NovelToon NovelToon
GILA! IDOLA SMA-KU JADI ATASAN YANG GENIT BANGET

GILA! IDOLA SMA-KU JADI ATASAN YANG GENIT BANGET

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Idola sekolah
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Zea pernah diam-diam mencintai Bara, sang kakak kelas di SMA . Namun sebuah kejadian memaksanya pergi, meninggalkan perasaan itu tanpa sempat terungkap.

Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda yaitu Bara sebagai atasan dan Zea sebagai bawahan.

Perasaan lama yang Zea kira telah hilang, ternyata masih tersimpan rapi. Tanpa ia sadari, Bara pun menyimpan hal yang sama selama ini.

Namun waktu telah mengubah banyak hal. Rahasia masa lalu, jarak yang dulu tercipta, dan keadaan sekarang menjadi penghalang yang tak mudah dilewati.

Kini, keduanya harus memilih bertahan dalam diam, atau akhirnya memperjuangkan cinta yang sempat tertinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAWARAN YANG TAK BISA DITOLAK

Zea baru saja keluar dari lift dan berjalan cepat menuju parkiran. Ia berniat langsung naik ojek online atau taksi, ingin cepat-cepat sampai rumah dan lupakan semua kejadian aneh malam ini.

Tapi baru saja ia mengeluarkan HP...

"Zea."

Suara berat itu terdengar lagi. Zea mendengus kesal dan tidak berbalik.

Di depannya, mobil mewah Bara sudah berhenti tepat di hadapannya. Jendela kaca turun perlahan, memperlihatkan wajah pria itu yang masih dengan senyum miring yang menyebalkan.

"Masuk. Saya antar pulang." ucap Bara santai.

Zea langsung menggeleng keras, wajahnya masam.

"Enggak usah Tuan! Saya bisa pulang sendiri. Nanti orang lain liat, nggak pantas Bos antar karyawan pulang." jawab Zea tegas.

Bara menghela napas pelan, lalu membuka pintu mobil dari dalam.

"Sudah malam, Zea. Jalanan juga sepi. Bahaya buat cewek sendirian. Masuk, jangan banyak bacot." lanjut Bara nada bicara mulai agak keras.

Zea malah mundur selangkah, memeluk tasnya erat-erat.

"Ah biasa aja! Saya sering pulang malam juga nggak apa-apa kok! Lagian rumah saya jauh, nggak enak merepotkan Tuan. Saya naik taksi aja sudah!" serunya membantah.

Ia langsung berbalik mau jalan kaki menjauh. Tapi Bara langsung keluar dari mobil dan menangkap pergelangan tangan Zea pelan tapi kuat.

"LEPAS! Tuan Bara apa-apaan sih! Saya bilang nggak mau ya nggak mau!" Zea kaget dan mencoba melepaskan tangannya.

Bara tidak melepaskan. Ia menatap mata Zea dengan tatapan tajam dan serius.

"Saya bilang masuk, ya masuk. Saya nggak akan biarin kamu pulang sendirian malam-malam begini. Itu perintah, bukan tawaran." ucap Bara tegas.

Zea mendecakkan lidah kesal, pipinya merah karena emosi bukan karena baper.

"Dasar orang keras kepala! Tuan ini suka banget ya maksa-maksa orang! Dulu juga gitu, sekarang juga gitu!" desis Zea.

Bara sedikit tersenyum mendengar itu.

"Karena saya tahu, kalau nggak dipaksa kamu bakal lari lagi kayak tadi. Masuk Zea, atau saya angkut kamu masuk pake cara saya." jawab Bara menantang.

Zea menatap Bara tajam, seolah beradu pandang. Tapi ia tahu, melawan pria ini percuma. Aura dan kekuatannya jauh di atas dirinya.

Dengan napas memburu karena kesal, Zea akhirnya menarik tangannya kasar lalu membuka pintu mobil dan duduk dengan wajah manyun.

"Huh! Dasar otoriter! Untung aku sabar!" gumam Zea kesal.

Bara tersenyum puas lalu masuk ke kursi sopir. Ia menyalakan mesin, tapi sebelum jalan ia menoleh ke samping.

"Nah gitu dong sayang... Duduk manis ya." ucap Bara pelan.

Zea langsung menoleh dengan mata melotot:

"JANGAN PANGGIL SAYANG LAGI! TUAN INI BENERAN GILA YA!"

Bara hanya terkekeh pelan lalu menginjak gas, meninggalkan parkiran kantor.

 

Suasana di dalam mobil hening, hanya terdengar suara musik pelan dan deru mesin. Zea duduk memalingkan wajah ke jendela, tangan disilangkan di dada, wajahnya masih masam dan jutek.

Bara melirik sesekali sambil menyetir, sudut bibirnya terus tersenyum miring. Ia sengaja memecah keheningan dengan suara rendah yang khas.

"Ingat nggak waktu SMA dulu? Kamu itu kayak bayangan saya. Ke mana saya pergi, pasti ada kamu di belakang." ucap Bara santai.

Zea mendecakkan lidah keras-keras tanpa menoleh.

"Ah apaan sih! Itu kan karena satu sekolah! Banyak juga kok murid lain yang lewat situ!" jawab Zea ketus.

Bara terkekeh pelan.

"Beda Zea... Kamu itu beda. Saya ingat banget, setiap jam istirahat kamu pasti sengaja lewat depan kelasku cuma buat natap saya sebentar. Terus kalau ketemu di koridor, mata kita bersitatap, kamu langsung lari ngebut kayak dikejar hantu." lanjut Bara menggoda.

DEG!

Zea mematung. Ternyata pria itu sadar semua! Wajahnya memerah tapi ia tetap berusaha cuek dan ngeles.

"Gila ya Tuan! Saya lari karena telat masuk kelas! Bukan karena natap Tuan! Sok tau banget jadi orang!" seru Zea membantah keras.

Bara malah semakin senang. Ia menoleh sedikit, tatapannya tajam tapi manis.

"Oh ya? Terus kenapa waktu saya main basket di lapangan, kamu sering banget duduk sendirian di pinggir lapangan? Padahal kan kamu cuma adik kelas biasa, bukan pengurus atau apa, kan?" tanya Bara.

"Itu... Itu karena saya lagi nunggu temen! Bukan nunggu Tuan! Banyak alasannya lah!" potong Zea cepat, panik setengah mati.

Bara geleng-geleng kepala, tidak percaya dengan alasan yang dipaksakan.

"Alasan murah... Padahal saya tau jelas, kamu duduk di situ cuma mau liat saya main. Waktu itu kan saya sering ganti baju atau minum, pas saya arahkan pandangan ke situ, kamu langsung buang muka atau lari lagi." gumam Bara pelan.

Zea benar-benar kesal setengah mati. Ia menoleh tajam ke arah Bara.

"Udah ah Tuan! Jangan ngungkit masa lalu terus! Itu kan zaman masih bocah! Sekarang kan sudah beda! Saya sudah dewasa, Tuan juga jadi Bos! Jangan bikin malu!" desis Zea.

Bara tersenyum lebar. Ia menoleh lagi, kali ini suaranya lebih rendah dan serius.

"Buat saya nggak ada yang berubah, Zea. Kamu masih sama kayak dulu. Masih keras kepala, masih suka bohong, dan masih... suka lari dari kenyataan." ucap Bara.

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada menggoda.

"Dan yang paling lucu... kamu masih sama gampangnya merah kalau dideketin saya. Wajah kamu merah banget lho dari tadi." lanjut Bara.

Zea buru-buru menutupi pipinya dengan tangan, panik.

"INI PANAS DALAM! BUKAN MERAH KARENA APA-APA!" serunya keras.

Bara tertawa lepas, tawanya renyah dan membuat suasana jadi lebih ringan tapi tetap bikin deg-degan.

"Iya iya... panas dalam. Tapi ingat ya Zea... dulu kamu yang ngejar-ngejar saya, sekarang giliran saya yang bakal ngejar kamu sampai kamu mau ngaku juga." ucap Bara tegas.

Zea mendengus lalu kembali memalingkan wajah, tapi diam-diam jantungnya berdegup lebih kencang.

''Dasar pria menyebalkan... Ingat semua detail sih!'' batin Zea meleleh campur kesal.

1
paijo londo
aduuuh zea kamu bikin bara gregetan campur penasaran tuh🤦🤦🤭🤭🤭
paijo londo
lucu ya kalo malu malah g mau ketemu🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!