Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memburu Rivaldo
Empat orang yang sering merundung Eliza berdiri menghadang langkah mereka, seolah lorong sekolah adalah panggung kecil yang selalu mereka kuasai. Maya berdiri paling depan, sementara tiga gadis lain berjejer seperti bayangan yang siap menertawakan apa pun yang terjadi.
"Apa maksudnya ini, Maya?." Eliza menatap Maya dengan wajah kesal yang sulit ia sembunyikan.
Maya justru menampilkan ekspresi memohon yang tidak pernah ia pakai saat merundung. "Ayo bermain,kan kita teman yang baik?." katanya, meski riaknya jelas-jelas palsu.
Rio melangkah setengah langkah ke depan, menjadi penghalang antara Eliza dan masa lalu yang menyakitkan. Tangannya terangkat sedikit, memberi sinyal kalau Eliza tidak perlu menghadapi ini sendirian.
"Tapi dia sudah ada janji dengan ku.." ucap Rio dengan tenang namun tegas.
Maya tidak terima, ia maju sedikit mendekat pada Rio dengan tatapan merendahkan. "Sejak kapan kau menjadi rendahan?, Eliz?, Bukankah kita ini teman?, dan kenapa kamu malah bersama siswa korban perundungan?." Ucapannya licin, sengaja dibuat untuk menusuk.
Dan ia belum selesai. "Kalau tidak salah,sejak SD kan?,kau tidak punya orang tua kan?, tidak ada tempat untuk mengadu kan?."
Ucapan itu membuat udara di sekitar tiba-tiba menegang. Riko langsung panik, matanya membesar seperti seseorang yang baru melihat petir menyambar di depan kakinya.
"Rio.." katanya lirih, karena ia tahu betapa cepatnya Rio bisa meledak jika masa lalunya atau keluarganya disentuh sembarangan.
Namun Rio terdiam cukup lama untuk membuat semua orang gelisah. Lalu dengan senyum yang aneh dan suara yang datar, ia menjawab.
"Paling tidak aku, memiliki otak."
Jawaban itu membuat Maya berhenti tersenyum, sementara Riko menghembuskan napas panjang. "untung saja .." katanya lega, meski masih mengawasi Rio dengan waspada.
Setelah itu Rio memutuskan untuk tidak memberikan mereka waktu lebih.
"Ayo ..." Rio merangkul Eliza, berniat membawa gadis itu menjauh dari Maya dan rombongannya.
Namun langkahnya terhenti ketika Eliza berbicara dengan suara kecil. "karna aku orang tua mu jadi terkena juga." Kalimat itu membuat Rio langsung diam.
Ia melepaskan rangkulannya perlahan, lalu berkata tanpa menoleh, "Apa yang kau katakan sih ,aku tidak mendengarnya." Nada itu bukan marah tapi jelas menunjukkan dia menjadi lebih malas.
Riko, yang sudah mengenal sisi sensitif Rio, mendekat sedikit ke Eliza.
"Dia selalu seperti itu..." bisiknya dengan lembut. "Tapi mau bagaimana pun, dia anak yang baik." Eliza mengangguk pelan, meski hatinya terasa sedikit perih karena tanpa sengaja menyentuh titik yang tidak seharusnya ia sentuh.
Sementara itu Maya dan ketiga gadis belakangnya mulai kehilangan minat ketika mereka tidak mendapatkan reaksi yang mereka inginkan, meski tatapan Rio sempat membuat mereka mundur setengah langkah.
Lorong itu akhirnya kembali tenang, hanya menyisakan tiga orang yang masih berdiri saling menjaga satu sama lain.
Dan Begitu mereka bertiga keluar dari gerbang sekolah, suasana sore menggulung seperti arus pasar kecil. Murid lain bertebaran, ada yang sibuk bercanda, ada yang berlari, ada juga yang sibuk sok keren di depan gebetan. Rio, Riko, dan Eliza berjalan santai, mencoba melepas sisa ketegangan tadi.
"Terima kasih Rio." Eliza mendekat dengan langkah ringan, mencoba menyampaikan rasa terima kasihnya.
"Untuk apa?." Rio menjawab sambil kembali memakai ekspresi malas khasnya, seperti penghuni kos yang baru bangun sebelum magrib.
Baru beberapa langkah, sebuah suara asing namun tidak asing menyayat udara.
"Nampaknya Kau bahagia ya?."
Sosok tinggi muncul di depan mereka, membawa beberapa pengikut di belakangnya. Aura kelompok itu seperti rombongan burung gagak yang merasa halaman sekolah adalah wilayah mereka.
"Rivaldo dan beberapa bawahnya."
kalimat itu hampir seperti gumaman takdir. Rio spontan menggertakkan giginya, wajahnya berubah sedikit cemas tapi matanya sudah memanas.
Rivaldo berjalan mendekat, dan kini berdiri tepat di depan Rio. Tinggi tubuh mereka membuat Rio harus mendongak, tapi tatapan Rio tak mundur sejengkal pun.
Rivaldo menatap dari atas dengan gaya predator yang merasa sudah memenangkan pertandingan sebelum dimulai. "Apakah sekarang anjingnya akan menggigit majikannya?."
Meski takut, ada percikan gila di mata Rio. Percikan yang hanya muncul saat seseorang bersemangat. "Sejak kapan anjing memiliki majikan seekor semut?."
mereka memanas.
Wajah Rio menegang, senyum lebarnya menganga seperti orang yang siap bermain api. Riko langsung maju berdiri di depan Rio, berniat melindungi sahabatnya dari guncangan berikutnya.
Rivaldo tidak langsung membalas. Pandangannya turun sebentar ke tangan Rio yang masih penuh perban. Ada senyum tipis yang lebih mirip ancaman daripada candaan.
"Akan ku lakukan lain kali.., Nanti tangan mu bisa menghilang." Ucapnya sebelum berbalik, meninggalkan ancaman menggantung.
Rivaldo baru beberapa langkah menjauh ketika suara Rio memotong udara sore yang mulai tenang.
"Kenapa tidak kita lakukan besok?." Rio menantangnya tanpa ragu. Kata-kata itu keluar begitu saja, dorongan dari naluri.
Baginya, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."'Jika tidak ku lakukan sekarang maka aku tidak akan bisa melakukannya sama sekali." Pikiran itu berkobar di kepalanya.
Riko yang berdiri di samping langsung terpaku. Mulutnya sedikit terbuka, seakan Rio baru saja menantang naga padahal tangannya masih belepotan perban. Di wajahnya terpampang jelas kalimat yang tidak ia ucapkan: “yang benar saja.” Dia hanya bisa pasrah dengan sifat Rio yang selalu jalan dulu, mikir nanti.
Rivaldo berhenti, lalu perlahan menoleh. Tawa meledak dari mulutnya, "Hahahaha",
tawa yang menggema seperti seseorang yang tidak percaya ada anak kelas sebelah yang berani menyentuh ekornya.
Ekspresinya berubah, mata menyipit, bibir meliuk meledek. Ia melangkah kembali mendekati Rio dengan gerakan santai, seakan menatap hiburan yang berjalan sendiri menuju kandang harimau."Apakah si pengecut kita sudah mulai berani?."
Jarak wajah mereka hanya beberapa jari. Nafas Rivaldo terdengar jelas, penuh keangkuhan. Tapi Rio tidak mundur. Tubuhnya tidak lagi bergetar seperti sebelumnya. Ada keberanian aneh yang merambat naik seperti api yang menemukan bensin. Ia menatap balik, tanpa menunduk sedikit pun.
"Jadi?, apakah kau takut?." Rio melontarkan kalimat itu tanpa ragu, stabil, tidak bergetar, tidak takut. Seolah akhirnya ia menemukan dirinya sendiri.
Kata-kata itu membuat suasana di sekitar mereka menegang. Murid-murid yang lewat mulai melambat, beberapa melirik, seakan merasa sedang menyaksikan sesuatu yang bakal jadi bahan gosip sekolah selama seminggu penuh.
Muka Rivaldo berubah serius seketika, seolah topeng sombongnya dilepas dan diganti dengan wajah seorang yang hendak mengeksekusi.
"Akan ku tunggu kau besok di lantai 4 sekolah." Setelah itu, ia benar-benar pergi bersama bawahannya, langkahnya berat dan penuh nada ancaman. Angin sore yang lewat seperti ikut menutup percakapan mereka.
Lantai 4 sekolah terkenal karena tidak memiliki atap, hanya pagar yang mengitari seluruh sisi. Tempat itu biasanya jadi markas Rivaldo untuk membolos, lokasi yang sunyi dan sedikit menyeramkan jika dilihat dengan mata siswa biasa. Namun bagi Rio, tempat itu justru terlihat seperti batu pijakan.
Eliza melangkah mendekat, lalu memegangi tangan Rio yang masih dibalut perban.
"Rio.., seharusnya kamu tidak usah melakukannya."
Matanya sedikit berkaca-kaca, bukan tangis penuh, tapi ekspresi seseorang yang mulai takut kehilangan sesuatu yang baru ia temukan.
"Iya itu benar, kau bisa melakukannya lain kali."
Riko ikut mengangguk, wajahnya mencampur antara cemas dan pasrah. Ia tahu Rio keras kepala, tapi kali ini terlihat jauh lebih gila dari biasanya.
Rio menatap mereka berdua lalu tersenyum… bukan senyum sok keren atau sengaja ditahan, melainkan senyum asli yang menyala dari dalam dadanya.
"Apa kau tidak mau kebebasan, Eliza?."
Tatapannya mantap, penuh semangat yang jarang ia tunjukkan. "Jika aku menang maka kita tidak akan pernah di rundung lagi.., ini adalah sebuah peluang."
Eliza menggeleng, semakin cemas. "Tapi kamu tidak perlu mengorbankan diri mu, bahkan tanganmu masih terluka. bagaimana nanti jika tangan muu.." Rio langsung memotongnya sebelum kalimat itu selesai.
"Kau tidak perlu khawatir, ini adalah pertarungan ku.." katanya sambil tersenyum lembut ke Eliza. Matanya menenangkan, seolah ia ingin bilang bahwa rasa sakit bukan masalah selama tujuannya jelas.
Setelah itu mereka berpisah di persimpangan kecil dekat taman sekolah. Eliza mengambil jalan kanan menuju perumahannya, sambil beberapa kali menoleh seperti ingin memastikan Rio benar-benar akan baik-baik saja. Rio dan Riko melanjutkan perjalanan di jalur kiri, lorong trotoar yang mulai disapu cahaya jingga. Dan begitu Eliza tidak terlihat lagi, keheningan mulai menempel di antara mereka.
“Kau serius?.”
Riko akhirnya membuka mulut lagi. Nadanya bukan sekadar bertanya, tapi seperti seseorang yang masih berharap jawaban Rio berubah. Bayangan kekhawatiran tampak jelas dari cara dia berjalan sedikit lebih pelan.
“Apakah aku terlihat bercanda tadi?.”
tatapan Rio lurus ke depan, dingin tapi bukan yang kejam. Lebih mirip wajah seseorang yang sudah memutuskan jalan hidupnya sejak lama. “Ini adalah penantian 10 tahun aku di rundung. Mana mungkin aku akan menyia-nyiakan kesempatan ini.” Rio menundukkan kepalanya dan mengatakan alasannya.
Riko menunduk. Langkahnya terhenti. “Tapi bagaimana jika kau terluka? bagaimana jika kau kalah? Rivaldo punya pengalaman lebih banyak dibandingkan dirimu.”
Kali ini dia memegang pundak Rio, seakan ingin menarik Rio kembali ke bumi sebelum terlambat.
“Apakah kau akan kalah?”
pertanyaan itu keluar lirih, wajah Riko benar-benar melas. Ada ketakutan tulus di matanya, bukan karena Rio lemah, tapi karena Rivaldo tidak pernah bermain bersih.
Rio berhenti berjalan. Perlahan ia menoleh, dan untuk pertama kalinya sejak percakapan tadi dimulai, ia tersenyum. Senyum dengan mata tertutup, sebuah ekspresi ringan namun penuh keyakinan, seperti seseorang yang baru saja menerima takdir yang ia pilih sendiri.
“Tidak. Aku akan menang.”
Kata-kata itu meluncur dengan tenang, tapi getarannya menggema sepanjang jalan kecil itu. Riko hanya terdiam, tidak bisa membalas, tidak bisa menyangkal. Karena pada saat itu, Rio terlihat bukan seperti korban lagi, tapi seperti seseorang yang akhirnya menemukan punggungnya sendiri.
Rio kembali melangkah menuju rumahnya. Cahaya sore yang perlahan padam menyelimuti punggungnya. Dan hari itu berakhir dengan udara yang terasa lebih berat, seolah dunia tahu… besok akan menjadi hari yang tidak biasa.