Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.
Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.
Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Dendam Masa Lalu dan Ikatan Darah
"K-Kalian..." Evelyn menatap tangannya sendiri, lalu beralih menatap Benjamin dan Damian bergantian dengan sorot mata menuntut penjelasan. "Kalian ini sebenarnya makhluk apa?! Dan apa yang baru saja terjadi dengan waktu?!"
Benjamin merapikan jubah Mage-nya yang sedikit berantakan akibat lompatan tadi. Wajah ketusnya kini berganti dengan kecemasan yang coba ia sembunyikan. "Nona Moonshade, jika aku jadi kau, aku akan mengkhawatirkan keselamatanku sendiri terlebih dahulu daripada mempertanyakan rahasia alam."
"Dia benar," timpal Damian, melangkah maju hingga bayangan tubuh tingginya mengurung Evelyn. Manik mata sang Demon King berkilat merah samar sebelum kembali normal. "Seseorang baru saja menyabotase rem mobil itu menggunakan sihir air tingkat rendah. Dan targetnya adalah kau."
Evelyn mengernyitkan dahi. "Sihir air? Jangan bercanda! Ini kota pelabuhan, wajar jika ada genangan air! Dan siapa juga yang mau membunuhku? Aku tidak punya musuh!"
Damian menyipitkan mata, pandangannya beralih menembus kerumunan manusia di ujung jalan. Indra tajamnya menangkap sisa-sisa aura es murni yang sangat ia kenal—aura yang tertinggal di jaket jins milik Kaelen yang kini sudah menghilang di balik gang gelap.
"Kau punya musuh, Evelyn. Bahkan dia berbagi ikatan jiwa yang sama dengan kita," desis Damian dingin.
Damian sama sekali tidak menduga jika sosok pemuda nekat itu adalah sepupunya sendiri. Ya, Kaelen masih berkerabat dekat dengan Damian. Bibi Kaelen yang bernama Moana Nixie menikahi adik seibu Damian, sehingga secara silsilah, Damian adalah paman dari Kaelen.
Sementara itu, dari arah festival pasar malam, Sofia tampak berlari kencang membelah kerumunan pejalan kaki dengan wajah pucat pasi setelah mendengar keributan besar di jalan raya.
"Eve! Evelyn! Ya ampun, kau tidak apa-apa?!"
Melihat sahabat manusia gadis itu mendekat, Benjamin segera menyentuh pundak Damian, memberikan kode keras. "Kita harus pergi sekarang, Raja Damian. Keberadaan kita di dunia fana terlalu mencolok. Biarkan gadis ini bersama temannya untuk sementara."
Damian mendengus, namun ia tahu Benjamin benar. Ia menatap Evelyn lekat-lekat, merekam pahatan wajah sang mate di dalam ingatannya. "Kita akan bertemu lagi secepatnya, Belahan Jiwaku."
Wuuush.
Sebelum Evelyn sempat membalas perkataan gila itu, sebuah kabut tipis keperakan bertiup lembut. Sosok Benjamin dan Damian lenyap dari pandangan mata bak ditelan bumi, meninggalkan Evelyn yang terpaku sendirian di tepi trotoar dengan sejuta pertanyaan yang menyiksa kepalanya.
****
Alih-alih langsung kembali ke Vespera, Damian justru mendaratkan kakinya di pesisir pantai—tempat Kaelen melarikan diri beberapa saat lalu. Sementara itu, Benjamin hanya mengekor di belakang dengan langkah enggan, mengikuti ke mana pun sang Raja Demon pergi.
"Kenapa kita malah ke sini? Urusanku masih banyak," keluh Benjamin dengan nada gusar.
Damian tidak menyahut. Netra merahnya bergerak tajam, melacak jejak energi Kaelen yang tertinggal di atas pasir. Benjamin menghela napas panjang. Ia memilih berhenti melangkah, berdiri bersedekap dada sembari mengamati punggung rivalnya dari kejauhan.
"Apalagi yang akan dilakukan si gila itu kali ini?" gumam Benjamin sinis.
Wusshhh!
Dalam kedipan mata, tubuh Damian melesat secepat kilat, memotong jarak dan langsung berdiri menghadang jalan Kaelen.
"Hai, Keponakan. Mau pergi ke mana kau?" sapa Damian, nadanya santai namun sarat akan ancaman.
Kaelen tersentak hebat. Ia refleks mundur selangkah, tangannya meraba posisi senjata yang sudah tak ada. "Paman? Kenapa kau bisa ada di sini?"
Damian terkekeh rendah. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Memangnya kenapa jika aku berkunjung ke pesisir ini? Apa kedatanganku mengusikmu?"
"Oh, tentu tidak. Aku hanya terkejut karena Paman datang tiba-tiba seperti ini," jawab Kaelen, mencoba mengontrol suaranya agar tidak bergetar. "Maaf, Paman, sepertinya aku harus segera pergi. Ada urusan kerajaan yang harus kuselesaikan."
Kaelen hendak melangkah tegap melewati Damian, namun cengkeraman sedingin es mendarat kuat di pundaknya, menahan pergerakannya mutlak.
"Tunggu dulu. Kau pikir bisa pergi begitu saja setelah hampir merenggut nyawa seseorang?"
Kelopak mata Kaelen membelalak. Namun, dengan cepat ia mematikan emosinya dan memasang raut wajah datar tanpa riak. "Paman ini bicara apa? Aku sama sekali tidak mengerti."
Benjamin yang mulai mengendus ada sesuatu yang tidak beres, akhirnya melangkah mendekat untuk ikut mendengarkan.
Damian menaikkan sebelah alisnya. Ia menatap Kaelen lurus-lurus, lalu mengudarakan tawa hambar—sebuah tawa dingin yang sanggup membuat bulu kuduk makhluk immortal mana pun meremang.
"Tidak usah berpura-pura bodoh atau mendadak amnesia, Kaelen. Aku tahu semuanya. Kau..." Damian sengaja menggantung kalimatnya. Ia mempersempit jarak, memajukan tubuhnya lalu berbisik tepat di samping telinga sang pangeran merman, "Kau yang hampir membunuh gadis itu, Evelyn."
Deg!
Kaelen membeku di tempatnya berdiri. Sepasang matanya menatap kosong ke arah pasir pantai yang basah. Ia sadar, mengelak atau berbohong di hadapan sang penguasa kegelapan hanya akan menjadi tindakan yang sia-sia.
"Iya! Memangnya kenapa?!" sentak Kaelen akhirnya. Ia menegakkan punggung, berani menantang balik sorot mata merah pamannya dengan urat-urat leher yang menegang parah. "Bukan urusan kalian juga, kan? Untuk apa kalian repot-repot ikut campur dan menyelamatkan gadis sialan itu? Paman juga tahu sendiri, kan, kalau ayahnya dulu hampir membantai para sepupumu?!"
Kaelen mengangkat tangannya, menunjuk Damian dan Benjamin bergantian dengan emosi yang meledak-ledak. "Kalian tidak perlu membuang energi untuk menyelamatkan anak dari seorang Ghost Hunter bajingan! Mereka semua layak dimusnahkan dari muka bumi!"
"Cukup, Kaelen!" potong Damian cepat, suaranya memberat. "Yang merupakan Ghost Hunter itu adalah ayahnya, bukan dia! Yang memburu kaum kita juga orang tuanya, bukan gadis itu. Dia hanyalah seorang gadis bodoh yang lemah dan berpenyakitan."
Alih-alih membela mati-matian, Damian justru sengaja melontarkan kalimat yang terdengar seperti hinaan. Ia hanya ingin menutupi gejolak asing yang mengamuk di dalam dadanya akibat sengatan ikatan mate tadi.
"Aku ingin bertanya satu hal. Memangnya apa kesalahan gadis itu?" timpal Benjamin ikut membuka suara. Sang naga Mage melangkah maju, jubah peraknya berkibar megah ditiup angin laut. "Apakah jemari halusnya pernah ikut membantai kaum kita? Atau, apakah ada bukti jika dia membantu agenda gila ayahnya?"
Kaelen mengeraskan rahangnya kuat-kuat hingga tulang pipinya menonjol tajam. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh sampai buku-buku jarinya memutih, menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Kenapa kalian berdua malah memojokkanku dan membela gadis manusia itu?!" teriak Kaelen frustrasi, suaranya beradu bising dengan deburan ombak. "Aku ini kerabatmu, Pangeran! Yang memiliki hubungan darah dengan kalian di sini itu adalah aku, bukan manusia fana itu!"
"CUKUP!!" bentak Damian.
Suara bariton sang Demon King menggelegar dahsyat, seketika membungkam riuh ombak pantai dalam satu hentakan magis. "Aku tidak mau mendengar alasan sampah lagi dari mulutmu. Aku tidak sedang membela siapa pun. Sekarang katakan padaku, Kaelen, apa sebenarnya yang kau inginkan dari gadis itu?!"
Kaelen mendengus kasar. Ia menatap lurus ke dalam manik mata pamannya dengan kilat frustrasi yang pekat. "Aku ingin The Heart Pearl milikku kembali! Gadis sialan itu telah menelan mutiara jiwaku! Aku tidak sudi memiliki ikatan takdir mate dengan keturunan musuh!"
Deg!
Seketika itu juga tubuh Benjamin mematung. Entah mengapa, dadanya mendadak terasa panas dan berdenyut nyeri. Kenyataan pahit baru saja menghantam egonya telak-telak; ternyata ikatan mate Evelyn bukan hanya tertuju pada dirinya dan Damian saja, melainkan juga mengikat pemuda keras kepala di hadapannya ini.
Sejujurnya, membagi belahan jiwa dengan Damian saja sudah membuat insting naga di dalam dirinya berontak setengah mati. Apalagi jika harus ditambah dengan Kaelen. Benjamin sebenarnya berniat mengklarifikasi ucapan spontan Damian kepada Evelyn sesaat sebelum mereka menghilang tadi—saat Damian dengan tidak tahu malunya menyebut Evelyn sebagai 'Belahan Jiwaku'. Benjamin ingin sekali melayangkan protes keras, namun egonya yang setinggi langit menolak untuk terlihat peduli.
Sementara itu, Damian hanya mengangguk-angguk pelan. Alih-alih terkejut seperti Benjamin, sebuah senyuman miring justru terukir di wajah tampannya sembari jemarinya mengelus dagu dengan santai.
"Menarik... ternyata gadis itu jauh lebih istimewa dari yang terlihat," gumam Damian dengan nada penuh arti.
Sebagai penguasa, Damian diam-diam sudah menduga bahwa sosok Evelyn Moonshade bukanlah manusia biasa. Indra supranaturalnya bahkan sudah menangkap sinyal bahwa sang naga Mage, Benjamin, juga memiliki garis takdir yang sama dengannya terhadap Evelyn. Namun, apa boleh buat? Di dunia immortal, tidak ada satu makhluk pun yang bisa mencegah atau menghalangi garis takdir sang Emerald yang ternyata dikutuk—atau diberkati—memiliki lebih dari satu mate.
"Tapi sayang sekali, Kaelen. Tindakanmu itu sama saja dengan perbuatan bunuh diri yang konyol. Apa yang kau lakukan hanya akan berakhir sia-sia, karena membunuhnya justru akan membuatmu mati perlahan," ujar Damian tenang.
Damian sangat hafal hukum alam kaum immortal. Jika bangsa Mermen kehilangan mate-nya sebelum melewati mating season (musim kawin), mereka akan mati secara perlahan. Jiwa yang tersimpan di dalam The Heart Pearl akan terkikis habis, melebur bersama raga pasangannya yang telah binasa di alam baka.
"Terserah! Aku tidak peduli! Lebih baik aku mati membusuk daripada harus bersanding dengan anak pemburu itu!" sentak Kaelen keras kepala.
Tanpa membuang waktu lagi, Kaelen melesat secepat kilat lalu menceburkan dirinya ke dalam gulungan ombak malam. Pemuda itu berenang bebas, pulang menuju istana bawah laut milik keluarganya di Kerajaan Abyssal.
"Aku pergi," ucap Benjamin dingin. Sang naga Mage tampaknya sudah tidak kuasa lagi berlama-lama di pantai itu bersama sang rival. Sebelum Damian sempat membalas, Benjamin sudah menghilang di balik pusaran angin keperakannya.
"Semuanya benar-benar menyebalkan," dengus Damian kesal saat menyadari kini hanya tinggal dirinya sendiri yang berdiri di pesisir pantai yang sunyi.
Ia menatap hamparan laut luas yang gelap, lalu tersenyum miring penuh arti. "Lagipula, siapa juga yang mau berebut satu gadis dengan kalian? Silakan saja kau membuang takdirmu, Kaelen," gumam Damian sembari menunjuk ke arah lautan. "Jika kau tidak sudi bersamanya, itu keuntungan bagiku. Asalkan kau tidak membunuhnya, biar aku yang memiliki sang Emerald seorang diri."