NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: MENCARI BAYANGAN

Keheningan di ruang kerja Keano setelah pengakuan Virel terasa sangat menyesakkan. Kertas akte kelahiran yang sudah menguning itu tergeletak di meja seperti bom waktu yang baru saja meledak. Arcelia menatap nama "Arcelia Mirelle Halim" di sana. Rasanya aneh, melihat nama aslinya tertulis berdampingan dengan nama pemilik tubuh ini.

"Sepuluh tahun," gumam Virel, suaranya pecah. "Selama sepuluh tahun Ayah membohongi kita semua. Dia bilang Arcelia meninggal karena gagal jantung saat bayi. Tapi ternyata dia dibuang ke panti asuhan hanya karena ramalan bisnis yang tidak masuk akal."

Keano berdiri di dekat jendela, membelakangi mereka. Rahangnya mengeras. Sebagai pria yang tumbuh di lingkungan Winchester yang sangat menjunjung tinggi loyalitas keluarga, tindakan Aldric Halim adalah sesuatu yang menjijikkan baginya. Namun, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya.

Keano berbalik, menatap Arcelia—yang masih ia kenal sebagai Alzena—dengan tatapan menyelidik. "Alzena, bagaimana kau bisa tahu soal ini? Kau koma selama berbulan-bulan. Dan sebelum koma, kau bahkan tidak pernah keluar rumah tanpa pengawasan ketat."

Arcelia tersentak kecil. Pertanyaan Keano selalu tajam. Ia harus memutar otak agar tidak ketahuan.

"Gue... gue pernah nggak sengaja denger Papa berantem sama Mama di kamar mereka, jauh sebelum gue kecelakaan," bohong Arcelia dengan lancar. "Waktu itu Mama nangis, nyebut nama Arcelia. Gue nggak paham awalnya, tapi setelah gue bangun dari koma, semua ingatan itu jadi makin jelas. Kayak ada dorongan di kepala gue buat nyari tau siapa Arcelia."

Virel menatap adiknya dengan rasa bersalah yang mendalam. "Maafin Kakak, Zen. Harusnya Kakak lebih peka. Harusnya Kakak yang cari tahu, bukan membiarkan kamu nanggung beban ini sendirian."

Arcelia menggeleng pelan. "Udah telat buat minta maaf, Kak. Sekarang yang penting, kita harus cari tau di mana Arcelia. Kalau dia masih hidup, dia berhak dapet keadilan."

Tentu saja itu adalah misi "pencarian hantu". Arcelia tahu Arcelia yang asli sedang berada di dalam tubuh Alzena, tapi dia butuh alibi ini untuk menghancurkan Aldric secara legal.

Malam itu, setelah Virel pulang, suasana di mansion Winchester kembali sunyi. Keano menarik Arcelia ke kamar mereka. Begitu pintu tertutup, Keano langsung memojokkan Arcelia ke daun pintu.

"Ada yang kau sembunyikan dariku," bisik Keano, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Arcelia.

"Gue udah cerita semuanya, Keano. Apalagi yang lo mau?" balas Arcelia, mencoba tetap terlihat tenang meskipun jantungnya berdegup kencang.

"Bukan soal akte itu. Tapi soal dirimu," Keano mengulurkan tangannya, meraba bekas luka kecil di pelipis Arcelia akibat kecelakaan dulu. "Kau bangun dari koma bukan hanya dengan kepribadian yang baru, tapi dengan keahlian yang mustahil. Kau meretas, kau bela diri, kau bicara seolah kau sudah hidup di jalanan selama bertahun-tahun. Alzena yang asli tidak mungkin tahu cara menggunakan tablet untuk siaran langsung seperti tadi pagi."

Arcelia menyeringai tipis, mencoba menutupi kegugupannya dengan kesombongan. "Mungkin Tuhan kasihan sama gue karena punya suami yang kaku kayak lo, makanya gue dikasih 'bonus' keahlian pas bangun tidur. Kenapa? Lo takut punya istri yang lebih pinter dari lo?"

Keano tidak tertawa. Dia justru meraih tangan Arcelia, menatap tanda lahir kecil di balik telinga kirinya yang sempat ia lihat tempo hari. "Tanda ini... aku pernah melihatnya sepuluh tahun lalu. Di gudang pelabuhan yang terbakar. Gadis yang menyelamatkanku punya tanda yang sama. Dan dia... dia tidak takut pada apapun, persis seperti kau sekarang."

Darah Arcelia terasa membeku. *Sial, dia inget sedetail itu?* batinnya.

"Gadis itu... adalah Arcelia, kan?" tebak Keano, suaranya parau. "Kau mencarinya karena kau merasa dia yang menyelamatkanku, bukan kau?"

Arcelia terdiam sejenak. Ini adalah celah yang bagus. Jika Keano mengira Arcelia (si adik) adalah penyelamatnya, maka penyamaran Arcelia sebagai Alzena (si kakak) akan semakin aman.

"Mungkin," jawab Arcelia pendek. "Makanya lo harus bantu gue cari dia. Bukannya itu yang lo mau selama ini? Ketemu sama pahlawan kecil lo?"

Keano melepaskan cengkeramannya, matanya berkilat penuh emosi yang sulit dibaca. "Aku akan membantumu. Bukan hanya karena aku berhutang nyawa padanya, tapi karena aku ingin tahu... kenapa dia membiarkan kakaknya menderita sendirian di rumah ini sementara dia menghilang."

Keesokan harinya, Arcelia mulai menjalankan rencananya. Dia tidak lagi bersembunyi. Dengan bantuan Virel yang kini menjadi "mata-mata" di dalam Halim Group, Arcelia mendapatkan akses ke data lama panti asuhan *Kasih Ibu*.

Dia mendatangi lokasi panti asuhan itu bersama Keano. Tempat itu kini sudah menjadi gedung perkantoran mewah, namun Arcelia tahu di bawah beton-beton itu tersimpan rahasia kelam.

"Tempat ini dibakar sepuluh tahun lalu, tepat seminggu setelah gue... maksud gue, setelah gadis itu menyelamatkan lo di pelabuhan," ujar Arcelia sambil menatap gedung itu dengan benci.

Keano berdiri di sampingnya, mengenakan kacamata hitam dan setelan mantel panjang. "Aku sudah meminta timku menyelidiki laporan kepolisian sepuluh tahun lalu. Kasusnya ditutup sebagai 'kecelakaan arus pendek'. Tapi anehnya, semua saksi mata menghilang dalam sebulan setelah kejadian."

"Papa yang ngelakuin itu," desis Arcelia. "Dia nggak cuma buang anaknya, dia mencoba melenyapkannya pas dia tau anak itu mulai berani muncul ke permukaan."

Tiba-tiba, ponsel Arcelia bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

*“Jangan cari yang sudah mati, atau kau akan menyusulnya. Pulanglah, Alzena. Jangan jadi pahlawan untuk bayangan.”*

Arcelia menunjukkan pesan itu pada Keano. Keano langsung mengambil ponsel itu dan menelepon nomor tersebut, tapi nomornya sudah tidak aktif.

"Siapa pun ini, dia ada di sekitar kita," ujar Keano, matanya menyapu sekeliling area parkir dengan waspada. Dia langsung menarik Arcelia ke dalam pelukannya, melindunginya dengan tubuh besarnya. "Kita pulang sekarang. Evan!"

Evan segera mendekat dengan mobil. Di dalam mobil, Arcelia tampak tenang, namun otaknya bekerja keras. *Aldric Halim nggak mungkin seberani ini ngirim pesan ancaman lewat nomor anonim kalau dia nggak punya kartu as,* pikirnya.

"Gue mau ke kantor Halim Group besok," ujar Arcelia tiba-tiba.

"Tidak. Terlalu berbahaya," tolak Keano tegas.

"Gue nggak minta izin, Keano. Gue cuma kasih tau. Besok adalah rapat pemegang saham tahunan. Papa bakal coba ngejual sahamnya ke investor asing buat melarikan diri. Gue harus ada di sana buat narik kursi dari bawah kakinya."

Keano menatap Arcelia lama, lalu dia menghela napas pasrah. Dia tahu tidak ada gunanya melarang singa yang sedang haus darah. "Baiklah. Tapi kau pergi dengan protokol keamanan Winchester. Dan kau harus memakai gaun yang sudah kupilihkan. Jika kau akan menghancurkan mereka, lakukan dengan gaya, Alzena."

Arcelia tersenyum miring. "Gue suka cara main lo, Suamiku."

Malam harinya, Arcelia tidak bisa tidur. Dia menyelinap ke dapur untuk mengambil minum. Di sana, dia bertemu dengan Adrian Winchester, ayah Keano, yang ternyata sedang membuat teh.

"Belum tidur, Alzena?" tanya Adrian ramah.

"Belum, Pa. Masih banyak pikiran," jawab Arcelia sopan.

Adrian menatap menantunya itu dengan tatapan bijak. "Aku tahu kau sedang melakukan hal yang besar. Keano menceritakan soal akte kelahiran itu. Aku minta maaf sebagai orang tua karena membiarkan hal seperti ini terjadi di lingkaran pertemananku dengan Aldric."

"Itu bukan salah Papa Adrian," sahut Arcelia.

"Aku punya sesuatu untukmu," Adrian mengeluarkan sebuah amplop kecil dari saku piyamanya. "Dulu, saat panti asuhan itu terbakar, ada seorang pengasuh yang datang ke kantor pusat Winchester untuk minta sumbangan pembangunan kembali. Dia menitipkan ini, katanya kalau suatu saat ada keluarga Halim yang mencari, berikan ini pada mereka."

Arcelia membuka amplop itu. Isinya adalah sebuah foto kecil. Di foto itu ada dua bayi perempuan. Satu memakai gelang bayi warna biru (Alzena), dan satu lagi memakai gelang bayi warna merah (Arcelia). Di balik foto itu tertulis sebuah alamat di pinggiran kota Calveron.

*“Jika kalian mencariku, aku ada di tempat matahari tenggelam pertama kali di Calveron.”*

Tangan Arcelia bergetar. Calveron? Jadi ada jejak Arcelia di sana?

"Kenapa Papa baru kasih sekarang?" tanya Arcelia parau.

"Karena baru sekarang kau terlihat cukup kuat untuk menanggung kebenarannya, Alzena. Dulu kau hanya wanita yang hancur. Tapi sekarang... kau adalah api yang siap membakar siapapun yang menyakitimu. Pakailah ini sebagai senjatamu besok," ujar Adrian sambil menepuk bahu Arcelia.

Arcelia kembali ke kamar dengan pikiran berkecamuk. Calveron adalah tujuan mereka selanjutnya. Namun, sebelum itu, dia punya satu janji yang harus ditepati: membuat Aldric Halim berlutut di depan umum esok pagi.

Dia berbaring di samping Keano yang sudah tertidur. Arcelia menatap langit-langit kamar. "Besok, kak... besok adalah hari terakhir Papa bisa sombong dengan nama Halim Group-nya. Dan setelah itu, gue bakal cari tau siapa Arcelia yang sebenernya ada di Calveron itu."

Tanpa ia sadari, Keano membuka matanya sedikit. Dia mendengar gumaman Arcelia. Keano hanya terdiam, dia tahu bahwa perjalanan ke Calveron nanti bukan hanya sekadar liburan keluarga, tapi awal dari terbukanya kotak Pandora yang sesungguhnya.

...****************...

TBC

1
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!