Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butuh Lebih dari Sekedar Bau Parfum
Pemakaman ibu Arumi dilakukan keesokan harinya. Banyak tamu berdatangan melayat, memberi ucapan belasungkawa. Ayah dan ibu mertua Arumi sudah datang semalam saat Ardi mengabari mereka. Ibu Ardi terlihat selalu mendampingi Arumi dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Terlihat beberapa kali ibu Ardi mengusap punggung Arumi lembut ketika tangis Arumi pecah saat mendapat ucapan belasungkawa dari pelayat.
Setelah acara pemakaman selesai, masih ada beberapa orang yang datang ke rumah ibu Arumi untuk takziyah. Hingga sore hari, tamu masih banyak yang berdatangan. Sanak saudara masih banyak yang tinggal untuk menemani Arumi. Malam harinya diadakan acara pengajian dan kirim doa untuk kedua orangtua Arumi yang telah tiada. Selama acara pengajian, airmata Arumi tak berhenti mengalir. Ibu Ardi masih setia menemani anak mantunya yang sedang bersedih itu.
Setelah acara pengajian selesai, rumah Arumi kembali sepi. Hanya ada ayah ibu mertua, Ardi, Kayla, Bi Ijah, dan dua orang tante Arumi yang merupakan adik dari almarhumah ibunya.
"Makasih, Tante, udah mau nginep," ucap Arumi pada Tante Sari.
"Iyaaa... Kami temenin kamu sampe kamu pulang," kata Tante Sari. Arumi tersenyum.
"Makasih banyak, Tante," ucap Arumi sekali lagi.
"Kalo kamu pulang ke rumah Ardi, rumah ini jadi kosong dong?" tanya Tante Rina.
"Iya, Tante. Nanti Arumi pikirin dulu mau dikontrakan apa dibiarin kosong aja," kata Arumi.
"Dikontrakin juga nggak apa-apa. Daripada kosong, ya kan Mbak Rin?" kata Tante Sari.
"Iya. Letaknya juga strategis. Pasti banyak orang mau. Lumayan buat nambah-nambah jajan Kayla," kata Tante Rina.
"Iya, Tante. Nanti kalo udah longgar Arumi pilah-pilah barang dulu, biar kalo dikontrak orang, udah nggak ada barang pribadi lagi," kata Arumi. Kedua tantenya manggut-manggut setuju.
"Ya udah, kamu istirahat aja. Capek seharian banyak tamu," kata Tante Sari yang diikuti anggukan dari Tante Rina. Arumi tersenyum.
Kedua tante Arumi lalu berlalu menuju dapur, membantu Bi Ijah yang masih sibuk mengurus beberapa perabot dan makanan.
Arumi berjalan memasuki kamar ibunya. Sunyi. Masih tersisa bau minyak angin yang sering digunakan ibunya. Arumi duduk di tepi tempat tidur ibunya, menatap setiap sudut kamar itu dengan perasaan berat.
"Istirahat, Rum," kata Ardi yang sudah berdiri di ambang pintu kamar ibu Arumi. Ada kelembutan di nada suaranya. Arumi diam.
"Aku sendirian, Mas," kata Arumi akhirnya dengan suara bergetar. Ardi terdiam.
"Aku nggak punya siapa-siapa lagi," lanjut Arumi.
"Nggak ada tempat pulang lagi," tangis Arumi kembali pecah.
Bukan hanya kematian sang ibu yang membuatnya begitu sedih. Melainkan juga tentang rumah tangganya yang sedang rumit.
"Nggak ada tempat pulang..." ulang Arumi lagi ditengah tangisnya.
Ardi berjalan mendekat lalu memegang kedua bahu Arumi dari belakang dan perlahan membalikkan badan Arumi. Ardi membenamkan Arumi ke dalam pelukannya.
Arumi menangis. Dia kini dia tidak lagi mencium aroma parfum yang memikat itu. Hanya bau segar badan Ardi setelah mandi.
'Parfum siapa kemarin, Mas?'
***
"Dok, Bu Arumi barusan telepon. Nggak bisa dateng konsultasi minggu ini," kata Lia pada Dimas yang baru saja memasuki klinik.
"Eh? Kenapa?" tanya Dimas penasaran.
"Ibunya meninggal dua hari yang lalu," kata Lia.
Dimas terkejut. Dimas jadi teringat kejadian dua hari yang lalu, dimana dia melihat Ardi bersama seorang wanita.
"Dua hari yang lalu, Lia?" tanya Dimas memastikan dia tidak salah dengar. Lia mengangguk. Dimas berdiri diam sesaat di depan meja pendaftaran pasien.
"Bu Arumi ngasih nomor ponsel ngga?" tanya Dimas pada Lia.
"Sebentar, Dok," kata Lia lalu memeriksa data pasien.
"Ada, Dok," kata Lia.
"Tolong," kata Dimas sambil menyodorkan ponselnya pada Lia. Lia menatap Dimas dengan tatapan penuh selidik.
"Mau ngucapin belasungkawa," kata Dimas. Lia tersenyum penuh makna lalu menerima ponsel Dimas dan mengetikkan nomor Arumi disana.
"Sudah, Dok," kata Lia.
"Makasih. Hari ini ada berapa pasien yang sudah reservasi?" tanya Dimas mengalihkan pembicaraan ke arah profesional.
"Hari ini ada tiga reservasi untuk Dokter Dimas dan dua reservasi untuk Dokter Arisa," kata Lia. Dimas manggut-manggut.
"Oke kalo gitu. Kalo pasien udah dateng lansung suruh masuk ke ruang konsultasi," kata Dimas lalu berlalu masuk menuju ruangannya.
Dimas segera mengusap layar ponselnya dan mencari nama Arumi begitu memasuki ruang konsultasi. Dimas begitu cemas dan ingin memastikan bahwa Arumi dalam kondisi yang cukup baik.
"Halo?" suara Arumi terdengar lirih dan serak.
"Arumi. Ini saya, Dimas," kata Dimas.
"Eh? Dokter? Saya sudah telepon Lia ta..."
"Saya turut belasungkawa atas meninggalnya ibu kamu," kata Dimas cepat memotong kalimat Arumi.
"Makasih, Dok,"
"Kamu baik-baik aja?" tanya Dimas, meskipun dia tahu Arumi tidak mungkin baik-baik saja.
"Untuk saat ini... yah... iya, saya baik, Dok. Terimakasih," jawab Arumi, terdengar begitu berat mengatakannya.
Hening.
Dimas dapat merasakan kesepian menyelimuti Arumi.
"Arumi," panggil Dimas lembut.
"Ya?"
"Kamu tau? Kamu selalu bisa mengandalkan ku. Kapan saja," kata Dimas. Arumi terdiam.
"Jangan merasa sendiri. Ada aku," lanjut Dimas. Masih tak ada jawaban dari Arumi.
"Aku... akan selalu ada untuk mu. Kapan pun kamu butuh," kata Dimas lagi.
Hening.
"Arumi?" panggil Dimas setelah hening yang cukup lama.
"Ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Dimas lembut setelah tak mendengar jawaban dari Arumi.
"Hhh..." Arumi terdengar menghela nafas panjang. Dimas menunggu.
"Parfum," kata Arumi lirih. Mata Dimas membulat.
"Parfum?" tanya Dimas.
"Akhirnya... saya mencium aroma parfum itu, Dok," kata Arumi. Suaranya bergetar. Dimas mengepalkan tangannya.
"Lalu, apa yang Arumi simpulkan?" tanya Dimas, berusaha tenang meski dadanya diselimuti amarah kepada Ardi.
"Dia... dia..." suara isakan terdengar dari seberang.
Ingin rasanya Dimas segera menuju ke tempat dimana Arumi berada. Namun, dia masih sadar sepenuhnya tentang status Arumi.
"Sekarang Arumi tenang dulu. Tarik dan buang nafas perlahan seperti yang Arumi lakukan tiap di ruang konsultasi," kata Dimas. Isak tangis Arumi perlahan mereda.
"Arumi," panggil Dimas lagi.
"Apapun yang kamu rasain saat ini —curiga, takut, sedih— semua itu nyata," kata Dimas.
"Tapi... apa yang Arumi pikirkan tentang Ardi, kita belum bisa menyimpulkan apapun tentang itu," lanjut Dimas.
"Tapi... parfum itu..."
"Bisa saja menempel disana dengan cara yang tidak sengaja," Dimas mencoba menenangkan pikiran Arumi meski dia memiliki pikiran yang sama dengan Arumi.
"Untuk saat ini, kamu simpan dulu kecemasan dan kecurigaan kamu. Kita bahas ini lebih dalam saat sesi konsultasi berikutnya. Oke?" kata Dimas.
"Baik. Terimakasih, Dok,"
"Sama-sama,"
Dimas menutup sambungan teleponnya dengan berat hati. Meski dia baru saja menenangkan pikiran Arumi, pikirannya sendiri tak bisa tenang. Dia ingin segera menemukan bukti tentang Ardi dan wanita yang bersamanya.
'Parfum. Hanya sebuah kata kunci. Kita butuh sesuatu yang lebih kuat dari sekedar bau parfum,'
***