"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Melakukan malam pengantin kita
Bab 15— Melakukan malam pengantin kita
•••
Setelah perkenalan tadi, Varisha langsung duduk di kursi seorang diri. Ya, hanya seorang diri saja. Sedangkan, Zayn sibuk menyapa yang lainnya.
Varisha menatap kaki sebelah kirinya. Tak sempurna dan menyedihkan sekali.
"Eh, lihat deh! Itu kan istrinya si Zayn?" bisik-bisik orang menatap dirinya. Varisha bisa langsung mendengarnya.
"Iya bener. Itu, Varisha."
"Kasihan banget ya si Zayn, Masih lajang tapi dapatnya janda. Bekas si Adam pula dan juga pincang."
“Iya, bener. Dia dapat janda kakaknya,”
Mendengar hal itu, Varisha makin sedih. Meski, ia mengenakan pakaian yang bagus dan mewah. Tetap tak bisa menutupi kekurangan dalam dirinya.
'Memang pantas jika Zayn malu menikahiku.'batinnya sedih.
Rasanya ia ingin menghilang saja dari sini.
"Hai pincang!" sapa seseorang berdiri di depan mejanya.
Adinda.
Wanita itu lagi.
"Buat apa kamu disini?!" ujar Varisha pelan namun matanya sibuk menatap Tuan Faruq dan Nyonya Lestari yang sedang mengobrol.
Ia takut jika kedua mertuanya tau akan hal ini.
"Tentu aja gue disini.. Ini acara calon suami gue,, Zayn." Adinda berbicara dengan angkuh dan sombongnya.
Pakaian wanita itu begitu sexy sekali malam ini. Dengan bagian punggung yang terbuka lebar. Dan rambut yang disanggul ke atas.
Satu pikiran, Varisha saat ini.
'Pasti ayah dan ibu tidak akan suka dengan hal ini.'batinnya.
"Ayo ikut aku!" ajak Varisha langsung menarik tangan Adinda dengan paksa.
Adinda memberontak, “loe ini apa-apaan sih?!" sembari mencoba berusaha melepaskan tarikan Varisha pada dirinya.
'Kuat juga nih cewek pincang!”' Adinda membatin.
Hingga mereka berdua berada diluar ruangan, tepatnya di balkon, hanya berdua saja. Mata Varisha menatap waspada kedalam ruangan yang dibatasi oleh pintu tersebut.
Acara malam ini harus sukses tanpa ganggun dari Adinda.
Adinda menghempaskan tangan Varisha, “eh, pincang! Loe apa-apaan sih?!" marah Adinda dengan penuh emosi.
"Kamu yang apa-apaan!" balas Varisha.
"...aku mohon lebih baik kamu sekarang pergi!"
Adinda menatap tajam Varisha, ia tak terima. Tanpa basa basi Adinda langsung saja mendorong tubuh Varisha, hingga kepalanya terbentur dinding. Dan bagian keningnya yang tertutup Ciput jilbab langsung memerah.
"Akh!"
"Rasain tuh pincang!" Adinda puas dengan balasannya.
Ia tersenyum sinis.
"Sudah miskin belagu pula. Loe itu hanya numpang hidup mewah samakeluarga ini. Seharusnyaloe tau diri. Pasti orangtua loe dulu juga sama hinanya, sama kayak loe yang suka meminta belas kasihan orang lain."
Varisha tak terima.
Kenapa nama orang tuanya jadi dibawa-bawa.
Varisha kembali menghampiri Adinda dan langsung saja menampar pipi wanita tersebut. Ia tak terima mendingan kedua orangtuanya dibawa-bawa dalam hal ini.
"Jaga omonganmu!”" bentak Varisha. Dada Varisha naik turun dengan emosi meluap-luap.
Plak!
Kedua kalinya, Varisha kembali menampar pipi Adinda dengan keras. Hingga disudut bibir wanita itu mengeluarkan daerah segar.
"Apa-apaan ini?!" teriak Zayn yang tiba-tiba saja datang.
Varisha dan Adinda kaget.
"Zayn~" manja Adinda menghampiri Zayn dengan suara sedih.
"Zayn kau lihat barusan kan, dia menamparku, Zayn. Bahkan, dia mengusirku juga." adu Adinda memegang lengan Zayn begitu erat. Pandangan mata Varisha langsung tertuju pada hal itu.
Zayn jadi emosi.
"Mau loe apa hah?! Kenapa loe gangguin cewek gue?!”"
Bentakan Zayn begitu kuat, air mata Varisha sudah berada di pelupuk matanya saat ini.
"Tapi, dia menghi—"
Plak!
Zayn langsung menampar pipi Varisha.
"Pergi loe dari sini! Gue gak butuh penjelasan murahan dari loe.. Dasar pincang!" hina Zayn.
Varisha merasakan sakit yang teramat dalam di pipi kanannya. Seketika, airmatanya langsung jatuh. Ia menatap Zayn dengan pandangan nanar. Dan Adinda terlihat sangat puas sekali melihat hal itu.
"Mana yang sakit, sayang?" tanya Zayn sembari memengang dagu milik Adinda.
Ia melihat bibir Adinda yang sedikit berdarah, ia pun langsung mencium bibir tersebut lembut. Melihat hal itu semakin membuat hati Varisha menjadi hancur.
Lagi-lagi Zayn mencium wanita lain di hadapannya. Adinda yang melihat wajah Varisha yang sedih, semakin puas.
'Rasakan! Loe pikir Zayn bakalan suka sama loe apa? Tidak, kan.' ujar Adinda dalam hati menatap Varisha dengan pandangan hina.
"Fokuslah, sayang." ujar Zayn yang kembali mencium bibir Adinda semakin dalam.
Varisha bangkit dan langsung meninggalkan mereka. Ia segera pergi. Pergi menuju luar hotel dan bersembunyi di dalam sebuah taman.
"Hiks ...hiks ...hiks..." Ia menangis sekuat tenaga disana, mengeluarkan semua isi hatinya yang menyakitkan.
"Ya Allah tolong aku~" lirih Varisha. Bayangan Zayn yang berciuman mesra dengan Adinda kembali terngiang di kepalanya.
"Jika dia tidak untukku, kenapa Engkau malah menaruh perasaan ini padaku, Ya Allah ?" tanya Varisha dengan kepala menatap keatas langit.
Malam ini begitu banyak sekali bintang dan rembulan yang bersinar terang. Namun, tidak dengan hatinya.
Cinta ini membunuhku...
•••
Zayn kembali bertemu dengan kedua orangtuanya. Dengan segelas minuman ringan di tangannya. Sedangkan, Adinda sudah kembali pulang.
Bagaimanapun orangtuanya tak setuju ia dengan Adinda. Ia juga tak ingin acara ini gagal. Sebab, inilah kesempatannya untuk mendapatkan kepercayaan bahkan warisan dari kedua orangtuanya.
"Dimana Varisha?" tanya Tuan Faruq dan Nyonya Lestari. Mata mereka celingak-celinguk karna melihat Zayn hanya seorang diri saja.
Zayn juga mengedarkan pandangannya.
'Kemana dia?'
"Jawab Zayn!" desak Nyonya Lestari.
"Aku tidak tau, ibu. Tadi, aku menemui temanku sebentar." bohong Zayn.
"Ishh, kau ini tidak becus sama sekali." tegur Nyonya Lestari sembari mengetik sesuatu di ponselnya.
"Kau ini bagaimana sih Zayn. Istri secantik itu malah kau biarkan sendiri. Kalau Adam dulu, ia bakalan selalu berdiri disamping Varisha kalau acara seperti ini. Karna, banyak sekali yang menganggu Varisha." omel Tuan Faruq.
Zayn tersenyum sinis, 'cewek pincang kayak dia, memangnya ada yang mau apa? Gue aja ogah!'batinnya Zayn.
"Nyonya Lestari, ternyata Varisha sudah pulang. Katanya, dia lagi gak enak badan." ujar seorang pelayan yang menghampiri mereka.
“Gak enak badan?” Cemas beliau dan sang suami.
Disisi lain, Varisha kini sedang berbaring di dalam kamar Adam. Diatas ranjang dengan wajah sembab.
Ia menangis sesegukan. Mengingat Zayn yang menampar dirinya dengan kasar dan malah mencium wanita lain di hadapannya. Luka di keningnya kini terlihat jelas sekali.
"Maaf jika aku cengeng, Mas Adam. Aku bukanlah wanita yang kuat." lirih Varisha memeluk bantal guling dengan erat sambil membenamkan kepalanya.
•••
Zayn tiba di rumah. Ia melihat suasana rumah yang kosong. Ia datang dengan tubuh sempoyongan.
"Bibi Rose!" panggil Zayn memanggil asisten rumah tangga tersebut.
Bibi Rose datang dengan tergopoh-gopoh.
"Dimana si pincang?"
“Pincang? Oh, nona Varisha?”
"Dia ada dilantai atas, tuan muda." balas Bibi Rose. Ia juga mencium bau alkohol yang begitu menyengat sekali.
"Tuan muda minum?" tanya bibi Rose cemas.
Beruntung majikannya tersebut tidak mengalami hal buruk saat berkendara tadi.
"Arghh! Bukan urusan loe! Aku mau cari Varisha sekarang!
Zayn langsung menaiki anak tangga dengan buru-buru. Ia berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Namun, tak ada Varisha disana.
"Kemana dia?" gumam Zayn. Ia bahkan, sampai mengecek seluruh ruangan tersebut. Tapi, Varisha tak ada.
Ia segera keluar kamar. Dan melihat kamar di sebelah kamarnya yaitu kamar milik Adam yang pintunya sedikit terbuka.
Rasa curiga mulai muncul. Ia pun langsung masuk. Dan benar dugaannya, Varisha ada di dalam kamar tersebut. Ia tertidur diatas ranjang milik Adam dengan posisi membelakangi dirinya.
Bahkan, Varisha tidur masih dengan menggunakan gaun pesta miliknya.
"Si pincang ini malah disini." ujar Zayn masuk kedalam kamar dengan berjalan sempoyongan.
Ia mabuk berat sekali malam ini.
"Heh, pincang! Ayo bangun, kenapa loe malah tidur disini hah?!" marah Zayn menguncangkan tubuh Varisha dengan kuat.
Varisha langsung bangun dengan wajah kaget. Ia ketiduran di kamar milik Adam.
“Loe itu punya kamar sendiri, dan malah tidur di kamar pria lain. Dasar rendahan!" hina Zayn dengan menarik tangan Varisha dengan erat.
Ia ingin menyeret tubuh Varisha.
Namun, Varisha memberontak. "Lepaskan aku, mas! Sakit!" ringis Varisha merasa kesakitan di pergelangan tangannya.
Namun, Zayn tak peduli. Ia terus menarik tangan Varisha dengan kuat. Dan Varisha terus saja memberontak.
"Ayo kembali ke kamar kita!" teriak Zayn.
Kamar kita? Varisha malah tersenyum sinis.
"Tidak mau. Aku mau disini saja!" Varisha masih berusaha melepaskan dirinya. Namun, tenaga Zayn yang begitu kuat, membuat Varisha akhirnya jatuh tersungkur ke lantai.
Tapi, Varisha tetap berusaha ingin bertahan. Wajah Zayn berubah marah. Matanya berubah menjadi merah.
Dengan cepat, Zayn kini mengangkat tubuh Varisha dan membawanya ke kamarnya.
"Lepasin aku mas!!" teriak Varisha.
Brugh!
Zayn langsung menjatuhkan Varisha tetap diatas ranjang miliknya. Ia bahkan langsung menindih tubuh Varisha.
"Kamu mau apa?!" panik Varisha saat melihat Zayn yang kini malah membuka setelah jas dan kemejanya dengan cepat.
Zayn tersenyum sinis, "tentu saja melakukan malam pengantin kita. Ini kan yang loe mau?”
"Enggak! Aku tidak mau." total Varisha. Ia tak ingin jadi pelampiasan Zayn, dikala pria itu sedang mabuk. Jelas-jelas Zayn tidak menginginkan dirinya.
Zayn menjadi marah. "Brengsek! loe itu gak boleh menolak gue!" bentaknya dan mencium bibir Varisha dengan paksa.
To be continue…
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya