NovelToon NovelToon
Hanya Bisnis, Sayang

Hanya Bisnis, Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vanessa_Write

"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."

Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.

Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.

Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Melintasi Jalur Hitam

Roda-roda raksasa dari armada truk kargo lapis baja milik Arsa Group perlahan bergerak membelah kegelapan malam, menyusuri jalanan tanah berbatu di sepanjang lereng perbukitan sektor selatan. Sesuai dengan rencana yang disusun di ruang operasi, seluruh armada truk ini mengangkut stok bahan baku darurat dari pangkalan rahasia selatan untuk menyelamatkan produksi pabrik besok pagi. Lampu utama seluruh armada sengaja dimatikan total, hanya menyisakan lampu indikator kecil di bagian bawah yang memandu jalurnya di bawah kegelapan agar luput dari pengawasan radar Vanguard Maritim.

Di barisan paling depan, sebuah mobil jip taktis antipeluru melaju sebagai pembuka jalan.

Adrian duduk di balik kemudi dengan tatapan mata yang fokus membelah kabut malam. Kemeja hitamnya yang kasual kini dilapisi oleh rompi pelindung taktis, sementara lengan kanannya yang baru dijahit dibalut kain penyangga khusus agar tidak mengalami guncangan ekstrem. Meskipun fisiknya belum pulih seratus persen, cara Adrian mengendalikan kemudi dengan satu tangan. Walaupun hanya menggunakan tangan kirinya, di medan yang terjal ini tetap terasa sangat kokoh dan presisi.

Di kursi penumpang sebelah kiri, Elena duduk dengan sebuah senapan laras pendek yang bertumpu di atas pangkuannya. Di bawah temaram cahaya dari layar monitor navigasi taktis di dasbor, wajah cantiknya tampak sangat serius. Tidak ada lagi gumpalan rasa takut di matanya. Ia terus mengawasi pergerakan titik-titik hijau yang menandakan posisi dua puluh truk kargo di belakang mereka.

"Kita sudah masuk ke titik buta radar sektor selatan," kata Elena sambil membetulkan posisi duduknya, suaranya terdengar jernih memecah kesunyian kabin. "Laporan dari Hendra di gerbang barat menyatakan bahwa umpan kita berhasil. Pasukan pengintai musuh masih tertahan di sekitar pelabuhan barat, mengawasi konvoi pengacara palsu yang kita kirim pagi tadi."

"Itu hanya akan bertahan selama beberapa jam, Elena," sahut Adrian, suara baritonnya terdengar rendah dan bergetar konstan mengikuti guncangan mobil. "Petinggi faksi atas bukan orang bodoh. Begitu mereka menyadari tidak ada aktivitas bongkar muat yang nyata di pelabuhan barat, mereka akan langsung menyebar agen lapangan untuk menyisir jalur alternatif. Kita harus sampai di gudang pabrik pusat sebelum fajar datang."

Elena menoleh, menatap profil samping wajah tegas suaminya. Sinar redup dari monitor dasbor mempertegas garis rahang Adrian yang mengeras kencang. Ada rasa hangat sekaligus cemas yang menggelitik dada Elena saat melihat bagaimana Adrian selalu memasang tubuhnya sebagai perisai terdepan demi melindungi imperium bisnis mereka.

"Adrian," panggil Elena lembut. Ia mengulurkan tangan kirinya, perlahan menyentuh pundak tegap Adrian yang dilapisi rompi taktis. "Jika situasi di depan memburuk... berjanjilah padaku untuk tidak memaksakan lengan kananmu. Biarkan tim taktis belakang yang mengambil alih baku tembak."

Adrian menjeda gerakannya sejenak, melirik ke arah tangan Elena yang bersandar di pundaknya. Sudut lipatan bibirnya terangkat tipis, memancarkan kehangatan tersembunyi yang sangat intens.

"Aku tidak selemah itu, Putri Kecil," bisik Adrian rendah, suaranya yang berat terdengar sangat posesif. "Lengan ini masih cukup kuat untuk meremukkan leher siapa saja yang berani mengadang jalan kita malam ini. Tapi... aku menghargai rasa cemasmu."

BZZZZ... STATIK...

Mendadak, suara radio komunikasi taktis di dekat dasbor berbunyi nyaring, memutus momen intim di antara mereka berdua.

"Tuan Adrian! Ini unit pengawal ekor belakang!" suara prajurit taktis terdengar sangat mendesak dari pengeras suara. "Dua titik lampu sorot berkapasitas besar mendadak muncul dari arah lembah bawah! Mereka melaju dengan kecepatan tinggi memotong jalur setapak perbukitan! Itu armada pengejar milik faksi atas!"

Mata Elena seketika melebar. "Mereka berhasil mendeteksi pergerakan kita lebih cepat dari perkiraan!"

"Hendra sudah memperingatkan kita kalau faksi atas memiliki satelit pelacak suhu tubuh skala kecil," desis Adrian dingin, sepasang matanya langsung berubah menjadi setajam elang malam yang siap menerkam mangsanya. Ia menginjak pedal gas lebih dalam, membuat mesin jip taktis itu meraung keras membelah kesunyian bukit. "Pengawal belakang, lakukan manuver defensif! Jaga jarak aman truk kargo, jangan biarkan satu kendaraan musuh pun mendekati ban utama armada bahan baku!"

"Dipahami, Tuan!"

Dari arah kaca spion samping, Elena bisa melihat siluet beberapa mobil jip hitam tanpa logo milik musuh mulai merangsek naik dari lereng bukit. Mereka bergerak dengan brutal, tidak memedulikan medan jalan yang curam dan berbatu.

TATATATATATATATA!

Rentetan tembakan dari senjata otomatis musuh mulai memecah kegelapan malam, memercikkan bunga api saat peluru-peluru tajam itu menghantam dinding baja bagian belakang truk kargo nomor dua puluh. Untungnya, lapisan pelindung baja yang dirancang khusus oleh unit militer swasta Arsa Group cukup tebal untuk menahan gemburan tersebut.

"Elena, pegang kendali kemudi ini sebentar. Pertahankan kecepatan di angka empat puluh!" perintah Adrian tegas.

Tanpa banyak bertanya, Elena langsung menggeser posisi tubuhnya ke tengah, tangan kirinya mencengkeram erat lingkar kemudi yang dipegang Adrian, sementara kakinya bersiap mengambil alih kendali pedal bawah.

Dengan gerakan yang sangat gesit dan terlatih, Adrian melepaskan sabuk pengamannya, memutar tubuhnya ke arah jendela samping kanan yang sudah diturunkan setengah.

Dengan menggunakan tangan kirinya yang bebas dari cedera, Adrian mengangkat sebuah senapan serbu otomatis laras panjang. Ia menahan bagian belakang senjata tersebut pada lekukan pundak kanannya yang dibalut kain penyangga, mengabaikan rasa perih luar biasa dari luka jahitannya yang kini pasti mulai tertarik kembali.

DOR! DOR! DOR!

Tiga tembakan presisi dilepaskan oleh Adrian di tengah guncangan mobil yang luar biasa hebat.

Peluru pertama menghantam lampu utama mobil pengejar terdepan hingga hancur total, sedangkan dua peluru berikutnya secara akurat menembus roda bagian depan kanan mobil musuh. Jip hitam milik Syndicate itu seketika kehilangan kendali, berputar arah secara ekstrem di atas tanah licin sebelum akhirnya terguling bebas jatuh ke dalam jurang sedalam seratus meter di tepi lereng bukit.

BOOM!

Ledakan kecil dari mobil yang jatuh itu menciptakan bola api raksasa yang menerangi kegelapan jalur perbukitan selama beberapa saat, menahan pergerakan dua mobil musuh lainnya di belakang.

Adrian kembali menarik tubuhnya masuk ke dalam kabin, napas baritonnya terdengar memburu pendek dengan pelipis yang dibasahi keringat dingin akibat menahan rasa sakit di lengannya. Ia kembali mengambil alih kemudi dari tangan Elena, lalu melirik sekilas ke arah istrinya.

Elena menatap rembesan warna merah yang mulai kembali menembus kain penyangga lengan Adrian dengan tatapan mata yang campur aduk antara rasa takjub dan kemarahan yang besar karena suaminya yang keras kepala. "Aku sudah bilang jangan memaksakan diri, Adrian!"

"Dan aku sudah bilang kalau kita akan menang, Elena," sahut Adrian dengan suara rendah yang serak namun sarat akan otoritas absolut yang tak tergoyahkan. "Lihat di depan sana. Kita sudah keluar dari jalur perbukitan hitam."

Elena mengalihkan pandangannya ke depan. Di balik kabut malam yang mulai menipis, siluet gerbang belakang kompleks pabrik pengolahan raksasa Arsa Food Group sudah terlihat berdiri dengan kokoh, dijaga oleh ratusan personel tim keamanan internal yang sudah bersiap menyambut kedatangan mereka. Dua puluh truk kargo lapis baja yang membawa seluruh urat nadi bahan baku pangan mereka berhasil lolos masuk ke area steril pabrik tanpa ada satu pun yang cacat.

Begitu pintu gerbang besi menutup rapat dan mengunci dunia luar, Adrian menghentikan laju jipnya sepenuhnya. Ia mematikan mesin, membiarkan keheningan mengambil alih kabin mobil.

Sambil menahan napasnya yang masih memburu dan rasa perih di lengan kanannya, Adrian memutar tubuhnya menghadap Elena. Tanpa berkata apa-apa lagi, tangan kirinya yang kokoh langsung menarik Elena lembut ke dalam dekapan dadanya yang hangat dan protektif. Ia menyembunyikan wajah Elena di ceruk lehernya, mendekap erat kepala istrinya seolah tidak ingin membiarkan bahaya apa pun mendekat lagi.

"Kita sudah sampai, Elena. Bahan baku kita aman, dan kamu juga aman bersamaku," bisik Adrian rendah, suaranya yang berat dipenuhi rasa lega yang teramat dalam.

Elena membalas pelukan itu dengan erat, menyandarkan seluruh lelahnya pada dada bidang Adrian yang berdegup konstan. Di bawah siraman lampu halaman pabrik yang tenang, badai logistik malam ini resmi mereka lewati bersama.

......BERSAMBUNG......

1
Bu Dewi
seru kak alur ceritanya😍😍😍👍
VanessaJournal: terima kasih atas support nya kak! 😊🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!