Setelah mengetahui fakta tentang penghianatan orang yang paling di cintai, Florin Eldes memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, namun di akhir hayatnya, seseorang yang begitu ia benci dan selalu ia siksa dengan sadis malah menangisi kepergiannya dan berharap ia tidak mati. " Kenapa kamu ingin menolongku? padahal aku sudah menyiksamu selama ini. bukankah kematianku adalah hal yang paling kamu inginkan..." Florin menutup matanya untuk terakhir kali setelah mengucapkan kalimat itu. Tapi di saat ia mengira ia sudah mati, ia Malah kembali ke malam dimana ia bertunangan dengan pria yang ia cintai sekaligus pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perasaan aneh
Florin langsung masuk ke dalam kamarnya setelah menyapa bi Lily yang duduk di ruang tamu. Florin melepas selendang di lehernya, ia menatap pantulan dirinya di cermin besar di dalam kamar itu. Ia merasakan debaran aneh di dalam dadanya, tatapan Wilson padanya saat mereka tak sengaja berpelukan masih membekas di sana. Ia merasakan sesuatu dalam hatinya. " Apa...apa aku sudah jatuh cinta padanya?." ujar Florin dengan pelan. Ia kemudian kembali mengingat kata terakhir yang diucapkan Wilson saat ia sedang sekarat, ia sangat berharap jika kata yang keluar dari Wilson adalah sesuai dengan dugaannya.
" Florin sadarlah, kamu tidak pantas mencintai Wilson. Dia hanya pria baik dan polos yang sudah kamu siksa. Sebaiknya kamu biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Kamu hanya perlu menebus semua kesalahanmu dan tidak mengulanginya lagi. Lagipula niat mu kemari untuk meminta maaf, jadi jangan berpikir yang aneh aneh." ucap Florin pada dirinya sendiri di cermin.
Ia tahu jika saat ini hatinya merasakan debaran aneh, tapi ia merasa tidak pantas atas semua perasaan itu. Florin memutuskan untuk mandi dan mengganti pakaiannya.
Di tempat lain, kini Wilson sedang berbicara dengan Antony yang baru saja menjemputnya. Mereka berbicara di restoran yang tak jauh dari rumah bi Lily.
" Tuan, anda sepertinya sangat bahagia. Apa nona Florin tidak memperlakukan anda dengan kasar lagi? Saya sangat khawatir tuan. Sepanjang hari saya memikirkan nasib anda, tapi hari ini anda terlihat sangat bahagia." ujar Antony sambil menyeruput kopi hitamnya.
" Antony, kamu benar. Aku memang sedang berbahagia. Aku sudah menemukan jawaban dari semua doa doaku selama ini. Aku bisa melihat bagaimana Florin cemburu padaku. Sudah dipastikan dia memiliki perasaan padaku Antony." Senyuman tak pernah pudar dari wajah Wilson.
" Bagaimana bisa tuan, ceritakan padaku." Antony sangat penasaran sekarang.
" Ceritanya panjang Antony, kamu tidak akan mengerti." Wilson melipat kedua tangannya di dada sambil menatap ke arah Antony.
" Baiklah jika tuan tidak mau cerita, kalau begitu ceritakan saja apa yang terjadi di perusahaan hingga tuan meminta saya untuk menyembunyikan identitas tuan."
" Semuanya berawal dari situ Antony. Aku sudah berbohong dan semuanya akhirnya terjadi." ujar Wilson sambil terus tersenyum.
Antony hanya bisa ikut tersenyum, walaupun ia sangat penasaran tapi semuanya ia tahan. Yang terpenting sekarang Wilson tampak bahagia.
Lalu, Antony teringat dengan informasi yang akan ia sampaikan. Sebenarnya ia tidak ingin mengganggu momen bahagia Wilson, tapi ini adalah perintah dari ayahnya.
" Tuan, sebenarnya kedatangan saya kemari untuk memberitahu anda. Tuan besar meminta anda untuk menemuinya besok."
Seketika senyum Wilson memudar, ekspresinya kembali datar sama seperti sebelum sebelumnya, baru saja senyuman terukir di wajah Wilson, kini senyuman itu hilang lagi. Antony sangat merasa bersalah tapi ia tak bisa berbuat apa apa.
" Katakan padanya aku tidak ingin bertemu." ucap Wilson dengan dingin. Tersirat kemarahan yang sudah lama dipendam di balik sana.
" Baiklah tuan." ucap Antony yang tak ingin menambah masalah lagi.
Hari sudah malam, dan Wilson sudah pulang ke rumah bi Lily, ia memperhatikan sekeliling dan mencari sosok yang telah membuatnya begitu bahagia.
Wilson bertanya pada bi Lily tentang keberadaan Florin, setelah bi Lily mengatakan jika Florin di kamarnya, Wilson bergegas pergi ke kamarnya sendiri untuk berganti pakaian. Sebentar lagi waktunya makan malam, ia akan kembali melihat wajah Florin.
Setelah selesai bersiap siap, Wilson memutuskan untuk segera ke meja makan, namun di sana tak ada siapapun selain bi Lily.
Wilson memutuskan untuk menunggu, tapi Florin tak kunjung turun sementara jam makan malam sudah lewat.
" Tuan, biar bibi panggil nona Florin untuk makan." ucap Bi Lily.
" Tidak perlu Bi, biar Wilson saja." Wilson membawa nampan berisi makanan ke atas. Ia tahu jika Florin masih malu karena kejadian tadi siang. Maka dari itu ia sendiri yang akan mengantarkan makanan pada Florin.
.
.
Sementara itu, Florin yang baru saja selesai mandi mulai merasa lapar. Tapi setelah kejadian tadi siang ia mengurungkan niatnya untuk turun ke bawah. Florin sudah memutuskan untuk kembali ke New York besok pagi, ia juga sudah memesan tiket.
Tiba-tiba suara perutnya terdengar, seolah suara itu meminta makanan. Jujur saja saat ini ia begitu lapar. Tapi ia malu untuk bertemu Wilson, karena ia sudah marah pada Wilson tanpa alasan saat Wilson mengatakan tentang resepsionis yang ada di perusahaan Derelick. Florin akhirnya memutuskan menyelimuti tubuhnya agar segera tertidur.
Namun sesaat kemudian pintu kamarnya di ketuk dari luar. Florin tak punya pilihan selain membukanya. Mungkin saja itu bi Lily yang mengajaknya untuk makan. Tapi ternyata ia salah, yang datang adalah Wilson dengan nampan berisi makanan lagi.
" Nona, makanlah. Saya tahu nona lapar. Lupakan saja yang terjadi tadi siang, anggap saja itu tidak pernah terjadi." ujar Wilson. Ia tersenyum hangat ke arah Florin.
" Tapi Wilson, aku sudah marah tanpa alasan kepadamu. Aku..."
" Sudah, makanlah. Ini semua salahku nona." Wilson masuk ke dalam kamar, ia duduk di atas karpet dan meletakkan nampan nya di sana. Nampan itu berisi dua piring makanan.
" Ayo makan nona, saya juga belum makan." ajak Wilson.
"Wilson, kamu juga belum makan?." tanya Florin.
" Iya nona, saya menunggu nona untuk makan sama sama, tapi nona tidak turun. Saya sangat khawatir dan memutuskan untuk mengantarkan makanan kepada anda."
Florin terdiam. " Dia begitu polos dan baik, bahkan ia belum makan karena mengkhawatirkan ku." gumam Florin dalam hati.
Florin memutuskan untuk segera makan, namun pandangannya tak teralihkan dari Wilson. Pria itu benar benar memiliki tata Krama yang baik, sopan dan sangat menghargai. Entah mengapa jantung Florin kembali berdegup kencang.
Di sela sela makan malam yang sudah lewat jam makan malam itu, ponsel Florin berdering menampilkan nama ayahnya yang menelpon. Florin langsung mengangkat teleponnya.
" Halo ayah, bagaimana kabar ayah?." tanya Florin sambil mengunyah makanannya. Sementara itu Wilson hanya terdiam sambil menatap ke arah Florin sesekali.
" Ayah baik nak, kapan kamu kembali ke New York? Ayah sudah merindukanmu." ucap Daniel di seberang telepon.
" Aku akan kembali besok ayah. Aku juga rindu ayah." jawab Florin.
Sementara itu Wilson tersedak saat mengetahui jika Florin akan kembali besok ke New York.
Melihat Wilson yang tersedak membuat Florin dengan sigap memberikan minuman kepada Wilson. " pelan pelan makan nya Wilson." ujarnya.
" Ayah, sudah dulu ya kita bicaranya, aku sedang makan malam." Florin langsung mematikan sambungan telepon.
" Nona, apa benar nona akan kembali ke New York?."
" Iya Wilson, aku sudah memutuskan untuk kembali besok. Aku juga sudah membeli tiket pesawat." ucap Florin.
Wilson hanya terdiam, ia tak mungkin menahan Florin untuk kembali ke New York.
" Oh ya Wilson, bagaimana tawaranku apa kamu menerimanya?." tanya Florin sekali lagi untuk memastikan jawaban dari Wilson. Ia sangat berharap Wilson ikut dengannya dan bekerja di perusahaan ayahnya.
" Nona, saya tidak bisa menolak permintaan anda. Tapi saya ada urusan sebentar di sini, nanti saya akan menyusul nona ke New York." ucap Wilson dengan senyuman.
" Baiklah." terlihat senyum bahagia terukir di wajah Florin.
" Tapi... Bagaimana dengan teman mu itu? Apa kamu akan meninggalkannya?." tanya Florin ragu ragu.
" Nona, berhentilah membicarakannya. Dia hanya teman bagiku, tidak lebih."
Ucapan Wilson seolah membuat perasaan Florin merasa tenang. Seolah kekhawatiran di dalam sana mulai memudar. Ia tak mengerti, tapi satu hal yang ia tahu, jawaban Wilson adalah jawaban yang ia tunggu tunggu sejak tadi untuk menenangkan hatinya yang gelisah.
###
Ya ampun sepertinya sudah ada benih benih cinta di antara tuan Wilson dan Nona Florin. 🩷🩷