NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Siapa Sebenarnya Nona Han?

Mobil mereka telah meninggalkan kawasan Sunter. Bisa dilihat bagaimana jalanan mulai berganti dari gang gelap menjadi jalan raya yang jauh lebih terang dengan deretan lampu kota yang terang benderang, begitu pula keramaian kota malam itu. Darren duduk di kursi belakang sebelah kiri, sementara Budi berada tepat di sebelah kanannya. Nona Han Seo yeon berada di depan, kedua tangannya menggenggam setir, matanya lurus menatap aspal di depan. Intinya suasana di dalam kabin itu sangat tenang, setelah aksi kejar-kejaran yang benar-benar menguras tenaga dan emosi.

Darren menatap pantulan di kaca spion tengah. Wajah Seo yeon di sana tidak menunjukkan perubahan sedikit pun. Tatapannya tetap tajam, tetap tenang. Tidak ada sisa-sisa ekspresi lega, apalagi rasa takut, padahal beberapa menit lalu mereka nyaris saja berurusan dengan moncong senjata para pengawal Alvino Chandra.

Lantas rasa keingintahuan mulai menguasai benak Darren. Mengapa wanita ini begitu peduli kepada dirinya? Pertemuan mereka baru terjadi dua kali dan kerja sama bisnis pun masih sebatas rencana di atas kertas. Namun, Seo yeon bersedia datang ke Sunter tengah malam, menjemputnya dari kepungan bahaya, bahkan membuat pengawal Alvino langsung mundur hanya dengan melihat mobilnya. Siapa sebenarnya dia? Darren teringat bagaimana para penjaga itu mendadak kehilangan keberanian. Mereka mundur jelas-jelas bukan karena gentar pada Darren atau Budi, melainkan takut pada sedan hitam itu, pada wanita yang mengemudikannya. Nama keluarga Han memiliki bobot yang tidak biasa. Nama itu berasal dari Korea, namun pengaruhnya seolah sudah meresap kuat ke tanah ini.

Lamunan Darren terputus saat jari telunjuk Budi mencolek pundaknya dari arah samping berulang kali. Darren tidak menoleh, hanya menggeser bahunya sedikit sebagai isyarat agar teman lamanya itu berhenti, namun colekan justru kembali terjadi.

"Aku sedang berpikir," bisik Darren tanpa menoleh.

Budi tetap tidak menyerah dan kembali mencolek. Akhirnya Darren menoleh cepat dengan alis yang berkerut kesal.

"Maaf, Bos. Tapi aku benar-benar penasaran," bisik Budi sembari melirik ke arah Seo yeon di depan. Menutupi pergerakan bibirnya dengan tangan kiri. "Siapa sebenarnya wanita ini? Apa dia pacarmu?"

"Dia rekan kerjaku. Berhenti berasumsi yang aneh-aneh," jawab Darren.

"Rekan kerja? Di mana kerjanya? Kok mobilnya bagus banget? Kursinya empuk, AC-nya juga terasa dingin seperti di lobi hotel," tanya Budi bertubi-tubi sembari mengelus jok kulit di bawahnya. "Ini BMW seri tujuh kan? Baru kali ini aku naik mobil semewah ini."

"Jangan melakukan hal bodoh. Kalau ada yang lecet, aku tidak akan sanggup membantumu membayar ganti ruginya," Darren memperingatkan.

"Iya, iya. Tapi siapa sebenarnya dia, Bos?" tanya Budi sekali lagi.

Darren menghela napas panjang. "Sudah kubilang dia adalah business partner-ku."

"Bisnis popok? Bos, kau sekarang jualan popok?" tanya Budi dengan wajah polos yang menyebalkan.

"Rekan bisnis, Bi! Bukan popok!" Darren mengoreksi dengan gigi merapat.

"Oh, bilang dong dari tadi. Tapi rekan bisnismu terlalu cantik. Bisa-bisa kamu malah tidak fokus kerja kalau begini caranya," komentar Budi sembari manggut-manggut.

"Diamlah," Darren menutup percakapan itu.

Satu menit berlalu tanpa suara. Budi pun terdiam, namun matanya terus bergerak liar. Dia menatap kaca spion, lalu ke panel instrumen mobil yang bercahaya kebiruan, kemudian ke arah dasbor yang terlihat canggih. Wajahnya perlahan berubah dari rasa penasaran menjadi tegang.

"Bos, kok aku jadi curiga ya," bisik Budi lagi. "Aku jadi inget pernah lihat cewek mirip dia di televisi saat acara seremonial para pengusaha besar. Di barisan paling depan, ada satu kursi kosong yang bertuliskan 'untuk keluarga Han'."

Darren mengulang nama itu di dalam benaknya. Han.

"Keluarga Han dari Korea itu. Mereka memegang banyak perusahaan besar di Indonesia. Perbankan, properti, sampai logistik. Aset grup keluarga itu sangat besar di sini, beritanya sering muncul di koran ekonomi," Budi menjelaskan dengan wajah yang memucat. "Aku dengar ada salah satu anggota keluarga mereka yang keluar dari perusahaan pusat karena ingin mandiri dan tidak mau bergantung pada nama besar keluarganya. Aku lupa siapa namanya."

"Namanya Han Seo yeon," kata Darren, tentu saja masih berbisik.

Seketika itu juga Budi mengangguk dengan gerakan kaku. "Berarti benar. Dia adalah salah satu pewaris konglomerat terbesar di Asia Tenggara. Kenapa wanita seperti dia bisa ada di sini bersama kita?"

"Jangan panik. Dia tidak semenakutkan itu," Darren mencoba menenangkan.

"Mana bisa tidak panik? Matanya tajam sekali, Bos. Aku takut salah bicara soal popok tadi," bisik Budi ketakutan.

Sementara Darren kembali menatap kaca spion. Wajah Seo yeon tetap tidak terusik. Seorang pewaris konglomerat kini sedang menyetir mobil demi menjemputnya. Pikiran Darren beralih kepada sistem miliknya. Seharusnya malam ini dia berhasil menagih utang Alvino. Perlindungan moral sudah habis dan jarak sempat mencukupi, namun kekacauan di gudang tadi menghancurkan segalanya. Sekarang radius dari gudang Sunter sudah semakin jauh.

“Sial, gagal lagi. Kesempatan emas terbuang hanya karena aku kurang perhitungan,” batin Darren sembari mengusap wajahnya yang terasa lelah. Dia mulai pusing memikirkan target satu miliar yang harus diserahkan kepada Seo yeon, sementara Alvino belum tersentuh dan Budi kini menjadi beban baru yang harus diurus.

Mobil pun mulai melambat sebelum berhenti di tepi jalan yang cukup lapang tepat saat lampu merah menyala terang. Darren bertanya-tanya mengapa mereka berhenti, namun Seo yeon tetap diam sembari menatap lurus ke depan.

"Pak Darren," panggil Seo yeon dengan sangat jelas. "Saya tahu sekarang, Anda sudah menyadari siapa saya yang sebenarnya."

"Itu memang benar, Nona Han. Tapi bagi saya, hal itu tidak mengubah apa pun dalam kerja sama kita," jawab Darren mencoba terlihat tenang.

"Anda tidak merasa takut?" tanya Seo yeon sembari sedikit memiringkan kepalanya.

"Mengapa saya harus merasa takut kepada Anda?" Darren balik bertanya.

Karena itulah Seo yeon sempat membisu. "Anda pria yang aneh."

"Saya hanya mencoba bersikap biasa saja," Darren mengoreksi.

Seo yeon kemudian melirik sedikit ke arah kursi belakang melalui kaca spion. "Kau, tolong jelaskan kepada temanmu ini siapa saya yang sebenarnya. Tampaknya hanya dirimu yang bersikap normal di sini karena merasa gugup."

Budi pun menelan ludah dengan susah payah. "Begini, Bos. Dari berita yang aku baca, keluarga Han itu sangat berpengaruh. Mereka memiliki koneksi hingga ke pemerintah. Bisnis mereka merambah ke media, logistik, bahkan ada rumor mereka bermain di sektor pertahanan."

"Lalu apa hubungannya dengan rasa takut?" Darren masih terlihat santai.

"Kamu tidak paham, Bos!" Budi mendekatkan wajahnya ke telinga Darren dan berbisik sangat lirih. "Dulu ada perusahaan asing yang mencoba bermain curang di belakang mereka. Seminggu kemudian perusahaan itu bangkrut total tanpa ada yang tahu sebabnya. Mereka punya tim khusus yang bisa membuat orang menghilang tanpa jejak."

Seo yeon mendengar bisikan itu dan menyunggingkan senyum tipis yang penuh rahasia. "Itu hanya rumor berlebihan. Tapi memang benar bahwa keluarga saya memiliki sumber daya yang sangat signifikan untuk melindungi kepentingannya."

"Lalu kenapa Anda memilih untuk keluar dari sana?" tanya Darren.

Seo yeon terdiam sebelum menjawab. "Seperti yang pernah saya katakan, saya memilih untuk mandiri. Namun saya harus mengakui, nama keluarga tetap membawa konsekuensi yang besar."

Lampu lalu lintas berganti hijau, namun mobil itu masih berhenti di pinggir jalan. Seo yeon kembali menatap Darren melalui kaca spion. "Anda benar-benar tidak khawatir dengan konsekuensi itu?"

Darren menarik napas panjang. "Nona Han, saya pernah nyaris mati dikeroyok di gudang berdebu hanya karena uang receh. Istriku pergi dengan membawa satu-satunya anak saya, dan sekarang saya masih mengejar target satu miliar dalam waktu yang sangat mepet. Ancaman dari keluarga konglomerat bukan prioritas utama dalam daftar ketakutan saya saat ini."

Seo yeon masih menatapnya. Darren melanjutkan kalimatnya. "Anda adalah orang yang menjemput saya dari situasi runyam malam ini. Itu berarti Anda peduli, atau setidaknya Anda sangat membutuhkan saya. Jadi buat apa saya harus takut? Anda bukan ancaman sama sekali."

Alhasil, Seo yeon tersenyum, terlihat tulus meski cepat sekali menghilang.

"Anda memang berbeda," kata Seo yeon.

Budi yang sedari tadi menahan napas akhirnya bisa menghela napas lega dengan suara keras. "Aduh, lega sekali. Aku hampir mati gaya menahan kentut saking tegangnya di sini."

"Jaga mulutmu. Jangan kasar di depan Nona Han," tegur Darren.

"Maaf, Bos. Aku cuma lega karena mengira kamu bakal ditembak tadi," jawab Budi sembari mengusap dadanya.

Sementara Seo yeon mulai mengemudikan mobilnya kembali dengan perlahan. "Untuk sementara waktu, Pak Darren, saya ingin Anda menjauhi Alvino Chandra."

Darren mengernyitkan dahi. "Kenapa?"

"Saya tidak tahu detailnya, namun saya tahu Alvino adalah tipe predator. Dia tidak akan menyerang secara langsung dari depan. Dia akan memancing, memojokkan, lalu menghabisi mangsanya saat sudah tidak berdaya. Malam ini Anda beruntung karena saya datang. Lain kali, keberuntungan itu mungkin tidak akan muncul," kata Seo yeon.

"Apakah Anda menyuruh saya untuk mundur?" tanya Darren dengan suara yang sedikit meninggi.

"Saya menyuruh Anda untuk berpikir jernih," jawab Seo yeon tegas. "Anda tidak akan bisa melawan pemain besar jika masih bermain di pinggiran jalan seperti ini. Anda harus masuk ke dalam kolam yang sama dengannya. Baru setelah itu, Anda bisa mengatur strategi untuk melumpuhkannya."

"Kolam apa? Kolam renang? Aku tidak bisa berenang, Nona Han," sela Budi dengan wajah bingung.

"Dengarkan saja penjelasannya," timpal Darren karena tidak lagi bisa menahan rasa malu akibat ulah sahabatnya itu.

Tapi dia harus mengakui, bahwa wanita itu ada benarnya. Selama ini dia hanya bereaksi terhadap setiap serangan. Alvino melakukan provokasi, dia langsung merespons. Alvino ada di Sunter, dia langsung mengejar. Semua itu dilakukan tanpa strategi jangka panjang yang matang.

"Saya paham. Jadi, apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanya Darren.

Seo yeon memarkir mobil di sisi jalan yang cukup sepi. Matanya beralih menatap Darren secara langsung melalui kaca spion. "Pertama, Anda harus mengubah penampilan. Anda tidak bisa terus terlihat seperti ini jika ingin masuk ke dunia mereka. Pakaian, gaya bicara, bahkan cara Anda berjalan harus berubah total."

"Kedua, Anda harus memahami bagaimana dunia bisnis bekerja dari dalam," lanjut Seo yeon. "Ini bukan sekadar soal modal, untung, atau rugi. Ini adalah permainan kekuasaan, jaringan informasi, dan reputasi. Saya bisa mengajarkan semua itu kepada Anda, namun Anda harus berada di dekat saya."

Darren mengerjapkan mata. "Maksud Anda?"

"Saya menawarkan Anda posisi sebagai asisten pribadi saya untuk sementara waktu. Saya tidak pernah bercanda dalam urusan bisnis," tegas Seo yeon.

Budi pun segera mendekatkan wajahnya ke arah Darren. "Terima saja, Bos! Ini kesempatan emas. Menjadi asisten konglomerat, gajinya pasti gila-gilaan. Makanannya pasti enak setiap hari."

Darren sendiri menimbang keputusan itu. Keuntungannya sangat jelas. Dia bisa belajar banyak, mendapatkan akses informasi yang berharga, dan memiliki perlindungan dari pengaruh nama besar keluarga Han. Kendati demikian, waktu untuk misi menagih utang keberuntungan Alvino mungkin akan sedikit terganggu. Namun, Seo yeon sendiri yang menyarankan agar dia menjauh untuk sementara waktu.

"Saya setuju, Nona Seo yeon. Namun saya memiliki satu syarat," kata Darren.

"Katakan saja.”

"Budi harus ikut bekerja di bawah pengawasan saya. Dia harus tetap dekat agar saya bisa memastikan keselamatannya," Darren menunjuk ke arah temannya yang gendut itu.

Budi sampai kaget tidak percaya. "Eh? Apa boleh tanpa ijazah."

Seo yeon menjawab tanpa menoleh. "Itu tidak masalah. Dia bisa menjadi sopir atau posisi pendukung lainnya yang tidak memerlukan kualifikasi akademik tinggi. Yang terpenting adalah Anda menyetujui tawaran saya."

Darren akhirnya mengangguk ke arah Seo yeon. "Baiklah. Saya terima tawaran Anda."

Seo yeon memberikan anggukan sebagai tanda kesepakatan. "Mulai besok, Anda harus melaporkan diri ke kantor saya di Kuningan tepat jam delapan pagi. Jangan sampai terlambat. Dan satu lagi... kita bisa berhenti berbicara formal mulai sekarang, panggil aku Seo yeon."

"Ah ok," jawab Darren. “Aku mengerti.”

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!