Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.
Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.
Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Tetap Kuat saat Terluka
Belum lama Ferdi turun dari mobil, pintu pagar rumah itu sudah terbuka lebar. Di sana, berdiri sosok wanita yang sangat ia kenal. Emily. Wanita yang berbadan ramping, berwajah cantik, selalu tersenyum manis setiap kali bertemu Kiara, selalu memanggilnya dengan sebutan yang terdengar manja dan akrab. Wanita yang kemarin sore masih duduk di ruang tamu rumahnya, minum teh, dan bercerita sambil tertawa lepas, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.
Emily tidak terlihat sakit sedikit pun. Wajahnya cerah, matanya berbinar indah, dan senyumnya merekah begitu lebar saat melihat kedatangan Ferdi. Pura-pura sakit. Itu semua hanya akal-akalan murahan untuk memancing suaminya datang.
Dan apa yang terjadi selanjutnya, membuat darah Kiara mendidih hebat hingga ke ubun-ubun.
Begitu Ferdi melangkah masuk ke halaman rumah itu, Emily langsung berlari kecil menghampiri. Tanpa kata-kata, tanpa rasa bersalah sedikit pun, wanita itu langsung melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan Ferdi yang juga sudah membuka kedua lengannya lebar-lebar. Mereka berpelukan sangat erat, seolah sudah berpisah berbulan-bulan lamanya. Ferdi membenamkan wajahnya di ceruk leher Emily, sementara tangan wanitanya itu melingkar erat di leher Ferdi, menarik wajah suaminya itu mendekat.
Di sana, di tengah halaman rumah yang bisa dilihat siapa saja yang lewat, mereka bermesraan dengan bebas. Ciuman demi ciuman mendarat di bibir, di pipi, dan di kening. Ferdi mengelus perut Emily dengan lembut, penuh kasih sayang dan perlindungan—hal yang sudah lama tidak ia lakukan pada Kiara. Ia berbisik sesuatu di telinga Emily, membuat wanita itu tertawa renyah sambil memukul pelan dada bidang Ferdi dengan nada manja.
Pemandangan itu begitu indah dan romantis jika dilihat oleh orang asing, namun bagi Kiara yang merekam semuanya dari balik kaca mobil, pemandangan itu adalah neraka yang nyata. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana suaminya yang dulu berjanji setia, dan sahabatnya yang ia anggap saudara, sedang menikmati cinta terlarang di depan matanya. Ia melihat bagaimana Ferdi menatap Emily dengan tatapan penuh cinta, tatapan yang dulu selalu ditujukan padanya, tatapan yang sudah hilang sejak lama tanpa ia sadari.
Kiara terus merekam. Ia merekam setiap detik kemesraan itu, setiap sentuhan, setiap ciuman, dan setiap senyum palsu yang mereka berikan satu sama lain. Air mata menetes membasahi pipinya, namun ia tidak berhenti. Ia harus menyimpan ini. Ini adalah bukti bahwa semua kata-kata manis Ferdi kemarin malam—tentang menebus dosa, tentang mencintai Kiara, tentang mengirim Emily pergi—semuanya hanyalah kebohongan belaka. Ferdi masih menginginkan wanita itu. Ferdi masih mengasihi wanita itu. Dan rencana 'penebusan dosa' itu hanyalah cara agar Ferdi bisa mendapatkan segalanya: harta, kedudukan, dan wanita idamannya.
Tiba-tiba, ponsel di tangan Kiara bergetar. Sebuah panggilan masuk. Di layar tertulis nama suaminya.
Kiara tertegun sejenak. Ia menatap ke arah halaman rumah di seberang sana. Ferdi sedang melepaskan pelukannya dari Emily, mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya, dan berbicara sesuatu pada Emily sebelum berjalan sedikit menjauh menuju pagar. Ia sedang menelepon Kiara.
Kiara menyeka kasar air matanya, menarik napas panjang, dan mengatur ulang ekspresi wajahnya menjadi datar, lalu menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu. Ia mengaktifkan pengeras suara agar ia bisa merekam juga suara pembicaraan ini.
"Halo, Sayang?" suara Ferdi terdengar dari pengeras suara, terdengar biasa saja, bahkan terdengar sedikit prihatin dan terburu-buru. Padahal baru beberapa menit yang lalu bibirnya sedang mencium wanita lain.
"Halo, Kenapa telepon? Ada apa?" jawab Kiara, berusaha sekuat tenaga agar suaranya terdengar wajar, lembut, dan sama sekali tidak curiga.
"Ehm... aku cuma mau kabari kalau mungkin aku agak lama di sini ya, Sayang. Temanku ini kondisinya lumayan kritis, jadi aku bantu-bantu dulu di sini sebentar," jelas Ferdi berbohong mulus. Di latar belakang suaranya, terdengar suara tawa Emily yang samar namun jelas, dan suara dedaunan yang tertiup angin di halaman rumah itu.
Kiara menatap tajam ke arah sosok Ferdi yang berdiri di balik pagar, hanya berjarak kurang dari sepuluh meter darinya. Pria itu sedang berdiri dengan santai, bahkan tersenyum-senyum sendiri sambil berbicara bohong.
"Oalah... jadi kamu pergi buru-buru tadi pagi karena teman mu yang sakit ya? Atau menjenguk pacarmu yang sakit?" batin Kiara mengejek dalam hati, namun di mulutnya ia berkata hal lain dengan nada manja.
"Ya sudah tidak apa-apa, Kamu urus saja dulu temanmu itu. Jangan terburu-buru pulang kalau memang masih ada yang perlu dibantu. Aku di rumah saja." ucap Kiara dengan nada yang begitu tulus, seolah-olah ia benar-benar percaya pada kebohongan suaminya itu.
"Terima kasih, Sayang. Kamu memang istri paling pengertian sedunia. Nanti kalau sudah selesai aku kabari lagi ya. Sayang kamu," jawab Ferdi, lalu mematikan sambungan telepon.
Sementara Emely tampak kesal menunggu Ferdi menyelesaikan telefon nya. terlihat wajah yang cemberut tidak sabaran.
Dari seberang jalan, Kiara melihat Ferdi memasukkan kembali ponselnya ke saku, lalu berbalik badan dan langsung ditarik kembali ke dalam pelukan Emily. Pintu pagar ditutup rapat, dan kedua manusia pengkhianat itu masuk ke dalam rumah, menghilang di balik dinding yang kini terasa begitu kotor dan menjijikkan bagi Kiara.
Kiara mematikan rekaman videonya. Di layar ponsel itu tersimpan bukti yang sangat jelas. Rekaman percakapan kemarin malam, ditambah rekaman adegan pagi ini. Segalanya lengkap.
Kiara menurunkan ponselnya perlahan. Di dalam mobil yang sunyi itu, Kiara menghela napas panjang, memandangi rumah itu dengan tatapan kosong namun penuh perhitungan. Rasa sakitnya sudah mencapai puncaknya, dan kini rasa sakit itu berubah menjadi kekuatan yang dahsyat.
"Nikmati waktumu selagi bisa, Ferdi.. Nikmati pelukan wanita itu selagi kau masih memegang kekuasaan dan harta pemberianku," gumam Kiara pelan, matanya berkilat dingin. "Karena setelah ini... setiap keping kebahagiaan yang kalian bangun di atas penderitaanku, akan aku hancurkan satu per satu. Kau ingin penebusan dosa? Kau ingin hidup bahagia setelah membuang wanita ini? Kau salah besar. Aku bukan lagi Kiara yang polos dan lemah. Mulai detik ini, aku adalah hukuman untuk kalian berdua."
Kiara menyalakan kembali mesin mobilnya, memutar kemudi, dan melaju perlahan meninggalkan rumah itu. Ia tidak akan berbuat apa-apa hari ini. Ia akan pulang, kembali berpura-pura menjadi istri yang setia dan penuh kasih sayang. Ia akan membiarkan mereka berpikir bahwa rencana jahat mereka berjalan mulus. Namun di dalam hati, Kiara sudah menyusun rencana balas dendam yang jauh lebih besar, jauh lebih kejam, dan jauh lebih menyakitkan daripada apa yang pernah dibayangkan oleh Ferdi maupun Emily.
•••
Hallo teman-teman semua.
Apa kabar kalian semua, semoga kita semua selalu sehat Dimana pun kita berada ya.
Ini adalah karya baru saya, jika kalian menyukainya tinggalkan likenya ya. Terimakasih kalian sudah mampir membaca 🤗