Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!
Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.
Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.
Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
015~ Cerita Masa Lalu
"Bao, kau adalah sistem yang baik. Kurasa, jika kau adalah manusia dan memiliki perasaan, aku akan jatuh cinta padamu."
"Inang, pikiranmu sudah eror."
Lin Xia Mei terdiam, ia menatap jendela kamar dengan mata berkaca-kaca.
"Setelah kembali ke duniaku, ku harap aku tidak merasa kesepian lagi." gumamnya pelan.
"inang, Bao mendeteksi Tokoh utama ada di dekat sini."
"Oh, baiklah. Aku harus cosplay jadi perempuan jahat lagi." Lin Xia Mei menyeka air matanya dan kembali menyetel ekspresi dingin.
Benar saja, handle pintu bergerak ke bawah tanda pintu dibuka, terlihat Wei Zhu Chen masuk ke dalam kamar dengan wajah lelah.
"Xia Mei..." panggilnya dengan suara lemah dan serak.
Lin Xia Mei tidak merespon, ia justru berselonjoran dengan santai lalu memegang ponselnya, mengabaikan suaminya.
Wei Zhu Chen tidak protes, ia meletakkan tas kerja dan segera berganti pakaian, setelah itu ia naik ke atas ranjang, duduk di sebelah Lin Xia Mei.
"Hari ini aku sedang sangat lelah. Aku merindukan belaian lembutmu, istriku." ujar Wei Zhu Chen dengan mata memelas.
Lin Xia Mei menangkap pemandangan itu melalui ekor matanya dan bergegas memalingkan wajah. Bukan karena benci, tapi ia takut akan terpengaruh.
"Aku sedang tidak ingin disentuh," tolak Lin Xia Mei, ia tetap dengan posisi memalingkan wajah.
Wei Zhu Chen menghela napas pelan, matanya sendu dan akhirnya memilih merebahkan tubuhnya. Ingatannya memutar kenangan saat baru menikah. Lin Xia Mei sangat patuh kepadanya, jangankan mengeluh lelah, melihat dirinya pulang dengan langkah gontai saja Lin Xia Mei akan segera merangkul, memeluk bahkan menghiburnya.
Wei Zhu Chen menatap langit-langit kamar.
"Istriku, kau ingat tidak? Dulu kita sering berbagi cerita kegiatan kita dalam sehari. Kita sudah lama tidak bertukar cerita."
"Lalu?" tanya Lin Xia Mei dengan masih menggeser video di layar ponsel.
"Bagaimana kalau kita malam ini kembali melakukan rutinitas kita dulu?"
Lin Xia Mei terbelalak, ia menelan ludah. Pikirannya sudah kemana-mana, ia berpikir rutinitas yang dimaksud adalah memadu kasih diatas ranjang.
"Sudah ku katakan, aku tidak mau disentuh!" bentaknya.
Wei Zhu Chen mengangkat alisnya.
"Rutinitas kita tidak hanya sebatas berhubungan intim. Istriku, apa kau sudah melupakan semua tentang kita?"
Malu sudah Lin Xia Mei.
"O-Ohhh. Lalu rutinitas apa yang kau maksud?" tanya Lin Xia Mei agak gugup karena malu.
"Bertukar cerita, seperti dulu saat kita belum berada di puncak kejayaan ini."
"Cari saja orang yang bisa berdongeng, Zhu Chen. Aku tidak minat." tolaknya.
"Kau ini jangan banyak mau, Zhu Chen. Masih untung kau tidak kusuruh tidur di kamar lain."
Lagi-lagi Wei Zhu Chen harus kecewa.
Lin Xia Mei memilih merebahkan tubuh dan memunggungi Wei Zhu Chen, ia memejamkan mata bersiap tidur.
"Suatu hari, aku sedang terpuruk. Sebab Ibu dari anakku memilih pergi bersama pria lain karena tidak sanggup lagi bersamaku yang ekonominya tidak stabil." Wei Zhu Chen bercerita, Lin Xia Mei mendengar namun tetap berpura-pura tidur. Ia pun sudah tahu permasalahan Wei Zhu Chen dan Lin Xia Mei masih ingat dimana tempat tinggal mantan istri Wei Zhu Chen saat ini.
"Dia meninggalkan kami saat Wei Ji Xiang masih berusia 11 bulan, aku membesarkannya seorang diri sambil bekerja di kantor yang penuh tekanan. Uangku hampir tidak cukup karena harus menyewa jasa orang untuk menjaga anakku selama aku bekerja. Satu tahun berlalu, aku mulai mencoba merintis usaha sendiri namun tetap gagal, mengalami kerugian dan tidak memiliki sandaran. Untuk menghilangkan stress yang menumpuk, aku dan Wei Ji Xiang pergi berlibur ke pedesaan yang cukup terkenal karena lingkungan yang asri serta penduduk yang ramah."
Wei Zhu Chen menghela napas pelan sambil terus menatap langit-langit kamarnya, ia tersenyum kecil sebelum melanjutkan ceritanya.
"Di desa itu ada sebuah danau yang tidak terlalu besar, katanya itu spot terbaik untuk menghilangkan penat, dari sana kita bisa menyaksikan matahari terbenam dibalik bukit, sangat indah. Wei Ji Xiang masih kecil, namun anak itu cukup pengertian, dia tidak berlari kesana kemari dan hanya duduk menemani Ayahnya yang sedang dirundung masalah. Sore itu cuaca mendadak mendung, kami tidak membawa persiapan untuk masalah hujan, kebetulan hari itu juga di danau tidak banyak orang berlalu-lalang, mungkin mereka sudah beristirahat di rumah. Hujan mulai turun, aku menutupi kepala Wei Ji Xiang dengan tanganku agar kepalanya tidak terkena air hujan secara langsung. Baru saja kami berdiri, seorang gadis cantik menyodorkan payung padaku, menyuruhku memakai payung dan tidak perlu mengembalikannya."
Lama-lama mendengar cerita Wei Zhu Chen, rasa kantuk menyerang Lin Xia Mei, ia menguap kecil.
"Zhu Chen, aku sudah tahu. Jangan berisik lagi, aku mau tidur." kata Lin Xia Mei dengan nada ketus.
Perlahan mata Lin Xia Mei lengket seperti terkena lem, kesadarannya mulai pudar, napasnya mulai pelan dan teratur.
Wei Zhu Chen tersenyum lalu mengelus pelan lengan Lin Xia Mei.
"Gadis itu sekarang sudah menjadi istriku," Wei Zhu Chen berbisik di telinga Lin Xia Mei, bisikan itu berhasil mengganggu tidur Lin Xia Mei.
Di wajahnya muncul semburat merah tipis saat Wei Zhu Chen membisikkan kalimat tersebut di telinganya, namun ia tetap tidak membuka mata.
"Wei Zhu Chen sialan." umpat Lin Xia Mei dalam hati.
Wei Zhu Chen menyadari ada perubahan warna pada pipi istrinya, ia tersenyum bahagia. Ia tidak berani mengganggu tidur istrinya, jadi ia memilih menatap punggung istrinya sampai ia tertidur menyusul Lin Xia Mei.
"Aku sudah tahu awal pertemuan Lin Xia Mei dengan Wei Zhu Chen, tapi tetap saja aku terpancing sampai tersipu, cih." batin Lin Xia Mei.
Lin Xia Mei membuka mata saat mendengar Wei Zhu Chen mendengkur pelan. Ia bangkit duduk dengan pelan, nuraninya memerintah Lin Xia Mei agar melihat ke arah Wei Zhu Chen.
Wajah tampan itu sedang terlelap, dengkur pelan terdengar.
"Dia terlihat sangat lelah," gumam Lin Xia Mei dengan suara sangat pelan nyaris berbisik.
Menyadari dirinya sedang kasihan pada Wei Zhu Chen, Lin Xia Mei segera menggeleng dengan cepat.
"Tidak, tidak! Jangan terpengaruh, Lin Xia Mei. Ingatlah, kau akan mati ditangannya!"
Lin Xia Mei berdecak kemudian mengambil guling lalu meletakkannya ditengah mereka sebagai pembatas.
"Lebih jahat lebih baik!" serunya pelan, ia pun kembali berbaring dan menuju alam mimpi.
Cahaya bulan masuk ke kamar melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, cahaya bulan itu menyinari wajah Lin Xia Mei yang sudah terlelap. Wei Zhu Chen membuka mata, ternyata tadi dia hanya pura-pura tidur. Ia memandangi wajah cantik Lin Xia Mei, parasnya bertembah indah setelah terkena sinar bulan.
"Aku merasa kau bukan lagi Lin Xia Mei yang dulu, sayangku." gumamnya pelan.