Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 Panggilan Satria
Faza gak bergerak sedikitpun. Di ruang tunggu penumpang yang berisik, dia memilih diam dengan pikiran berkecamuk.
Kelopak matanya tertutup. Tapi, kepalanya dipenuhi segala praduga yang mungkin terjadi.
“Keterangan Pak Joko masih belum cukup. Ini hanya kepingan kecil dari kejadian 18 tahun lalu. Semoga dugaanku salah.”
Drrrt…
Suara getaran handphone di saku celana langsung mengalihkan perhatian Faza. Mengingat hanya orang-orang tertentu saja yang tahu nomornya. Tentu jika sudah menyala pasti ada hal penting, apalagi berbunyi saat malam.
“Mbak Manik? Kenapa menelpon hampir tengah malam?” gumam Faza penasaran. Lalu mengangkat panggilan telepon dari Manik.
“Assalamualaikum, Mbak. Ada apa malam-malam menelpon?” tanya cepat Faza. Khawatir jika ada hal penting telah terjadi.
“Kamu ada dimana, Za?” tanya Manik dari balik telepon.
“Ada kerjaan di luar kota. Kenapa, Mbak?”
“Kamu tuh gak ada perhatian sama sekali sama gebetan.”
Faza yang tidak paham gerutuan Manik hanya mengerutkan keningnya. Mbaknya itu memang suka bicara ngelantur. Tapi, untuk kali ini benar-benar ditolak akal sehatnya. Karena dirinya sama sekali gak punya gebetan.
“Maksudnya apa, Mbak?” tanya Faza kembali.
“Kamu tuh kalau punya gebetan diperhatikan kesehatannya. Jangan cuek apalagi ditinggal ke luar kota tanpa ada kabar sama sekali.”
“Mbak bicara apa sih? Gak paham aku.”
Faza yang memang tidak pernah dekat dengan perempuan manapun selain keluarganya. Jelas merasa heran. Sosok perempuan mana yang disebut Manik.
“Mbak setuju banget kamu sama dia. Nanti kalau dia sudah lulus aku bantu kamu bilang ke Mama. Langsung dilamar terus menikah. Untuk urusan seserahan biarkan Mbak saja yang menyiapkan semuanya.”
“Lulus? Bilang ke Mama? Langsung dilamar? Maksudnya apa sih, Mbak?”
Faza benar-benar dibuat pusing dengan arah pembicaraan Manik. Benar-benar tidak bisa diterima dengan akal sehatnya.
“Gebetan yang mana? Siapa? Gak punya aku,” ucap Faza kembali.
“Ya Dira lah, masa sama Anjana,” seloroh Manik sambil menahan senyum.
“Mbak setuju kamu sama dia. Anjana pun juga suka sama Dira. Selain cantik dan pintar, dia juga sopan.”
Lagi pusing-pusingnya dengan kasus yang dihadapi. Justru diajak bahas hal lain. Membuat Faza langsung memegangi leher bagian belakang.
Entah kenapa setiap kali ia berbicara keluarganya. Membuat Faza tidak berkutik.
“Mbak, aku serius ini.”
“Kamu pikir Mbak bercanda.” Jawaban Manik semakin membuat Faza pusing.
“Mbak…”
“Dira sakit.”
Faza langsung terdiam mendengar kabar Dira sakit. Terlalu fokus dengan pekerjaan membuat dirinya melupakan Dira.
“Mbak tahu dari mana?” tanya cepat Faza.
“Anjana tiba-tiba kangen sama Dira. Jadi, Mbak hubungi Dira. Tapi, yang ngangkat telpon Mbah Sekar, bilang kalau Dira sedang sakit.”
“Dira sakit apa, Mbak?” tanya Faza khawatir.
“Demam tinggi gak turun-turun. Sudah minum obat dan diperiksa dokter juga. Kalau sampai besok masih tetap tinggi demamnya. Maka, kemungkinan besar harus dibawa ke rumah sakit.”
Faza yang sebelumnya santai saat ditelpon Manik. Langsung ke mode serius. Konsentrasinya benar-benar pecah antara pekerjaan dan Dira.
“Terima kasih banyak infonya, Mbak,” ucap Faza cepat.
“Faza.”
“Perhatian kepada para penumpang kereta jurusan akhir stasiun Jakarta akan segera tiba di jalur tiga. Dimohon kepada para penumpang untuk…”
Suara informasi dari stasiun kereta tempat Faza berada. Langsung mengalihkan perhatian Faza.
“Keretaku sudah datang, Mbak. Assalamualaikum,” salam Faza sambil mematikan teleponnya lalu berjalan cepat menuju peron keberangkatan.
Untuk saat ini pikiran Faza tertuju keadaan Dira. Demam tidak turun-turun jelas reaksi tubuh Dira terhadap sesuatu. Tampaknya kejadian tempo hari di kelas memicu kesehatannya.
Ada rasa penyesalan dirasakan oleh Faza saat ini. Rasa percaya tinggi pada Miss Panda saat mengantar Dira pulang. Membuat Faza sedikit lengang. Menganggap Dira baik-baik saja.
Namun, dibalik sikap Dira baik-baik saja. Ada tekanan yang tidak terlihat hingga membuat tubuhnya demam. Tersebarnya video itu jelas pukulan berat bagi Dira.
“Bisa lihat tiket keretanya, Mas.”
Salah seorang pramugari kereta menahan Faza masuk. Tanpa mengucapkan sepatah katapun dirinya langsung menunjukkan tiketnya.
“Gerbongnya sudah benar. Silahkan masuk.”
Hanya senyuman yang diberikan oleh Faza. Pandangan mata Faza saat ini mencari keberadaan toilet kereta.
Sreet…
Ceklek.
Tangannya merogoh saku celana. Mengambil handphone untuk menghubungi bawahannya.
“Malam, Ndan.”
Suara dari balik telepon langsung terdengar setelah pintu toilet kereta tertutup. Faza memilih menghubungi bawahannya untuk memastikan kebenaran informasi Manik.
“Siapa saja yang datang ke rumah korban?”
“Miss Panda, seorang dokter perempuan, dan juga komandan Satria.”
Faza kembali terdiam saat nama Satria disebut. Membuat pikiran Faza benar-benar kacau saat ini.
Antara mencari pelaku penyebaran video, transaksi ilegal di lingkungan sekolah, serta tragedi 18 tahun lalu. Ditambah lagi kesehatan Dira yang membuat dirinya kalang kabut.
“Apa yang terjadi selama aku pergi?”
“Ada beberapa orang memasang kamera cctv mengarah ke rumah korban, Ndan. Sepertinya untuk mengawasi.”
“Apa kamu kenal salah satu dari mereka?”
“Kenal, Ndan. Salah satunya bawahan AKP Tarjo.”
Lagi dan lagi Faza mendapatkan hantaman keras yang menimbulkan banyak pertanyaan. Saat nama Tarjo disebut, jelas Faza tahu sosok orang yang memberikan perintah.
‘Bukankah dirinya yang diminta langsung menangani kasus ini? Terus, apa tujuan Ndan Satria mengawasi kediaman Dira? Apakah Ndan Satria sudah tahu jika korban 18 tahun lalu masih hidup? Atau justru Ndan Satria tidak percaya dengan kemampuannya?’ Deretan pertanyaan itulah yang kini menyelimuti pikiran Faza.
Dari sekian banyak kasus yang ditangani Faza. Jujur saja kasus ini benar-benar seperti benang kusut yang gak ada ujungnya. Semakin mencoba diurai justru semakin kusut.
“Lanjutkan penyelidikan.”
“Siap, Ndan.”
Faza kembali terdiam setelah mengakhiri panggilan. Lalu mengambil air untuk mencuci wajahnya. Mencoba menenangkan diri diantara rasa pusing yang mendera.
***
5 jam perjalanan menggunakan kereta. Akhirnya Faza tiba juga di Jakarta.
Karena pagi dirinya ada rapat serta harus melapor perkembangan penyelidikan di kampung halaman Mbah Sekar ke Satria. Faza memutuskan menuju rumah Dira.
Namun, saat dirinya menyadari Dira memiliki tetangga rese serta pembuat keonaran seperti Siti. Yang akan menimbulkan keributan. Faza memilih mengurungkan niatnya. Dira butuh istirahat. Itu lebih penting dibandingkan apapun.
“Sepertinya aku harus meminta bantuan seseorang untuk melihat langsung keadaannya.”
Sambil berjalan keluar stasiun. Faza menghubungi seseorang yang dirinya percayai.
“Assalamualaikum, Mbak.”
“Waalaikumsalam, kamu sudah sampai Jakarta, Za.” Suara lembut milik sosok perempuan langsung terdengar.
“Sudah, Mbak.”
“Gak biasanya nelpon subuh-subuh. Pasti ada perlunya,” goda Manik sambil menguap. Terdengar jelas Manik baru bangun tidur.
“Maaf, Mbak.”
“Katakan saja.”
“Mbak Manik nengok Dira jam berapa?”
“Pagi, kenapa? Kamu gak bisa nengok.”
“Maaf, Mbak. Aku pagi ada urusan di kantor.”
“Sudah bisa Mbak tebak. Mana ada waktu kamu. Main ke rumah aja bisa dihitung dengan jari. Semoga hati Dira masih tetap untukmu.”
Faza hanya tersenyum mendengar ucapan Manik soal Dira. Faza tidak menolak, tidak mengiyakan juga. Apalagi jarak usianya dengan Dira lumayan jauh.
“Aku minta tolong, Mbak.”
“Iya, nanti aku kabari kamu. Mau video atau foto?”
“Terserah Mbak Manik saja,” senyum Faza.
“Terima kasih banyak, Mbak. Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan Manik. Faza mengawasi sekitar stasiun. Berjalan menyeberangi jalan ke tukang ojek pengkolan yang sudah menunggu kedatangannya.
“Ke kantor sekarang.”
“Baik, Ndan.”
Tukang ojek pengkolan itu salah satu bawahan Faza. Jalanan sepi dan masih gelap. Membuat Faza lebih cepat sampai di kantor dibandingkan jam sibuk semestinya.
“Makasih.”
“Sama-sama, Ndan.”
Setelah turun dari motor dan masuk ke area halaman kantor. Langkah kaki Faza terdiam. Pandangan matanya langsung tertuju ke ruangan Satria yang lampunya masih menyala. Menandakan jika Satria tidak pulang malam ini.
Drrrt…
Suara handphone yang bergetar. Langsung mengalihkan pandangan Faza. Keningnya mengkerut dalam saat melihat nomor tidak asing tertera di layar.
Tangannya gemetar menahan deretan pertanyaan menyelimuti dirinya. Dan dia wajib mengangkat panggilan itu.
“Malam, Ndan.”
“Faza, ke ruanganku sekarang! Bawa file laporan yang kamu dapatkan di desa itu.”
Satu kalimat terakhir sudah memperjelas jika Satria tahu segalanya tentang dirinya. Meski belum memberikan laporan. Tapi, nyatanya Satria sudah tahu dirinya sudah sampai kantor sambil membawa apa yang dirinya dapatkan.
Yang menjadi pertanyaan saat ini. Apakah Satria juga tahu identitas korban 18 tahun lalu adalah Mbah Sekar dan Nimas? Apakah dia juga tahu jika dua korban yang diusir itu masih hidup? Dan saat inilah yang ingin Faza perjelas.
Dengan langkah tegap Faza masuk ke kantor. Tujuannya jelas ruangan Satria yang saat ini menunggu kedatangan dirinya.
Ceritanya keren 👍