NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: annin

"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.

Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.

" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."

_________________________________________________

Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.

Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 15

Berita menyebar dengan cepat. Entah siapa yang mengabarkan pertama kali, tapi foto-foto Dewa yang datang ke rumah sakit bersama manager dan seorang wanita bercadar menjadi topik hangat keesokan paginya. Banyak yang menerka-nerka, mulai dari artis sinetron yang dulu pernah dekat dengan Dewa sampai influencer yang pernah dikabarkan dekat juga dengan Dewa. Bahkan ada yang menebak jika itu adalah Sherly—wanita bersuami yang dikabarkan punya hubungan spesial dengan Dewa.

"Lo, udah lihat berita pagi ini, kan?" tanya Luky.

"Biarin aja, semakin banyak yang memberitakan justru semakin baik. Berita dengan Sherly lama-lama akan terkubur. Tertutup berita kemunculan Rea."

"Lo bener, sih. Memang itu yang kita harapkan. Pokoknya semua harus sesuai rencana, Wa."

"Hmm ...."

Luky menoleh. "Gitu aja tanggepan lo?"

"Terus gue harus gimana? Udah buruan berangkat!"

Luky dengan raut malasnya mulai mengemudikan mobil Alphard hitam milik Dewa. Dia memang selalu ikut ke mana pun Dewa pergi, bahkan mengantar Dewa ke setiap lokasi syuting. Pagi ini mereka akan datang ke rumah produksi lebih dulu. Menyelesaikan soal kontrak film baru yang ditawarkan pada Dewa.

"Wa, lo yakin nggak bakal jatuh cinta sama Rea entar kalau udah nikah? Secara Rea cukup cantik." tanya Luky di tengah perjalanan. Dari pada diam saja ia selalu mencari topik agar perjalanan mereka tidak sepi.

"Gue sama dia cuma nikah settingan doang. Nanti kita bakalan cerai."

"Ya gue tahu itu, kan emang itu rencana kita. Tapi apa lo bisa jamin kalau lo nggak akan jatuh cinta sama Rea?"

Dewa hanya mengangkat kedua bahunya. Ia pun tak bisa tahu nantinya akan seperti apa. Yang pasti ia mau masalahnya selesai.

Perbincangan berlanjut tentang kontrak film yang akan ia lihat nanti. Bagaimana ceritanya sampai berapa nilai kontrak itu.

Baru sampai di parkiran rumah produksi Dewa langsung disambut oleh para pencari berita. Mereka harus tahu tentang berita yang sudah heboh di dunia maya.

"Mas Dewa, siapa wanita yang bersama Mas Dewa kemarin, Mas?" tanya seorang wartawan begitu dewa turun dari mobil.

"Iya, Mas. Apa calon istri Mas Dewa?" ujar wartawan lainnya.

Situasi seperti ini audah sering Dewa alami. Dan di sinilah tugas Luky, mengamankan Dewa agar bebas dari para wartawan.

"Sudah ya semuanya, Dewa mau masuk dulu, Ok." Luky menyibak kerumunan, mencari jalan keluar untuk Dewa agar tidak telat masuk ke kantor rumah produksi.

"Sebentar saja Mas Dewa. Beri klarifikasi," ujar wartawan lainnya.

Luky pun sigap. Ia mencari jalan untuk Dewa agar bisa segera masuk ke kantor.

*****

Di apartemen, Rea kembali merasa bosan. Setelah kemarin sempat diajak jalan-jalan usai menjenguk maminya Dewa.

Sampai saat ini ia belum cerita pada siapa pun tentang ia dan Dewa. Juga tentang pernikahan settingan yang mereka rencanakan.

Rea benar-benar merasa sendiri. Ia sungkan untuk menelepon Hana. Ia takut tak bisa berbohong jika nanti temannya itu bertanya macam-macam tentang dirinya sekarang ini.

Sementara kakak iparnya tak lagi menelepon sejak ia memberikan uang untuk biaya hidup sebulan serta biaya pengobatan Rusli.

"Sebentar," teriak Rea saat mendengar bunyi bel. Biasanya kurir pengantar makanan yang datang. Tapi Rea belum memesan apa pun untuk makan malam hari ini.

"Mbak Rea?" sapa seorang kurir yang membawa beberapa kotak makanan.

"Iya," jawab Rea.

"Ini pesanannya, Mbak."

"Maaf tapi nggak pesan apa pun." Rea bingung.

"Tapi ini untuk Mbak Rea."

"Sebentar, Pak." Sebuah notifikasi pesan dari Dewa membuatnya tahu jika Dewa yang memesan untuknya.

"Oh iya, Pak, ini untuk saya. Terima kasih, Pak," ujar Rea saat menerima makanan.

Rea menenteng tiga kantong plastik dan meletakkannya di meja. Ia mengeluarkan semua isi kantong itu. Ada martabak manis dan gurih, ada nasi padang dengan lauk komplit, ada juga jus buah. Bahkan ada tiga cup jus yang dibeli Dewa.

"Banyak banget. Masak aku harus habiskan ini semua," gumam Rea.

Ia baru berpikir bagaiman cara menghabiskan semua makanan ini saat bel kembali berbunyi.

"Siapa lagi, sih?" Dengan langkah berat Rea berdiri untuk membuka pintu.

"Assalamualaikum, Rea," sapa Luky dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.

"Pak Luky, Pak Dewa." Rea cukup kaget dengan kedatangan mereka.

"Makanannya udah datang?" tanya Dewa yang langsung ngeloyor masuk.

"Udah, Pak."

"Ya udah, ayo kita makan!" ajak Dewa.

Rea bisa tenang, akhirnya semua makannya tidak akan mubazir.

Mereka makan dengan lahap, terutama Luky. Ia sangat kelaparan karena tadi siang ia tak makan.

Selesai makan, Dewa langsung mengajak bicara serius dengan Rea. Disaksikan oleh Luky.

"Ini surat yang lo minta." Dewa memberikan sebuah amplop cokelat pada Rea.

Rea sudah menebak isinya. Pasti surat perjanjian yang ia minta semalam. Rea mengusulkan membuat surat ini untuk ia jadikan pegangan jika omongan Dewa bisa dipercaya.

"Lo baca aja dulu poin-poinnya, kalau ada yang musti dirubah nanti dirubah aja, kalau memang semua sudah sesuai, kita segera atur pernikahan."

Sesuai arahan Dewa, Rea membuka dan membaca surat itu.

Banyak poin di sana, termasuk tidak boleh ada hubungan badan di antara keduanya. Juga tempo pembayaran uang 2M yang duli Rea minta.

"Sudah sesuai?" tanya Dewa.

Rea mengangguk.

Keduanya menandatangani surat bermaterai itu. Disaksikan oleh Luky.

Bahkan Luky yang menyimpan surat itu nantinya.

"Ini gue simpan, ya?" ujar Luky. Memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop.

"Gimana nanti kalau kalian jatuh cinta?" tanya Luky .

Rea dan Dewa saling tatap. Pertanyaan Luky sungguh di luar prediksi mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!