NovelToon NovelToon
FAKE LOVE MISSION

FAKE LOVE MISSION

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Xylona

Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.

Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.

Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.

Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 15.

Aurora sedang berdiam diri di kelasnya ia tidak ikut ke kantin karna sedang malas, menelungkupkan kepalanya menggunakan lipatan tangan, Aurora bukan hanya malas. Tetapi, sedang tidak enak badan.

Di saat Aurora ingin tidur seseorang mengganggu waktu tidurnya.

"Permisi."

Aurora mendongak menyipitkan mata untuk lebih jelas siapa yang menyapanya, ternyata teman seangkatan Aurora hanya beda kelas.

Aurora tersenyum kecil menyuruhnya masuk ke kelas."Iya ada apa?."

"Ini tadi ada titipan." Sambil menyerahkan barang bawaannya ke meja Aurora.

Sebelum Aurora bertanya lebih lanjut lagi orang itu sudah ngacir keluar.

Aurora yang pada dasarnya penasaran tangannya bergerak membuka totebag, Aurora terdiam melihat isi totebag itu terdapat handphone Samsung Galaxy S24 Ultra. Membelalakkan mata apakah matanya tidak salah lihat ini handphone impian Aurora, meski sampai kiamat pun Aurora tidak sanggup beli.

Tetapi, sekarang handphone impiannya ada di depan matanya.

Aurora tahu siapa yang membelikan handphone ini siapa lagi kalau bukan Gama.

Zara dan Khanza kembali seusai di kantin membawa roti dan air putih pesanan Aurora.

"Apa tuh?." Tanya Zara.

Aurora melengos membiarkan barang itu tergeletak di meja belajarnya tanpa membuka tutup handphone.

"Lah, kenapa dah."

Zara yang penasaran akhirnya membuka totebag, Zara memekik tertahan dengan gerakan heboh. Zara membuka totebag dan memperlihatkan kepada Khanza dan Aurora dengan tatapan tidak percayanya.

"RAA?!! DARI SIAPA INI HAH??!! ANJIRR COK HP MAHAL INI." Jerit Zara heboh.

"Kalem anjir, pelanin suara lo." Aurora menahan suaranya agar tidak terdengar oleh orang lain.

Zara hanya cengengesan tanpa dosa." Hehehe... maaf."

"Dari Gama Ra?." Tanya Khanza paling waras.

Aurora enggan menjawab memalingkan wajah untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.

"Heh Markonah!! malah tidur lagi lo."

Aurora yang merasa terganggu atas cerocosan Zara dengan kesal ia mencubit kecil pergelangan tangan Zara.

Zara meringis sakit."ADUHH SAKITT EHH."

Zara cemberut sambil mengusap tangannya yang mulai merah bekas cubitan Aurora yang mematikan.

Khanza yang sedari tadi menonton pertengkaran kedua temannya melengos malas.

"Tadi Gama ke sini Ra?." Tanya Khanza memang Khanza yang paling waras di sini.

Aurora menggeleng."Dia nggak ke sini, ada temen angkatan kita yang nganter ni hp ke gue waktu kalian ke kantin."

"Dia bilang ini dari Gama?." Tanya Zara sudah melupakan rasa sakit atas cubitan Aurora.

"Enggak.Tapi, gue tau ini dari Gama siapa lagi kalau bukan dia kan."

"Bener juga."

"Lo mau terima ni hp?." Tanya Khanza.

"Enggak... nanti gue balikin lagi sama tuh orang."

"Yah kenapa? lumayan eh bukan lumayan lagi, ini hp mahal anjir. Gama ganti no hp buluk lo sama hp mahal banget."

Aurora mendelik sinis mendengar Zara mengatai handphone pemberian ayahnya buluk.

Zara tersadar sudah mengatai handphone Aurora hanya cengengesan tidak jelas."Hehehe.... sorry."

"Gue sepulang sekolah bakal temui Gama."

"Okay deh... goodluck."

Akhirnya jam masuk kembali sudah berbunyi Aurora dan kawan-kawan mulai pembelajaran kembali.

Jam pulang sudah datang Aurora membereskan pelaratan sekolahnya ke kantong, Aurora ingin menemui Gama untuk kembalikan handphone yang Gama belikan untuknya. Aurora tahu Gama belum pulang karna Aurora melihat mobil Gama masih terparkir di parkiran sekolah.

Aurora duduk di pohon dekat mobil Gama menunduk karna sinar matahari menyengat seperti membakar kulit Aurora.

Setelah lima belas menit menunggu Gama sepasang sepatu mahal berdiri tepat di depan Aurora, Aurora yang sedang berjongkok mendongak melihat Gama yang menjulang tinggi menatapnya datar seperti biasa hanya ekpresi itu yang bisa Gama lakukan.

Aurora berdiri tangannya membersihkan roknya yang kotor dengan tangannya.

Aurora menyerahkan totebag pemberian Gama di hadapan Gama.

Gama diam saja tidak mengambil yang di sodorkan Aurora padanya.

"Aku kembali in."

"Enggak usah."

"Aku nggak mau." Tolak Aurora tegas.

Aurora ingin membawa tangan Gama untuk mengambil totebag tersebut.

Gama menghindar saat Aurora ingin mengambil tangannya.

"Buat lo, gue udah rusak in hp lo."

"Aku nggak bisa terima." Ucap Aurora keukeuh.

"Kenapa?."

"Hp ini mahal."

"Gapapa ambil, sebagai bentuk tanggung jawab gue karna udah rusak in hp lo. Gue juga minta maaf karna gue kelepasan waktu itu."

Aurora memalingkan wajahnya enggan membahas kejadian kemarin yang membuatnya sakit hati.

"Yaudah nih ambil."

Gama tetap keukeuh juga tidak mengambil kembali barang yang ia beri kepada Aurora

Aurora yang melihat respon Gama yang sama keukeuh dengan pendiriannya.

Aurora akhirnya meletakkan totebag itu di dekat pohon yang tadi Aurora duduki, dan tidak mengatakan apapun lagi Aurora berjalan pergi meninggalkan Gama yang hanya diam saja.

Tetapi, tangan Gama mencekal tangan Aurora menahannya supaya tidak pergi.

Aurora berbalik menatap Gama yang sedang mencekal tangannya, Aurora diam ingin tahu apa lagi yang ingin Gama sampaikan padanya. Tapi, Gama hanya diam saja tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.

Karna kesal Aurora menyentak tangan Gama kasar dan pergi di hadapan Gama.

Aurora berada di halte sekolah sedang menunggu angkutan umum.

"Hei, ngelamun aja nggak takut di rasuk in sama penghuni sini."

Aurora mendongak mengerutkan kening kenapa ada ketosnya di sini."Gapapa rasuk in aja."

Elvano tertawa ngakak.

Aurora mengerutkan alis heran melihat tingkat receh ketosnya ini.

"Apa sih." Ketus Aurora.

Elvano menghentikan tawanya meski masih ada sisa sisa tawanya."Lagi nunggu siapa sih?."

"Kepo."

"Iya ini gue kepo."

Aurora mengabaikannya kembali fokus mencari angkutan umum yang membawanya ke arah rumahnya.

Elvano bersuara kembali."Bareng gue aja."

"Nggak mau."

"Dih, nolak rejeki lo."

"Nggak peduli."

"Udah ayo sama gue aja pulangnya."

"Enggak!." Aurora masih keukeuh dengan pendiriannya menolak ajakan ketos SMA Mandala.

"Ya elah sama gue juga nggak akan gue culik anjir, daripada nunggu yang nggak dateng dateng dari tadi."

"Ini udah jam 5 loh mau magrib lo masih mau di sini ampe besok pagi?."

Aurora bergerak gelisah benar juga hari sudah semakin sore angkutan umum semakin sulit dan akhirnya karna terpaksa Aurora berjalan ke arah pintu mobil Elvano, Elvano terkekeh geli melihat tingkah Aurora yang gengsi tapi takut.

Elvano berjalan dan masuk ke mobilnya, mobil yang di kendarai oleh Elvano berjalan di kecepatan normal.

"Gue terpaksa ya naik mobil lo." Ujar Aurora mengingatkan.

Elvano terkekeh pelan mengangguk mengiyakan."Iya ndoro putri."

Aurora mendelik tidak terima karna Elvano seperti mengejeknya mencubit pergelangan tangan Elvano.

"Akhh, Sakit." Ringis Elvano.

Aurora memalingkan wajah tidak peduli.

Tanpa mereka sadari dari jarang tidak jauh dari halte sekolah mobil yang Gama kendarai melihat interaksi antara Aurora dan Elvano, Awalnya Gama ingin mengejar Aurora dan mengajaknya pulang bersama akan tetapi, Gama kalah cepat dengan ketos SMA Mandala.

Gama tanpa sadar mengetatkan tangan sampai urat tangannya menonjol di setir mobilnya tatapannya dingin, datar, dan—marah. Entah kenapa Gama tidak suka interaksi Aurora dengan lelaki lain selain dirinya.

1
Davina Aurora
bagus ka ceritanya😍
aurora: terima kasih☺
total 1 replies
T28J
hadiir kk🙏
aurora: terimakasih😊☺😍
total 1 replies
Wawan
Semangat ✍️
aurora: terimakasih 🤗🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!