NovelToon NovelToon
Rebith: Gadis Beracun Kesayangan Bos Mafia.

Rebith: Gadis Beracun Kesayangan Bos Mafia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Dikhianati... Kemudian dibunuh...

Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.

Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.

"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.

"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.

Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Pindah.

Arena pertarungan bawah tanah yang biasanya selalu diisi oleh para petarung demi mendapatkan uang taruhan kini tampak kosong. Tidak ada sorakan penonton yang menggema, tidak ada kekerasan berlebih di arena, hanya ada dua orang berbeda gender yang kini berdiri saling berhadapan dikelilingi pagar berkawat.

Udara di sekitar terasa pengap, campuran darah, keringat, rokok dan disinfektan murah yang gagal menutupi semuanya. Lantai betonnya tampak basah, tapi bukan air, melainkan noda coklat kehitaman yang sudah mengering -jejak petarung yang gagal dibersihkan- memberikan ilusi lantai basah sempurna.

Di satu sisi arena, Lea berdiri dengan rambut terikat, mengikat perban yang di tangan kirinya -sarana sederhana untuk menghindari cedera-, menatap lawan tanding yang berdiri tegap dalam jarak beberapa langkah di depannya, lalu menghembuskan napas cepat. Tanda ia sudah siap.

Di sisi berlawanan, Markus menunggu dalam posisi siap. Menatap wanita yang sudah membuat dirinya mendapatkan tugas tambahan sebagai lawan latih tanding selain Donantello.

Sementara di luar arena, Donantello berdiri bersama Thalia. Mengawasi.

"Maju." Markus berkata dengan suara rendah.

Begitu satu kata itu keluar dari mulut pria berbadan besar di depannya, Lea menerjang maju. Mengayunkan kepalan tangannya, mengincar setiap titik lemah dengan keakuratan sempurna. Menangkis, menghindar dan menyerang balik setiap serangan yang datang.

Meski pelatihan yang ia jalani bersama Donantello tergolong singkat, metode Donantello yang fokus pada ketahanan fisik membuat reflek Lea jauh lebih baik. Tapi tetap saja, pengalamannya dalam bertarung hanyalah seujung kuku jika dibandingkan dengan Markus.

Lea lengah.

Saat ia berpikir berhasil menghindar serangan, menangkis serangan berikutnya dengan berputar ke belakang tubuh Markus, dan berniat melumpuhkan pria itu dengan menghilangkan keseimbangannya. Siku Markus bergerak presisi dan menghantam wajah Lea.

Lea terdorong mundur beberapa langkah sambil menutupi wajahnya, punggungnya nyaris membentur pagar kawat.

"Berhenti!" seru Donantello segera masuk ke arena, menghentikan latihan dan membantu Lea menegakkan tubuh.

"Latihan selesai, aku obati dulu lukamu," ucap Donantello lagi, suaranya rendah tidak menerima bantahan.

Thalia tidak diam. Ia mengikuti langkah Donantello saat pria itu menuntun Lea berjalan menuju ruang pribadi yang dulu pernah ia masuki saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini.

Lampu ruangan menyala. Ruangan pribadi Donantello yang biasanya setengah gelap kini menjadi lebih terang. Tangan Donantello cekatan mengompres wajah Lea menggunakan handuk kecil yang ia basahi air hangat. Gerakannya hati-hati, tapi tegas. Gerakan seorang paman yang kesal karena keponakannya keras kepala.

"Kau terlalu gegabah," gumam Donantello pelan. "Sudah tahu Markus memiliki badan sebesar itu, tapi kau justru mengumpankan diri dengan berada di belakangnya. Sekarang ini yang kau dapat."

"Shhh ..." Lea meringis pelan, menahan perih.

Donantello mendesah pelan. "Markus itu tangan kananku. Dia tidak akan menahan diri hanya karena kau keponakanku atau aku yang memberinya perintah untuk menemanimu latihan."

Thalia yang duduk di sofa di depan mereka mendengus. "Kau terlalu memaksakan diri, Lea. Kita masih memiliki banyak waktu untuk-"

"Tidak." Lea memotong cepat. "Aku tidak memiliki waktu sebanyak itu. Aku harus bisa meningkatkan kemampuan beladiriku dan membuat Angkasa percaya jika aku layak menjadi tangan kanannya."

Nama itu membuat Donantello diam sejenak. Ia menarik handuknya. "Angkasa bukan sosok yang seharusnya kau dekati, Lea."

"Tapi aku harus," tegas Lea.

"Untuk apa? Kenapa kamu sekeras kepala ini? Apa yang kamu incar darinya?" cecar Donantello. "Jika itu tentang lelang, aku bisa memberikan uang sebanyak-"

Lea menggeleng, memutus instan kalimat yang Donantello ucapkan. "Saat aku datang menemui Paman pertama kali, Paman sudah tahu apa yang terjadi pada orang tuaku kan?"

Donantello mengangguk. "Kecelakaan."

"Firasatku mengatakan itu bukan kecelakaan, tapi disengaja. Semua yang orang tuaku tinggalkan untukku terlalu sempurna. Dan aku membutuhkan Angkasa untuk mencari kebenaran," jawab Lea.

Donantello menghela napas panjang. "Kalau begitu, pulanglah. Kompresnya sudah cukup. Malam ini kamu pindah ke kandang Angkasa bukan?"

Lea mengangguk. Ia berdiri, menyentuh wajahnya yang masih terasa nyeri. Terima kasih, Paman."

"Oh ya ..." Lea urung beranjak, kembali menatap pamannya. "Apakah Paman sudah mendapatkan hasilnya?"

"Jejak tentang orang yang menyelamatkanmu dan membawamu ke rumah sakit setelah kau tenggelam bersih, lebih tepatnya sudah dihapus. Aku tidak mendapatkan apapun," jawab Donantello.

"Begitu ya," Lea mendesah kecewa. "Ya sudahlah. Aku minta tolong antar Thalia pulang ya, Paman."

"Aku tahu. Pergilah. Sopir sudah menunggumu di luar," sahut Donantello.

Lea mengangguk, lalu beralih menatap sahabatnya. "Aku pergi ya, Lia. Kabari aku jika kamu sudah di rumah."

Thalia hanya melambaikan tangan. "Hati-hati dengan bos barumu ya. Jika dia aneh-aneh, racuni saja. Aku akan jadi orang yang pertama kali datang untuk tertawa."

Lea tergelak singkat, lalu keluar. Meninggalkan Donantello dan Thalia yang saling pandang.

"Paman yakin akan membiarkannya? Bukankah Angkasa terlalu berbahaya?" tanya Thalia.

Donantello menatap pintu yang baru saja ditutup. "Dia terlalu keras kepala. Semakin aku keras padanya, semakin nekat dia. Dia sudah memilih. Tugas kita sekarang adalah memastikan dia cukup kuat untuk pilihan itu."

.

.

.

Lea melihat mobil terparkir di depan rumahnya saat ia tiba. Di samping mobil itu, Marco segera menegakkan tubuhnya begitu sosok Lea terihat. Dia tidak menyapa, hanya membungkuk singkat. Tanpa senyum, tanpa kesan hangat.

"Aku datang untuk menjemputmu," ujarnya datar.

"Beri aku waktu sebentar untuk mengambil barangku," ucap Lea, lebih ke sebuah penyataan, bukan permintaan.

Marco mengangguk.

Lea berjalan melewati Marco, masuk ke dalam rumahnya sendiri untuk mengambil ransel yang sudah ia siapkan sebelumnya, kemudian keluar.

"Hanya itu?" Marco mengerutkan kening, melihat ransel yang tak seberapa besar di tangan Lea.

"Ya," jawab Lea singkat.

Marco hanya memberikan anggukan samar, masuk ke mobil yang segera diikuti Lea, kemudian melajukan mobilnya.

Hening...

Tak ada suara apapun selain deru halus dari mesin mobil yang memecah keheningan, bahkan sampai mobil itu berhenti di depan pintu utama mansion, tak ada satu katapun yang keluar dari mulut keduanya.

Pintu mansion terbuka, lampunya bersinar terang.

Angkasa duduk di sofa ruang tamu dengan tab menyala di tangannya. Ia mendongak, menghentikan sejenak kegiatannya saat suara pintu dibuka menggema dan melihat sosok Marco berjalan bersama Lea di sampingnya.

Awalnya, wajah Angkasa tetap datar seperti biasa. Namun, begitu jarak antara dirinya dan Lea terkikis, rahangnya mengeras melihat memar di wajah Lea.

Dia meletakkan tab dengan sedikit dihentakkan dengan gerakan yang ...terlalu tenang.

"Mendekat."

Hanya satu kata. Tajam. Dingin, dan tidak bisa dibantah.

. . . .

. .. .

To be continued...

1
Dewi Payang
Akupun akan bereaksi sama jika jadi Thalia😂
Dewi Payang
Mantap Lea👍🏻
🌸Sakura🌸
wow
Zenun
Vito sangat mudah dijebak karena dia pemain wanita
j4v4n3s w0m3n
rayuan mematikan bener bener lea ngeri ngeri sedep🤣🤭👍
aku
si Lea ngeri2 sedep 🙄🙄
vania larasati
lanjut
Zhu Yun💫
Yakin akan melepasnya pergi nih 🤧🤧🤧 nanti anu loh 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Rugi kalau nggak bawa ke ranjang duluan, nanti nyesel loh 🤣🤣🤣🔥🔥🔥
〈⎳ FT. Zira: jangan ada anu dulu diantara kita🤧🤧
total 1 replies
Zhu Yun💫
Yang ada burung mu siap-siap dipotong iya 🤣🤣🤣
〈⎳ FT. Zira: hilanglah masa depan😭
total 1 replies
Zhu Yun💫
Angkasa mengalami reinkarnasi juga kah... /Slight//Slight//Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira: entahlah🤣🤣
total 1 replies
Zhu Yun💫
Kalau ingin naik ke atas ranjangmu dikasih ijin nggak 🤭🤭🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Maklum, Lea pengen ngintip kamu mandi 🤣🤣🤣✌️
Zhu Yun💫
Ya itu kan modusnya Angkasa juga 🤣🤣🤣
Zenun
hayolooo, nanti Lea dilirik sama bos lain
〈⎳ FT. Zira: hayolooo🤣
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
sepertinya mulai anuuuhhh
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😂😂😂😂😂
total 4 replies
vania larasati
lanjut
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
setiap ada model baju, rambut, penampilan atau apapun itu, selalu q gugel, krn pengetahuanku yg minim ttg fashion
〈⎳ FT. Zira: 🤣🤣 giliran nongol lagi, nyari lagi.. baru ngeh,, oh iya inii🤣
total 5 replies
j4v4n3s w0m3n
keren lea sedep.betul di pandang bang angkasa kesemsen tu...lanjut dech
〈⎳ FT. Zira: siap lakukan apa aja demi cinta ya kak🤣
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻTͩeͤaͮrͥsᷝ✍️⃞⃟𝑹𝑨👑
smpe naik lagi ke bab selanjutnya 😮‍💨 aku kira aku yang lier kok naskahnya diulang /Facepalm/
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻTͩeͤaͮrͥsᷝ✍️⃞⃟𝑹𝑨👑: kebanyakan anuu😭😭🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!