" Gue suka sama lo...lo harus jadi pacar gue!!" Suara berat seorang pria membuatnya cukup gugup.
"Maaf, tapi gue suka nya sama orang lain." Mirra dengan penuh keberanian menolak pria tinggi tegap yang berada di hadapannya.
"Nggak bisa, lo harus jadi pacar gue, titik!!!" Tegas pria itu sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Mirra.
Mirra Afessya, gadis belia yang baru saja duduk di bangku kelas satu SMA itu harus dihadapkan dengan pria yang ternyata diam-diam dan pura-pura mengagguminya.
Akankah Mirra menerima pengakuan paksa itu? Ataukah Mirra akan menolaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Kylla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEBETAN
Dan setelah beberapa menit, mereka berdua pun memutuskan untuk kembali ke kelas mereka, hujan juga masih turun dengan lebatnya.
"Ujan nya gede banget hari ini. " Ucap Mirra sambil berjalan di samping Angkasa.
Sementara Angkasa, dia hanya mengangguk sambil menatap ke arah halaman sekolah yang masih di guyur hujan, dan ketika mereka sedang berjalan di lorong seperti itu, dari kejauhan, Ajun dan Zian yang baru saja tiba melihat keduanya.
"Ngapain Mirra jalan berduaan di lorong sama Angkasa?" Gerutu Ajun yang merasa sedikit cemburu.
"Yaudah lo samperin sana gebetan lo itu, jangan sampe ntar di rebut sama Angkasa." Sahut Zian sehingga Ajun mengangguk lalu kemudian dengan segera berjalan menghampiri keduanya.
"Mirra!!! " Panggil Ajun dari kejauhan sambil berlari kecil ke arah Mirra.
Angkasa dan Mirra seketika langsung melihat ke arah asal suara Ajun. " Mirr, gue duluan ya." Ucap Angkasa begitu dia melihat Ajun sedang berlari ke arah mereka berdua.
"Iya Sa..." Jawab Mirra.
"Mirra...dari mana?" Tanya Ajun begitu dia sampai di hadapan Mirra.
"Kantin." Jawab Mirra singkat.
"Berdua aja sama Angkasa? Temen lo yang lain mana?"
"Iya, mereka belum dateng."
"Oh...udah sarapan?"
"Udah, kan gue dari kantin kak..."
"Ah iya...hehehe..." Ajun tampak kebingungan dan tidak tau harus membicarakan topik apa lagi pada Mirra.
"Yaudah, gue ke kelas ya kak."
"Iya..." Jawab Ajun dengan nada suara yang sedikit lemas karena dia tidak tau harus berbicara apa lagi pada Mirra. Dia hanya penasaran dan ingin memastikan jika Mirra dan Angkasa tidak ada hubungan apapun, jadi setelah bertanya, dia sama sekali tidak memiliki pembahasan apapun lagi, Ajun pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelasnya.
*****
Sepulang sekolah.
Tiba-tiba saja ponsel Mirra berdering begitu dia mau keluar dari kelasnya.
'Halo? Kenapa ma?'
'Sayang, mama udah bilang sama om Dani, nanti hari minggu kamu ikut ya makan malam sama mama, sekalian kenalan sama dua anak om Dani.'
'Oke ma...'
' Yaudah, mama cuma mau kabarin itu, kamu udah pulang sekolah kan?'
'Ini baru keluar kelas ma.'
' Oh yaudah, kamu hati-hati ya...'
'Iya ma, ma...aku mau mampir beli buku dulu ya ma.'
' Iya sayang, abis itu langsung pulang ya.'
'Oke ma. '
Lalu panggilan pun berakhir, dan Mirra kembali berjalan keluar kelas bersama dengan Raya dan juga Jeje serta Angkasa.
"Siapa Mirr? Mama lo?" Tanya Raya.
"Iya Ray...lo jadi kan anter gue ke toko buku?"
" Iya jadi..."
"Eh, gue ikut ya...males nih kalo mau langsung pulang." Pinta Jeje.
"Gimana Mirr? Boleh nggak?" Tanya Raya.
"Yaudah..."Lalu Mirra melirik ke arah Angkasa yang sedari tadi hanya diam saja." Lo mau ikut Sa?" Tanyanya.
Angkasa sedikit terkejut mendengar tawaran dari Mirra, lalu dia melihat ke arah Jeje dan Raya secara bergantian.
"Udah ikut aja Sa, lagian di rumah juga ngapain, sekali-kali lah kita jalan bareng Mirra, kapan lagi coba." Bujuk Jeje pada Angkasa.
"Boleh deh." Jawab Angkasa lalu kemudian sedikit tersenyum.
"Hari ini gue bawa motor, siapa yang mau gue bonceng? Mirra aja ya?" Ucap Jeje.
"Dih, lo itu nawarin apa minta Mirra bareng lo?" Keluh Raya dengan wajah sewotnya.
Mirra pun sedikit tersenyum, " Yaudah, lo bareng sama Raya aja Je, biar gue sama Angkasa."
"Lo serius mau bareng sama Angkasa? "Tanya Jeje sehingga Raya pun mulai memberikan tatapan tajam pada Jeje.
"Je...biarin sih si Mirra sama Angkasa, kalo lo gonceng gue emang kenapa? Berat banget kayaknya, penuh dengan pertimbangan. Gue tersinggung nih." Keluh Raya.
"Iya Je, lo bareng Raya aja napa?" Lanjut Mirra.
"Iya deh..."Jawab Jeje kemudian.
Lalu mereka pun mulai berjalan menuju parkiran, dan begitu sampai di parkiran, lagi-lagi Ajun menghampiri Mirra yang saat ini mulai ingin mengenakan helm.
"Mirr, lo mau pulang bareng Angkasa?" Tanyanya, lalu Satria dan Zian yang memang berada tepat di belakang Ajun pun hanya bisa memperhatikan tingkah Ajun yang tiba-tiba menghampiri Mirra itu.
" Iya, gue mau ada perlu dulu kak." Jawab Mirra dengan raut wajah sedikit cuek.
"Gue aja yang anter, sama aja kan?"
"Maaf kak, tapi ini soal pelajaran di kelas gue, jadi gue sama Angkasa aja ya..."
"Sa..."Ajun mulai menatap Angkasa, " Ati-ati lo ya, jangan ngembat gebetan gue." Ungkap Ajun dengan begitu percaya diri sambil menatap tajam ke arah Angkasa.
Satria yang tidak ingin ada keributan pun akhirnya menghampiri Ajun dan menarik tangan Ajun. "Jun, lo apa-apaan sih? Malu-maluin aja lo!!!" Tegur Satria.
Lalu Mirra yang merasa kesal dengan pernyataan Ajun pun mulai menghampiri Ajun.
"Kak, maaf ya...selama ini gue cuma ngerasa nggak enakan aja sama lo karena lo kakak kelas gue, dan sejak kapan gue jadi gebetan lo?? Jangan asal ngomong dan bikin statement sendiri kayak gitu ya kak, gue nggak suka, dan satu lagi, gue bukan siapa-siapa lo, dan gue berhak buat jalan sama siapa aja, termasuk Angkasa." Geram Mirra dan setelah dia selesai bicara, Mirra pun kembali berjalan ke arah Angkasa, dia dengan segera mengenakan helm nya." Ayo Sa." Ucapnya kemudian.
Dan begitu Angkasa sudah melajukan motornya, Satria kembali menatap ke arah Ajun dengan tatapan kesalnya." Lo sih cari masalah aja, ngapain coba pake acara bilang kalo lo gebetannya Mirra, dia jadi marah kan sama lo!!"
"Ya terus gue harus gimana? Gue musti diem aja kayak lo gitu ngeliat Angkasa ngedeketin Mirra dan mau jalan bareng Mirra kayak tadi?? Dia udah punya riwayat buruk nikung temen sendiri, dan nggak nutup kemungkinan dia juga bakal nyuri start buat dapetin Mirra." Jawab Ajun dengan nada suara yang lebih tinggi.
"Jun, emang lo udah yakin seratus persen kalo Angkasa tega ngekhianatin temen nya? Bahkan sahabat nya sendiri? Lo aja belum denger langsung penjelasan dari Angkasa kan?"
Saat Satria membahas soal keraguannya dengan apa yang sudah Zian ceritakan kepada dirinya tentang Angkasa, Zian pun mulai tersulut emosi dan langsung menghampiri keduanya.
"Kalian berdua ngapain sih ngerebutin cewek songong, belagu dan sok cantik kayak si Mirra itu?? Nggak penting banget, dan lo Sat, bisa-bisanya lo belain Angkasa yang udah jelas-jelas ngekhianatin gue, temen bahkan sahabat nya sendiri."
"Gue nggak belain siapa-siapa Zi, gue cuma ngomongin fakta, dan sampe sekarang Angkasa nggak ngejelasin apapun, dia diem, dia juga nggak buat pembelaan buat dirinya sendiri. "
"Ya itu karena dia malu, dan dia udah ngakuin kesalahannya!!!" Bentak Zian.
"Gue nggak tau deh, mana yang bener dan mana yang salah, intinya, kalo emang Mirra lebih milih Angkasa di banding gue, gue bakal relain Mirra, gue nggak mau cari ribut sama Angkasa, dan lo Jun, kalo sikap lo terus kayak gini, gue yakin, Mirra bukannya suka sama lo, tapi dia malah bakal ilfil sama lo." Jelas Satria, lalu dia segera pergi begitu saja setelah dia selesai mengatakan apa yang ingin di katakannya.
Zian yang mendengar apa yang baru saja Satria katakan itu merasa sangat kesal, dia sampai mengepalkan kedua tangannya. "Kalo emang Angkasa beneran suka sama Mirra, gue nggak bakal ngebiarin Angkasa bahagia dengan begitu mudahnya, gue bakal rebut orang yang dia sayang, sama kayak apa yang udah dia lakuin ke gue, kita liat aja nanti." Gumam nya sehingga Ajun yang mendengar gumaman Zian pun merasa sedikit terkejut.