NovelToon NovelToon
APA INI?

APA INI?

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.6
Nama Author: andee Rosalia

para readers tolong bijak ya dalam pemilih bacaan

wanita mana yang tidak merasa sedih ketika ditinggalkan suaminya, apalagi di hari pernikahan mereka setelah ijab kabul dan sumpah - sumpah pernikahan itu telah terucap

"Jika bagimu ini adalah candaan
Jelaskan padaku di mana letak rasa lucu itu...?? Biar aku bisa membantumu menertawai hidupku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Aksi bisik-membisik terus saja berlangsung hingga bunyi sirine ambulance meraung – raung memasuki plataran kantor mengintrupsi kegiatan kami.

Awalnya aku kembali mendekati dedi itu hanya untuk mengembalikan hp miliknya namun sialnya dia menjadikannya kesempatan untuk mengenggam tanganku erat. dengan keadaan lemah dia masih mampu memerintahku, dengan suara terputus-putus lelaki itu berkata

"Ikut i..kut.. jag..a s..ay..a" kata dedi, masih memegang erat lenganku.

"Cih ogah" Kata sambil menepis tangannya dengan kasar tetapi dia tidak menyerah. walaupun tangannya sempat terlepas, sekali lagi dedi berusaha memegang tangannya dan berkata

"Ja..n..gan. per..gi. kau..ka..u ha..rus ik...ut" perintahnya lagi dengan kondisi semakin melemah.

Lelaki itu menantap tepat di bola mata seakan meminta tulus padaku. lelaki itu hanya meminta aku menemaninya di rumah sakit sebenarnya, tapi aku malah sangat enggan malah ada perasaan sedikit senang melihat lelaki itu tersiksa tepat didepan matanya.

Aku sudah menolak dengan kasar, namun tiba – tiba rencana jahat menerpa otakku. dengan senyum devil akhirnya aku mengangguk patuh.

Hal ini tentu saja menimbulkan yang lain semakin membisik. tatapan-tatapan mereka seakan menggantikan mereka untuk bertanya apa yang terjadi dan kenapa harus aku yang berada disisi boss mereka saat ini. Lagi dan lagi, indra kepekaanku telah mati jadi membiarkan saja mereka memikirkan yang tidak-tidak tentangku.

Ambulance telah tiba, dedi juga sudah diangkat memasuki ambulance. Mobil ambulance sudah melaju meninggalkan pekarangan kantor sedangkan aku akan menggunakan mobil Dedi ke rumah sakit.

Aku baru saja memasuki mobil itu, tetapi sebelum mobil melaju meninggalkan area kantor Narend dan yang lainnya menghadangku.

Mereka menyempatkan diri untuk menasehatiku agar tidak gegabah dalam bertindak dan agar berhati – hati dengan keluarga brawija.

Mengetahui mereka khawatir bukannya mengiyakan malah hanya tersenyum tulus. Aku tidak pernah tahu jika orang lain terkadang bisa seperhatian itu padaku dan ternyata masih ada orang-orang baik yang bisa menerima semua sikap burukku selama ini.

Seandainya mereka tahu status pernikahanku, ku yakin sikap dan nasehat mereka tidak seperti sekarang ini, tapi aku lebih suka mereka yang tulus menjadikanku teman dan sahabat tanpa gelar yang melekat padaku. semua pekataan mereka hanya ku dengar saja tanpa bantahan lagi.

Tidak butuh waktu lama untuk aku sampai di rumah sakit karena memang jaraknya tidak terlalu jauh. Aku baru saja memasuki rumah sakit kala ku lihat dedi sedang di tanggani seorang dokter dan beberapa perawat di sampingnya.

Aku tidak tahu penangganan apa yang dokter itu lakukan, yang jelas tangan kanan Dedi sudah terpasang infus bahkan dokter itu seperti sedang menyuntikkan sebuah cairan ke selang infus dedi.

Jika kalian berpikir aku akan menunggu dengan rasa khawatir disertai air mata ibarat air terjun maka itu adalah sebuah kesalahan besar.

Di tempat itu, aku hanya melakukan registrasi hingga dedi bisa di pindahkan keruang inap. Just information, aku di tempat ini sebenarnya sedang menunggu kedatangan orangtua dedi, bukan untuk menyampaikan rasa prihatinku melainkan ingin merasa bahagia di atas penderitaan mereka.

Menunggu ternyata memang sesuatu hal yang membosankan. Merasa Jengah menunggu hal yang tidak pasti, sekali lagi ku hubunggi nyonya cheristi. Tanpa menunggu lama, sambungan telpon terhubung, dari seberang sana terdengar suara seorang wanita, dia berkata

“Dewi, bilang sekarang kalian dimana?” katanya pertama kali.

“Ooo, anda sudah tahu ini saya. Seperti informasi pertama, kami di rumah sakit” kataku dengan sedikit heran. Sumpah, sebelumnya aku tidak pernah memberitahu identitasku tapi nyatanya dia bisa menebak. Pikiranku terusik kala nyonya besar itu berkata

“Tolong jaga Dedi untuk kami ya, kami masih di London, kami baru bergerak ke bandara agar bisa kembali ke Indonesia ya sayang” pintanya dengan lembut, serta sebuah isakan”

Tersentuhkan aku kala mendengar wanita itu terisak dan sedih? Jawabannya tidak. Sekali lagi dengna semenah-menah ku matikan telpon sepihak padahal di seberang sana ku dengar nyonya Cheristi sedang berbicara padaku.

Jangan mengharapkan aku akan masuk ke ruang inap Dedi untuk menanyakan kondisinya, berada di samping Dedi sambil menggenggam tangan lalu melapalkan permohonan-permoohonan agar dirinya kuat menghadapi penyakit yang kini di menggerogoti tubuhnya.

Hey open your eyes, sadarlah ini bukanlah sinetron yang menayangkan adegan - adegan romantis namun berbau kotorang gonggong yang sering ditayangkan di TV swasta setiap harinya.

Sungguh aku takkan sebodoh itu untuk merelakan diriku duduk didepan ruangan itu seakan menantikan keselamatan dia. Jika kalian penasaran apa yang ku lakukan saat ini? Maka biar ku beri tahu kalian.

Ketika beberapa dokter dan perawat sedang berjuang untuk menyelamatkan tubuh yang hampir menjadi bangkai itu aku malah sibuk memperhatikan wajah-wajah para dokter muda yang berlalu lalang dihadapanku.

Mereka sungguh terlihat sangat keren dengan snelli yang melekat dibadan juga stetoskop yang semakin mendukung proposi mereka. pemandangan ini serasa sangat menarik hingga membuat aku enggan untuk beranjak dan meninggalkan rumah sakit itu.

Kegiatan itu tidak berlangsung lama karena perut mengintrupsi dan meminta haknya untuk segera di isi. disinilah aku, di kantin rumah sakit yang luas dan bersih sedang menikmati makan siang dengan hati yang sangat bahagia tidak ketinggalan pemandangan indah tentunya.

Detik demi detik berlalu dengan cepat hingga Pukul tiga siang rasa kantuk tiba – tiba menyerang. awalnya selain untuk menyegarkan penglihatan aku masih bertahan di tempat ini untuk menunggu Mr dan Mrs Brawijaya datang, nyatanya saat wanita itu memberi tahuku lokasinya saat ini, rencanaku seketika berubah padahal aku ingin sekali melihat keterpurukan mereka melihat dedi terkapar lemah.

Ingin ku sih begitu, nyatanya kenyataan yang terjadi tidak seperti itu. di rumah sakit namun nyatanya hal itu tidak bisa karena entah kapan mereka tiba di Indonesia.

Pukul 02:15 siang aku meninggalkan rumah sakit menggunakan mobil milik bossku yang terkapar entah kenapa. Selama bekerja di perusahaan itu, ini pertama kalinya aku memiliki waktu luang.

perasaanku kini sedang senang jadi dengan mobil milik lelaki itu, ku lajukan mobil menuju mall. Masih menggunakan pakaian kantor aku memasuki sebuah salon.

aku memutuskan akan memanjakan diri kali ini. Aku sudah memutuskan perawatan seluruh tubuh, baru juga memasuki ruang spa dan mendapatkan pijitan, tapi dering telponku terus berbunyi tiada henti-hentinya.

Awalnya aku tidak khiraukan semua itu, tapi dering telpon, sms juga email yang bertubi - tubi terus menganggu kenyamananku. Sekali dua kali nomor yang sama terus menghubunggiku hingga sampai aku merasa muak sendiri di terror oleh mereka.

Tidak tahan lagi mendengar suara brisik itu akhirnya aku menerima panggilan. Kala sambungan telpon terhubung, yang terdengar adalah suara rutukan seseorang. Dia berkata

“Kami sedang menunggu keberadaan anda dan boss anda. Kenapa tidak ada konpirmasi, sedangkan rapat akan di mulai lima menit lagi” ujarnya dengan nada yang di buat selembut-lembutnya padahal aku tahu dia sedang menahan geram.

“Ooo maaf, boss saya sedang kurang sehat dan baru saja di lahirkan ke rumah sakit” jawabku dengan perasaan yang sama. Aku menggerti apa yang dia rasakan, karena seperti ini lag derita para sekertaris.

“Kami turut prihatin tapi rapat ini sangat penting dan harus di bawakan oleh perusahaan anda. Adakah perwakilan yang bisa anda utus?” tanyanya dengan hati-hati.

“Saya rasa tidak, karena yang lain sudah memiliki jadwalnya masing-masing” kataku berbohong.

Sebenarnya bisa saja aku menelpon salah satu wakil atau orang kepercayaan dedi tapi aku malas saja jadi tidak ingin melakukannya.

“Tolonglah ini sangat mendesak. Bisa jangan main-main sekarang tidak” ujarnya mulai kehilangan control diri.

“Saya tidak main-main. Batalkan rapat itu dan suruh mereka bubar saja kan beres” ujarku santai

“Nyonya Dewi. Apa anda tahu apa yang anda ucapkan?” ucapnya menahan amukannya.

“Iya tahu. Tapi kami sedang di situasi yang genting juga, ini di luar kuasa kami” jawabku masih acuh.

“Jadi kapan jadwal ini bisa di atur ulang?” tanyanya masih mencoba menahan sabar.

“Entahlah. Tunggu sampai boss saya sehat atau tuan Bram kembali dari London sehingga bisa menentukannya”

“Lebih tepatnya itu kapan?” tanyanya lagi

“Saya juga tidak tahu lebih pastinya” jawabku acuh sambil menggisi formulir salon

“Baik” katanya singkat lalu dengan entengnya mematikan telpon begitu saja

Aku sadar orang di seberang sana, bisa saja menggumpatiku habis-habisan tapi aku tidak peduli. Dengan sikap angkuh, cuek bahkan bermasa bodohnya aku, aku menggikuti langkah salah satu pekerja salon untuk menuju ruang Spa.

Jika kalian pikir semua sudah beres, maka tebakan kalian salah. Setelah selesai berganti baju lalu berbaring di tempat yang di sedikaan, telpon genggamku kembali bordering tiada hentinya.

Tubuhku sedang di pijit namun pikiranku dan telpon, notif email, chat dari teman-temanku menggusiknya hingga membuatku tidak rileks. Kini aku sedang mengecek kembali email yang masuk, dan yaaa sudah dipastikan semua isinya serupa.

Aku sudah jelaskan jika bonus libur dadakan ini di karenakan si kesehatan bossku yang tidak baik, tetapi mereka tetap mencaci makiku.

Selain itu, mereka mengatakan aku tidak bisa bekerja proposional karena tidak menghubunggi mereka secepat mungkin atau mencari orang lain yang bisa mengantikan pekerjaan si boss untuk sementara.

Aku memang mendengart hinaan mereka padaku, tapi ucapan itu masuk lewat kuping sebelah kanan dan segera keluar dari lubang kiri.

Aku beberapa kali hanya menanggapinya dengan santai dan mencemoh dalam hati. Setiap protesan mereka sama dan saking muaknya aku dengan perkataan mereka, sesorang dari perusahaan Vidia Crop menjadi sasaran kemarahanku karena memang dia yang terakhir punya janji temu bersama Dedi hari ini padahal kala itu dia bertanya dengan sopan tapi aku malah membentaknya dan berkata

“boss saya sedang sekarat di rumah sakit dan tidak tahu masih bisa hidup atau tidak. Kalau kau mencarinya berharaplah dia masih hidup, kalau tidak batalkan saja perjanjian perusahaan kalian dengan perusahaan kami asal kalian siap di hantui oleh iblis itu” semprotku dengan sekali tarikan nafas lalu dengan kurang sopannya mematikan telpn. Begitu saja.

Setelah menggucapkan kalimat itu, aku segera mematikan telpon secara sepihak. sungguh hari ini sangat menyenangkan sudah melihat musuh terkapar tak berdaya, dapat libur gratis dan jangan lupakan aku tetap digaji mahal. Bagiku telpon, sms bahkan email mereka sanggat menggangu kebahagiaanku.

"Agh bisakah hari ini terulang lagi" desahku sambil menikmati pijitan dengan memejamkan mata.

Aku sudah membayangkan hari esok selama lelaki itu tidak ada, aku hanya perlu bersantai-santai riah dikantor, membayangkannya saa sudah membuat hatiku bahagia, apa lagi benar-bebar melakukannya.

Pijatan di tubuhku telah selesai, aku sudah mendapatkan perawatan wajah, dan yang penting aku sempat memotong rambutku sebagai tanda kebangkitanku dari rasa keterpurukan.

1
Sondang Sartika Lumbanraja
yang paling aneh tuh orang tua Dewi bisa nya anak nya bolak balik dimasukkan ke kadang harimau udah tau anak nya disakiti dilecehkan dan dibuang tapi tetap aja disuruh balik ke suami nya yg gila
Irma Wati
kan judulnya apa ini.jadi cerita nya pun sm apa ini ko ngk jls
Allessha Nayyaka
pada akhirnya dewi bkl nyesel mpe mati
Kurniawati Adek
terlalu panjang alur nya,klu bisa inti nya ja supaya ga bosan membaca nya🙏
Siti Aisyah
secara agama dewi sdh bebas meskipun tdk ada ucapan ...wanita yg tidak di nafkahi lahir bathin selama 3 bulan berturut.turut itu sdh jatuh talak...jd dewi sdh wanita single lg...janda rasa perawan..krn gak pernah disentuh..🤣🤣🤣
Siti Aisyah
gak ada yg hrs dikomentarin yaa thor...prolog kepanjangan
Lestari Lestari
sumpah ini adalah novel terburuk yg pernah ku baca
Risa Istifa
🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Risa Istifa
😭😭😭😭😭😭😭
Risa Istifa
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Jade Meamoure
cerita yg aneh tp aq tetep support agar di kesempatan lain bisa membuat karya yg lebih greget dan di sukai pembacanya
Jade Meamoure
kasih tendangan penghancur masa depan Napa...sebel aq koq teraniaya mulu
Jade Meamoure
nyimak Thor
RiStha Carvalho
ceritanya gak jelas,,, gimana kelanjutan rianti sama dedi??? menguap begitu saja. dgn mudahnya dewi balik lagi sama dedi setelah berulang kali di sakiti. bener" cerita in****ar
Nety
aku takan pernah sudi merendah kan harga dirinya.

ko aku sedikit bingung ya, sebenarnya yg ngomong ini siapa sih?? dewi yg menceritakan kisah nya apa orang lain yg menceritakan kisah dewi

hmmmm 🤔🤔??
Citra Esmi
sumpah deh geregetan aq.... pengin berhenti baca kasian dewi nya.... tapi penasaran .... huaaaaaaaa
Davina Jbg
sbnrnya msh bnyak pertanyaan yg blm terjawab sih.. spt hub rianti dan dedi, kmn dedi menghilang n jarang pulang, dan bagaiman hkdpan dedi stlah dewi menghilang.
Maritza Hanan
mumet aku bacanya 💣
Debora Tangke
capek ngikutin alurx gak jelas ,kirain saat dewi koma dan sadar utk brpamitan dan prgi utk slma2x kisahx sdh end ,kok malah jdi pux ank lagi kan janinx sdh diangkat dan mati krn kecelkaaan ?
Revalina
jujur aku belom paham alur ceritanya Keman? terus plakor nya hilang? kemana kecelakaannya kenapa? aku 😕😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!