Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
POV: Leon
Reflek aku mendesah pelan saat ujungnya mulai masuk, rasa hangat mulai bisa kurasakan. Tapi tiba-tiba Nara menahanku, "pelan-pelan aja!"
Aku mengangguk mengiyakan dan kembali melanjutkan. Kini seluruhnya telah tenggelam dalam kehangatan di dalam tubuhnya. Aku hampir tidak percaya melakukan ini, selama ini aku hanya menjadi penonton di balik layar tengah malam.
Aku mendorong keluar dan masuk dengan perlahan, berusaha berhati-hati setiap gerakan, karena tidak ingin membuatnya tidak nyaman. Perempuan itu terlihat tenang seolah juga menikmatinya. Malam semakin larut, gairahku semakin memanas.
"Nara," ia menatapku dengan nafas tersengal. "Kalau ritmenya tetap begini, mungkin bakalan lama keluarnya." kataku.
"Terus?"
"Aku kencengin dikit ya?"
Wajahnya berubah setengah panik.
"Kita bisa berhenti kalau kamu merasa sakit."
Dia mengangguk ragu.
Aku mulai menambah ritmenya, membuat nafasku semakin memburu. Nara mulai mendesah sesekali, tangannya masih terus mencengkeram seprai. Aku mengecup bibirnya untuk menenangkannya, semakin lama semakin panas hingga aku tidak sadar gerakanku semakin besar, Nara menjambak rambutku. Nafasnya mulai memburu, desahannya semakin jelas terdengar.
"Bentar lagi," kataku dengan nada terputus-putus.
Kedua tangannya kutahan dengan tanganku, matanya terbuka dan terpejam, rintihannya semakin kuat saat aku menambah gerakanku. Setelah akhirnya aku selesai, refleks tubuhku jatuh di atas tubuhnya. Nafas kami masih saling beradu.
Hening mengudara beberapa saat, sampai kemudian Nara mulai membuka suara. "Leon."
Aku hanya berdehem menjawab, rasa lelah ini membuatku tidak sanggup berbicara.
"Kamu udah selesai?" tanyanya.
"Udah," jawabku singkat, masih tergeletak tak berdaya di atas tubuhnya.
"Tapi aku belum."
Deg! Hah?! Sontak mataku terbuka, membulat kaget. Ah sial, sepertinya aku melupakannya. Aku hanya memikirkan bagianku saja.
Aku mengangkat wajah perlahan, merasa malu menatapnya. "Serius, belum?"
Dia hanya mengangguk.
Aku menunduk malu, mengusap wajahku frustasi.
"Mau main lagi?" tanyaku lirih.
"Kamu capek?" tanyanya.
Capek banget! Tapi aku pura-pura masih kuat 10 ronde.
"Nggak kok, aku masih bisa sampai pagi juga."
Tiba-tiba Nara langsung mengecupku tanpa aba-aba. Dia bangun dari tidurnya, mengubah posisi kami. Dia duduk di atas perutku, masih dengan kecupannya yang hangat. Nara mulai memasukkan miliknya, lalu bergerak dengan perlahan di atasku.
Demi apapun, sungguh ini adalah pemandangan yang indah. Dari bawah sini, dia terlihat sangat seksi. Dada besarnya yang berguncang mengikuti gerakan tubuhnya, pinggulnya bergerak dengan lihai. Aku bahkan hampir tidak percaya seorang perempuan yang terlihat konyol dan kekanakan ternyata bisa selihai ini.
Atau jangan-jangan—Argh, tiba-tiba pikiranku terlintas Devandra. Entahlah! Mungkin saja, Nara hanyalah murid dari seorang guru pro.
Aku tidak peduli, yang penting saat ini perempuan yang selama ini ku idam-idamkan. Tengah duduk di atas tubuhku. Rambutnya tergerai panjang, menambah kesan seksi. Dia bahkan terlihat lebih cantik daripada pemeran utama dalam film dewasa.
Gerakannya benar-benar membuatku kesulitan, aku mencengkeram bantal, rasanya ngilu tapi juga nikmat. Ku alihkan rasa itu dengan menyentuh dadanya, membuatnya merintih pelan. Beberapa saat kemudian, aku merasakan air mengalir hangat di bagian milikku, Nara terjatuh lemas di atas tubuhku, nafasnya terengah-engah.
Tanganku membelai kepalanya, "kamu suka?"
Dia hanya berdehem mengiyakan.
Sesaat kemudian, cahaya lampu menyorot dari jendela luar kamarku. Nara langsung bangun dari tidurnya, melihat ke arah jendela.
"Itu Dev," katanya panik.
Kami langsung bergegas merapikan diri. Nara berpura-pura tidur dan aku turun ke lantai bawah.
"Nara di mana?" tanya Dev tanpa basa-basi.
Aku langsung menunjuk ke lantai atas, "lagi tidur."
Ia langsung berlari kecil menuju kamarku. Aku hanya berpura-pura memainkan ponsel. Dua puluh menit kemudian, terdengar suara langkah kaki dari tangga. Dev menggandeng tangan Nara, mereka berpamitan akan pulang.
Tidak ada tanda-tanda kecurigaan dari pria itu, apakah semuanya aman? Ku harap begitu.
...***...
POV: Devandra
"Kamu benaran nggak apa-apa?" tanyaku lagi ingin memastikan setelah aku melihat wajahnya yang terlihat sedikit pucat.
"Aku nggak apa-apa, paling cuma kelelahan." Kepalanya bersandar pada pintu mobil.
"Nara." aku ingin memastikan firasatku.
Dia menoleh.
“Kamu tadi minum?” tanyaku akhirnya.
Sedari tadi ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Nafasnya bau alkohol itu terlalu jelas untuk diabaikan, bahkan menyengat setiap kali dia berbicara.
Nara terdiam beberapa detik, wajahnya langsung berubah aneh, tatapan menghindar, bahu sedikit menegang, jemari saling memainkan satu sama lain. Aku hafal ekspresi itu, ekspresi seorang Nara yang sedang merasa bersalah atau takut padaku.
“Iyaa...” jawabnya dengan terbata.
Aku menghela napas pendek. “Kenapa minum?” tanyaku lagi, kali ini lebih tenang.
“Aku lihat botol anggur, karena cuacanya dingin banget tadi... jadi aku iseng nyobain.” Kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan.
Aku melirik sekilas ke arahnya sebelum kembali fokus pada jalanan basah di depan. “Kalau cuma iseng, baunya nggak bakal sampai sekuat itu.”
“Arghh...” dia mendecak kesal. “Iya, iya! Aku minum lumayan banyak.” Dia menyandarkan tubuh ke kursi dengan wajah kesal. “Puas?”
Aku menghela napas panjang. Tapi entah kenapa, melihatnya mabuk malah lebih membuatku khawatir daripada marah.
“Jangan diulang lagi,” ucapku tegas, mataku tetap fokus menyetir di tengah hujan.
“Kamu nggak boleh minum tanpa sepengetahuanku.” Kalimat itu keluar begitu saja.
"Iya, aku minta maaf."
Refleks aku menoleh padanya, sejak kapan seorang Nara dengan mudahnya mengucapkan maaf? Apa karena dia sedang mabuk?
“Kamu tadi beli apa?” tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Emmm...” Dia mengerutkan dahi cukup lama. “Besok kamu juga tahu.”
“Kenapa nggak kasih tahu sekarang aja?”
Nara mendesah panjang, lalu mendadak terlihat frustrasi sendiri. “Argh...” Tangannya mengusap wajah kasar. “Aku bahkan lupa tadi beli apaan.”
Beberapa detik hening. Lalu aku tidak bisa menahan tawa kecil. “Serius?”
Dia hanya meringis sambil menyandarkan kepala ke kaca mobil. “Kepalaku berat...” gumamnya pelan.
Aku menggeleng geli. “Yaudah, nggak usah dipaksain mikir.”
Tanganku terangkat mengacak rambutnya pelan, membuat beberapa helainya makin berantakan. “Nanti kepalanya meledak.”
Dia langsung menepis tanganku pelan dengan wajah kesal. Walaupun aku masih penasaran setengah mati perempuan aneh ini sebenarnya habis beli apa.
"Maaf ya aku baru bisa jemput, aku juga sebenarnya baru pulang dari kantor."
"Sesibuk itu kah?"
"Yaa lumayan lah, untungnya besok weekend, kita bisa menghabiskan waktu bersama." Aku tersenyum padanya sebelum kembali melanjutkan.
"Oh iya, aku punya sesuatu buat kamu. Tapi besok aja ya."
"Asal bukan benda sialan itu." Matanya memutar malas.
Aku tertawa kecil, "kamu kayaknya benci banget sama Miko."
"Jangan sebut namanya, sialan." Suaranya meninggi.
"Oke... Oke sorry." Ku cubit pipinya gemas.
...***...
Jam weker berbunyi nyaring. Dengan setengah sadar, tanganku refleks memukul benda menyebalkan itu sampai suara berisiknya akhirnya mati. Saat kulirik jam di samping ranjang, ternyata baru pukul enam pagi. Sial, bahkan matahari saja mungkin masih rebutan selimut.
Tapi hari ini berbeda, aku langsung bangun. Karena aku punya rencana membuat kejutan untuk Nara. Setelah membersihkan diri seadanya, aku bergegas turun ke lantai bawah. Mataku otomatis menyapu seluruh ruangan rumah, sepi. Sepertinya perempuan itu masih tidur. Bagus! Berarti misiku masih aman.
Aku langsung menuju garasi, mengambil beberapa alat tukang yang kubutuhkan, lalu berjalan ke arah hutan belakang rumah. Udara pagi terasa dingin dan segar. Angin kecil menerpa tubuhku pelan, sementara matahari masih malu-malu menunjukkan dirinya di balik pepohonan. Entah kenapa suasana hatiku terasa sangat baik pagi ini. Mungkin aku terlalu bersemangat membayangkan reaksi Nara nanti.
Ah, perempuan itu pasti bakal senang. Dengan langkah santai, aku semakin masuk ke area hutan pribadi. Sampai akhirnya—
Langkahku mendadak berhenti.
What the fuck?!
Keningku langsung berkerut, mataku menyipit. Aku yakin ini hutanku, kan?
Karena pemandangan di depanku terasa sangat tidak normal. Untuk pertama kalinya selama tinggal di rumah ini, aku melihat banyak makhluk kecil berkeliaran di sana, banyak sekali. Bergerak ke sana kemari dengan penuh percaya diri, seolah mereka baru saja memenangkan sertifikat kepemilikan tanah.
Sebagian bergerombol di bawah pohon, sebagian lagi sibuk mengacak tanah. Dan entah kenapa suasananya terasa seperti pasar tradisional pindah lokasi ke hutan pribadiku.
Aku mengusap wajah kasar. Frustrasi, bingung. Sedikit merasa hidupku mulai kehilangan arah. Siapa pelakunya? Tidak mungkin ada orang random masuk lalu meninggalkan ini semua.
Dan hanya ada satu manusia absurd yang cukup tidak waras untuk melakukan hal seperti ini. Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya berteriak sekuat tenaga,
“NARAAA!”
Seketika beberapa makhluk itu langsung berhamburan ke sana kemari. Hebat! Bahkan sekarang aku diteror penghuni hutan ilegal sebelum sarapan.
...***...