NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Pengacau?

Terkadang memang Tuhan punya caranya sendiri. Takdir yang sebenarnya membawamu ke tujuan yang diimpikan malah dianggap sebagai cobaan. Manusia dengan keterbatasan akalnya memang sering kali terjebak di pikiranya sendiri.

Tidak menyangka ternyata fashion show pertama Nareya bukan sebagai model tapi sebagai designer. Sampai di titik ini Nareya masih tidak percaya impian yang menurutnya mustahil secepat itu akan terwujud.  Persiapan terakhir, sentuhan terakhir, tapi sepertinya tidak akan berjalan semudah itu

Hari minggu dengan konsep outdoor itu adalah perintah Kala. Sejak pembicaraan malam itu, Kala jadi sering kali turun langsung membantu Kirana dan Nareya. Setidaknya menurutnya itu bantuan, walaupun bagi Nareya itu tak lebih dari pengacau. Konsep, tempat, dan waktu seketika berubah semua.

“Ini kalau dipaksakan siang hari outdoor gini, model kita bisa pinsan,” ucap Nareya.

“Aku setuju mbak, tema gaunku juga lebih cocok sebenarnya indoor,” sahut Kirana.

“Sudah selesai urusan tempat. Waktu nya malam hari lebih sejuk kalau memang permasalahanya itu. Lampu sorot dan layar juga iringan musik kalian sesuaikan dengan tema pakaian yang akan ditampilkan.” jelas Kala.

“Argh, pengacau satu ini.” teriak Nareya keluar dari ruangan itu. Beberapa foto pakaian pilihanya, laptop, dan peralatan tulisnya dia bawa ke taman di samping butik. Dia punya waktu setidaknya tiga jam untuk merampungkan semuanya.

“Parah mas, kaku banget sih.” ucap Kirana menggelengkan kepalanya.

***

“Ini bener jadwal lo berubah drastis. Bukanya target lo jelas disini?” tanya Ardito

“Dia udah gak bisa gue abaikan gitu aja.” ucap Kala singkat.

Pagi itu setelah malam panjangnya merancang segala cara melalui planing konten yang Nareya minta. Kali pertama Kala membuatkan makanan untuk orang lain. Kala sudah terbiasa masak sejak kuliah di Amerika. Itu bukan hal sulit baginya. Tapi perubahan mulai banyak terjadi setelah Nareya meminta cerai

“Istri lo?”

“Minta cerai, dia bilang kesepakatan itu udah gak relevan.”

Hanphonenya berbunyi, notifikasi pesan masuk terpampang. Nareya, ah wanita itu mengejutkanya sekali lagi. Usahanya yang dia kerjakan semalaman ditolak.

“Lagian lo tiba-tiba banget belok dari Sabreena ke Nareya. Dari pertama gue ketemu aja udah keliatan dia bukan tipe yang mudah.”

“Nareya is still good option.” ucap Kala. 

“Wohoo… dari segi apa? Malam pertamanya?” ledek Ardito

“Actually, gak ada malam pertama. Waktu itu terlalu kacau di rumah utama.”

“Jangan-jangan lo gak sama sekali belum pernah nyentuh dia?” tanya Ardito. 

Kala  hanya diam, sibuk membolak balik tumpukan berkas yang harus diperiksa sebelum disetujui. 

“Wah, lo bukan pria yang sesuci itu untuk gak melakukan apapun. Well dia spek model bro.”

Kala tidak menanggapi apapun lagi. Sedangkan Ardito masih saja melontarkan kalimat provokator agar bosnya itu akhirnya bocor. Ardito masih dengan rasa ingin tahunya kepada kehidupan pribadi Kala.

***

Hari yang ditunggu-tunggu Nareya akhirnya tiba. Semua keluarganya dia undang di sini. Kala membuatkan tribun-tribun sepanjang area catwalk. Panggung utama di dengah dan dua jalur catwalk kanan dan kiri panggung memenuhi lahan yang luas ini. Setiap pengunjung sudah ditentukan tempat duduknya termasuk keluarga Nareya dan tak terkecuali para Atmasena. Media pun di tentukan batas area yang tidak bisa di lewati. Sisanya karena outdor jadi masyarakat sekitar pun masih bisa ikut melihat dari area luar. Karena bukan hanya fashion show biasa tapi juga banyak penampilan dari band dan penyanyi ternama.

Keluarga Nareya berada di sebelah kiri dan para Atmasena disebelah kanan. Orang tua Nareya berada di posisi yang aman dari para Atmasena dan media yang meliput. Perhitungan kala sudah sangat matang. Meski harus membuat semua bekerja keras di waktu mepet. Tapi semua terbukti dari ekspresi Nareya yang begitu berseri.

“Kak Eya hebat banget!” seru Athaya.

“Kak, selamat ya!” seru Parama, dia membawa buket bunga.

“Aahh makasih… papa mama terima kasih juga ya.”

Sundari menatap datar, “Ini hasil kamu atau suami kamu yang kaya itu?” tanya Sundari

“Nareya sekarang mendesign pakaian di butik milik Kala.” jelas Nareya.

“Apakah dia benar memperlakukan mu dengan baik?” tanya Wira.

“I—iya pah, baik kok dia.”

“Athaya s—sudah bisa S lho” ucap Athaya menekankan huruf s nya.

“Hebat kamu, pokoknya saat terapi harus nurut dan yang rajin ya!” perintah Nareya.

“Kak Reya cantik sekali” ucap Parama.

“Makasih ya,”

Kru sudah meminta Nareya untuk kembali ke panggung, sesi foto dan sambutan dari pimpinan Atmasena.

“Semuanya Nareya pamit balik bekerja lagi ya, nanti pulangnya ada yang antar.”

“Kamu nggak kasih saku mamah Nareya?” tanya Sundari

“Kamu itu!” sentak Wira.

“Nanti Nareya nitip ke driver yang antar mamah ya, Nareya lagi nggak pegang dompet.”jawab Nareya.

***

Sambutan Kala sampaikan dengan sangat baik, antusiasme masyarakat juga sangat tinggi. Bahkan sampai hampir tengah malam masih sangat ramai. Media yang hadir benar-benar banyak dan tidak ada hentinya merekam setiap momen

Sampai di saat Nareya, Kirana, Kala, dan Menteri Ekraf berfoto bersama. Ini momen sesuai rencana Kala. Tapi tiba-tiba permintaan dari media merusak suasana hati Nareya

“Mas Kala sama mbak Nareya aja dong, suami istri foto bareng.” teriak salah satu media. Seketika Pak Menteri pun langsung mempersilahkan, sedangkan Kala langsung merespon untuk mengurangi rasa canggung di sana.

Tangan Nareya bergetar memegang lengan Kala sesuai arahan. Sepanjang sesi foto itu Nareya hanya berfikir seberapa parahnya semua berita menampilkanya lagi setelah acara ini. Tapi genggaman Kala di tanganya mengalihkan perhatian Nareya.

“Tenang…”ucap Kala pelan. Tatapanya mendalami sorot mata Nareya yang kosong.

“Nahh gitu dong, pasutri baru harusnya memang masih romantis. Jangan kaku!” seru salah seorang dengan kamera dengan lensa panjang di tanganya.

Tanpa persetujuan Nareya pun, semua yang terlaksana hari itu sesuai dengan perencanaan Kala.  Bahkan makan malam jamuan setelah acara kemarin benar terjadi. Ini terlihat seperti double date yang normal terjadi. Tanpa Nareya sadari pun sepertinya dia sudah ahli mengkondisikan ekspresinya.

“Istriku sudah isi, kalian bagaimana? Tidak menunda kan?” tanya Pak Menteri, sedangkan istrinya hanya tersenyum.

Nareya dan Kala mengucapkan selamat atas kehamilan anak pertamanya.

“Ah, belum.”jawab Nareya singkat saat mendapat sorotan penuh tanya.

“Waduh mas, harus berusaha lebih keras itu. Makan daging merah mas, buat menambah stamina. Hahaha” ledek Pak Menteri.

Anehnya respon Kala justru ikut tertawa seperti tidak ada yang salah diantara mereka.

***

“Soal permintaan ku waktu itu, aku serius” ucap Nareya setibanya di apartemen mereka.

Kala menoleh, senyum tipis terbit di wajahnya. Nareya justru mengernyit, keheranan.

“Kamu lupa ucapan sendiri sepertinya. Kamu masih punya energi untuk membicarakan ini?” tanya Kala.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!