam tatapan biru gadis itu yang membuat dada Raka sesak.
Dia membuka mulutnya, menerima suapan itu. Rasanya gurih, hangat, dan penuh perhatian.
"Enak?" tanya Elara, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang manis.
"Enak," jawab Raka lirih, menelan susah payah bukan karena ayamnya, tapi karena emosinya. "Terima kasih, El."
Elara tidak langsung menarik tangannya. Dia sempat menyentuh sudut bibir Raka yang sedikit kotor dengan ibu jarinya, gerakan refleks yang sangat alami, sangat... sayang. "Jangan maksa diri sendiri, Rak. Kami butuh kamu fit. Aku... aku butuh kamu fit."
Kalimat terakhir itu diucapkan sangat pelan, hampir tenggelam oleh sorak sorai Bimo yang sedang mengajak anak-anak joget bersama. Tapi Raka mendengarnya jelas. Jantungnya berdegup kencang, bersaing dengan denyut partikel emas di dadanya.
Aku juga butuh kalian, batinnya miris. Lebih dari yang kalian tahu.
"Ayo joget!" teriak Bimo tiba-tiba, menyeret Raka dan Elara berdiri. "Jangan cuma duduk! Energi harus dibakar biar muat makan lagi!"
Mereka pun terseret dalam arus kegembiraan itu. Raka, yang tadi lemas, tiba-tiba merasa ringan. Mungkin karena adrenalin, mungkin karena tawa menular dari anak-anak, atau mungkin karena kehadiran Elara yang masih menggandeng tangannya erat-erat. Mereka berdansa konyol mengikuti irama lagu anak-anak yang dinyanyikan Bimo dengan gaya opera. Raka melompat canggung, Elara tertawa sampai membungkuk, Kai berputar-putar seperti gasing, dan Bimo menjadi pusat perhatian dengan gerakan pinggulnya yang heboh.
Foto-foto diambil secara diam-diam oleh drone Kai. Momen-momen abadi terekam: Bimo yang menggendong dua anak di pundaknya sambil tertawa, Kai yang wajahnya penuh saus tomat, Elara yang menatap Raka dengan pandangan penuh cinta saat mereka berputar, dan Raka... Raka yang tersenyum lebar, senyum paling bahagia yang pernah dia miliki, meski di kedalaman matanya ada kesedihan yang tahu bahwa ini adalah puncak sebelum jurang.
Ini adalah puncak kebahagiaan mereka. Semuanya sempurna. Tidak ada bayangan musuh, tidak ada rasa sakit, tidak ada ketakutan akan masa depan. Hanya ada tawa, makanan, dan cinta kasih yang mengalir deras di antara mereka.
Malam semakin larut, pesta perlahan mereda. Anak-anak mulai mengantuk, digendong satu per satu kembali ke asrama mereka dengan perut kenyang dan hati senang. Squadron Aurora membantu membereskan sisa pesta, mencuci piring bersama-sama di bawah cahaya bulan buatan yang mulai muncul.
"Gila, hari ini seru banget," gumam Kai sambil mengeringkan piring terakhir. "Aku nggak ingat kapan terakhir kali aku sebahagia ini."
"Iya," sahut Elara, menatap langit malam. "Rasanya seperti... dunia ini baik-baik saja."
Bimo berhenti mencuci, menatap teman-temannya dengan mata berkaca-kaca lagi. "Terima kasih, kawan-kawan. Tanpa kalian, hari ini nggak bakal seindah ini. Kalian bikin impian Pak Harun... bikin impian aku, jadi nyata sebentar."
Raka berjalan mendekati Bimo, memeluk punggung lebar sahabatnya itu dari samping. "Ini bukan sebentar, Bim. Ini awal dari segalanya. Ingat janji kita soal restoran itu? Ini baru pemanasan."
"Iya!" seru Bimo semangat, air matanya hampir tumpah lagi. "Kita bakal bikin yang lebih besar lagi!"
Mereka berdiri berpelukan di bawah sinar bulan, empat sosok yang lelah tapi bahagia. Angin malam berhembus sejuk, membawa serta aroma sisa makanan yang comforting. Di kejauhan, lampu-lampu kota Neo-Solara berkelap-kelip indah, seolah turut merayakan kemenangan kecil manusia atas keputusasaan.
Tidak ada yang menyadari bahwa di layar monitor pos pengamatan terdekat, grafik energi merah mulai berkedip liar. Sinyal anomali yang tadi pagi hanya samar, kini telah berkembang menjadi gelombang raksasa yang bergerak cepat menuju sektor mereka. Badai Merah sudah di ambang pintu.
Tapi untuk malam ini, biarkan mereka tetap dalam ilusi kebahagiaan ini. Biarkan mereka percaya bahwa fajar besok akan sama indahnya dengan hari ini. Karena besok, mungkin adalah hari terakhir mereka bisa tertawa bebas seperti ini.
Raka menatap bulan, merasakan partikel emas di tangannya beterbangan lebih banyak dari sebelumnya, membentuk awan kecil yang hilang ditelan angin. Dia menggenggam tangan Elara lebih erat, menyimpan kehangatan itu sedalam-dalamnya.
Tuhan, doanya dalam hati. Jika ini adalah malam terakhir kami bahagia, biarkan kenangan ini cukup kuat untuk menghangatkan mereka selamanya setelah aku pergi.
Pesta telah usai. Tapi kenangannya akan abadi. Setidaknya, hingga badai benar-benar datang menghancurkan segalanya.
Bersambung...