NovelToon NovelToon
Layu Sebelum Mewangi

Layu Sebelum Mewangi

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Single Mom / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: miss tiii

" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.

Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wangi yg Muncul dari Lumpur

Pasar Induk di jam tiga subuh adalah dunia yang liar. Suara truk bongkar muat, teriakan kuli angkut, dan aroma sayuran busuk bercampur tanah basah menjadi musik latar hidup Arumi sekarang. Ia tidak lagi memakai gaun halus; ia mengenakan celana kain longgar, kaos lengan panjang, dan celemek plastik hitam.

Di punggungnya, Kinan yang kini berusia satu tahun terlelap dalam gendongan kain jarik yang diikat kuat. Arumi sedang sibuk menyusun berpeti-peti tomat dan cabai di lapak kecil yang ia sewa dari sisa tabungannya cuci piring.

"Rum! Ada kiriman cabai merah dari tengkulak, mau ambil berapa?!" teriak Mang Dadang, juragan sayur sebelah.

"Ambil semua, Mang! Tapi bayarnya tempo ya, sore nanti setelah laku!" Arumi menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang kasar.

"Beres! Kamu mah jujur, saya percaya!"

Arumi tersenyum. Senyumnya kini kuat. Ia tidak lagi bertanya pada laki-laki "besok kita makan apa?". Ia tahu besok mereka makan apa, karena ia sendiri yang menjemput rezeki itu.

Tiba-tiba, sesosok bayangan berdiri di depan lapaknya. Bayangan yang sangat ia kenal—kusam dan lesu. Baskara.

Pria itu berdiri di sana dengan kemeja yang sudah berubah warna jadi kekuningan. Ia melihat Arumi yang sedang memindahkan peti kayu dengan cekatan. Baskara tampak asing di tengah keriuhan pasar yang kotor.

"Ngapain Mas ke sini?" tanya Arumi tanpa menghentikan pekerjaannya.

Baskara menatap Kinan yang bergerak gelisah di punggung Arumi. "Aku lewat saja tadi habis dari rumah teman. Ternyata benar kata orang, kamu jualan di sini. Kumuh, Rum. Bau."

Arumi tertawa, tawa yang lepas dan tidak lagi mengandung rasa sakit. "Kumuh bagi Mas, tapi wangi bagi aku. Bau sayuran ini lebih baik daripada bau asap rokok dan janji kosong di rumah Mas."

Baskara bergeming. Ia merogoh saku, namun tangannya kembali kosong. "Rum... aku lapar. Boleh pinjam uang? Janji, nanti kalau aku sudah kerja di kantor yang kemarin..."

Arumi berhenti bergerak. Ia menatap Baskara lurus-lurus. Pria berusia hampir empat puluh tahun ini masih memainkan kaset rusak yang sama. Tidak ada rasa malu untuk meminta pada mantan istri yang sedang menggendong anak di tengah pasar subuh-subuh.

"Mas ke sini bukan untuk lihat Kinan, kan? Mas ke sini karena perut Mas lapar," bisik Arumi.

"Ya... kan Kinan juga anakku. Masak kamu tega?" gumam Baskara pelan.

Arumi mengambil sebuah tomat yang sudah agak lembek dari peti bawah. Ia meletakkannya di telapak tangan Baskara.

"Itu untuk Mas. Gratis. Tapi jangan minta uang padaku," kata Arumi tegas. "Uang ini hasil keringatku untuk susu Kinan. Setiap rupiahnya berharga. Kalau Mas mau uang, tuh... di sebelah sana butuh tenaga angkut sayur. Satu peti sepuluh ribu. Mas mau?"

Baskara melihat ke arah tumpukan peti yang berat dan kuli-kuli yang bertelanjang dada penuh keringat. Ia langsung membuang muka. "Capek, Rum. Tidak level."

"Kalau begitu, silakan pergi dari lapak saya, Mas. Mas menghalangi pembeli," usir Arumi dingin.

Baskara menggerutu pelan, memasukkan tomat lembek itu ke sakunya, dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi pada Banyu yang mulai terbangun dan menangis. Pria itu pergi mencari "ketenangan" lain, menghindari kerja keras yang ia anggap merendahkan martabatnya.

Tante Sari datang tak lama kemudian, membawa botol susu hangat untuk Kinan. Ia melihat punggung Baskara yang menjauh.

"Si Benalu itu ke sini lagi, Rum?" tanya Tante Sari geram.

"Biarkan saja, Tante," jawab Arumi sambil menggendong Kinan ke depan untuk disusui. "Dia itu masa laluku yang sudah mati. Aku tidak punya waktu untuk mengurus orang yang memilih untuk tetap jadi mayat hidup."

Arumi menatap matahari yang mulai terbit di ufuk pasar. Ia merasa lelah, sangat lelah. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bebas. Ia bukan lagi kuncup yang terkurung di rumah gelap. Ia adalah bunga liar yang tumbuh di tengah lumpur pasar, bersiap untuk mekar dengan kekuatannya sendiri.

# jangan lupa komennn biar tambah semangatt

1
Diana Bellusi
bagus ceritanya q suka💪
miss tiii: halooo kakk, jangan lupa vote yaaa , salam kenalll🙏🤭
total 1 replies
Emily
dah baskara gak usah harap Arumi lagi pigi kerja jadi kuli buat ngisi perutmu
Emily
kerja baskara jangan ngintipin arumi aja
Emily
lha baskara itu pernah berjuang apa
Emily
nah gitu dong Rumi
Emily
ah ngomong aja kau Rumi..makin banyak kau ngomong makin mentiko lakikmu
Emily
si Arumi kan udah pernah ngomong begitu jgn sampe berkali kali ngomong begitu tapi tetap masih mengharap laki mokondo
Emily
lha Arumi di tinggal saja laki begitu..malah balik lagi
Emily
baskara kerja apa kok modelnya begitu.. bpak nya Arumi juga salah kenapa menjodohkan anaknya dgn leleki gak jelas
Emily
semangat
Yuli Yanti
sbetulnya nama anaknya Bayu apa Kinan. bingung aku
miss tiii: Kinan Buu , episode berapa yg masih nama Bayu biar saya ganti , makasihh atas komentarnya 🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!