Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.
Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.
Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.
Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.
Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.
Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.
Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.
Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.
Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.
Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.
Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Pola Relasi
Deru mesin diesel bus memekakkan telinga. Asap knalpot hitam pekat mengepul ke udara siang Terminal Blok M. Panas aspal membakar sol sepatu kanvas Regan. Udara Jakarta tahun 1993 di bulan ini selalu sukses memanggang kulit, tapi pemuda itu tetap berdiri tenang di peron kedatangan.
Regan melangkah maju menembus kerumunan calo tiket dan pedagang asongan. Dia mengambil alih gagang koper kain kotak-kotak dari tangan Nara.
"Penerbangannya lancar?" sapa Regan.
Nara tidak langsung menjawab. Gadis itu menatap wajah Regan lekat-lekat. Keringat menetes di pelipis Nara, membasahi anak rambutnya yang berantakan tertiup angin terminal. Ada intensitas tajam di iris cokelatnya. Bukan lagi tatapan mahasiswi biasa yang lelah setelah orientasi kampus.
"Kita perlu ngobrol, Re." Suara Nara parau, tapi nadanya menuntut.
Regan tidak mendebat. Dia meletakkan tangan kirinya di udara, berjarak satu sentimeter tepat di belakang punggung Nara, melindunginya dari desakan kuli panggul yang lewat berlarian. Mereka berjalan meninggalkan keriuhan bus menuju deretan warung tenda biru di pinggir terminal.
Mereka duduk berhadapan di kursi plastik yang lengket. Kipas angin usang berderit di sudut atap terpal. Regan memesan dua botol teh dingin. Suara pengamen jalanan memetik gitar sayup-sayup terdengar, kalah oleh klakson bajaj yang tak sabaran.
Gelas kaca tebal diletakkan di meja. Embun dingin menetes membasahi taplak plastik bermotif bunga kusam.
Nara menempelkan botol dingin itu ke pipinya sebentar. Napasnya mulai teratur.
"Gue dengar soal Vera," buka Regan santai. Dia membuka tutup botolnya dengan pembuka besi karatan di atas meja.
Nara menurunkan botolnya cepat. "Bukan cuma Vera, Re. Seluruh keluarga Santoso."
Regan mengambil sedotan, memasukkannya ke dalam botol perlahan. Dia tahu persis detail kejadiannya. Tiga hari lalu, dia meminjam mesin tik tua milik Pak Kusno. Dia mengetik lima lembar dokumen ringkas. Rincian penggelapan pajak perusahaan ayah Vera, lengkap dengan nominal suap yang disiapkan untuk pihak rektorat demi menggeser nama Nara dari daftar penerima beasiswa Singapura.
Dokumen itu dia kirim langsung ke meja rektor via kurir sewaan. Operasi senyap tanpa jejak.
"Bapaknya Vera ditarik paksa dari daftar donatur utama kampus," lanjut Nara. Suaranya berubah tegang. "Rektorat bikin investigasi mendadak dua hari sebelum gue terbang. Beasiswa gue dipulihkan hari itu juga. Vera diskors satu semester penuh."
"Bagus." Regan menyedot tehnya. Wajahnya datar tak bersalah. "Lo memang pantas dapat beasiswa itu. Nilai lo paling tinggi satu angkatan."
"Jangan pura-pura bego, Re." Nara mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua tangannya bertumpu kuat di atas meja kayu. "Gue kenal panitia beasiswanya. Kakak tingkat yang ngurus berkas gue bilang, ada amplop cokelat tanpa nama masuk ke rektorat. Isinya data mentah yang cuma bisa diakses sama orang dalam korporat level atas."
Nara menatap tepat ke bola mata Regan. Gadis ini mencari celah. Mencari kebohongan.
"Gue anak pedagang elektronik di Glodok, Re. Gue tahu persis gimana cara kerja orang lapangan." Mata Nara menyipit. "Dokumen rahasia kayak gitu nggak mungkin jatuh dari langit begitu aja."
Regan menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia membalas tatapan Nara dengan ketenangan absolut. Di kehidupan sebelumnya, dia memimpin rapat pemegang saham triliunan rupiah dengan raut wajah ini. Tidak ada satu pun dewan direksi yang berani menatap matanya lebih dari lima detik.
Tapi ini Nara. Gadis ini tidak pernah menunduk padanya, baik di masa lalu maupun sekarang.
"Lalu?" tanya Regan pendek.
"Dion koar-koar di himpunan kalau lo ngasih dia modal lima juta tunai." Nara melempar fakta baru, serangannya makin bertubi-tubi. Napasnya memburu. "Uang dari mana, Re? Bokap lo cuma kerja shift malam di pabrik tekstil."
Regan mengetuk jarinya pelan di pinggir meja. Dia membiarkan Nara menyelesaikan dakwaannya.
"Dan bukan cuma itu." Nara menggigit bibir bawahnya. Kebiasaan lamanya saat otaknya bekerja keras menyusun logika. "Bapak gue juga tiba-tiba dapat pasokan barang baru tiga kali lipat habis preman Koh Abun datang ke toko. Nggak ada satu pun supplier di Glodok yang berani ngasih utang barang sebanyak itu ke toko yang lagi sekarat."
Nara menarik napas panjang, mencoba mengontrol suaranya yang mulai bergetar. "Dan sekarang, keluarga Santoso hancur lebur di kampus cuma karena satu amplop misterius. Ini semua bukan kebetulan kan, Re?"
"Gue cuma mahasiswa Fakultas Ekonomi, Ra. Sama kayak lo." Regan menjawab tenang. Terlalu tenang.
"Bohong." Nara memotong cepat. Jari-jarinya meremas taplak meja. "Mata lo beda. Cara lo jalan, cara lo ngomong... lo sama sekali nggak kayak cowok umur sembilan belas tahun. Lo kayak orang yang udah merencanakan kematian semua orang di ruangan bahkan sebelum lo masuk ke dalam pintu."
Regan terdiam. Matanya menatap botol teh di meja.
Nostalgia kelam mendadak mencekik kerongkongannya. Dia ingat kehidupan lamanya. Dia merelakan Nara menangis sendirian di stasiun kereta. Dia mengejar validasi murahan dari orang-orang serakah seperti ayah Vera. Dia diam saja saat toko Pak Wirawan hancur digiling utang. Dia merangkak naik ke puncak rantai makanan korporat dengan tangan berdarah, hanya untuk mati membusuk sendirian di lantai marmer.
Sekarang, dia memegang kendali penuh. Dia adalah dewa di papan catur ini. Dia akan menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambut gadis di depannya ini. Tapi mengakui semuanya sekarang hanya akan membuat Nara ketakutan.
Regan melirik arloji mekanik di pergelangan tangannya. Pukul dua siang. Dia punya jadwal padat jam empat sore nanti. Ada satu aset krusial yang harus dia akuisisi sebelum mafia properti mencium baunya.
Gedung tua di Menteng itu bocor di tiga titik dan baunya seperti sejarah yang lupa disiram. Tapi bangunan reyot itu memegang izin tata ruang komersial paling kebal hukum di Jakarta Pusat. Dia butuh bangunan itu hari ini juga sebagai markas utama perusahaannya. Pondasi kerajaannya.
Regan mengalihkan pandangannya kembali ke Nara. Wajah gadis itu lelah akibat penerbangan panjang, tapi matanya menyala menuntut kebenaran.
"Gue nggak peduli lo dapet uang lima juta itu dari mana." Suara Nara melunak, tapi ketegangannya mengeras. "Gue juga nggak mau tahu dari mana bapak gue tiba-tiba dapet stok barang elektronik penuh."
Nara menelan ludah pelan. Jarak wajah mereka hanya terpisah dua botol minuman. Aroma parfum melati murahan yang dipakai Nara tertiup angin terminal, masuk memenuhi rongga penciuman Regan. Aroma yang sama persis dengan yang menghantuinya selama tiga puluh tahun masa kejayaannya yang sepi.
"Waktu gue di Singapura kemarin, gue cuma mikirin kejadian di kantin minggu lalu." Tatapan Nara turun ke tangan Regan, lalu kembali naik menatap lurus matanya. "Waktu lo benerin buku kas bapak gue. Dan waktu lo natap preman Koh Abun di toko. Lo sama sekali nggak mundur."
Regan membiarkan kesunyian menggantung di antara mereka. Dia memberikan ruang bagi Nara untuk memproses badai di kepalanya.
"Lo nekat, Re. Terlalu nekat," bisik Nara.
Tarikan napas gadis itu semakin berat. Perisai kemandirian yang selalu dia pasang tinggi-tinggi perlahan mulai retak. Selama ini dia selalu bertarung sendirian. Mengurus ayahnya, melawan senior brengsek di kampus, menghadapi manipulasi Vera.
Dan tiba-tiba, pemuda pendiam ini muncul, membantai semua masalahnya dari balik layar tanpa meminta pengakuan sedikit pun.
Pola relasi mereka bergeser mutlak siang ini. Dinding batas antar teman kuliah itu hancur.
Nara menatap Regan dengan ekspresi yang berbeda.
"Kamu yang kirim surat itu ke dekan, kan?"