Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Program OSIS
Sore itu, di dalam ruang OSIS—Yudhis, berdiri tegak di depan meja besar. Matanya yang tajam meneliti setiap wajah di depannya, wajah-wajah yang ia labeli sebagai "aset utama" SMA Merah Putih.
Di sudut ruangan yang agak remang, Bara menarik kursi kayu dengan gerakan malas. Kaki panjangnya terjulur, menciptakan kesan santai namun tetap dominan. Saat pintu berdecit, pandangannya langsung terkunci pada sosok gadis yang baru saja melangkah masuk. Laras menyisir ruangan dengan pandangannya, dan saat matanya bertemu dengan manik gelap Bara, sebuah senyum tipis yang sarat makna terukir di wajahnya.
Tanpa suara, Bara menarik sebuah kursi kosong di sebelahnya, lalu memberikan isyarat kecil dengan dagunya—sebuah undangan bisu yang hanya ditujukan untuk gadis itu. Laras tersenyum tipis, melangkah mantap melewati kerumunan murid lain, dan mendaratkan dirinya tepat di samping Bara.
"Ternyata kamu masuk daftar murid terpandai, ya? Enggak nyangka banget," bisik Laras pelan.
Nada suaranya lembut, namun ada percikan ejekan manis yang hanya ditujukan untuk Bara. Ia tidak tersinggung. Sebaliknya, sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya—ekspresi yang biasanya terlihat mengintimidasi bagi orang lain, kini tampak jauh lebih hangat dan lunak.
"Wah... ngejek banget nih, Tuan Putri," balas Bara dengan tawa rendah yang renyah, seolah mereka sedang berada di dunia milik mereka sendiri, mengabaikan belasan pasang mata yang memandang mereka dengan heran. Kontras antara keduanya begitu mencolok.
Ehem.
Suara deheman berat itu memecah keintiman singkat mereka. Yudhis melipat tangannya di dada dengan rapi. Wajahnya datar, namun matanya yang dingin sempat tertuju pada Bara selama satu detik lebih lama dari yang lain.
"Teman-teman, terima kasih sudah datang," buka Yudhis.
Suaranya bergema penuh wibawa.
"Kita semua tahu, enam bulan lagi adalah penentuan. Reputasi sekolah ini ada di tangan angkatan kita. Tapi, kita punya masalah besar: kesenjangan nilai yang terlalu jauh." Yudhis mengetuk tumpukan berkas di depannya dengan ritme yang teratur.
"Itu alasan OSIS meluncurkan Peer-to-Peer Mentoring. Ini bukan sekadar belajar kelompok biasa yang berakhir dengan ngerumpi. Ini sistem pendampingan terstruktur selama seratus delapan puluh hari ke depan." Ia menjabarkan poin-poin penting dengan ketegasannya sebagai Ketua OSIS.
"Kalian dipilih karena kalian 'ahli' di bidang spesifik. Sebagai contoh, Laras." Yudhis menatap Laras, tatapannya sedikit melembut namun tetap profesional.
"Kamu pandai di bidang apa?" tanya Yudhis kepada Laras.
"Matematika sama Ekonomi, Dhis."
"Tepat. Jadi, Laras akan pegang kendali penuh untuk dua mata pelajaran itu di kelas IPS. Contoh lain, saya sendiri. Saya akan jadi mentor Biologi. Paham semuanya?"
Anggukan serempak memenuhi ruangan.
"Besok pagi, poster program ini akan ditempel di mading. Murid-murid lain bebas membentuk grup dengan jumlah yang disepakati," lanjut Yudhis.
"Tugas kalian bukan cuma memberi jawaban, tapi memastikan anggota grup itu paham konsepnya. Kalau nilai rata-rata grup naik, ada apresiasi khusus untuk kalian dari Donatur Komite. Tapi kalau ada yang tertinggal... itu adalah kegagalan kita bersama."
Yudhis berhenti sejenak. Ia melihat betapa kompaknya Bara dan Laras duduk bersisian. Ada sekelumit rasa panas yang menjalar di dadanya—sebuah kecemburuan yang ia simpan rapat.
"Gue tahu ini berat," suara Yudhis sedikit melunak namun tetap tegas.
"Kalian juga harus belajar buat diri sendiri. Tapi gue percaya, dengan mengajar, pemahaman kalian justru bakal makin tajam. Kita nggak mau ada satu pun kursi yang kosong saat wisuda nanti karena nggak lulus." Yudhis mengakhiri penjelasannya dengan senyum tipis yang penuh beban harapan.
"Besok pagi, kalian bukan lagi sekadar murid. Kalian adalah harapan buat teman-teman seangkatan."
Bara hanya mengangguk pelan sambil tetap menyeringai tipis, sementara Laras memberikan jempol kecil ke arah Yudhis—sebuah dukungan yang membuat perasaan Yudhis makin campur aduk
Esok paginya, SMA Merah Putih mendadak berubah menjadi pasar bursa yang gaduh. Kerumunan murid kelas dua belas memenuhi area mading, berebut melihat daftar mentor. Beberapa murid populer mulai mendekati para mentor jagoan. Di sudut lain, para mentor yang biasanya hanya berteman dengan buku dan kesunyian, mendadak menjadi selebritas yang diperebutkan. Ada guratan bangga di wajah mereka, namun tak sedikit pula yang tampak tertekan dengan beban tanggung jawab baru ini.
Enam bulan ke depan bukan lagi soal kompetisi siapa yang paling pintar. Ini adalah ujian solidaritas dalam grup-grup kecil. Di balik tumpukan rumus dan hafalan yang menyesakkan, sebuah babak baru dimulai. Bukan untuk menjadi yang terbaik, tapi untuk memastikan mereka semua sampai di garis finis bersama-sama.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Erika melangkah dengan dagu terangkat, memimpin barisan pasukannya yang berjalan seirama. Begitu mereka sampai di meja yang strategis, Vee langsung menarik kursi untuk Erika dengan gerakan dramatis.
"Duduk sini, Beb," ucap Vee sambil mengibas-ngibaskan tangan, seolah sedang mengusir debu imajiner dari kursi itu.
Erika duduk dengan anggun, menyilangkan kaki jenjangnya. "Makasih ya, Beb. Aduh, panas banget ya hari ini?"
"Btw, jadi kan kita ambil Bara buat jadi mentor kita?" Tanya Zoey.
Erika menyesap jusnya perlahan, matanya melirik ke arah Bara yang berada di kejauhan. "Pasti dong, Beb. Mana mungkin gue biarin aset berharga kayak Bara jatuh ke tangan yang salah. Kita butuh mentor yang fresh"
"Setuju banget, Beb! Sahut Vee sambil sibuk membetulkan letak jepit rambutnya di cermin kecil.
Geng itu sibuk dengan dunianya sendiri, saling melempar panggilan "Beb" ke sana kemari seolah itu adalah gelar kehormatan bagi mereka. Suara tawa mereka yang melengking dan percakapan yang penuh kode itu menciptakan dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka dari murid-murid 'biasa'.
Laras yang duduk tak jauh dari sana hanya bisa menghela napas panjang. Suara 'Beb' yang bersahut-sahutan itu mulai terasa seperti dengungan lebah yang mengganggu telinganya. Ia mencoba fokus pada bukunya, namun setiap kali kata itu terdengar, fokusnya buyar seketika.
"Ayo, Beb, samperin Baranya sekarang!" ajak Erika sambil berdiri, diikuti oleh kedua temannya yang langsung sigap merapikan penampilan.
Mereka berjalan mendekati Bara
"Bara!" panggil Erika dengan nada manis yang dibuat-buat.
"Geng kita udah mutusin, lo harus jadi mentor kita. Jangan nolak ya, Beb-beb gue ini udah pada semangat banget mau belajar sama lo."
Bara mengibaskan tangannya pelan, seolah sedang mengusir sekumpulan lalat yang bising.
"Terserah lo aja," jawabnya pendek.
Nada suaranya datar, nyaris tak peduli, namun bagi geng Erika, itu adalah lampu hijau yang paling terang.
"KYAAA! MAU BANGET, BEB!" teriak Erika histeris, melompat kecil sambil menepuk tangannya.
"Tuh kan, Erika! Bara emang paling best! Bakal rajin belajar nih kita, Beb!" seru Zoey.
Bara tidak merespons lagi. Ia memutar kunci motor di jarinya, berbalik badan, dan melangkah pergi dengan gaya cueknya yang khas—tangan masuk ke saku celana dan pandangan lurus ke depan, mengabaikan sorak-sorai kemenangan di belakangnya.
Di sudut lain, Laras masih mematung. Dari kejauhan, ia menyaksikan seluruh adegan itu seperti menonton film bisu yang menyesakkan. Ia melihat bagaimana Erika tertawa bangga, saling berpelukan dengan teman-temannya, merayakan keberhasilan mereka mengklaim Bara. Ia segera menutup bukunya dengan kasar, menimbulkan suara buk yang cukup keras, lalu pergi.
Ijin mampir🙏