NovelToon NovelToon
Ku Pilih Takdirku Sendiri

Ku Pilih Takdirku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Di Kafe

Restoran L'Ambroisie yang terletak di lantai dasar sebuah hotel bintang lima itu menyuguhkan atmosfer yang teramat intim dan eksklusif. Alunan musik selo yang mengalun lirih berpadu dengan gemericik air dari pancuran kolam buatan di sudut ruangan, menciptakan ketenangan yang semu. Di sudut meja bundar yang dilapisi kain linen putih bersih, Kenzi Hutama duduk dengan posisi tegak, meskipun sisa-sisa ketegangan dari insiden penyerangan Suci kemarin masih menyisakan rona pucat di pelipisnya. Jas hitamnya terpasang rapi, menyembunyikan rapat-rapat trauma fisik yang baru saja ia lewati.

Di hadapannya, Sintia Arunika duduk dengan keanggunan yang tak pernah luntur. Namun, sore ini ada yang berbeda. Di samping kiri Sintia, seorang bocah laki-laki mungil duduk di atas kursi yang bantalannya ditinggikan. Arka, dengan kaus berkerah yang rapi dan rambut yang tersisir lurus, sedang sibuk mewarnai selembar kertas gambar dengan krayon yang disediakan oleh pihak restoran. Sintia sengaja membawa Arka; ia menolak meninggalkan bocah itu sendirian di apartemen, bahkan meski hanya ditemani oleh pengasuh sewaan sekalipun. Rasa protektif seorang ibu telah tumbuh begitu perkasa di dalam dadanya.

Kenzi mengalihkan pandangannya dari dokumen hukum di atas meja, menatap lekat-lekat pada sosok Arka yang sesekali terkekeh pelan saat warna krayonnya keluar dari garis. Pria oriental itu kemudian menatap Sintia, sepasang mata sipitnya memancarkan ketidakpahaman yang teramat dalam.

"Sintia," suara bariton Kenzi memecah keheningan di antara mereka, terdengar berat dan sarat akan penekanan emosional. "Aku sudah membaca draf gugatan yang dikirimkan oleh Bramantyo ke kantor hukumku. Jujur, aku tidak bisa mengerti jalan pikiranmu. Mengapa kamu begitu bersikeras untuk merebut hak asuh anak ini?"

Kenzi memajukan tubuhnya, menurunkan volume suaranya agar tidak terdengar oleh Arka yang berada di dekat mereka. "Arka adalah anak kandung dari Alfandi Rian Mahesa dan Suci Wahyuni. Dua orang yang telah menguliti harga dirimu, menghancurkan pernikahanmu, dan merancang konspirasi untuk memiskinkanmu. Anak ini membawa darah mereka, Sintia. Mengapa kamu mau memelihara anak dari musuh besarmu?"

Mendengar pertanyaan menohok dari pria yang selama ini menjadi perisainya, Sintia tidak tersinggung. Ia meletakkan sendok peraknya perlahan, lalu menatap Kenzi dengan sepasang mata jernih yang mulai berkaca-kaca oleh keharuan yang mendalam. Ia melirik Arka sejenak, mengusap kepala bocah itu dengan gerakan yang begitu lembut, sebelum kembali menatap Kenzi.

"Karena Arka tidak pernah memilih dari rahim siapa ia dilahirkan, Kenzi," ucap Sintia, suaranya bergetar hebat namun terdengar sangat kokoh menusuk sanubari. "Bocah ini... dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang dosa, kemunafikan, atau keserakahan yang dilakukan oleh Rian dan Suci. Dia hanyalah selembar kertas putih yang suci yang kebetulan jatuh di tengah-tengah keluarga yang penuh dengan racun."

Air mata Sintia setitik meluncur membasahi pipinya yang mulus, namun ia cepat-cepat mengusapnya. "Tujuh tahun aku berdoa meminta seorang anak hingga rahimku dianggap mati oleh mereka. Sekarang, saat Tuhan menunjukkan ada seorang anak yang terlantar dan jiwanya terancam hancur oleh kebiadaban orang tuanya sendiri, apakah aku harus menutup mata hanya karena egoku terluka? Naluri keibuanku menjerit, Kenzi. Aku tidak sedang memelihara anak musuhku, aku sedang menyelamatkan sebuah nyawa yang tak berdosa."

Kenzi tertegun. Ketegasan dan keluhuran budi wanita di hadapannya seketika meruntuhkan seluruh logika sinis yang biasa ia gunakan dalam dunia bisnis. Ia menatap Sintia dengan rasa kagum yang kian membumbung tinggi, menyadari bahwa hati Sintia terbuat dari intan paling murni yang tak akan pernah bisa dikotori oleh lumpur dendam.

****

Sementara percakapan emosional itu berlangsung, di bagian dalam dapur restoran yang sibuk dan mengepulkan uap masakan, sebuah skenario pencabutan nyawa sedang dirajut dengan sangat rapi dan dingin.

Suci Wahyuni berdiri di sudut area pemesanan minuman yang remang-remang. Dengan kelihaian jahanamnya, ia kembali berhasil menyusup. Kali ini ia tidak merampas seragam, melainkan memalsukan dokumen sebagai pekerja harian lepas untuk bagian penyajian sore. Pakaian pelayan hitam-putih dengan bordiran logo restoran di dada kiri membungkus tubuhnya yang ramping. Rambutnya disanggul rapi ke atas, dan sebagian wajahnya tertutup oleh riasan tebal yang sengaja ia aplikasikan untuk menyamarkan identitasnya dari pandangan sekilas.

Sepasang mata elang Suci berkilat penuh kebencian saat mengintip dari balik celah pintu dapur yang semi-transparan, menatap langsung ke arah meja nomor dua belas—meja tempat Sintia, Kenzi, dan anak kandungnya sendiri, Arka, sedang duduk bersama layaknya sebuah keluarga bahagia.

"Keluarga bahagia? Menjijikkan," desis Suci, suaranya berupa bisikan beracun yang tenggelam di antara suara bising denting piring dapur. "Sintia... kamu menggunakan anakku untuk menarik perhatian Kenzi? Kamu pikir kamu bisa mencuri posisiku?"

Saat pelayan bagian bar meletakkan secangkir iced matcha latte dengan hiasan krim di atas konter pesanan—minuman khas yang selalu dipesan Sintia di restoran ini—Suci segera bergerak cepat. Ia memanfaatkan momen ketika sang barista berbalik badan untuk mengambil sedotan.

Tangan Suci yang gemetar karena adrenalin yang membakar sanubarinya merayap ke dalam saku celemeknya. Ia mengeluarkan sebuah kapsul kecil berisi bubuk kristal putih yang sangat mematikan: Sianida. Obat mati cepat yang ia dapatkan dari sisa-sisa koneksi gelapnya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Suci membuka kapsul itu dan menaburkannya tepat di atas lapisan krim minuman Sintia. Bubuk maut itu seketika larut, menyatu sempurna dengan cairan hijau pekat di bawahnya tanpa mengubah warna maupun aroma.

Sebuah seringai licik yang teramat jahanam terukir lebar di bibir Suci.

Ia segera menaruh cangkir beracun itu ke atas sebuah nampan perak, lalu mendorong nampan tersebut ke arah area penjemputan pelayan utama. Sesuai taktiknya, ia tidak akan mengantarkannya sendiri agar wajahnya tidak tertangkap langsung oleh radar ketajaman mata Kenzi. Seorang pelayan pria muda yang asli, tanpa curiga sedikit pun, langsung mengambil nampan perak tersebut dan melangkah lebar menuju meja nomor dua belas.

****

Pelayan pria itu tiba di samping meja dengan senyuman ramah profesional. "Permisi, Ibu Sintia. Ini pesanan iced matcha latte Anda, dan ini espresso ganda untuk Bapak Kenzi."

Cangkir kaca tinggi berisi cairan hijau beracun itu diletakkan tepat di hadapan Sintia, hanya berjarak beberapa sentimeter dari jemari lentiknya. Uap dingin memercik dari dinding kaca, menyembunyikan maut yang sedang mengintai di dalamnya.

Dari jarak sepuluh meter, di balik pilar marmer besar dekat koridor toilet, Suci Wahyuni berdiri mematung. Sepasang matanya membelalak lebar, mengunci seluruh pergerakan Sintia dengan pandangan lapar yang dipenuhi kegilaan. Jantung Suci berdegup kencang, menghitung setiap detik beralihnya sang waktu dengan kepuasan iblis yang kian memuncak.

Sintia, yang masih merasa tenggorokannya kering setelah mencurahkan seluruh emosinya kepada Kenzi, perlahan-lahan mengulurkan tangan kanannya. Jemari lentiknya bergerak maju, mendekati gagang kaca cangkir tersebut.

Satu sentimeter... dua sentimeter...

Suci yang menyandarkan tubuhnya di pilar semakin melebarkan seringainya, tangannya mencengkeram kain celemeknya hingga kuku-kukunya memutih. Dalam otaknya, ia sudah bisa membayangkan bagaimana beberapa detik lagi cairan itu akan membakar tenggorokan Sintia, membuat wanita itu ambruk ke lantai dengan mulut berbusa di hadapan Kenzi dan Arka, mengakhiri seluruh rintangan yang menghalangi takhta kemewahannya selama ini.

Detik-detik itu terasa berjalan begitu lambat, mencekam, dan sarat akan ketegangan emosional yang luar biasa, tepat di saat kulit ujung jari Sintia mulai menyentuh permukaan kaca dingin yang berisi kematian mutlak tersebut!

1
Arieee
bagus,, 👍👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Ma Em
Si Suci sdh gila otaknya konslet mau berbuat apa saja demi menyingkirkan Sintia agar Suci bisa bersama Kenzi , semoga Sintia selamat dan minuman yg sdh ada racun nya tersenggol atau gimana asal tdk diminum oleh Sintia .
Anonim
BUNUH ANAK HARAM ITU SINTIA.. KELAK DIA YANG AKAN MEMBALAS KAN DENDAM PADAMU
Ma Em
Semoga tdk berhasil Suci jebak Kenzi cepatlah orang datang keruangan Kenzi untuk menolong Kenzi dari jerat licik si Suci , lalu Suci jebloskan saja ke penjara .
Ma Em
Kesombongan Rian dan gundiknya runtuh setelah pengacara Sintia membacakan tuntutan dari Sintia , makanya kalau Rian kalau usaha modal dari itu jgn merasa berkuasa diambil sama yg punya Rian bisa bangkrut baru Rumah an baru sadar dan menyesal .
Ma Em
Semangat Sintia rebut kembali harta dan uang yg sdh dipakai membangun rumah dan uang untuk membantu Rian kuras habis jgn sampai tersisa buat Rian dan Suci juga Bu Ane jadi gembel .
Ma Em
Seru Thor , ditunggu balas dendam untuk Rian, Suci juga Bu Ane dari Sintia buat mereka menangis darah Sintia , buat Rian hdp nya jadi gembel agar Sintia puas melihat Rian dan Suci hdp nya menderita .
Serena Muna: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!