NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Begitu keluar dari ruangan, Marsha menyandarkan punggungnya di dinding lorong sejenak. Ia menyadari bahwa pertemuannya dengan keluarga Halvard telah membuka pintu-pintu yang selama ini tertutup rapat. Dunia mafia, kekuasaan bisnis, dan persaingan antar-dinasti kini mulai bergesekan dengan kehidupan medisnya yang tenang.

Namun, saat ia melihat pesan singkat masuk dari Erlan Dominic. "Semangat visitnya, Sayang! Jangan lupa makan siang," Marsha kembali tegak, apapun bayangan yang mengikuti dari dunia Halvard atau Theodore, ia tahu persis dimana jangkar hidupnya berada.

Archio melangkah menyusuri lorong rumah sakit dengan santai, mengabaikan tatapan beberapa staf medis yang mengenalinya sebagai putra keluarga Halvard. Di tangannya, ia menjinjing sebuah kotak makan premium yang disiapkan khusus oleh Andreas pagi tadi.

Tujuannya sebenarnya ke ruang VVIP Liam, namun matanya terus mencari sosok sang adik. Saat sampai di depan meja perawat, ia langsung bertanya. "Di mana Dokter Marsha?" tanya Archio dengan nada yang lebih ramah dari biasanya.

Perawat yang bertugas tampak sedikit gugup. "Dokter Marsha sedang di ruang operasi, Tuan Archio. Baru saja masuk sekitar sepuluh menit yang lalu untuk operasi darurat, ada yang bisa saya bantu?"

Archio mengangguk maklum, pekerjaan adiknya memang tidak mengenal waktu, ia kemudian menyodorkan kotak makan itu ke atas meja perawat. "Titip ini. Ini makan siang dari Papahnya. Tolong pastikan sampai ke tangannya begitu dia keluar dari ruang operasi, ya? Jangan sampai dingin," pesan Archio tegas namun tidak mengancam.

"Baik, Tuan. Akan segera kami sampaikan setelah Dokter Marsha selesai," jawab perawat itu dengan sopan.

Archio kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju kamar Liam, egitu ia masuk, ia mendapati Liam yang sedang menatap langit-langit kamar dengan wajah gusar. "Masih hidup kau?" sapa Archio jenaka.

Liam meliriknya sinis. "Adikmu itu benar-benar tangan besi. Dia melarangku memakai tab lebih dari satu jam, kau datang hanya untuk mengejekku?"

Archio tertawa, lalu duduk di kursi samping tempat tidur. "Aku datang untuk melihat apakah kau sudah belajar sopan santun setelah dijahit olehnya. Ayahmu, Theodore, baru saja mengirim pesan padaku. Dia sepertinya sangat terkesan dengan ketegasan Marsha."

"Bukan terkesan," gumam Liam sambil menyentuh perban di kepalanya. "Dia hanya merasa aneh ada orang yang tidak gemetar saat mendengar namanya. Dan adikmu... dia bahkan tidak peduli."

"Itu karena dia tidak dibesarkan dengan uang Halvard, tapi itu karena ketegasan dari keluarga Dominic" sahut Archio bangga. "Dia punya dunianya sendiri, tapi ingat, Liam, jangan coba-coba mengusiknya lebih dari sekedar pasien dan dokter, aku tidak akan segan, meskipun kita berteman."

Liam hanya terdiam, teringat sorot mata tajam Marsha di balik lampu senter medis tadi pagi. Ada sesuatu dalam diri dokter itu yang membuatnya merasa terusik, sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sekadar nama besar keluarga Halvard.

_____

Helena terbelalak, hampir saja menjatuhkan catatan medis yang sedang dipegangnya. Ia duduk di kursi sebelah Marsha, menatap temannya itu dengan tatapan tidak percaya sekaligus penuh rasa ingin tahu.

"Hah? Serius?" Helena berbisik kencang. "Maksudmu, pria yang kemarin datang dengan aura sultan itu kakak kandungmu? Dokter Marsha, kamu tahu tidak siapa dia? Itu Archio Halvard! Kalau dia kakak kandungmu, berarti kamu..."

Marsha menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang berdenyut karena kelelahan setelah operasi selama lima jam. "Iya, aku tahu. Namaku aslinya Marsha Halvard. Tapi bagi aku, identitas itu masih terasa baru. Selama 20 tahun ini, aku cuma tahu kalau aku Marsha Dominic."

"Wah, gila... ini seperti plot drama yang sering aku tonton," Helena menggeleng-gelengkan kepala. "Pantas saja kemarin pas ada pasien arogan itu, kamu berani sekali. Ternyata di belakangmu ada 'benteng' sebesar keluarga Halvard. Tapi tunggu, kenapa kamu baru tahu sekarang?"

"Panjang ceritanya, Hel," sahut Marsha sambil bangkit berdiri, mencoba merenggangkan otot-ototnya yang kaku. "Intinya, aku dibuang saat masih kecil, lalu ditemukan Daddy Erlan. Dan sekarang, mereka menemukanku kembali. Makanya Archio—Kak Archio—datang mengantar makan siang karena disuruh Papah kandungku."

Marsha melirik kotak makan yang tadi dibawa Archio. Meski sudah dingin, ia tahu itu adalah bentuk perhatian yang sangat mahal dari Andreas.

"Terus, gimana rasanya? Jadi putri bungsu keluarga konglomerat dalam semalam?" tanya Helena lagi, kali ini lebih pelan, menyadari betapa beratnya beban emosional yang mungkin dirasakan sahabatnya.

Marsha tersenyum tipis, senyuman yang terlihat lelah namun tulus. "Rasanya aneh. Di satu sisi, aku punya keluarga yang bisa membelikan rumah sakit ini kalau mereka mau. Tapi di sisi lain, aku cuma ingin pulang ke rumah Daddy Erlan, makan masakan Mami, dan tidur tanpa perlu memikirkan protokol keluarga besar. Kekuasaan itu... melelahkan, Hel."

Helena menepuk bahu Marsha. "Kamu tetap Marsha yang aku kenal, kok. Dokter bedah paling galak tapi paling teliti. Mau Halvard atau Dominic, kamu tetap dokter kesayangan pasien-pasien di sini. Ayo pulang, wajahmu sudah pucat sekali."

Marsha mengangguk. "Iya, aku duluan ya. Daddy Erlan pasti sudah menungguku di teras."

Saat berjalan menuju parkiran, Marsha melihat ponselnya. Ada pesan dari Archio: *"Kartunya jangan lupa dipakai kalau mau beli kopi atau camilan pas shift malam. Jangan siksa dirimu sendiri, Dek."*

Marsha hanya bisa menggelengkan kepala. Ia menyadari bahwa meski ia mencoba menjaga jarak, keluarga Halvard akan selalu punya cara unik untuk masuk ke dalam celah kehidupannya yang tenang. Namun, saat mesin mobilnya menyala, tujuannya hanya satu: pelukan hangat di rumah keluarga Dominic.

Marsha terkekeh geli melihat antusiasme Helena. Di tengah rasa lelahnya yang luar biasa, tingkah sahabatnya itu setidaknya memberikan sedikit hiburan.

"Oh, jadi sekarang targetnya beralih dari dokter residen ke 'sultan' Halvard?" goda Marsha sambil menyampirkan tasnya ke bahu.

Helena langsung membenarkan posisi duduknya dengan semangat. "Ya iyalah! Mumpung jalurnya lewat kamu. Kakak kamu itu auranya beda banget, Marsha. Dingin-dingin mahal gimana gitu."

"Kalau itu aku nggak tahu, coba saja cari perhatian atau apa ke dia. Dia pasti sering datang ke kamar VVIP untuk menjenguk temannya yang arogan itu," sahut Marsha santai. Ia melirik jam tangannya, sudah hampir pukul setengah delapan malam. "Malam ini kamu saja yang *visit* ke ruangan Liam. Kalau dia atau Kak Archio tanya aku di mana, bilang saja sudah tidur habis operasi besar. Aku benar-benar mau pulang sekarang."

Helena langsung berdiri dan melakukan gerakan hormat layaknya prajurit. "Siap, Dokter! Serahkan padaku. Aku akan pastikan Kak Archio melihat betapa profesionalnya... dan menawannya asisten Dokter Marsha ini."

Marsha tertawa sambil melambaikan tangan menuju pintu keluar. "Semoga sukses, Hel! Tapi hati-hati, jangan sampai terpesona sama Liam. Dia tipe yang bisa bikin tensi kamu naik seketika."

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!