Rain menjadi ketua, dari geng yang dibuat sendiri, Rksabi. Yang berkecimpung pada tugas jasa, geng yang terdiri enam orang itu mencari klien dengan berbagai masalah demi mengumpulkan pundi-pundi uang. Sampai satu tugas yang menawarkan bayaran mahal, membawanya pada gadis muda, dan Rain merasa terjebak disana, di dalam rumah mewah keluarga Vick sebagai Pengawal pribadi Yasmin Celia. Dia datang untuk menyelesaikan misi sebagai Pengawal pribadi yang melindungi, tapi selesai tugas justru jadi Bapak yang mencari keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrar Atma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Yasmin melangkah berat menuju kelas nya saat melewati koridor, lalu langkah kecil itu terhenti sejenak kala melihat empat perempuan centil tengah mengganggu seorang perempuan berkaca mata.
"Eh itu Yasmin, sini Yas kita lagi ngobrol sama Laura" seseorang diantara mereka rupanya menyadari kehadiran Yasmin.
Yasmin pun tersenyum paksa sembari membawa langkahnya menghampiri mereka, "Ngobrol apa?"
"Ulang tahun Daniel, kita mau ajak Laura. Tapi dia ngga mau, gimana dong menurut kamu?" Ucap Inal, perempuan semok yang memanggil nya tadi.
"Kalau menurut aku sih paksa aja ngga sih?" Niw menyela, perempuan bertubuh tinggi.
"Kenapa dia ngga mau?" Tanya Yasmin menatap Laura yang menunduk, nampak takut.
Ketua mereka Efa ,mengusap rambut Laura dan berakhir menjambak. "Pertanyaan loe ngga penting Yas? Loe ngerti ngga sih gimana adaptasi di kelompok kita? Udah hampir dua tahun gabung tapi ngga bermutu beredar dikelompok centil"
Yasmin seketika terdiam lalu merapat ke sisi Niw, ia memasang sikap tenang. "Maksud aku, apapun alasannya udah semestinya dia nurut"
Efa menatap Yasmin, puas mendengar ucapan yang dilontarkan, seolah kalimat itulah yang ditunggu. "Loe dengarkan apa kata kita? Harus datang malam ini juga, kalau ngga loe tau akibatnya" Efa mengacak-acak rambut Laura, lalu merebut kacamata nya.
"Jangan kak" seketika Laura meraba udara sambil meminta tolong agar menyerahkan kembali kaca matanya.
"Mau?" Laura mengangguk, namun bukan menyerahkan Efa malah menjatuhkan kacamata, lalu menginjak sampai pecah.
"ops...ngga sengaja, gue mesti bilang maaf ya?" Ujarnya tanpa sesal, sementara teman-teman nya tertawa geli, Laura menatap nanar lantai.
"Aduh gimana itu Fa, kasih tahu takutnya dia ngga lihat kacamata nya jatuh disebelah mana? Kan perlu kaca pembesar" ujar Tika, perempuan berkulit eksekotis.
Efa menekan bahu Laura hingga tertunduk dan jatuh berlutut didepan kakinya, di selingi tawa geli oleh teman-teman kelompoknya nya, begitupun Yasmin yang memaksa tawa.
"Kiri dikit tangan loe, baru ketemu tuh kaca pembesar" setelah puas menatap Laura yang mengusap kacamata nya,barulah ke lima orang yang menyebut mereka kelomok centil cabut.
Yasmin menoleh ke belakang sekali, menatap Laura yang bergeming ditempatnya. Ada rasa sesal dalam dada nya, namun ia tidak berani menyampaikan nya.
Kelompok itu pun terpisah, menuju kelas masing-masing. Sepanjang jalur Yasmin merenung dengan kelakuan nya, apa hal seru dari memaksa kehendak pada Laura agar datang ke acara Daniel? Lalu seakan belum cukup, juga merusak kacamata nya.
Jauh dari lubuk hatinya ada keinginan untuk keluar dari lingkaran teman-teman seperti mereka, namun ia telanjur masuk dan tidak tahu cara kembali pulang. Menjadi diri sendiri tanpa perlu mengikuti perintah Efa, tanpa sungkan melakukan hal apapun yang diinginkan seperti dulu saat tidak punya siapapun. Sekarang ia hanya punya pilihan tetap bertahan, meskipun tidak sesuai dengan nurani, atau berani lepas yang berarti menantang mereka.
*****
Malam harinya sesuai janji, ia bersiap pergi ke acara Daniel, lelaki yang berusia setahun lebih tua dari mereka. Seseorang koko cina, teman Efa dari kecil. Karena itulah sebagai kelompok centil ia juga mendapatkan undangan dan diharuskan datang. Ketika keluar dari kamar, dua pelayan nya menyambut dengan segala macam pertanyaan.
"Nona anda yakin hendak berangkat sendiri? Nona, biarkan Pak Taka yang menemani anda. Perjalanan ke desa Tepat cukup jauh Nona, bahaya jika sendirian."
"Dia itu jongos, ngga cocok dibawa pesta yang ada bakal malu-malu in."
"Tapi Nona...Tuan Vick bisa marah besar"
"Aduh rempong banget pake ngurus Vick, tua bangka itu pasti sibuk dengan istri baru nya. Kalau sekalipun marah, sodorin aja tuh pengawal"
"Nona...."
"Udah diam! Jangan ngatur, aku pulang cepat ngga sampai tengah malam" dengan pelototan tajam dari mata bulat nya, para pelayan pun tertunduk diam. Tidak lagi menahan langkah nya yang buru-buru, karena ia harus cepat mengambil kesempatan disaat pengawal nya tengah menghadap papi nya untuk melapor kegiatan Yasmin seminggu itu.
Ia menuju garasi, menjalankan mobil sendiri. Para penjaga dirumah hanya diam seolah tidak melihat apapun, daripada diomel majikan kecil yang galak sampai berhari-hari, mereka lebih suka menerima amukan tuan Vick yang mungkin hanya berupa hukuman satu waktu.
Lepas dari kediaman Vick, ia menghela napas lega tidak ketahuan. Namun tidak sepenuhnya kegelisihan itu hilang, sebelum ia sampai ke rumah tanpa pengawal yang mencari.
Diperjalanan nya menuju desa Tepat, panggilan masuk datang dari Tika, ia pun menepikan kendaraannya nya untuk mengangkat panggilan. "Hallo Tik, ada apa?"
"Udah jalan belum Yas? Kami lagi jemput Laura dulu nih, takutnya tuh anak ngga datang kan bahaya. Nanti anak-anak geng motor pada marah"
Yasmin terdiam sejenak mendengar dengan seksama suasana diseberang yang terdengar gaduh, ia jadi memikirkan posisi Laura yang tidak diketahui juga untuk apa? Apa hubungan nya geng motor dengan kehadiran Laura?
"Iya lagi dijalan, setengah jam lagi sampe"
"Oh...gitu yaudah, selama-"
" Tik, boleh tahu ngga buat apa Laura diajak?" Ia menyela sebelum Tika memutuskan sambungan, karena Pada akhirnya ia tidak kuasa menahan rasa penasaran.
"Aku penasaran,takutnya aku makah bikin runyam karena ngga tahu apa-apa" Yasmin beralasan agar mereka tudak marah dan merasa ia terlalu peduli dengan Laura.
"Iya ya belum kasih tahu kamu, jadi gini Yas. Anak-anak geng motor penasaran sama tuh cewek katanya pendiam banget, tapi belum punya cara buat mainin jadi mereka minta tolong Efa buat beresin. Dan Yas, katanya bukan cuma Laura yang jadi bahan mainan, tapi ada satu lagi cewek dari desa Tepat khusus buat kakak Daniel, seru deh kayanya entar" suara Tika terdengar girang.
Geng centil bilang, melihat orang-orang tertindas itu seperti ada kesenangan sendiri. Itu seperti lelocon yang mengocok perut, disaat menjahili seseorang yang tetap diam atau bahkan sampai menangis. Mereka seolah merasa punya kendali dan semakin ditakuti.
Dan Yasmin pernah mencoba nya, melakukan perundunagn pada orang-orang yang yang terlihat lemah. Sebagai percobaan sebelum masuk centil. Membuat ia harus berurusan dengan pihak berwajib, dihukum Papi nya, lalu diserang rasa bersalah. Apalagi ia belum sempat minta maaf, tapi gadis yang dirundung nya sudah pindah jauh. Namun ia selalu berdoa agar suatu hari nanti ia bisa menebus kesalahan nya, dan bertemu dengan gadis itu yang ia harapkan selalu bahagia. Masalah ia akan di maafkan atau tidak, bukan lagi ranah nya yang perlu dipaksakan.
"Yas, kami tunggu kamu ya. Yang cepat ! nanti aku sekalian kenalin buat kamu cowok, asli mereka ngga kalah dari mantan kamu yang bajingan itu. Dah...aku matiin telepon nya"